Breaking News

16 February, 2012

izinkan aku berbagi bahagia




Aku ingin bagi-bagi bahagia temans
*****
       Kemarin, Senin  8 Agustus 2011, di bulan Ramadhan yang berkah, Allah telah memberiku hadiah terindah.  Berawal dari hobbyku menulis notes di FB.  Aku melihat beberapa temanku telah berhasil berkarya lebih jauh melalui buku,  timbul rasa iri pada mereka.  Sssst…iri disini iri yang positif lo…bukankah Rasulullah SAW membolehkan kita iri pada orang yang lebih taat ibadahnya, agar memacu kita belajar  setaat dia. Nah…,  aku iri dan ingin sekali bisa menyebarkan hikmah tulisanku lebih luas lagi, tidak sekedar hanya notes di fb.

       Akhirnya aku mulai bertanya pada sahabatku yang mulai berkibar di dunia tulis menulis, menanyakan resep keberhasilannya dan bagaimana ia meraihnya.  Gayung bersambut, sahabatku ini dengan senang hati memberikan tips dan saran-saran agar aku bisa lebih aktif menulis.  Kemudian,  tiba-tiba aku dicemplungkan dalam sebuah grup di FB yang berisi ibu-ibu penggila baca dan menulis.

       Awalnya aku hanya mengintip wall IIDN, Ibu-Ibu Doyan Nulis Interaktif, nama grup yang dipimpin oleh seorang ibu muda yang inspiratif Indari Mastuti.  Lama kelamaan, aku mulai berani memposting tulisan, mengikuti audisi antologi, dan semakin jatuh cinta pada menulis.  Beberapa antologi yang kuikuti gagal, karena masalah penulisan.  Semakin hari aku semakin banyak mendapat ilmu kepenulisan.  Sampai akhirnya aku  memposting tulisanku yang berjudul  Life Begin at 40.  Bersamaan dengan itu teh Iin ternyata sedang mencari naskah untuk antologi yang berjudul Amazing Moms, jadilah naskahku itu ikut serta dalam seleksi  ketat  dengan naskah-naskah ibu-ibu lain yang hebat semua.

       Semangat ibu-ibu IIDN dalam menulis memang luar biasa, dalam waktu singkat terkumpul  tulisan narsis tentang emak-emak dengan aneka suka dukanya.  Setelah seleksi ketat didapat 78 naskah yang harus diseleksi lagi menjadi 39 naskah saja.  Inilah salah satu kehebatan ibu-ibu di IIDN yang membuatku betah bersama mereka, kami sama-sama berdebar menunggu hasil seleksi, tapi tetap saling mendukung satu sama lain. Tidak ada sama sekali suasana persaingan di sana, apalagi tinju-tinjuan…wong online mana bisa kontak fisik…(garing ya?hehehe).

       Akhirnya saat yang dinanti tiba, jreng…jreng…jreng…terpampanglah 39 naskah yang lolos seleksi di wall IIDN.  Tak terkira senangnya, karena namaku bertengger di sana bersama  yang lain.  Inilah hadiah terindahku pagi itu.  Akhirnya aku akan  melihat namaku sendiri tertulis di buku yang kubaca, apalagi rencananya buku ini akan diterbitkan oleh salah satu penerbit mayor yang cukup bergengsi.  Serasa menyambut kelahiran anak pertama, aku tak sabar menanti bukuku lahir.  Kegembiraan yang kudapat di bulan Ramadhan.

       Hanya itu? Belum selesai… Allah begitu baik padaku hari itu.  Beberapa waktu lalu aku membuat antologi cerpen dengan 24 penulis yang akan diterbitkan secara indie. Kalau tidak ada halangan antologi yang diberi nama ‘Sketsa Pelangi’  itu akan terbit awal Oktober.  Dua kontributor terbaik, akan mejeng namanya di sampul  buku.  Inilah hadiahku yang kedua hari itu. Cerpenku yang berjudul  ‘Namaku Tia’, berhasil membuatku mejeng di sampul buku antologi ‘Sketsa Pelangi’.  Lengkaplah kebahagiaanku  Ramadhan ini.

       Namun tentu saja semua ini belum berakhir.  Sebagai penulis, aku masih bayi yang baru saja lahir.  Perlu perawatan intensif dengan ASI ekslusif, berupa bacaan-bacaan yang bermanfaat setiap hari. Tak lupa juga imunisasi, dengan bertukar pikiran dan mencari ilmu dari penulis senior untuk menjaga kekuatan tulisanku.  Untuk menambah semangatku dalam menulis, sebagai bayi diperlukan juga stimulasi-stimulasi positif berupa berbagai audisi antologi dan event-event penulisan .

       Intinya semua ini baru saja dimulai.  Kegagalan demi kegagalan masih akan menyertaiku pastinya. Namun saat ini langkah pertama sudah kulakukan, jadi langkah kedua, ketiga, keempat harus terus dilanjutkan.  Menulis adalah caraku menebar makna. Menulis adalah caraku berbagi tawa dan airmata.  Menulis adalah caraku berkarya dalam peranku sebagai seorang ibu dan istri.  Hal terpenting adalah doa dan dukungan dari orang-orang terkasih.  Syukurku pada Allah, karena memberikanku kesempatan merasakan semua ini dengan support luar biasa dari anak-anak, suami, ibu dan sahabat.

       Semoga  Allah tetap membimbingku menjalani semua ini.  Hadiah-Mu Ramadhan ini begitu indah ya Allah… Walaupun aku tak sebaik yang Kau harapkan,  tapi Kau selalu memberikan apa yang kuinginkan.
I Love You Allah…


-inge-

0 komentar:

Post a Comment