Breaking News

10 February, 2012

Kasih Sayangku Tak Kan Tergantikan


 

Ternyata benar apa yang dikatakan seseorang yang sudah menjadi ibu. 24 jam rasanya tak akan pernah cukup. Bukan berarti tidak bisa mengatur waktu dan mengelola pekerjaan lho. Hmm….alhamdulillaah di usiaku yang tahun ini akan memasuki 33 tahun, aku bersyukur telah dikaruniai dua orang anak yang cantik dan ganteng serta suami yang penuh perhatian. Rafa Shahira, perempuan, yang bulan Juli nanti akan duduk di bangku Sekolah Dasar Pelita, dan Muhammad Fakhri, laki-laki, akan bermain dan belajar di kelas playgroup Al Haamidiyah.
Aku sempat bekerja di salah satu bank swasta di Jakarta Selatan selama hampir empat tahun lamanya. Aku juga tidak pernah menyangka akan menjadi ibu rumah tangga beneran seperti sekarang ini dalam jangka waktu yang relatif cepat. Memang dulu pernah terlintas di benakku kalau suatu hari nanti aku tidak akan ngantor lagi. Tapi, hidup adalah pilihan. Ketika dokter spesialis anak mengatakan dengan tegas,”Ibu hanya punya dua pilihan. Tetap bekerja di kantor atau berada di rumah setiap hari”.
Mestinya bayi normal menghabiskan susu sehari minimal 300 cc, misalnya. Namun anakku hanya sanggup minum dari sendok sebanyak 40-60 cc saja. Belum lagi sering sakit. Buang-buang air hampir setiap minggu. Ibuku yang selalu memandikannya sering curhat padaku. “Tadi pagi mama nangis abis Rafa kurus sekali. Pegang pantatnya saja kok seperti tulang, gak ada dagingnya”. Atau pada saat aku ngantor, telepon genggamku berdering. “Rafa panas, nangisnya gak berhenti-berhenti. Gak mau minum susu. Kamu bisa pulang cepat hari ini?”. Masih banyak lagi pertanyaan dan pernyataan yang membuat aku pusing tak karuan.
Pantas saja konsentrasiku sering buyar dikala sedang bekerja seharian. Adaaa saja kesalahan kecil ataupun besar yang aku lakukan. Ini sangat membahayakan aku dan orang lain karena aku dulu adalah seorang teller. Memang sejak awal ditugaskan sebagai frontliner itu aku kurang menyukainya. Kalau boleh sih ingin jadi customer service lah. Pekerjaan itu kutekuni sebagai rasa syukur aku. Pernah suatu hari aku salah input nominal. Yang tertulis di formulir pemindahbukuan adalah Rp 8 juta tapi aku ketik Rp 3 juta. Tak lama nasabah yang bersangkutan menelepon dan marah-marah. Untung atasanku baik sekali mau menjadi tameng menghadapi orang tersebut.
Oh ya, kembali ke masalah tadi. Tadinya suamiku masih berat jika aku tak bekerja lagi. Karena kebetulan kami masih mengontrak. Apalagi ayahku, dari wajahnya terlihat agak kecewa dengan keputusanku itu. Sarjana kok malah di rumah. Mungkin rasanya gimanaaaa gitu bila dibandingkan dengan anak-anak teman kantornya yang sudah punya posisi cukup bergensi di tempat mereka bekerja. Ibuku lah yang terus menyemangati aku. Akhirnya aku memilih mengundurkan diri dari bank tersebut ketika Rafa berusia tujuh bulan.
Rafa tidak bisa minum susu dengan dot. Itulah titik permasalahannya. Padahal selama cuti melahirkan aku sudah melatihnya secara maksimal. Aku juga sudah menyimpan stok ASI di freezer sebanyak kira-kira satu liter. Botol susu maupun dot berbagai merek sudah aku coba, sampai harga paling mahal sekalipun. Ya tapi itulah takdirku memang harus menjadi full time mom. Di saat masih bekerja, inginnya jadi ibu rumah tangga. Kini setelah seharian di rumah, tergelitik perasaan untuk kembali ngantor. Pernah suatu hari anak-anakku berkata,”Mama jangan kerja ya. Nanti Fakhri sama siapa? Rafa gak mau sama si Mpok. Nanti siapa yang nemenin les, makan, mandi, main di rumah? Kita kan sayang sama mama!”, Mereka langsung memelukku erat. Jadi sampai sekarang aku tetap seperti ini.
