Breaking News

15 February, 2012

Indahnya nikmat-Mu




Dah lama banget gak share tulisan ..., moga-moga ada manfaatnya :)

******
Hari Minggu, 8 Januari 2012, kuawali hari ini dengan bergegas.  Semangat awal tahun memenuhi hati.  Sesuai rencana, pukul 9 pagi aku sudah meluncur menuju tempat Launching Novel “Marwah di Ujung Bara” karya Rh. Fitriadi.  Acara yang diadakan di gedung AAC Dayan Dawood, Darussalam, Banda Aceh ini ternyata banyak peminatnya.  Tentu saja sebagian besar peminatnya adalah mahasiswa, dan kebanyakan perempuan. Syukurlah aku datang saat acara belum dimulai, novel “Marwah di Ujung Bara” sudah di tangan, sehingga aku bisa menunggu acara sambil membacanya.

Setelah mendapat tempat duduk yang cukup nyaman, aku mulai membaca novel karya Bang Rahmat, begitu beliau biasa dipanggil.  Sebuah novel karya penulis Aceh yang bercerita tentang kiprah mahasiswa sebelum Darurat Militer di Aceh, dan menghadapi masa-masa konflik.  Sebuah novel yang dibuat dengan riset yang matang, sehingga tidak sekedar fiksi berbumbu romantika, namun sarat dengan nilai-nilai. Ah, tapi aku tak mau membahas novel itu saat ini.  Resensi novel akan kubuat saat sudah selesai membaca.  Ada hal lain yang kurasakan saat mengikuti acara launching yang diadakan oleh Forum Lingkar Pena Aceh ini.

Saat masuk ke gedung besar itu, aku disambut oleh suasana yang sejuk. Bukan karena AC di ruangan, tapi karena keramahan yang terlihat dari wajah panitianya.  Pintu masuk akhwat terpisah dengan pintu masuk ikhwan. Di barisan meja penerima tamu akhwat, semua wanita berjibab yang syar’i dan santun.  Suasana yang sudah lama tidak kutemui.  Mayoritas yang hadir saat itu adalah mahasiswa, membuatku terkenang saat pertama kali aku menjadi jilbaber 18 tahun yang lalu. Aku jadi rindu masa itu, perasaan yang menyelimuti saat teman-teman di Keputrian menyambut hijrahku.  Kehangatan, dan pelukan yang menguatkanku untuk istiqomah di jalan ini.  Tak terasa mataku menghangat saat mengenang masa itu.

Masa-masa penuh ghirah keislaman yang tinggi, dan kecintaan pada Allah.  Tahun-tahun berlalu, segenap kesibukan dengan anak-anak, persoalan yang datang silih berganti, perjuangan menjadi ibu, dan istri harus kuhadapi.  Membuat ghirah itu terkikis sedikit demi sedikit.  Sampai pada satu saat,  Allah menetapkan kami harus hijrah ke kota yang sama sekali tak terpikirkan akan kami tinggali.  Medan, tinggal terhalang lautan, tanpa satu pun sanak saudara yang kukenal membuatku harus berjuang ekstra membesarkan anak-anakku.  Aku tak sempat lagi mengikuti kegiatan-kegiatan seperti saat di Bandung dulu.  Hati ini semakin jauh dari-Mu, ampuni hamba ya Rabb. Sebenarnya segala kerepotan itu tidak bisa menjadi alasan, tapi begitulah manusia ..., begitu mudah dialihkan, dan selalu punya alasan. Itulah aku, semakin hari jiwaku semakin kering.  Aku kehilangan teman diskusi yang mendekatkan pada kehangatan ukhuwah.  Tujuh tahun berlalu, dan aku kembali harus hijrah ke kota di ujung Indonesia, Banda Aceh.

Rencana Allah sungguh tak pernah kita duga.  Siapa sangka di Banda Aceh, kota yang jauh dari hiruk pikuk metropolitan, justru aku menemukan mimpiku.  Disinilah kutemukan sesuatu yang ingin kuawali, mimpi menjadi seorang penulis.  Impian itu menyeretku semakin dalam ke dunia tulis menulis, dan Subhanallah ..., membuatku bertemu dengan saudara-saudara baru.  Satu demi satu kumiliki teman seperjuangan dalam menulis.  Beberapa adalah ibu-ibu sepertiku, tapi kebanyakan anak muda yang jauh di bawah usiaku.  Hebatnya, semua itu tak jadi halangan untuk berjuang bersama.  Setelah bergabung dalam komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis secara online, beberapa komunitas lain pun kuikuti.  Akhirnya aku pun bergabung dengan Forum Lingkar Pena Aceh, yang membawaku pada suasana yang kurindukan ini.

Teman-teman di FLP-Aceh yang mengundangku ikut acara ini.  Saat berada di ruangan, kulihat gedung hampir penuh terisi.  Aku jadi teringat seminar di kampus dulu, berjuang bersama adik-adik angkatanku yang penuh semangat.  Kerinduan itu kembali merebak.  Entah kenapa, sudut mataku beberapa kali menghangat saat mengikuti acara ini.  Apalagi pembahasan novel ini mengangkat tema konflik di Aceh.  Pesan utamanya adalah kekerasan tidak membuat persoalan menjadi selesai.  Hatiku basah oleh kehangatan, saat diungkapkan oleh salah satu pembicara bahwa di ujung lorong yang gelap itu pasti ada cahaya.  Guncangan konflik yang panjang, lalu dihancurkan Tsunami, adalah lorong gelap bagi warga Aceh, namun Nur Illahi akan selalu menerangi siapa pun yang berada di jalan-Nya.  Ya Allah ..., terima kasih atas nikmat ini.  Tetesan sejuk menyesap di relung hatiku.  Betapa aku sadari, keringnya jiwa telah membuat hati ini mengeras, dan lama tak merasakan getaran-getaran kasih-Nya ..., astaghfirullahal’adziim ....

Usai acara launching, waktu dzuhur tiba.  Aku beranjak ke mesjid kampus, bersama ‘adik’ baruku .  Sekali lagi kurasakan kerinduan itu.  Saat berwudhu bersama, para jilbaber ramai mengisi ruang wudhu wanita.  Pun di dalam mesjid, shalat bersama, tilawah qur’an, aah ... betapa aku rindukan adik-adik di Keputrian dulu.  Kami shalat berjamaah, bersalaman, menguatkan ukhuwah.  Padahal, baru beberapa bulan saja aku mengenal adik-adik baruku ini, tapi ikatan ukhuwah begitu kuat rasanya.  Inilah saat-saat yang hilang itu, sejuknya mesjid-Mu, dihiasi hati-hati tulus yang bersujud, dan berkumpul hanya untuk-Mu.  Ingin rasanya aku berlama-lama di sini, namun acara berikutnya sudah menanti kami.

0 komentar:

Post a Comment