Breaking News

15 February, 2012

Induksi dan Internal Bleeding yang Tak Terlupakan


 
Untuk diikutkan audisi naskahnya mbak Navita Kristi

Induksi dan Internal Bleeding yang Tak Terlupakan
Oleh: Mugniar (Bundanya Fiqthiya)

Dua dari tiga persalinan yang saya alami adalah yang paling menegangkan. Yang pertama adalah saat melahirkan si sulung. Waktu itu sudah hampir lewat 42 minggu belum ada tanda-tanda berarti. Saya pun ke rumah sakit atas arahan dokter untuk diinduksi. Setelah minum pil, barulah ketuban saya pecah. Lalu kontraksi datang perlahan tapi pasti, makin lama makin cepat. Namanya juga induksi, kecepatannya sungguh tak terduga: pembukaan lengkap dicapai hanya dalam waktu 2,5 jam sejak pecah ketuban. Namun bayi saya harus terganjal di ‘pintu keluarnya’ selama satu jam karena ada tiga lilitan tali pusar mencekik lehernya. Alhamdulillah bidan yang menangani saya terampil, sambil tetap mengajak ngobrol - dengan tenang ia menyuruh saya menahan mengedan saat dorongan mengedan muncul sehingga bayi saya berputar di dalam dan lilitan itu terlepas satu. Begitu kepalanya muncul, dengan sigap sang bidan menariknya kemudian menggunting lilitan yang tersisa. Beruntung bentuk kepala si sulung yang sempat memanjang kembali ke ukuran normal dan sekarang jagoan saya itu sudah berumur 10 tahun.

Anak ketiga saya lahir dengan sangat lancar, hanya satu kali mengedan dan lebih cepat 3 jam dari perkiraan dokter. Namun ketika bidan selesai melakukan tindakan episiotomi, tiba-tiba rasa mulas yang teramat sangat menyerang saya seperti hendak melahirkan. Bidan mulai panik dan menelepon dokter yang (sungguh kebetulan yang luar biasa) sedang berada sekitar 300 meter dari rumah bersalin. Rasa sakit itu tak berhenti hingga dokter tiba dan memutuskan operasi. Jahitan dibongkar, lampu ‘sorot’ dipasang, peralatan operasi disiapkan. Setelah mencari-cari penyebab rasa sakit saya, dokter akhirnya menemukan adanya internal bleeding (pendarahan dalam) di dinding vagina. Dengan sigap dokter yang tenang itu mengoperasi sambil menghibur saya yang meminta-minta untuk dibius. “Sebentar, Bu,” katanya menghibur. Sekuat tenaga saya yang tak kunjung dibius hingga operasi selesai mencengkeram lengan suami dan terpekik-pekik menahan sakit karena tiga jenis jarum beserta benang, gunting, dan peralatan lain berseliweran dalam vagina saya. Pembiusan akan menyebabkan perubahan warna pada pembuluh darah di vagina sehingga akan sulit menemukan sumber pendarahan – begitu kira-kira alasannya mengapa saya tak dibius waktu itu.

Tak terasa peristiwa itu sudah dua tahun berlalu. Saya bersyukur, Allah masih merahmati saya dengan banyak kekuatan, kemudahan, dan bantuan dari orang-orang yang saya cintai dalam melalui masa-masa itu. Kedua pengalaman itu mudah-mudahan diridhai Yang Maha Kuasa sebagai pencuci dosa-dosa saya dan menjadi pengingat bagi saya untuk selalu mengusahakan yang terbaik yang saya mampu bagi ketiga buah hati saya. 

0 komentar:

Post a Comment