Breaking News

09 February, 2012

Kalau Kau Suka, Katakan Saja


 
By Dhia Nisa  
Posting terussss. PD aja lagi  ^_*

          Aku pikir, seseorang seperti aku, seorang yang pendiam, pemalu, tidak berprestasi dan sering sakit-sakitan tidak akan pernah mempunyai soulmate. Padahal dalam hati, ingiiiinnn betul, punya satu orang saja. Bahagia kali yah punya sahabat yang bisa menemani kita dalam setiap suka maupun duka. Bahagia kali yah kalau kita butuh, dia langsung ada. Cling, kaya aladin dan lampu wasiat. Kalau aladin butuh  soulmate yang nginap di lampu wasiatnya, tinggal gosok dan hadirlah sang soulmate membantu setiap inginnya. Tapi sayang itu hanya sebuah impian, impian dari seorang wanita ceking berkacamata besar dengan rambut ekor kudanya.
          Dua puluh dua tahun aku menunggu hadirnya seorang soulmate. Penantian yang amat panjang dan melelahkan. Sekarang aku baru tersadar, soulmate itu tidak akan datang kalau kita tidak mencarinya. “Seseorang tidak akan tahu kalau dia dibutuhkan olehmu untuk menjadi soulmatenya, kalau kamu tidak mengatakannya. Dan kamu akan tetap sendiri selama kamu pasrah hanya menunggu.”
          Satu kesempatan di penghujung masa SMP ku, aku mengenal seseorang sekilas dengan pembawaan yang kalem dengan kacamata berukuran pas dengan bentuk wajahnya, parasnya cantik. Aku mengenal namanya, tapi tidak orangnya. Setiap kali bertemu dengannya hanya senyum yang terlontar.
          “Ohh, aku ingin jadi temanmu,” jeritku dalam hati.
          Ada rasa sedih menyergap, disaat aku menemukan sesosok yang mungkin bisa kuajak menjadi teman, disaat itu juga perpisahan harus terjadi. Kelulusan SMP membuat impianku terkubur kembali. Aku juga heran, entah kenapa dia begitu kuat ada dalam pikiran dan hatiku.
          Sudahlah, mungkin Allah satu saat kelak akan mempertemukan aku dengan seseorang yang bisa menjadi soulmateku kelak, hibur diri ini. Mungkin di bangku SMU. Semoga.
          Alhamdulillah nilai ujian SMP ku tidak terlalu mengecewakan, yah bisa dibilang cukup untuk masuk sekolah favorit waktu itu. Aku pun menjalani proses pendaftaran, dan OMG itu dia. Dia orang yang aku incar menjadi temanku waktu SMP. Dia ada di sini, “Allah terima dia di sekolah ini juga, agar aku bisa mengenalnya” harapku antusias.
          Doaku terkabul. Kami satu sekolah meski tak satu kelas. Aaahhh, coba kau satu kelas denganku, kita kan bisa jadi dekat. Upss, itu dia ucapan seorang yang pemalu dan pendiam.  Hanya sebuah harapan dan keinginan benak saja. Aku mengenalnya, tapi sekedar kenal dan lagi-lagi senyum jadi komunikasi. Dia terlalu supel untuk ukuranku. Temannya banyak, ramah dan mudah berkomunikasi. Aku jadi segan berharap dia bisa menjadi temanku.
          Sudahlah, mungkin bukan saat yang tepat aku mempunyai seorang soulmate setipe dia. Masa 3 tahun di SMU berlalu juga dengan ketidak hadiran seorang pun soulmate yang kuimpikan, tidak juga dia yang menjadi harapanku sejak SMP. Sedih, aku semakin terpuruk dengan harapan-harapanku memiliki seorang saja soulmate.
          “Kalau tidak di SMU, mungkin dibangku kuliah,” hibur hatiku.
          Alhamdulillah lagi-lagi nilaiku tidak mengecewakan, aku pun mencoba untuk mendaftar di unversitas terkenal di kotaku. Sebenarnya aku ragu juga untuk kuliah, karena ilmu yang aku inginkan saat itu tak ada di kampus itu. Aku ingin mendalami komputer. Ilmu yang saat itu masih baru-barunya. Sayang waktu itu masih menjadi mata kuliah umum saja, bukan sebuah fakultas. Tapi abah selalu mendorongku untuk mengikuti tes masuk perguruan tinggi itu, seperti keempat kakak lelakiku yang juga jebolan universitas tersebut.  Aku mencoba daftar untuk menyenangkan hati beliau. Diterima jalanin, kalau pun tidak , tak masalah.
          Ups, ternyata namaku tercantum di sebuah halaman di koran khusus pengumuman UMPTN. Betapa senangnya abah. Abah juga yang mengantarku bolak balik untuk daftar ulang, hingga antar jemputku kuliah, Allah… betapa beliau inginnya aku menjadi seseorang. Cukup satu tahun beliau menemani langkahku di kampus itu, karena Allah memanggilnya. Aku pun kehilangan seorang pigur yang aku banggakan. Ohhh, soulmate, andai kau ada disini, disaat sedihku, mungkin beban dan rasa kehilangan itu tidak seberat ini.
