Breaking News

16 February, 2012

JUPITER (the last chapter)


  Finally..!! Semoga someday bisa meng-transform cerita ini jadi skenario.. sapa tahu jadi sinetron.. *gubraks! ngga keren amat yak??*

Bagian 3

Jupiter:
Aku marah. Marah pada mas Sakti yang menuduhku telah mempermalukan keluarga. Marah pada Bunda yang terus menerus menganggap aku anak kecil yang harus selalu diatur, diperintah dan dilarang ini itu. Aku marah pada cara mereka mengasihani aku, membuat aku semakin merasa menjadi orang yang gagal. Mereka tak pernah menganggap suksesnya bandku sebagai suatu yang berharga. Saat aku juara 2 lomba band se-Bandung, mereka tak peduli.

Baru sekali aku pulang dalam keadaan mabuk. Baru sekali aku memegang sebungkus kecil heroin yang bahkan belum aku buka. Sebenarnya aku bahkan berniat membuangnya. Tapi mereka sudah memperlakukan aku seakan aku seorang pecandu yang harus direhabilitasi. Aku benci saat mas Sakti bilang ia kecewa padaku. Aku benci karena Bunda merasa jadi ibu yang gagal. Kenapa mereka terus membuat aku membenci diriku sendiri?
Apa mereka tak tahu, sikap mereka ini justru semakin membuat aku terpuruk?

Dan bahkan aku marah pada Lana. Yang tak juga mengerti kenapa aku merasa begitu frustasi melihatnya bersama mas Sakti. Yang tak juga sadar apa yang aku rasakan setiap aku bertemu dengannya. Atau saat aku tak bisa bertemu dengannya.

Aku tahu, laki-laki tak pantas menangis. Begitu Bapak selalu bilang. Tapi aku tidak tahan lagi. Kedatangan Lana barusan sempat membuat harapanku bangkit, tapi aku sendiri yang menghancurkannya. Aku kehilangan kontrol waktu ia menyebut soal Bapak hingga aku mengucapkan kata-kata yang terlalu kasar padanya. Aku tahu, ia pasti sakit hati. Dan sekarang, ia pasti membenciku. Ia pasti tak mau lagi bicara denganku. Aku marah menyadari akan kehilangan dia untuk selamanya, karena ulahku sendiri.
Kenapa Bapak harus pergi saat aku masih membutuhkan Bapak?

Suara Bunda terdengar lirih di balik pintu. Sudah berapa lama Bunda di sana? Aku terlalu sibuk mendengar isak tangisku sendiri, teriakanku sendiri, hingga aku baru sadar, Bunda sedang menangis di sana.

Saat aku membuka pintu, kulihat Bunda terduduk di lantai, tampak sangat lelah. Aku tak sanggup melihatnya begitu, jadi aku memeluknya.

Kami berpelukan lama sekali.
“Maafin Ju ya bun…”
“Kamu nggak salah nak.. Bunda yang salah sampai kamu jadi seperti ini.. Bunda seharusnya sadar dari dulu, kalau kamu itu anak yang istimewa.. Maafkan Bunda ya nak..”
“Ju ingin Bunda bangga sama Ju… Tapi Ju nggak tahu gimana caranya..”
“Iya.. iya.. Bunda tahu… Kita akan perbaiki semuanya ya..  Bunda juga salah, lupa kalau kamu itu sudah dewasa.. bukan lagi anak kecil yang harus diatur.. “

Kami menangis bersama sampai kehabisan air mata. Kami tak berhenti berpelukan. Aku baru sadar, aku rindu dipeluk Bunda seperti ini. Aku rindu belaian tangan Bunda di rambutku. Bundalah tempat aku bisa bebas menangis sepuasku saat aku kecil dulu. Bapak selalu bilang, Bunda terlalu memanjakan aku.

“Bunda..?”
“Ya?”
“Ju kangen Bapak…”
Pelukan Bunda makin erat. “Bunda juga, sayang.. Bunda juga kangen Bapak.. Dulu kita sering bercanda bersama ya..?”
“Iya…”

Aku akhirnya melepaskan pelukanku. Aku merasa jauh lebih lega. Bunda menghapus airmata di pipiku.
“Bunda juga ngerti perasaan kamu sama Lana…”
Saat itu aku serasa dijatuhi bom atom. “Maksud Bunda apa..?”