Pukul 05.00 aku harus sudah bangun pagi dan langsung shalat Subuh. Merapihkan dapur, menghangatkan makanan semalam atau masak nasi goreng kesukaan anak-anak. Pokoknya menu yang gak bikin susah di pagi hari. Suamiku juga sudah bersiap-siap. Karena kantornya jauh sekali di Cikarang, maka dia harus berangkat menggunakan motor yang nanti dititipkan lalu disambung dengan bus patas. Setelah mandi, aku bergegas membangunkan Rafa yang masih terlelap tidur. Sambil mengumpulkan nyawa, biasanya dia nonton kartun Spongbob Squarepants atau Curious George dulu, baru sarapan. Kalau Fakhri? Belakangan saja, yang penting Rafa dulu. Pukul tujuh lebih kami bertiga sudah ada di atas mio. Menuju ke sekolah Rafa yang masih duduk di TK B. Biasanya aku dan Fakhri langsung ke warung langganan. Belanja sayuran, ikan atau ayam dan bahan masakan lain yang akan aku masak setiba di rumah. Kadang-kadang mampir ke rumah ibuku yang jaraknya masih dekat dengan rumahku.
Supaya aku bisa masak di dapur, aku buatkan segelas susu hangat untuk menemaninya nonton VCD. Oh ya, sebelum masak aku menyapu dan mengepel lantai terlebih dahulu. Kasihan Fakhri, kalau sampai duduk di karpet dan lantai yang kotor. Setelah itu, memasukkan pakaian kotor ke dalam mesin cuci. Sambil menunggu proses cuci pakaian hingga kering, aku berkutat di dapur. Memang tidak tiap hari aku masak. Beli masakan jadi di warung nasi Padang, warteg, soto Solo, soto Betawi atau ayam goreng Sabana atau Bolo-bolo adalah pilihanku.
Dikira gampang memasak itu? Sudah ngos-ngosan, berkeringat di dekat kompor gas, ngulek bumbu (wah, ini hasilnya bisa diketawain orang) , eh…anak-anak ogah makan. “Mau indomie aja!”, begitu kata mereka. Sebel jadinya. Waktu-waktu tersebut diselingi dengan buang air kecil maupun besar si Fakhri. Belum lagi kalau dia minta digendong.”Ngantuk Ma…”.Tidak jarang aku kelupaan dengan apa yang sedang kuolah di dapur. Ya. Gosong. Sedikit tak apa lah…masih enak disantap. “Mama sini, Fakhri minta ditemenin mama nonton VCD-nya”.
Menjemur pakaian, bersih-bersih rumah adalah kegiatan berikutnya. Setelah itu makan siang bertiga yaitu aku, Rafa, dan Fakhri. Cuci piring, ganti baju Rafa dan bisa istirahat beberapa saat adalah sangat berharga. Setelah shalat Zuhur dan Rafa cukup istirahat, aku mengantar Rafa les calistung (baca, tulis, hitung). Hanya dua kali dalam satu minggu, hari Senin dan Kamis, selama satu jam saja. Aku dan Fakhri sering menungguinya les hingga selesai. Terkadang aku mampir ke rumah ibuku supaya Fakhri tidak bosan.
Setibanya di rumah, pakaian yang sudah kering langsung aku seterika. Rafa dan Fakhri cukup mengerti dan bukan tipe sering ngambek minta ini-itu seperti anak-anak lain. Paling sering mereka nonton cerita anak di televisi, mewarnai, atau main lego dan boneka. Kalau sudah sore, punggung dan anggota tubuhku yang lain sudah tak berdaya. Padahal belum memandikan mereka. Wuiiiihhh, paling enak kalau sudah Maghrib, sudah beres semua, sudah makan malam, tinggal menunggu mereka mengantuk dan suami yang pulang larut malam. Mainan berserakan di lantai dan kamar tidur. Praktis aku yang merapikannya kembali agar papanya yang suntuk dengan pekerjaan kantor seharian menjadi lebih nyaman dengan keadaan rumah.
Paling seru lagi nih, saat aku sakit. Mau tidak mau aku juga yang harus bersusah-payah melakukan kegiatan rutin ini. Baru mau selonjoran kaki, mau leyeh-leyeh, eh…..anak-anak minta didongengi atau ditemani main mobil-mobilan. Aku juga menyempatkan diri datang ke Posyandu. Bersosialisasi dengan tetangga dan ajak anakku jalan kaki supaya sehat.
Lebih enak kalau anak-anak sudah tidur di kamar malam harinya. Kalau belum? Wah, lebih repot lagi. Melayani suami dan anak-anak membuatku ambruk rasanya. Tapi itu dulu. Kini aku berusaha menikmati kebaikan dan rezeki yang sudah diberikan Allah. Ilmu pengetahuan yang aku dapatkan hingga perguruan tinggi akan kuturunkan kepada kedua buah hatiku. Bangga sekali aku, Rafa mendapatkan peringkat ke-18 dari 120 anak yang lolos tes masuk SD Pelita. Ternyata kasih sayang dan perhatian seorang ibu tak bisa tergantikan oleh seorang pembantu, nenek dan kakek, maupun oleh orang lain.


0 komentar:

Post a Comment