Breaking News

15 February, 2012

KELAS Diskusi BCP : Berkenalan Lebih Dekat dengan Puisi

 

Assalamualaikum,wr.wb.
Selamat siang para bunda ^^ Yuk kita kenalan lebih dekat dengan puisi, siang ini kita akan bermain kata. Saya memilih 4 puisi dan mencoba menenggelamkan lebih larut pada bahasa puisi.
Mariiiii kita bermain kata ^^

Berkenalan dengan Puisi

Ada tiga bentuk karya sastra, yaitu prosa, puisi dan drama. Puisi adalah karya sastra tertulis yang paling awal ditulis oleh manusia. Puisi juga memiliki sejuta definisi. Mulai dari “seni kata-kata” sampai “ungkapan perasaan” dan “nafas zaman”.

Puisi dipercaya sebagai napak tilas kehidupan batin dan perasaan manusia. Melalui puisi kita mengenal kepribadian seorang manusia, jiwa sebuah kelompok, sukma bangsa,rih bahasa, bahkan darah kebudayaan. Puisi menghidupi peradaban dan kerohanian sebuah mahkluk yang disebut manusia . Puisi juga dapat menjadi benang merah sejarah. Menghubungkan masa lalu dan masa depan, menyelam jauh ke lubuk hati, dan terbang bebas.

Puisi adalah jembatan hati. Ia bisa menghubungkan hati dua manusia, dua bangsa, dua generasi, bahkan dua kebudayaan yang meliputi filsafat, kesenian, adat istiadat dan agama. Puisi juga dapat seperti sebuah fotografi, ada fokus dan blur serta esensinya adalah “menghentikan waktu”.

Karakteristik sebuah Puisi

Puisi adalah karya sastra dengan bahasa yang dipadatkan, dipersingkat dan diberi irama dengan bunyi yang padu dan pemilihan kata-kata kias (imajinatif). Kata-kata betul-betul terpilih agar memiliki kekuatan pengucapan. Walaupun singkat atau padat, namun berkekuatan. Kata-kata itu mewakili makna yang lebih luas dan lebih banyak. Karena itu, kata-kata dicarikan konotasi atau makna tambahannya dan dibuat bergaya dengan bahasa figuratif.

Ciri-ciri Kebahasaan Puisi
Pemadatan Bahasa/Diksi,
Pemadatan Kata Khas/ Gaya Bahasa
Kata Konkret
Pengimajian/Metafora
Irama/Ritme/Rima
Tata Wajah/Tipografi

Hal yang Diungkapkan Penyair
Tema Puisi - Nada dan Suasana Puisi - Perasaan dalam Puisi - Amanat Puisi


Mariiii bermain kata. Dear para Bunda, ini adalah puisi saya di awal-awal menulis puisi. Saat itu saya belajar pada salah seorang penyair terkenal, seorang penulis dari Bali beliau menulis beberapa buku, salah satu buku favorit beliau adalah Malam Cahaya Lampion ^^. Saat awal menulis saya masih miskin metafora, masih memakai bahasa yang konkret tapi belum bisa memadatkan makna serta belum menemukan ciri khas Gaya Bahasa.

di matamu

kau hendak berkisah pada hujan
namun bara itu menghalangi kisah yang hendak kau sampaikan
aku tahu di balik pelepah matamu kau merindu
tubuh yang dulu hangat jika kau rengkuh

-ess-

Tan Lioe Ie Bermain dengan puisi Epiest:

Pada hujan hendak kau kisahkan/tentang api yang tak pernah padam/seperti kilau rindu matamu/memburu hangat tubuh yang pernah kau rengkuh

Setelah dua tahun belajar saya dan tetap menulis puisi, beginilah hasil puisi saya ^^
Puisi ini bercerita tentang sebuah rumah belajar, dimana saya menjadi salah seorang sukarelawan untuk mengajar mereka carlistung serta mendongeng.

pada senyum kecil
pada senyum kecil itu aku hanyalah pendatang asing
yang berkeliaran mencari dan menuai serupa gula
terkadang aku ingin menjadi payung di rintikrintik matamu
pun menjadi selimut di dingin hatihatimu

pada rautraut semrawut yang sembunyikan sebuah kepolosan
tentang dunia yang dipijak dan tak bertuan
aku ingin menjadi rumah dan buatmu nyaman berteduh
seteduh minuman saat kuseduh
hilangkan keruh
di pelupuh
yang kian lusuh

aku ingin menjadi cinta sederhana
bersama ruparasa yang kupunya
seadanya
andai aku miliki seribu hati ibu untuk merumahkanmu
anakanakku
...
june '11
-ess-