“Bunda tadi mendengar semua pembicaraan kalian. Kamu memang tidak  ngomongin perasaan kamu, tapi cara kamu bicara sama Lana..dan terutama waktu kamu marah.. Kamu iri ya sama mas Sakti karena punya Lana..?”
Aku terpaku, tak mampu menjawab.


“Atau kamu cemburu..?”
Aku menatap Bunda bingung.
“..iya kan? Karena kamu jatuh cinta sama Lana..? Benar kan..?”
“Bun.. tapi kan Ju..” Aku merasa amat gugup menyadari kenyataan baru ini.

Apa benar? Apakah itu sebabnya aku sering memikirkan Lana beberapa bulan terakhir ini? Itukah sebabnya aku merasa sedih melihatnya pergi bersama mas Sakti? Apakah aku jatuh cinta?

Bunda tersenyum hangat. “Atau jangan-jangan kamu sendiri nggak sadar..?”
“Ju… nggak tahu, bun..”
Ia membelai kepalaku. “Ya sudah.. kau pikir saja sendiri.. tapi..” senyum Bunda berubah jahil. “.. jangan lama-lama mikirnya.. nanti kamu keburu kehilangan dia…”

Dan sisa malam ini memang kuhabiskan untuk memikirkannya. Bunda tak mengatakan apa-apa lagi, tapi kubiarkan beliau di kamarku, sampai tertidur. Maksud Bunda ingin menemani aku tidur, tapi justru aku yang tak bisa tidur hingga subuh berkumandang.

Lana :
Aku tak bisa memejamkan mata. Sebenarnya aku masih lelah setelah  3 jam lebih perjalanan Jakarta-Bandung, tapi aku tidak merasa mengantuk. Terlalu banyak yang aku pikirkan.

Aku masih sulit mengerti maksud pembicaraan mas Sakti beberapa saat lalu. Mas Sakti tahu kalau selama ini Jupiter sering merasa iri padanya, tapi ia tak pernah mengira sampai sejauh ini. Ia dan Bunda menduga, kalau Jupiter selama ini menyimpan perasaan khusus padaku. Apa iya?

Mas Sakti tahu, sebandel apapun Jupiter, ia takkan mau menyakiti hati saudaranya. Jadi ia frustasi karena mencintai pacar kakaknya sendiri.
Kata-kata mas Sakti, caranya bicara, membuatku heran. Kenapa ia tidak marah? Kenapa ia tak sakit hati? Sebaik apapun mas Sakti, ia bukan malaikat.

“Kalau seandainya itu benar.. seandainya Ju memang suka sama Lana.. trus kenapa? Apakah itu akan mempengaruhi hubungan kita, mas?”
“Itu terserah padamu…”
Aku mengernyit. “Kok aku..? Aku kan tanya perasaan mas dalam hal ini gimana..?”
Ia mengusap pipiku. “Aku sayang sekali sama kamu… tapi aku juga sayang sama Jupiter.. Aku tak bisa memilih salah satu diantara kalian berdua.. Apapun keputusanku, itu pasti akan menyakiti salah satu dari kalian.. Jadi keputusannya kuserahkan padamu..”
“Maksud mas, aku harus memilih antara mas dan Jupiter..? Kenapa mas berpikir aku mungkin juga punya perasaan yang sama seperti Ju?”
Mas Sakti tertunduk. Pasti ini berat sekali buat dia.
“Waktu aku melihat kalian mengobrol, bercanda, tertawa.. Sepertinya… sudah lama aku tak melihat Jupiter sebahagia itu… dan kamu juga… aku belum pernah melihat kamu bisa tertawa selepas itu… kamu bahkan belum pernah terlihat sesenang itu waktu kita sedang bersama-sama.. Dan belakangan ini, kamu lebih sering diam waktu kita lagi jalan-jalan, atau di bioskop.. padahal kamu dulu cerewet sekali.. Apa yang terjadi sama kamu?”

Aku tertegun. Apa yang terjadi padaku?
“Pikirkanlah, Lan… Malam ini, besok dalam perjalanan pulang, atau setelah kamu sampai di rumah kamu lagi.. terserah.. Kapanpun, kamu bisa hubungi aku, dan kita teruskan pembicaraan ini.. Sekarang kamu tidur.. istirahat ya..”