          Satu saat, sekelebat aku melihat sesosok yang sangat aku kenal melintas dihadapanku. Ahhh, dia tersenyum  saja. Dia anggun dengan jilbab panjangnya. Pembawaannya tambah kalem dan lembut. Aku suka. Ternyata dia juga kuliah dibawah fakultas yang sama denganku. Dia? Iya, dia soulmate khayalanku. Penampilannya telah berumah. Lebih anggun dan teduh dengan busana muslimahnya. Tiba-tiba ada rasa yang berubah terhadapnya. Dia seolah jauuuuhhhh dari jangkauanku saat ini.
          “Sudahlah Zi, tak ada harapan lagi kau menjadikannya soulmatemu, dia sudah ekslusif sekang,” batinku sedih. Di zaman aku kuliah, wanita berbusana muslimah menjadi sesosok ekslusif, karena dimata kami yang belum mengenakannya, kami menganggap mereka itu tergolong orang-orang yang hanya mau bergaul dengan sesamanya, sesama teman yang berbusana muslimah. Selalu bergerombol sesama kalangan mereka sendiri, berbicara seolah berbisik-bisik. Mereka jarang ada bersama orang-orang seperti kami, makanya gelar ekslusif layak untuk mereka, *Terakhir aku baru sadar bahwa sebenarnya mereka tidak seekslusif bayanganku. Ketika aku memutuskan untuk bergabung menjadi bagian dari mereka setelah masa kuliahku berakhir.
          Di penghujung kuliah pun, aku gagal mendapatkan seoarang soulmate idaman. Biarlah dia, tetap mengisi sisi lain hati ini. Sejak usai kuliah, aku memutuskan untuk mencari kegiatan positif yang mendukung hijab yang baru saja kuikrarkan untuk hidupku. Aku harus mencari kolam susu, yang bisa mengcharger pikiran dan hatiku dengan hal-hal yang lebih bermanfaat untuk satu tujuan, perbaikan diri.
          Tak kan pernah kupungkiri, bahwa setiap proses hidup kita, ada yang mengaturnya, baik itu perpisahan maupun pertemuan. Hanya Allah yang ada dibalik semua ini. Dan ternyata kegiatan yang aku ikuti diketuai olehnya. Dia, soulmate impianku. Di sini aku mulai mengenalnya. HOREEE…. aku menjadi temannya. Ada rasa bahagia menyelinap di relung hati. Ternyata Allah telah mengatur pertemuan kami dengan begitu indahnya. Dalam sebuah naungan ukhuwah yang islamiyah. Subhanallah.
          Namun itu tak berlangsun lama, dia harus hengkang dari jabatannya. Karena ada hal yang lebih prioritas yang harus dilakukannya. Dia pun kembali lepas dari genggamanku, sebelum benar-benar dia menjadi soulmateku. Aku harus ikhlas, cukup menjadi temannya sudah menjadi kebahagiaan tersendiri bagiku. Pernah mengenalnya menorehkan satu sisi kebaikan dalam diri ini. Aaahhh, kau, andai kau tahu isi hati ini. Betapa aku ingin sekali menjadi soulmatemu.
          Sepuluh tahun pun berlalu, tanpa seorang soulmate. Dalam heningku, aku terus mencoba mencari jejaknya. Aku datangi rumah ibunya. Aku tanya teman-teman yang pernah dekat dengannya. Aku berkirim surat lewat keponakanku yang katanya dia ada disekolahnya. Tak ada jawaban berarti. Suratku tak pernah terbalaskan. Kupikir, mungkin dia sudah lupa denganku. Ya, Allah betapa aku ingin kembali bertemu dengannya. Pertemukan aku ya Rabb.
          “Ziaaahhh,” seru seseorang menghampiriku di sebuah toko buku.
          “Subhanallah… kemana aja?” serunya lagi sambil menggenggam erat tanganku, memelukku. Aku terpana. Kaget. Takjub. Betapa Allah mengantarkannya sendiri kehadapanku secara tiba-tiba, disaat aku kehabisan cara untuk menemukan jejaknya. Kini tak ada jarak lagi diantara kami. Setiap sempat dan setiap ingin, aku selalu mencoba menyapanya meski lewat pesan singkat di hp. Alhamdulillah dia pun mengangkatku menjadi saudarinya, lebih dari seorang sahabat.
          Ahaa, kini aku tahu bagaimana caranya mendapatkan seorang soulmate tanpa harus menunggu 22 tahun. Mau tahu? Jika kamu menginginkan seorang soulmate, dan sudah mengincarnya untuk dijadikan soulmate, temui dia, katakan maksudmu. Kalau kau suka, katakan saja.
          Mau bukti? Kini aku sudah dapat soulmate kedua ku, meski baru 2 bulan kenal, aku sudah merasa nyaman dengannya. Dia sahabat baruku, yang turut menghiasi hari-hariku kini. *


0 komentar:

Post a Comment