Breaking News

22 February, 2012

Kekuatan Doa

Ketika mengetahui saya hamil, hati saya gembira bukan alang kepalang. Itu terjadi 8 tahun yang lalu. Namun, kegembiraan saya tidak purna, ketika saya ingat usia saya sudah tidak lagi muda, hampir 35 tahun. Saya takut akan menghadapi masalah dengan kehamilan saya, apalagi ini kehamilan pertama.  Maka, mulai lah saya berhati-hati dan berkorban untuk kelahiran Sang buah hati.

Pengorbanan pertama saya adalah berhenti bekerja. Pekerjaan yang sangat saya cintai, jurnalis televisi, harus saya lepaskan demi si cabang bayi. Karena, setahun setelah menikah, saya mengalami dua kali “gagal”, padahal sudah terlambat menstruasi,dua-hingga tiga minggu. Mungkin itu  karena padatnya jadwal peliputan yang harus saya jalani.

Setelah resmi menyandang gelar “pengangguran, saya punya banyak waktu untuk   ke sana ke sini mencari dokter dan rumah sakit yang cocok untuk saya. Ketika saya mendaftar ke Rumah Sakit (RS) di kawasan Pondok Indah, saya disarankan untuk menjadi pasien seorang dokter muda. Meski sudah ada referensi yang baik tentang dokter itu, darah kewartawaan saya yang sudah mengental, tak membiarkan saya melewatkan pertemuan di ruang prakteknya tanpa bertanya.
“Dok, boleh tau, lulusan universitas mana? “, tanya saya.
Nampaknya dokter itu “ngeh” dengan tujuan dari pertanyaan itu. Ia pun menyebutkan nama Universitas Negeri yang punya nama besar itu. “Selain di RS ini, dokter praktek dimana aja?”, tanya saya lagi. Dengan sabar, ia menjawab. “Saya juga praktek di RSCM, dan di Depok. Kenapa, Bu?”. Ia balik bertanya.
“Enggakkkk….”, jawab saya sambil nyengir. “Anu, Dok….apa sih pendapat dokter soal kelahiran sesar? Boleh tau kan, Dok?”.
“Oh…, itu jalan terakhir kalau memang bayi tidak bisa keluar secara normal, Bu.”
“Jadi….dokter bukan tipe yang…..sectio minded ya dok?”, tukas saya. Dokter itu tersenyum. “Gak lah Bu….kan itu ada prosedurnya….”.  Saya pun lega. Dan saya pun mantap keluar dari RS itu, tanpa ingin mencari dokter yang lain.

Lalu, bulan demi bulan saya lalui. Saya cukup menderita dengan bulan-bulan pertama kehamilan. Bagaimana tidak? Selama 7 bulan, saya tidak bisa makan dengan layak. Setiap kali saya makan, pasti saya muntahkan. Tak heran,  jika berat badan saya di usia kehamilan 7 bulan itu, hanya 6 kilo. Kata dokter, maag saya kena! Melihat keadaan ini, saya pun semakin takut melahirkan….., lha wong hamilnya saja sudah sengsara gini, apa lagi lahirannya ya? Begitu pikir saya. 

Seorang guru ngaji, yang sekarang sudah tiada, memberikan saya sebait doa. Almarhumah berpesan kepada saya untuk mengamalkannya 200 kali setiap sholat fardlu. Kata beliau, doa ini dulu dibacakan oleh Siti Sarah, istri Nabi Ibrahim A.S, saat melahirkan. Saya tidak tahu doa ini ada di ayat berapa dalam Al Quran, tetapi saya ingat persis doanya: “Allahumma Sabila yaa Saraah”. Doa itu memang pendek, tapi saya rasakan betapa besar kekuatannya.  Artinya? Kira-kira “mudahkanlah ya Allah”.

Doa ini, sampai sekarang, tetap tidak saya ketahui letaknya di dalam Al Quran. Biar pun saya sering membaca Al quran, tapi hanya surat Ya Sin dan Al Baqarah yang sering saya baca! Untuk keduanya, saya tahu! Yakni surat 36 dan surat 2. Tapi sudah lah, guru ngaji saya itu sudah tenang di sisi Allah, saya tak mungkin bertanya kepadanya. Saya percaya doa itu ada!

