Breaking News

16 February, 2012

Kisah Di Suatu Hari


  Hemph…
Kuhempaskan tubuhku di kursi kerjaku setelah selesai mengajar 4 jam tanpa henti, Lelah juga. Bu Ranti Menghampiriku dan berkata “Bu Mey, ntar malem aku kerumahmu ya? Biasa… mau ngenalin seseorang, Bu Mey khan biasanya handal membaca watak seseorang, please… aq gak mau salah pilih..” Ranti terus saja nyerocos tanpa henti, akhirnya aku cuma bisa mengangguk. “OK deh… bawa aja kerumah”.
 “Thank you Bu Mey, Bu Mey baik deh” Ranti berseru senang sambil meraih tas kerjanya.“Aku masuk dulu Bu Mey”.  Entahlah, jujur hari ini perasaanku koq gak enak banget.  Kuelus-elus perutku yang sudah menginjak bulan ke tujuh,  sejenak perasaan nyaman perlahan menghampiriku. “Ah, mungkin si baby aja yang lagi capek, sabar ya nak, sebentar lagi kita pulang.
                Akhirnya bel pulang berbunyi, suamiku tercinta sudah menunggu di parkiran. Sambil dibonceng, Kupandangi punggungnya, ah, seandainya dirumah sudah kupeluk dan kuciumi punggungnya, suamiku yang tercinta, yang sabar, setia , dan selalu siap kapan saja untukku. Delapan tahun hidup bersamanya membuatku semakin sayang padanya.
                Sambil menikmati hidangan dimeja makan aku membuka pembicaraan.”Pah, katanya Bu Ranti mau datang ntar malam”.
“Tumben? “suamiku mengernyitkan kening .
“Katanya mau ngenalin seseorang, pacarnya kali” sahutku.
“Yaah, terserah mama aja, tapi aku mau lembur dikantor ntar malam, gak papa kan?’
“Gak papa, kan ada fakhry”. Fachry adalah anak sulung kami, dia berusia tujuh tahun.
Acara makan siang hari itu berakhir seperti biasa.
…………………………………………………………………………………………………………..
“ Ting Tong”
Bel rumahku berbunyi. Bergegas kuhampiri pintu dan membukanya.
“Malam, Ibu Cantik” kalimat pembuka Ranti membuatku sedikit tersanjung.
“Malam, sayang, ayo masuk,” kupersilahkan Ranti masuk tapi mana ya lelaki yang mau dikenalin ke aku?
“Ehm, tapi mana yang mau dikenalin?“Tanyaku tak sabar.
“Bentar Bu Mey, dia lagi nyari tempat yang aman buat markir mobil.” Jawab Ranti.
“Ooh ya udah, duduk dulu deh, aku kebelakang dulu ya?” Aku pamit membuat air minum.
“Gak usah repot Bu Mey”. Cegah Ranti’
“Gak repot, ntar persilahkan aja temannya masuk ya?” Ujarku sambil melangkah masuk.
“Ok, Thanks Bu Mey.”

Beberapa menit kemudian.
“Bruakkk”
“Aduh  maaf,maaf,”
“Bu Mey, kan aku udah bilang gak usah repot-repot.” Tergopoh-gopoh Ranti menghampiriku sambil memungut pecahan gelas dilantai.
“Bu Mey, kenapa? Pusing ya? Kok badannya gemeteran gini?” tersirat kehawatiran Ranti.
“Bu Mey, duduk dulu.” Ranti mengarahkanku duduk di sofa.
“Maaf ya Bu Ranti, saya jadi gak enak.” Aku kikuk, aku gelisah.
“Gak papa Bu Mey, mungkin Bu Mey lagi gak enak badan.”
Setelah beberapa detik berlalu dalam senyap.
“Oh ya Bu Mey, ini Mas Iwan yang pernah saya ceritakan.” Ranti membuka percakapan
Dengan kikuk aku mengulurkan tangan.”Meylan”
“Iwan.” Lelaki itu menjabat tanganku.
Senyap lagi, Iwan terlihat  tidak betah duduk dikursinya.
Aku sudah bisa menguasai diri.
Malam itu berlalu dengan cepat sehingga akhirnya Ranti dan Iwan pun pamit.
…………………………………………………………………………………………………………………………….
Aku kenal Iwan kurang lebih lima tahun yang lalu. Iwan Lelaki yang ramah, hangat dan mudah bergaul.
Dia juga aktif disalah satu organisasi kepemudaan di kotaku. Singkat cerita , Iwan dan Aku merasa cocok satu sama lain. Entah, setan apa yang merasuki saat itu, Aku merasa nyaman didekat Iwan, Iwan pun yang tau posisiku adalah seorang wanita yang sudah menikah seolah tidak peduli. Beruntung hubungan itu hanya bertahan selama 3 bulan. Itupun karena Iwan ketahuan memiliki hubungan dengan wanita lain. Aku bersyukur suamiku tak tahu soal ini.  Kisah ini aku tutup rapat-rapat selama 5 tahun ini. Hikmahnya, aku jadi semakin cinta dengan suamiku, aku takut kehilangan dirinya, kebaikannya telah membuka mataku, bahwa lelaki yang paling baik didunia ini adalah suamiku. Tapi malam ini, kisah yang kututup rapat-rapat, terkoyak kembali oleh kehadiran Iwan. Apa yang akan kukatakan pada Ranti besok?







0 komentar:

Post a Comment