Breaking News

22 February, 2012

Ketika Daun Belimbing Berguguran

posting lagi ah... mohon masukannya ya moms... ^^
--------------------------------------------------------

Kutatap tumpukan daun belimbing yang baru separuh kusapu di halaman rumahku. Warnanya ada yang hijau kekuningan, kuning keemasan, sampai kuning kecoklatan. Oh, seandainya tumpukan daun belimbing ini bisa kusulap jadi tumpukan duit. Tentunya kampung ini akan kacau karena orang2 pasti sudah berjejalan di halaman rumahku saling berebutan.

Kuteruskan kegiatan menyapu halaman. Sampai hampir selesai, pikiran  usil itu datang lagi. Daun belimbing ini banyak sekali, tiap hari kusapu tapi tak pernah habis. Tentu saja, karena kalau tidak ada lagi daun belimbing yang kusapu, berarti pohonnya sudah ditebang oleh pemiliknya, dan artinya aku tidak kebagian jatah belimbing lagi saat panen.  Maksudku, seandainya yang tidak habis2 itu bukan daun belimbing, tetapi  uangku…. Errr, tapi dipikir2 ada benarnya, uang itu seperti daun belimbing yang berguguran, meski disapu setiap hari, selalu ada dan ada lagi. Hanya jumlahnya saja yang berbeda. Kadang cuma sedikit, kadang banyak sekali sampai lelah menyapunya.

Pikiranku melayang saat kami baru menikah. Ketika itu kami sama-sama baru bekerja di sebuah perusahaan yang baru berdiri, meninggalkan zona nyaman di tempat kami bekerja sebelumnya. Kami belum mendapat gaji tetap, kami hanya mendapat honor Rp. 500.000 per bulan. Uang itu kami gunakan untuk membayar kontrakan Rp. 300.000 dan cicilan motor 550.000. Sisanya 150.000. Coba pikir, mana cukup untuk makan 1 bulan? Tapi anehnya kami tidak pernah kelaparan. Memang setiap hari hanya masak ala kadarnya,masih menggunakan kompor minyak karena kami tak sanggup beli tabung gas.tak ada barang elektronik di rumah kami, kecuali sebuah komputer untuk bekerja.  Tak ada harta benda yang berharga, bahkan kami tak sanggup membeli kasur yang nyaman untuk tidur. Kami hanya mampu membeli kasur angin (air bed) murah meriah, yang setiap 2 hari sekali mesti dipompa karena anginnya ga tahan lama-lama di dalem kasur. Maksudnya, cepet kempes.

Mengingat itu, aku tersenyum getir. Saat itu nyaris tiap hari aku menangis. Sering sekali kami bertengkar. Kami bukan pasangan yang sebelum menikah telah saling mengenal dan berpacaran berlama-lama. Kami hanya berkenalan sebentar, lalu menikah ketika hati kami merasa cocok. Maka kami harus melalui proses adaptasi dan saling mengenal lebih jauh setelah menikah. Kondisi ekonomi yang memprihatinkan, ditambah harus hidup seatap dengan orang yang baru kukenal, membuatku jatuh bangun, tertatih, terjerambab dan terluka dalam melewati masa-masa itu. Puncaknya ketika kandunganku keguguran, betapa sedihnya kami saat itu. Namun setelah peristiwa itu, jiwa kami terpaut semakin dekat.

Seiring waktu, kondisi kami mulai membaik.  Aku mendapat gaji tetap, demikian pula dengannya.  Kami mulai bisa merencanakan masa depan, dapat berbagi dengan keluarga, dengan mama mertua, maupun dengan almarhum bapak dan adikku ketika itu. Hingga Allah menganugerahi rezqi yang lain, aku hamil. Kami melewati masa-masa itu dengan banyak harapan dan do’a.

Namun, zona nyaman itu harus kami tinggalkan, karena setelah aku melahirkan, aku tak lagi bisa bekerja di luar rumah. Terlalu banyak hal yang harus aku korbankan demi beberapa lembar rupiah yang nilainya tak seberapa bila dibanding dengan merawat dan mendidik anak. Pendapatan bulanan dari gaji tetap terpaksa berkurang, kami kembali harus mengencangkan ikat pinggang. Aku masih bisa tersenyum, meski di tahun yang sama, aku harus kehilangan ayahku, yang meninggal karena sakit.