Dan, entah karena kekuatan doa itu, atau karena pertolongan Allah semata, di saat kandungan saya telah mencapai 9 bulan, saya sama sekali tidak merasakan kejang-kejang atau perut mengeras seperti yang pernah diceritakan teman saya saat melahirkan. Mual-mual yang saya rasakan selama 7 bulan,  berangsur hilang di usia kandungan 8 bulan. Maka, bagai kuda lepas kendali, saya pun melampiaskan nafsu makan saya yang tertahan, sampai perut saya menjadi buncit bak tambur.

Lalu tibalah hari itu. Pagi hari di tanggal 29 Agustus 2003, saya masih berbelanja ke pasar tradisional. Lalu sampai di rumah, saya melihat ada flek di celana. Suami saya menyarankan untuk segera ke rumah sakit. Siang itu juga saya “check in” ke rumah sakit di bilangan Pondok Indah itu. Belum ada rasa mulas. Air ketuban pun belum pecah.

Sampai pukul 10 malam, perut saya belum juga terasa mulas, apa lagi kejang-kejang. Padahal, kata Suster, saya sudah “bukaan” enam. Malah saya sempat jalan-jalan di pelataran rumah sakit dan  makan nasi padang di restoran Sederhana seberang jalan. Setelah kenyang, saya pun tidur. Pukul 2 dini hari tanggal 30 Agustus, saya dibangunkan oleh suami dan seorang Suster.
“Bu….Dokter sudah menunggu di ruang observasi…yuuk kita ke sana”, ajak Suster. Saya dan suami mengikutinya ke ruang observasi persalinan.

Di sana sudah ada Dokter. Ia tersenyum menyambut saya, lalu memeriksa bagian dalam saya. “Sudah “bukaan” tujuh ya, Bu. Sebentar lagi. Ibu di sini saja. Nanti diberi obat dari dubur supaya Ibu buang air besar. Apa sudah mulas?”, tanyanya lembut.
“Belum, dok….mulasnya kayak apa?”, tanya saya agak ketakutan.
“Seperti menahan tidak buang air besar selama sebulan…..”, gurau Dokter
Saya tidak bisa tertawa, malah membayangkan rasanya menahan buang air besar sebulan? Kayak apa ya?
“Kalau belum mulas, nanti ibu kita induksi ya, Bu?”, ujar Dokter itu lagi. Mata saya bertanya-tanya. Apa itu induksi?
“Ibu kita bantu dengan memasukkan obat ke dalam, agar terjadi kontraksi, sehingga memudahkan persalinan”, terang Dokter. Saya masih terlihat cemas.
“Tapiii….tetap lahir normal kan, Dok?”, Dokter mengangguk meyakinkan saya.

Dan, ketika jam menunjukkan pukul 5 subuh, saya sudah berada di kamar bersalin. Obat induksi pun dimasukkan. Hanya perlu menunggu setengah jam untuk obat itu bereaksi. Setelah itu, setengah jam lagi, perut saya terasa bak diputar-putar oleh mesin cuci untuk mengeluarkan Sang bayi yang ternyata beratnya 4 kilo!

Meski akhirnya persalinan saya dibantu oleh alat vacuum, tetapi Alhamdulillah, anak saya bisa keluar normal, tanpa operasi! Sedikit iba melihat kepala bayi saya yang lonjong karena usai divakum.  Tetapi ia terlihat sehat, indah dan sempurna di mata saya! Setengah jam kemudian, saya dapat memeluk anak saya yang sudah bersih dimandikan suster. Namun, saya tak boleh lama memegangnya karena takut akibat dari alat vacuum akan berpengaruh ke otaknya, jika bayi terlalu banyak bergerak.

Suami saya yang mendampingi persalinan itu, menyalami dokter dengan penuh bahagia. Matanya terlihat basah. Saya pun tak kurang bahagianya. Semua kebahagiaan ini saya yakini berkat kekuatan doa saya kepada Yang Maha Kuasa. Doa ketika saya meminta anak pertama saya laki-laki, melalui bacaan surat Yusuf (surat 12) yang saya lakukan dimalam-malam saat kehamilan 4 bulan pertama. Dan, doa meminta kemudahan persalinan, yang telah saya buktikan. Bayangkan, melahirkan normal anak pertama dengan berat 4 kilogram! Jika bukan Karena doa, pasti lah saya yang phobia dengan meja operasi ini, sudah harus menjalani operasi sesar! (Fey, 3 Mei 2011)


0 komentar:

Post a Comment