Breaking News

17 February, 2012

Intermezzo kehidupan


 By Sarah Mellina  
Sudah kapan hari ingin menceritakannya,namun jari tak jua bergerak untuk tuangkan pikiran dalam tulisan

Setiap pagi dalam bilangan hari minus minggu,jika aku tiba di jalan tikus tembusan beurawe menuju gedung BPK nan besar itu pada sekitaran Pkl.07.10wib,aku pasti bertemu dengan tiga orang anak laki-laki,kutaksir mungkin mereka kelas 2 atau 3 SD,kurasa mereka adalah sahabat.

Mengapa aku katakan bisa saja mereka sahabat?
Karena tiap kali dalam perjalanan menuju sekolah mereka selalu bercengkerama dengan riang, kadang kulihat mereka tertawa, pada kesempatan lain kuperhatikan mereka bercanda ceria dan saling memuji. Ah,senang sekali rasanya melihat tingkah mereka.

Beberapa kali kadang yang satu lebih cepat keluar dari yang lain,namun ketika temannya memanggil dari belakang sambil melambaikan tangan,yang telah bergegas lumayan jauh di depan tak sungkan berjalan kembali ke belakang atau merapatkan pijakan menunggu temannya menyusul mensejajarkan langkah. Subhanallah..inilah ketika yang kecil mencontohkan dalam pengajaran yang nyata arti persahabatan.

Pun ketika aku memutar balik ke kota seusai mengantar si kecil sekolah,sekitar Pkl.07.20wib,sering bertemu sepasang anak laki-laki juga,namun bedanya mereka adalah adik-abang,abangnya kurasa sekitar kelas 3 atau 4 SD,adiknya masih mengenakan seragam TK. Mereka pergi sekolah dengan sepeda, abangnya mengayuh sepeda dan adiknya duduk di depan bertumpu lutut sambil ikut memegang stang sepeda.

Karena sekolah mereka di seberang jalan, otomatis mereka harus menyeberang jalan, aku selalu perhatikan abangnya hati-hati sekali ketika akan mengayuh sepeda memotong jalan.

Pernah waktu itu aku telat, jam di pergelangan tangan sudah menunjukkan Pkl.07.25wib dan aku masih di Lampineung ini, kendaraan pagi itu juga ramai hingga aku menjalankan motor benar-benar pelan. Tak dinyana aku bertemu keduanya, seperti kesusahan untuk memotong jalan karena ramainya kendaraan pagi itu, kurasa mereka sudah lumayan lama menunggu ditepian jalan untuk menyeberang. Yang paling mengharukan itu saat mendengar abangnya menenangkan adiknya "Sabar ya,dik..sebentar lagi kita menyeberang jalan,jangan nangis ya..belum telat kok.."
terharu, jadi ingin menangis rasanya,sampai ga sadar jalan di depan sudah memungkinkan untuk menyelip dan aku harus bergegas.

Salut untuk orang tua keduanya yang memberi mereka kepercayaan, percaya bahwa si abang dapat menjaga adiknya walaupun jalan menuju sekolah lumayan riskan untuk anak seusia mereka. Dan si abang pun mencontohkan moral bernama amanah dan tanggungjawab. Subhanallah..

Beberapa kali pula aku bertemu bapak penjual siomay keliling yang menggunakan sepeda motor. Menarik. Karena aku bertemu (atau berpapasan jalan?) selalu sore ketika dalam perjalanan pulang ke rumah. Dan selalu bertemu di posisi jalan yang sama. Depan gedung tsunamie. Biasa beliau keluar dari jalan jejeran rumah dinas pejabat sebelah timur lapangan blang padang menuju ke Blang oiy.

Bukan si bapak yang menjadikan event berpapasan itu menarik. Sungguh bukan. Bukan pula beberapa kali kebetulan bertemu petanda sesuatu (ngaco parah.. =D). Yang menarik itu karena si Bapak tak pernah sendiri. Namun selalu bersama anaknya yang duduk di depan mengenakan seragam TPQ Mesjid Raya Baiturrahman.

Saat hujan deras sore itu aku bertemu keduanya tanpa mantel, dengan jalan yang tak terlalu ramai namun aspal pasti licin,si bapak mengendarai motor sambil sebelah tangannya memegang kepala anaknya dan merapatkan ke dadanya, khawatir tetes-tetes hujan semakin membasahi tubuh anaknya yang telah ikut kuyup. Terharu. Inilah pemandangan indah dari kasih sayang seorang ayah untuk anaknya.. Subhanallah..

Ada juga seorang ibu yang tak lagi muda berjualan sayur di pasar Seutui, wajahnya ramah selalu dihiasi senyum, tuturnya lembut, tangannya cekatan. Memperhatikan kerutan di tangan dan wajah beliau sungguh bukan usia setengah baya lagi. Beliau selalu duduk menjajakan dagangannya di puncak tangga depan. Suami beliau telah meninggal beberapa tahun lalu. Dan selama bertahun-tahun menjadi single parent beliau bekerja keras menyekolahkan anak-anak beliau hingga sampai ke jenjang sarjana dengan predikat cumclaude. Subhanallah..

Sekarang anak-anak beliau telah bekerja,namun beliau tetap berjualan sayur.. 'Biar ada yang ibu kerjakan,Nak.. Jangan sampai merepotkan anak-anak juga, bisa beri jajan cucu, tetap jalan silahturrahim dengan ibu-ibu yang sering beli sayur dengan ibu juga..' subhanallah.. Malu rasanya diri ini, beliau mencontohkan hakikah dari kerja keras dan kerja ikhlas..

Subhanallah, alhamdulillah, barakallah.. Begitu banyak hal yang Allah hadirkan untuk aku,kita belajar menjadi lebih indah..


0 komentar:

Post a Comment