Hingga, setahun setelah itu, kami kembali ditimpa musibah. Adik kandungku satu-satunya, menyusul orang tua kami, meninggal dengan cara yang sama, sakit parah. Aku sebagai anggota keluarga yang terakhir, mendapat kewajiban untuk mengurusnya ketika sakit, hingga ia meninggal. Termasuk biaya pengobatan, dan pembebasan hutang almarhum.

Sungguh…. Rasanya aku ingin ikut dikubur saja ketika itu. Keluarga kami punya banyak kekayaan, itu dulu…. Sebelum ibuku sakit, ayahku sakit, adikku sakit, dan akhirnya mereka semua meninggal. Tak ada warisan yang tersisa, kecuali sepetak tanah yang juga harus dijual untuk menutup biaya pengobatan. Dan itupun masih belum cukup. Debit kolektor berdatangan bahkan sebelum air mataku kering, tak sampai menunggu 1 hari setelah ia dimakamkan. Dan aku seperti pengemis yang mengiba2 mengharap pinjaman ke semua kenalanku, yang entah kapan sanggup kulunasi.

Semua kesedihan dan keperihan itu masih belum cukup. Kembali aku merasa dijatuhkan ke dalam jurang teramat dalam, yang hanya ada gelap yang hitam pekat. Belum lagi kering kuburannya, belum hilang sembabnya mataku, suamiku, berhenti dari pekerjaannya.  Ya Tuhan, aku mengerti alasannya. Tapi mengapa ia tak bisa bersabar sebentar lagi? Bersabar menghadapi tekanan di pekerjaannya demi hutang2 yang harus dilunasi?

Tapi aku tak mampu memaksanya. Segala duka itu tidak cukup untuk membuatnya menahan keputusannya. Dengan sisa harapan yang masih ada, aku mencoba untuk mengerti dan menerimanya. Entah, besok mau makan apa, aku tak peduli. Aku hanya memikirkan bagaimana caranya mengembalikan kemerdekaanku dengan melunasi hutang-hutangku.
Tahukah, pikiran terburukku ketika itu adalah, bercerai secepatnya. Sungguh, aku ingiiin sekali bercerai. Agar kami dapat menjalani hidup kami sendiri-sendiri. Dia dengan segala idealismenya, dan aku dengan segala kebutuhan dan keinginanku untuk membebaskan seluruh hutang. Toh, ini hutangku, hutang keluargaku, bukan hutangnya. Apalagi aku memang sudah tak punya keluarga, tak ada ibu, tak ada ayah, tak ada saudara. Kehilangan seorang suami tidak akan menjadi masalah buatku.
Namun, seratus kali aku meminta, seribu kali aku menangis, sejuta kali aku memaki, ia tak pernah akan menceraikanku.  Maka kulalui hari demi hari dengan penuh rasa sesak di dada, dengan lelehan air mata yang tak kunjung reda.

Seperti biasa, ia tak banyak berkata-kata. Namun setelah itu, aku tidak pernah melihatnya berdiam diri. Tak peduli siang atau malam, ia mengusahakan apa saja selama masih halal, untuk mendapat uang. Teramat berat kami lalui, namun dengan sisa kesabaran dan pengharapan yang masih ada, kami terus berusaha. Sesekali, letupan itu masih ada. Ketidak puasanku, kekesalanku, kesedihanku, dan segala sesak di dalam dada, masih sering meledak tanpa dapat ditahan.  Namun ia tetap setia di sisiku, ia tetap memberiku harapan, sedikit demi sedikit, kami akan mampu melewatinya. Kami berdua yang menghadapinya, bukan aku sendirian. Karena salah satu alasan ia berhenti bekerja kantoran dan memutuskan usaha sendiri adalah agar ada banyak waktu yang bisa ia gunakan untuk menemaniku.

Kembali kutatap tumpukan daun belimbing di hadapanku. Ketika mereka berguguran, selalu ada tunas baru yang menggantikannya. Ketika daunnya semakin banyak gugur, dan pohonnya nyaris gundul, ketika itulah bunga-bunganya yang indah bermekaran. Bunga-bunga berganti menjadi buah, yang jika dipelihara akan menjadi buah yang mahal harganya dan enak dimakannya, tidak sepat seperti daunnya.
Semoga, perjalanan ini akan berbuah manis pada akhirnya…

--- izti ---
  

0 komentar:

Post a Comment