Tapi bagaimana aku bisa tidur, kalau ia membebaniku seperti ini?

Sayup-sayup terdengar suara pengajian di mesjid dekat rumah. Sebentar lagi subuh, tapi aku masih tak bisa tidur. Air wudhu membuat mataku berat, dan mulai mengantuk, tapi ini sudah tanggung. Aku sudah berniat pulang sepagi mungkin, sebelum Jupiter bangun. Mas Sakti berjanji akan mengantarku.

Pikiranku masih buntu. Aku masih tak bisa percaya kata-kata mas Sakti. Bagaimana kalau Jupiter tidak punya perasaan khusus padaku? Bagaimana kalau ia hanya sekedar iri pada kebahagiaan mas Sakti? Lalu kenapa mas Sakti tidak berusaha mempertahankan aku? Sebenarnya dia cinta aku atau tidak sih?

Aku menyadari, belakangan ini, setiap aku ke Bandung, aku justru lebih sering ngobrol dengan Jupiter. Mas Sakti sangat sibuk di kampusnya, Bunda juga punya banyak order catering. Siang hari, saat semuanya sibuk, Jupiter justru lebih banyak ada di rumah, karena acara bandnya lebih sering malam hari. Aku tidak akan menyangkal jika mas Sakti bilang, aku dan Ju makin dekat. Menghabiskan waktu bersama Ju memang terasa menyenangkan. Saat itu, kami bisa jadi diri kami sendiri.

Tapi cinta?

Aku mandi di pagi buta, berjuang melawan dinginnya air. Bawaanku tak banyak, jadi dalam sekejap aku sudah siap berangkat. Mas Sakti sudah ada diteras.
“Sekarang?” tanyanya. Aku mengangguk.
“Aku panasin mobil dulu..”

Sambil menunggu mas Sakti memanaskan jeepnya, aku memandangi rumah ini, juga pekarangannya yang rimbun. Mungkin aku tidak akan kesini lagi dalam waktu yang lama. Kejadian semalam membangkitkan keinginanku untuk memperbaiki hubunganku dengan Mama. Nanti setelah mendapat tiket kereta, aku akan SMS Mama, dan minta beliau menjemputku di Gambir. O tidak, aku akan telepon langsung saja ke rumah.

Tapi aku pasti akan merindukan suasana di rumah ini. Merindukan masakan Bunda, bercanda dengan Jupiter, dan…
“Ayo, Lan… berangkat sekarang!”
… apakah aku akan merindukan mas Sakti?

Kereta baru akan berangkat satu jam lagi. Kereta paling pagi sudah penuh, aku hanya bisa mendapatkan tiket untuk kereta Parahyangan jam 8. Mas Sakti membelikan croissant dan coklat panas untuk sarapanku.
“Mas..? Aku boleh tanya sesuatu..?”
“Boleh.. Apa?”
“Kenapa mas nggak pernah marah sama aku? Seandainya aku sama Jupiter, memangnya mas nggak sakit hati sama aku?”
Mas Sakti menarik nafas. Aku harap ia menjawabnya dengan jujur.
“Aku juga memikirkan hal itu semalaman…”
“Mikir apa..?”
“Awalnya aku ingin marah ketika melihat kalian berdua begitu akrab.. Tapi aku tidak bisa.. Semalam waktu kami mendengarkan kalian bicara, Bunda sempat bertanya, apa aku tidak apa-apa, karena kalau aku marah, sakit hati, itu sangat wajar…”
“.. ya mas.. tidak apa-apa kalau mas marah.. jangan dipendam dalam hati..”

Ia menoleh dan memandangku. “Tapi aku tidak marah, Lan..”
Aku terpaku.

“Semalaman aku berusaha memahami perasaanku sendiri… aku memang sayang sekali sama kamu, sama seperti aku sayang Jupiter..”
Aku perlahan mulai mengerti arah pembicaraan mas Sakti.
“..maksud mas, seperti seorang adik..?”
Ia tampak lega. “Ya…”
“Oooh..” Akupun mengangguk-angguk.

