Breaking News

15 February, 2012

Karna Kebersamaanlah Yang Membahagiakan





By Siti Nuraida 
Hari ini adalah jadwal aku mencuci pakaian. Iseng aku mengajak Baja untuk ikut menemaniku menjemur di lantai dua. Girang bukan main, Baja bergegas mendahuluiku menaiki tangga pertama. Suami ikut serta untuk membantuku menjemur dan mengawasi Baja.

Kami lalu memilah milah pakaian yang hendak dijemur. Baja ikut membantu dengan mengambil pakaian yang kami maksud dari dalam ember.

Berikutnya tanpa kami suruh Baja ikut mengklasifikasikan satu persatu barang yang ada di ember. Ini punya emak..ini punya ake..ini punya baja..dst. Kadang kami tergelak melihat ekspresi kebingungan Baja saat menemukan 'kacamata 3 dimensi' kepunyaanku. Walau tidak mengerti, baja akan ikut tertawa bersama kami.

Kebahagiaan yang teramat mudah dan murah.

Tawa baja membawa ingatanku pada seorang anak lelaki.

Namanya Lanang. Umurnya genap 5 tahun. Tampan blasteran. Bersekolah di sebuah TK ternama (dan mahal tentu saja) di ibukota. Bermacam les (yang juga serba mahal) juga diikutinya. Mulai dari les melukis, bahasa inggris, berenang sampai les mengaji. Kesemuanya diikuti Lanang dengan baik. Terbukti lanang mahir di keempat bidang tersebut. Hanya hari minggu lanang berhenti belajar. Hari dimana lanang bisa bertemu dengan papi atau maminya. Tapi tidak pernah bisa bertemu keduanya dalam waktu bersamaan. Orang tua Lanang telah bercerai sejak usianya 3 tahun. Kini Lanang tinggal bersama ibunya. Seorang pekerja sibuk yang sering bertugas di luar kota atau mancanegara.

Kali pertama kami menginap di rumahnya, lanang dan Baja langsung akrab. Kemudian aku. Tapi Lanang masih sungkan pada suamiku. Sesuatu yang  dapat kupahami. Lanang jarang menghabiskan waktu bersama ayahnya. Mungkin itu sebabnya sosok seorang lelaki,terutama seorang ayah, asing bagi Lanang.

Lanang memiliki kamar sendiri yang penuh sesak oleh buku,mainan dan lukisan hasil karyanya. Kondisi ini membuat Baja sangat antusias karena baja bisa ikut menjajal mainan dan buku yang tersedia. Termasuk ipad terbaru yang sudah mulai bosan Lanang mainkan.

Melihat Baja begitu riangnya, terbersit sesal. Andai kami juga bisa melimpahi banyak kesenangan seperti yang Lanang punya.

Setelah puas menjajal mainan serba mahal tadi, Baja kemudian mendekati aku dan menyodorkan sebuah busur mainan. Busur mainan yang sudah tidak memiliki tali pelontar.

'Main sepedah mbu'
'Aaayo!' timpalku

Lanang yang sedari tadi memperhatikan kami refleks mendekat dan mengajukan protes.

'Bukan Baja.bukan tante. Ini mainan panah-panahan aku yang rusak. Bukan sepeda.'

Aku tidak membantah. Sembari senyum, aku memegang kedua ujung busur rusak tersebut ibarat tengah memegang stang sepeda.

'Ini sepeda kok nang. Nnaahh..kalau yang ini pancingan. Kita mancing yuk!'
Tuturku sambil memegang hanya salah satu ujung busur panah.

Melihat polahku Baja tergelak sambil berteriak antusias 'lagi ambu lagi! '.

Senyum Lanang mulai merekah. Lanang lalu mengambil  'pancingan'  tadi dari genggamanku.
'Kalau ini pinsil raksasa ya ateu?!' Ujarnya sambil berpura-pura menuliskan sesuatu.
Aku mengacunginya dua jempol.

