Breaking News

22 February, 2012

Keabadian Pernikahan oleh Irhayati Harun

By Iir Harun  
Setelah menikah selama 9 tahun dan memiliki 3 orang Anak, kami belum sempat mengabadikan pernikahan Kami. Alhasil hingga sekarang kami tak memiliki foto Pengantin! Padahal bagiku foto pengantin penting untuk mengabadikan bersatunya dua insan yang saling mencintai dalam sebuah pernikahan. Yang kelak akan menjadi ke- nang-kenangan di hari tua, bagi anak cucu juga bagi pasangan itu sendiri.

            Rencana melangsungkan resepsi pernikahan selalu tertunda karena berbagai factor.  Padahal aku sudah membayangkan memakai gaun indah dan duduk bersanding dengan latar belakang dekorasi yang cantik berhias bunga-bunga mawar berwarna cerah. Secantik dan secerah wajahku dan suami. Bahagia, gugup, haru dan romantis pasti akan berbaur jadi satu. Sungguh aku sangat menantikan saat itu.

            Kami menikah secara sah dan tercatat di KUA, tapi tak pernah bersanding di pelaminan, juga tak pernah menyelenggarakan resepsi nikah. Hal itu itu terjadi karena ijab kabul dilaksanakan tanpa kehadiran mempelai pria. Jadi hanya ada mempelai wanita, wali, dan adik calon suami yang diberi kuasa untuk mewakili dirinya mengucapkan ijab kabul. Hal ini terjadi karena calon suamiku terikat kontrak kerja di negeri Kiwi, tepatnya di kota Auckland.

            Dia memintaku menyusulnya kesana, karena kami sudah bertahun-tahun tak bertemu. Kami sama-sama dilanda rindu berat dan takut kehilangan satu sama lain. Selama ini kami hanya berhubungan lewat telepon dan chatting melalui internet.  Karena masih terikat kontrak, calon suamiku tak bisa pulang untuk melangsungkan pernikahan. Jadilah kami sepakat untuk melaksanakan pernikahan unik tersebut. Rencananya pesta baru akan digelar setelah pulang ke Indonesia. Mulanya niat kami diprotes kedua pihak keluarga. “ Mengapa tidak menunggu sampai calon suamimu pulang ke Tanah Air saja?” Tanya mereka. Tapi kami sama-sama keras kepala. Akhirnya keluarga besar kami pun menyerah.

            Begitu kontrak kerja suami selesai, kami pulang ke rumah orang tua di Medan sementara suamiku ke Jakarta untuk mencari kerja. Alhamdulillah… tak lama kemudian ia mendapat panggilan kerja. Bersamaan dengan itu, aku positif hamil, sehingga tak bisa mengikuti suami ke Ibu Kota. Resepsi pernikahan lagi-lagi tak dilaksanakan sampai aku melahirkan.

            Begitu anak pertama kami sudah kuat untuk dibawa, barulah aku menyusul. Bahagia rasanya bisa berkumpul kembali dengan suami. Namun tak lama setelah sampai di Jakarta, anak kami harus dirawat di rumah sakit karena diare.

            Dalam kondisi seperti itu, mana mungkin memikirkan resepsi pernikahan, sekalipun sederhana. Sebagai gantinya, aku mengusulkan untuk berfoto di studio foto dengan menyewa baju pengantin, agar peristiwa penting yang terjadi sekali seumur hidup itu ada dokumentasinya.
            Rencananya foto tersebut akan kupajang di runag tamu dan ruang tidur. Dengan begitu aku tak bingung lagi bila ditanya teman-temanku : “Mana foto pengantinmu?” Belum lagi bila nanti anak kami besar. Pasti mereka akan menanyakan foto pernikahan orang tuanya. Tapi setelah anak kedua lahir, disusul anak ketiga 6 tahun kemudian, janji suami untuk foto bersama tak jua bisa ia tepati.
            “Yang penting kita sudah resmi menjadi suami-istri. Dan sampai sekarang pernikahan kita masih bertahan kan sayang?” begitu jawaban suami bila aku mengungkitnya kembali. Mungkin dia terlalu sibuk atau terlalu menganggap remeh masalah yang kuanggap penting ini. Akhirnya, aku pun tak lagi mempermasalahkannya.
            Meski membenarkan jawaban suamiku, namun tetap saja aku merasa kecewa dan sedih. Apalagi dalam keluargaku hanya aku yang pernikahannya tak dipestakan, bahkan tidak memiliki foto pernikahan.
            “Masak foto pengantin saja kita tak punya, Bang! Apa kata anak-anak kalau mereka besar nanti?” gerutuku. Suamiku hanya tersenyum mendengarnya.

Sampai akhirnya aku mendapat berita teman suamiku akan bercerai karena istrinya ketahuan berselingkuh. Masih terbayang dibenakku betapa meriahnya perkawinan mereka 9 tahun yang lalu. Bahkan paling meriah diantara pesta teman-teman suamiku yang lain.
Ternyata awet tidaknya sebuah perkawinan tidak bisa ditentukan oleh pesta yang meriah dan gaun nan mewah. Aku pun tersadar bahwa kami sangat beruntung memiliki pernikahan yang harmonis. Sepuluh tahun usia pernikahan, aku dan suami dapat bertahan dari segala godaan meski pernikahan kami dilakukan tanpa pesta dan foto-foto. Apalagi saat mendengar dan menyaksikan di media-media maraknya kasus perceraian belakangan ini. Ah, rasa kecewa pun berganti dengan rasa syukur.

0 komentar:

Post a Comment