Lama kami terdiam, dan hanya memandangi ramainya orang-orang yang baru saja turun dari kereta.
“Kamu marah sama mas..?”
Aku menoleh dan tersenyum. “Nggak.. aku nggak marah.. aku lega bisa bicara seperti ini..”
“Ya.. aku juga..”
“Seandainya benar, Jupiter punya perasaan khusus sama aku, tapi ternyata aku tidak.. Apa mas akan mempertahankan aku..?”
Ia tidak langsung menjawab. Ia memutar-mutar gelas kertasnya yang sudah kosong.

“Tidak, Lan.. mungkin tidak..”
Aneh, aku tidak merasa marah atau kecewa atas jawabannya. Ternyata buatku, mas Sakti juga tidak seberharga itu.
“Maaf ya mas.. hubungan kita jadi seperti ini..”
“Kenapa harus minta maaf..? Tidak ada yang salah.. Semuanya mungkin memang harus seperti ini..”
“Tapi mas harus tahu… apapun yang terjadi..” Aku menggenggam lengannya yang dingin. “… aku bangga bisa kenal sama mas Sakti…”
Ia tersenyum tulus. “Terima kasih..”

Jadwal berangkatku sebentar lagi, kereta yang akan kunaiki juga sudah siap di peron 5. Aku mengajak mas Sakti menunggu di dekat kereta. Banyak orang yang lebih membutuhkan tempat duduk itu daripada kami.

Aku baru setengah jalan, tapi sebuah suara teriakan memanggil namaku, mengalahkan ramainya suasana stasiun pagi itu.
“Lanaaa!!”

Mendadak, keramaian pagi itu hilang di telingaku. Yang bisa kudengar hanya suara merdu itu. Semuanya seperti berjalan dalam gerakan lambat, saat kulihat lagi senyum indah itu.

Jupiter :
Tubuhku serasa diguncang-guncang. Aku masih ngantuk sekali. Entah jam berapa aku akhirnya bisa tidur.
“Ju! Bangun!”
Ternyata Bunda. Aku melihat jam. Hampir setengah 8. Yaa.. aku kelewatan subuh lagi.
“Apa sih bun? Masih ngantuk nih..” Aku menarik gulingku lagi.
“Baca nih..” Bunda mengacungkan selembar kertas.

Dengan separuh mata, aku mulai membacanya. Cuma catatan kecil. Tulisan mas Sakti. Tapi seketika mataku terbuka lebar ketika membaca isinya.
‘Sakti nganter Lana pulang, Bunda. Naik kereta pagi. Tolong kasih tahu Ju. Sakti..’

Aku mengucek-ucek mata, memaksa otakku bekerja.
“Lana sudah pulang..?”
“Bunda juga nggak tahu. Bunda tadi ke kamarnya, Lana sudah nggak ada. Sakti juga nggak ada di kamarnya. Cuma ada catatan ini di meja belajarnya..”

Aku masih terduduk. “Dia pasti marah sekali sama Ju ya bun.. sampai dia minta pulang secepat ini..”
“Mungkin..”
“Ju harus gimana nih Bun..?”
Bunda tertawa. “Ya terserah kamu dong..”
“Terserah Ju?”
“Iya.. kalo maunya Bunda sih.. Lana tetap jadi menantu Bunda… terserah jadinya sama Sakti… atau kamu…”

Bunda tersenyum jahil. “.. tapi kan bunda nggak tahu… kamu maunya gimana..?”

Aku membaca lagi tulisan mas Sakti. Membayangkan Lana ada di stasiun dengan wajah kecewa. Mengingat kembali saat kami saling bertukar cerita. Saling melempar canda. Tertawa bersama.

Aku selalu ingin melihat senyumnya lagi. Aku selalu rindu tatapan matanya.

Jadi setelah mencuci muka dan ganti baju, kupacu motorku secepat mungkin.

Tak kupedulikan lagi rambu lalu lintas, apalagi lampu merah. Ah, tak ada polisi di jalan pagi-pagi begini. Kalaupun ada, aku sudah punya alasan. Pak polisi pasti akan memaafkan orang yang sedang jatuh cinta.