Naah ini adalah puisi-puisi yang dikirimkan para Bunda pada e-mail kami ^^ marii bermain kata. Dibuat santai dan asyikk aja yuukk ^^

Puisi Pertama
MENDUNG/ 1
Telah kucoba berulang
Hingga tak mampu lagi ku hitung
Berapa banyak serpihan tertinggal
Di sini
Di sudut yang resah

Bermain dengan bait pertama :
Pada sudut yang resah/Entah berapa banyak waktu terulang/hingga tiap detiknya tak mampu kuhitung/Di sini/ Pada gelisah yang tumpah/ Entah berapa banyak serpihan terbuang/

Tak terhitung memang
Seumpama bilangan tak terhingga dalam matematika
Beyond infinity
Itu karenaku juga
Menumpuknya, menambahnya
Hingga jadi segunung ia jadinya

Puisi Kedua
Hidupkan Hatimu
Oleh Titiek Suswati

hidupkan hatimu dengan lantunan ayat Alquran

jangan biarkan gersang hatimu

biar hari berputar pada porosnya

Bermain dengan bait pertama :
nyawai hati dengan lantunan ayat Ilahi/semampu diri usah biarkan gersang/agar lalui hari memutar tepat pada porosnya

langkahkan kakimu ke depan, jangan menoleh kebelakang

disanalah kejar sanubari keindahan alam semesta

tapaki hidup yang penuh bermakna

hamparlah sajadah sucimu

sujudkan yang lama

sembari lelehkan air mata membajiri sajadah sucimu

memohon dileburkanya segala dosa

hingga luas tak bertepi

lantas kita tersenyum

teramat indah di gugus pribadi

raih kemenangan dunia akhirat

*catatan :

terlalu banyak pengulangan kata “hatimu” juga akhiran “-mu” sebenarnya engkau dimana? Ada yg tidak sinkron, pada awal bait semua tentang ‘mu’ namun di akhir mengapa berubah menjadi “kita”?
mengapa tidak sejak awal menggunakan kata “kita” saja ^^.

Puisi Ketiga
KALA
Karya : Reny Nuraini


Kala jiwa menggelegak meletupkan amarah

Melebur semua bisik yang melenakan mimpi absurd

Kata demi kata terangkai menjiwai makna terdalam

Sampai hilang semua lava kepedihan yang mengalun

Bermain dengan bait pertama :
Kala jiwa buncahkan amarah/Setiap kata tumpah ruah/Jiwai makna terdalam/Hingga lava kepedihan perlahan hilang/Melesap diam-diam.

Kala cinta membuai dalam aroma merah jambu

Manis terasa tanpa curiga dan prasangka

Kata demi kata terangkai menjiwai makna terpadu

Sampai ungkapan cinta membuncah tak terkekang


Kala pedih perih tertikam jejak kenangan

Tangis mengharu biru tak menepikan duka

Kata demi kata terangkai melolongkan pilu

Sampai sedu sedan membisu


Puisiku ada dalam kalaku…

*Catatan :
Bait yang tidak beraturan. Sehingga mengurangi esensi makna, ada baiknya bait kedua di tulis di awal lalu dilanjutkan pada bait pertama


Puisi Keempat
Puisi tuk lelaki di balik awan
oleh Yani Suryani

Wahai lelaki yang menjadi takdirku
Engkau adalah syair yang tak pernah usai
Sabarmu mengharukan
Tenangmu mendamaikan

Bermain dengan bait pertama :
Kepada lelaki yang kini jadi takdirku/dirimu umpama syair yang takkan usai/jelajah sabarmu mengharukan/alur tenangmu buatku damai.

Kita sama tak sempurnanya
Namun kaulah anugerah Ilahi tak terperi
Menemani perjalanan yang tak mudah
Karena seringkali perahu kita oleng oleh ombak

Semoga masih ada waktu
Meretas cahaya keberkahan Muhammad dan Khadijah
Dan sebelum fajar berlalu, aku ingin
Membisikimu, sayang...
Aku mencintaimu dalam badai dan musim semi

Yogya, 10 desember 2011               
(kado tuk tepat 9 tahun pernikahan kita)


SalamPJ's Epiest Gee & Beta Kun Natapradja

0 komentar:

Post a Comment