Breaking News

21 February, 2012

Komunikasi dan Saling Pengertian

Pemicu semangatku untuk menikah di usia 27 (dua puluh tujuh) adalah kebosanan dengan keadaan hidupku yang dipenuhi kebimbangan dan kehampaan. Tidak sanggup untuk menceritakan kisah hidupku dimasa lalu, yang jelas aku berusaha untuk menyakinkan hatiku bahwa aku telah terlahir kembali setelah diri ini memutuskan menutup aurat. Dengan kepayahan setiap malam kulalui dengan kedukaan dan trauma dimasa lalu. Banyak harapan perubahan bagiku untuk masa depan, dan perbedaan agama orangtua adalah salah satu penyebab kesedihan ini. Memang tak patut disesali karena telah kami lewati dan pendewasaan diri merupakan tolak ukur perubahan dalam diri masing-masing kami.

Semakin umurku bertambah semakin aku berusaha untuk mengerti bahwa orangtua memiliki hak untuk berpikir idealis dan penuh misteri, Tetapi dalam hati ini selalu berdoa dan penuh harapan agar kesalahan Ayah dan Ibu tidak perlu aku ulangi dalam mendidik dan memberi contoh menjadi orangtua bagi kami dalam keluargaku kelak. Kesulitanku adalah melupakan prilaku ringan tangan dan perkataan kasar ibu yang selalu tergiang dalam pikiran, sedangan ayah adalah Bapak yang idealis dan menyerahkan segala urusan kepada ibu, sampai urusan sekolahpun Bapak tidak pernah datang untuk mengurus segala sesuatunya dari kami SD sampai tingkat SMU. Prilaku Ayah dan Ibu yang seperti itu tidak terpengaruh buruk kepada kakak lelaki kami sedangkan Bapak menjadi contoh buruk baik mereka. Hal inilah yang memicu aku untuk mengharapkan sosok lelaki yang dapat menjadi teman hidupku dan berbagi terutama seiman denganku.

Pada akhirnya jodoh itu datang menghampiriku. Pernikahan melangkahi 2 kakak perempuanku yang dengan ikhlas merelakanku menikah lebih dahulu. Kubayangkan pernikahan ini biasa saja, dan cinta kami hanya biasa-biasa saja. Kami jalani dengan kepolosan. Kami merupakan dua orang yang sama-sama kurang komunikasi dalam keluarga masing-masing, dan menghimbas dalam hubungan kami.

Dua Tahun pernikahan ini kulalui begitu berat dan penuh cobaan dan kata-kata kasar dan saling mencerca keluar dari masing-masing kami, kata cerai sering kali terlepas dari ucapanku, tapi kembali aku bingung mau kemana nantinya bila aku pisah nanti, karena untuk kembali ke orangtua tidak mungkin apalagi kakak perempuanku, aku tidak ingin melukai orangtuaku terutama ibu meski dalam kesedihan menjalani pernikahan tapi tetap mempertahankan sampai puluhan tahun karena begitu besarnya cinta (lebih tepatnya kasih sayang) kepada Bapak, dan untuk pergi jauhpun bingung mau kemana, teman bagiku bukan tempat untuk berbagi kesusahan seberat ini, yang membuatku terharu biru dan selalu teringat buatku dia tidak pernah terucap kata untuk menceraikanku. Kami bertengkar untuk kesekian kali dengan berbagai penyebab yang untuk suamiku dianggap biasa saja, tetapi di ujung pertengakaran kami, aku pasrah, aku mohon untuk perpisah karena selalu seperti ini, dia menangis, dan mengatakan:

“Hanya kematian yang memisahkan aku sama kamu, meski kita dalam kondisi kesusahan seperti ini saya menyangupi untuk tetap berjuang bersama melawan kesedihan ini, saya mohon jangan tingalkan saya, karena hidup kamu saat ini dipengaruhi masa lalu jadi kamu juga harus berjuang melupakan masa lalu”

Saat itu tersadarkan olehku, bahwa aku selalu mengingat kepahitan hidupku dan tidak melihat dan membina kebaikan diantara kami. Ternyata yang pada saat itu aku menganggap suamiku tidak romantis atau tidak peduli, dia berusaha peduli denganku agar aku merubah pola pikirku dan diapun berusaha memperbaiki kekurangannya.

Tuhan memang menjodohkan sesuai dengan semestinya aku miliki, kami ditakdirkan untuk saling mengisi kekurangan masing-masing, dan aku sudah sangat bersyukur dia berusaha mengerti segala kekuranganku dan sebaliknya aku juga semestinya melakukan hal yang sama. Bukan cinta dalam arti saat itu, kami membentuk kasih sayang sesuai dengan usia pernikahan kami. hari-hari yang telah kami lalui menjadi tolak ukur perubahan dari masing-masing kami.

Semakin kami saling memahami rejeki datang silih berganti didalam kehidupan, segi materi dalam perjuangan kami adalah awal hidup dikontrakan Alhamdulillah kami saat ini dengan kegigihan dan doa dapat tinggal dirumah nyaman yang kami jadikan tempat kebersamaan penuh suka cita dengan 3 malaikat kecil yang menemani dan menjadi penyatu serta penyemangat kami agar menjadi lebih baik lagi dari hari kehari.
Komunikasi dan saling pengertian adalah kunci mempererat kebersamaan kami. Pada saat kami ditimpa musibah dalam bentuk sakit kepada putra atau putri kami, memang sering kali ada saja perdebatan dalam perawatan dan pemulihannya, tetapi dengan bertambahnya usia pernikahan kami semakin kami mengerti bahwa kami hidup untuk berbagi dan komunikasi dan tidak untuk mau menang sendiri, dengan doa dan kegigihan bersyukur sampai saat ini kami dapat melewati cobaan dalam kebersamaan.

Pendewasaan suami, membawaku tetap berkarya dan memiliki ruang eksplorasi lewat minat serta tetap memiliki pekerjaan membantu ekonomi rumah tangga kami, karena kusadari hambatanku untuk berkerja sebelumnya karena keikhlasan diantara kami untuk tujuan yang sesungguhnya, dan semakin kusadari bahwa Tuhan memang selalu menyertai perjalanan kami.

Penulis: Levina Novi Yanti
Wilayah Bekasi

0 komentar:

Post a Comment