Aku bisa melihatnya disana. Sepertinya dia akan segera berangkat. Jadi aku paksakan suaraku sekeras mungkin.
Ia mendengarku! Tapi ia hanya berdiri di sana, dengan tatapan yang tak bisa kumengerti.

Terengah-engah, aku sampai juga di hadapannya. Mas Sakti menepuk pundakku dan pergi meninggalkan kami berdua. Seperti di film romantis, saat sang pria akhirnya harus menyatakan cinta di saat-saat terakhir sebelum berpisah dengan gadis yang dicintainya.

Tapi kalimat pertamanya sama sekali tidak romantis.
“Loe jelek banget sih Ju.. belum mandi ya…?”

Saat itu juga aku tahu, dia sudah memaafkan aku. Aku hanya tinggal berharap, ia juga merasakan apa yang aku rasakan saat ini.
Aduh, kenapa sih lidahku harus kelu di saat-saat seperti ini..??

Sakti :
Aku tahu, pada akhirnya semua akan berakhir seperti ini. Aku bisa merasakan keanehan dalam sikap Lana belakangan ini. Jadi aku sama sekali tidak kaget. Satu-satunya yang membuat aku kaget adalah saat aku menyadari bahwa dengan Lana, aku tidak menemukan perasaan yang dulu pernah aku rasakan saat bersama Titan.

Adalah wajar kalau Lana sampai jatuh cinta pada Jupiter. Mereka sangat cocok satu sama lain. Begitu banyak persamaan diantara mereka.

Tadinya aku ragu pada Ju. Aku takut Ju hanya mempermainkan Lana, seperti dengan pacar-pacarnya sebelumnya. Tapi melihatnya lari, menyusul kami seperti itu, membuatku yakin, adikku yang tampan ini akhirnya bisa mendapatkan kebahagiaannya. Ia hanya perlu berjuang sedikit lagi.

Aku hanya harus membantunya. Jadi aku tinggalkan mereka berdua. Tapi bukan cuma itu bantuan yang akan aku berikan pada Ju. Sebentar lagi jam 8, aku harus cepat-cepat.

Panggilan terakhir untuk penumpang Parahyangan menuju Jakarta sudah berkumandang. Aku segera kembali ke tempat aku meninggalkan mereka.

Cuma ada Jupiter di sana.
“Lana sudah naik, Ju..?”
“Sudah, mas..” Ia menjawab tanpa menoleh. “Tapi Ju nggak sempat bicara banyak.. dia sudah harus pergi..”

Matanya terus saja memandangi kereta yang akan berangkat kurang dari 2 menit lagi. Aku yakin, Jupiter pasti membutuhkan bantuanku yang satu ini.
“Kamu ngapain di sini..?”
Ju menoleh, bingung. “Maksud mas..?”
Aku mengeluarkan selembar tiket. “Nih! Susul sana..!”
Ia menerimanya dengan bingung. “Ini apa… maksud mas, aku harus ke Jakarta..? Tapi mas..”

Aku tak sabar. Bisa-bisa keretanya keburu berangkat.
“Kenapa? Nggak punya ongkos..?”Aku membuka dompet. Kukeluarkan beberapa lembar seratus ribuan yang baru aku ambil di ATM.
“Nih… buat ongkos, makan… sama beli baju ganti.. KTP sama SIM bawa kan?“

Kuselipkan semua itu di kantong celananya, dan kuambil kunci motornya. Ia masih saja bengong, jadi kudorong dia ke arah pintu gerbong.
“Udah.. cepetan sana naik!! Nanti keburu jalan..!”
Ia menurut dan naik dengan ragu-ragu.

Kereta mulai bergerak. Aku bisa melihat mata Ju berkaca-kaca. Ah, dia memang selalu sensitif. Tapi melihatnya berdiri di sana, aku merasa bangga menjadi kakaknya.
“Makasih ya mas..”
Aku mengikuti jalan kereta yang masih lambat, sambil terus tersenyum padanya. Ketika kereta semakin cepat, aku berhenti dan berteriak, “Good luck ya!!”

Aku tahu, kalau Bunda ikut ke stasiun, beliau pasti sama bahagianya denganku. Dan kalau Bapak melihat ini dari atas sana, ia pasti juga sama bangganya.

Selesai
Tamat
Fin
The End
---------------------------

0 komentar:

Post a Comment