Breaking News

22 February, 2012

Jangan Panggil Aku "si Gendut" !!


Wajah anakku cemberut. Sejak pulang sekolah tadi siang ia hanya diam saja, tak banyak kata terlontar dari mulutnya, sesekali ia hanya melamun.

Aku tak sempat bertanya lagi, ketika ia keluar rumah untuk bermain bersama temannya.
Sampai malam menjelang, ia masih banyak diam dan  semua pertanyaanku dijawabnya pendek-pendek saja,
“Ya, ma,”
Nggak, ma”
Hingga akhirnya ia memejamkan mata, kemudian tertidur.

Siang itu, sayup-sayup, aku mendengar suara pintu depan digedor,
“Buka-buka, mama buka,!!”
Teriakan anakku, membuat aku tergesa menuju ruang tamu. Setelah pintu itu kubuka, anakku berlari menuju kamarnya.
Ia menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang, dan menangis.

Aku mengejarnya,
“Ada apa, sayang,??” tanyaku.
“Aku benci teman-temanku, !!” teriaknya.
“Setiap aku lewat di depan mereka, aku dipanggil “si gendut”,” ucapnya.
Aku termangu, kupandangi wajah anakku penuh haru.
Selintas, aku tak mampu berkata apa-apa.

Aku belai rambutnya, dan kutatap matanya dalam-dalam.
“Nak, apakah “gendut” itu sebuah dosa, ??” tanyaku.
“Sehingga kamu merasa dirimu begitu terhina,??” tanyaku lagi.
“Apa kamu merasa dirimu cacat, sementara tubuhmu lengkap, ??” ucapku.
“Lihatlah dirimu, bersyukurlah, anakku,” hiburku.

Kuraih sebuah foto keluarga di dalam album. Kutunjukkan padanya. Ia mulai memperhatikan satu persatu manusia di dalam foto itu.

Iya, ma, nenekku “gendut”, kakek juga,” ucapnya.
Iiih, paman dan tante juga, hahaha,” ucapnya sambil tertawa.
“Keluarga mama itu “keluarga besar”,” candaku.
“Mungkin dibilang gendut juga tidak, hanya ukuran badannya memang lebih besar dari orang normal,” dalihku.
“Kamu tahu, tak ada manusia di dunia ini yang dapat memilih ketika diciptakan dan dilahirkan,” ucapku.
“Kalau Allah memberi mama pilihan, mungkin mama pun akan meminta sesuai dengan keinginan mama,” ucapku lagi.
“Tapi itu tidak mungkin, karena tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini,” lirihku.
“Setiap manusia pasti ada kekurangannya, itu sudah takdir Yang Kuasa,” lirihku lagi.

Anakku menghapus air matanya. Bibirnya mulai menipis, ia tersenyum.
“Ma, nilai Bahasa Indonesiaku cuma tujuh,” ucapnya.
“Kamu ingin mereka tak memanggilmu “si gendut” lagi,??” tanyaku.
Ia mengangguk.
“Malam ini kita belajar, tunjukkan pada mereka kalau nilaimu bisa sepuluh,” hiburku.
“Lawan mereka dengan prestasimu,” hiburku lagi.

Malam itu, aku melihat ia begitu keras belajar, sambil memegang buku yang dibacanya, akhirnya ia terlelap.

“Mama, !!” anakku berteriak sambil mengetuk pintu.
Aku terpogoh, membuka pintu dan,
“Ma, nilai matematikaku seratus, mengalahkan Rafli si jago matematika,!!” soraknya.

Kupeluk dan kucium keningnya,
“Hebat, !!” pujiku.
“Teruslah belajar dan bersemangat,” ucapku.
“Tunjukkan bahwa kamu mampu menjadi yang terbaik,” ucapku lagi.

Sejak itu, tak pernah lagi ia pulang dalam keadaan menangis. Walau teman-temannya masih saja memanggilnya “si gendut”, tapi ia tidak perduli.

1 komentar:

...Uzay Gingsull... said...

Mama nya pintar menjawab kegundahan anknya..
*saluuut

ada kekurangan yang tidak dimiliki oleh orang lain dan jadi kelebihan kita..

Post a Comment