Tak lama suamiku ikut bergabung. Baja dan Lanang menyodori kami berdua bermacam benda. Berharap benda benda tersebut dapat berubah menjadi beragam fungsi. Mereka pun ikut mentransformasi barang atau mainan rusak yang mereka temukan. Seru sekali. Sampai2 si ipad dan mainan2mahal yang tadi sempat menghipnotis baja hanya merana di sudut kamar.

Terlihat Lanang begitu menikmati beragam permainan yang kami mainkan. Bahkan Lanang mulai menikmati keberadaan suamiku dan acapkali menggelendot manja.

Pengasuh Lanang tak lama datang untuk menyuapi lanang.

Aku mengutarakan kekagumanku akan Lanang. Betapa baik & bersahabatnya Lanang. Begitu baik dan pengertian nya anak sekecil Lanang. Tanpa ayah dan sering ditinggal ibunya bekerja tak lantas membuat Lanang 'nakal'.

Setengah berbisik, si pengasuh bercerita jika dalam kesehariannya, Lanang tidak lah seceria hari ini. Lanang memang anak baik. Tapi di sekolah, Lanang adalah anak yang pendiam dan tertutup. Sikap ini nampaknya dikarenakan Lanang tidak memiliki orang tua yang utuh seperti teman-teman sekelasnya.

Aku dan suami terenyuh mendengarnya.

Saat piring Lanang tandas, taksi pesanan kami telah datang. Baja menangis enggan pulang. Rupanya Baja ingin kembali mengekplorasi koleksi mainan Lanang terutama si ipad. Kami bujuk dengan iming-iming akan membuatkan Baja mainan sesampainya kami dirumah (karena tak mungkin juga kami menjanjikan membelikan si ipad terbaru xp). Setelah bernegosiasi cukup a lot akhirnya Baja mengiyakan ajakan pulang kami.

Kami kemudian berpamitan pada Lanang dan seisi rumah. Kami menjanjikan akan kembali lain waktu. Lanang hanya tertegun sekejap kemudian berlari masuk ke rumah mengucapkan dadah sambil lalu. Mungkinkah Lanang sedih karena kami pulang?

Merenungi kembali cerita si pengasuh, aku simpulkan bahwa bukan seabrek aktifitas atau limpahan mainan yang dibutuhkan seorang anak. Bagi anak, bukan mainan yang utama tapi dengan siapa dia memainkanya. Dan bagi Lanang mungkin yang dibutuhkan adalah keutuhan orang tuanya, sebuah kebersamaan.

Kebersamaan memang membuat hal remeh menjadi membahagiakan.
Membuat saat tak menyenangkan menjadi lebih dapat tertahankan. Ujian yang dihadapi bersama lebih menguatkan ketimbang di kala sendirian.

Kebersamaan tidak harus dalam kemewahan. Bahkan kebersamaan dalam keprihatinan lah yang seringkali lebih meninggalkan kesan. Sesuatu yang sungguh aku yakini. Terlebih saat aku melihat sebuah contoh nyata.

Suatu hari saat aku tengah berboncengan dengan suami aku menyaksikan kebersamaan yang berkesan itu.
Di ujung jalan yang kami tuju terlihat pasangan muda dengan seorang putri balita. Pasangan muda ini pengamen berbekal mic dan stereo set mini. Sehelai kain gendongan nampak melingkar di leher si istri. Sedangkan tali stereo set mini dsampirkan si suami di bahu kanan.Dan putri kecil mereka berceloteh riang,duduk di bahu kanan ayahnya. Ketiganya asik bercengkrama sembari menyusuri jalan beraspal. Sekalipun melelahkan, kebersamaan mereka nampak membahagiakan.
Terfikir olehku jika gadis kecil tersebut lebih beruntung dibanding Lanang.

Matahari makin terik. Semua pakaian sukses berjajar rapih di tali jemuran. Seperti yang sudah kami duga, Baja menolak kami ajak turun. Penolakan nya tidak memakan waktu lama karena Baja segera tergiur ajakan kami untuk bermain playdoh bersama. Sebuah kebersamaan sederhana yang insya4jji dapat selalu membahagiakan buah hati kami.

0 komentar:

Post a Comment