Breaking News

16 February, 2012

ikutan narsis ah... ;)


 
By Rf Dhonna  
Kisah Si Tulang Punggung Keluarga
Tak ada yang bisa menebak, bagaimana nasib seorang anak di masa depannya nanti. Apakah anak orang miskin tetap miskin, jadi orang pinter, jadi orang kaya,  atau jadi apa, tak ada yang tahu. Begitu juga dengan jalan hidupku. Aku tak menyangka pencapaianku bisa sejauh ini. Anak seorang penjahit kampung, bisa jadi dosen dan berhasil meraih keinginannya jadi penulis. Allah telah memberi lebih dari yang kuminta: Suami yang soleh, anak yang menyejukkan mata, dan pekerjaan yang bagus. Alhamdulillah…

Aku termasuk anak penakut. Masa kecilku penuh dengan ketakutan-ketakutan: takut putus sekolah, takut tak bisa membahagiakan orangtua, takut terseret pergaulan yang kurang baik, dan banyak lagi ketakutan lainnya. Karena itu, setiap saat aku selalu berdoa padaNya, agar  bisa terlepas dari perasaan ini. Ya, bagiku doa adalah peredam segala ketakutan. Doa membuatku berani mengarungi kerasnya hidup.

* * *

Hidup serba kekurangan, membuatku terbiasa bekerja keras. Aku pernah jualan pernak-pernik anak perempuan seperti jepit rambut dan gelang manik buatan sendiri untuk membeli peralatan sekolah. Pernah juga membantu memasarkan kerupuk buatan ibu dan dagang es lilin buatan kakak sepupu. Lalu ketika SMP hingga SMU, setiap hari aku membantu bude di warung sate miliknya. Entah itu membantu cuci piring atau menusuk daging sate. Hasilnya lumayan untuk uang transport ke sekolah yang kebetulan harus naik angkot.

Sejak kecil aku sudah punya cita-cita, ingin membahagiakan keluarga, terutama kedua orangtua. Aku ingin jadi manusia yang sukses dunia akhirat! Tiap detik aku berusaha untuk mewujudkannya. Satu ayat Alquran yang selalu kuingat, Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri (Ar ra’d: 11). Ayat ini menjadi penyemangat utama yang mendorongku bergerak menuju cita-cita.

 Aku tahu ayah dan ibu tidak menuntutku untuk dibahagiakan, tidak menuntut jasa mereka dikembalikan, tetapi dengan kesadaran penuh aku ingin mereka menikmati hasil jerih payah mereka mendidikku selama bertahun-tahun. Selain membahagiakan orangtua bernilai pahala, aku yakin apa yang kulakukan saat ini akan berpulang kembali kepadaku melalui anak-anakku.

* * *
Bagiku, berprestasi di sekolah dan di TPA adalah salah satu cara membahagiakan kedua orangtua. Sejak umur lima tahun, aku sudah punya kemauan untuk belajar mengaji tanpa paksaan. Aku belajar ilmu agama berjenjang di TPA dekat rumah hingga berusia 16 tahun, tiap jam lima sore sampai delapan malam. Bukan hanya Alquran yang dikaji di tempat itu, tetapi juga ilmu fikih, bahasa Arab, dll. Meski tak pernah juara I setiap kenaikan jenjang, tapi aku senang bisa masuk 10 besar.

Di sekolah lain lagi. Alhamdulillah aku selalu meraih lima besar. Pernah juga menjadi juara umum. Tahun 2002 aku Lulus SMA dengan jumlah NEM yang sangat memuaskan, masuk lima terbaik se-kabupaten, dapat beasiswa dari bupati dan lembaga sosial kemanusiaan yang berpusat di Jakarta, serta masuk perguruan tinggi tanpa tes melalui PMDK. Ini semua kemudahan dariNya.

Selama kuliah, Allah kembali memberiku banyak kemudahan. Tiap tahun aku selalu mendapat beasiswa, empat tahun kemudian bisa lulus dengan predikat cum laude. Subhanallah…

Di balik itu, sesungguhnya aku harus berjuang sangat keras untuk menyelesaikan proses belajarku di perguruan tinggi. Berkali-kali aku nyaris drop out karena biaya. Kiriman dari orangtua sering tak mencukupi, sementara dari beasiswa juga habis untuk buku dan keperluan sehari-hari. Ketika bayar SPP atau sewa kos, aku pasti kelimpungan.

Beruntung Allah selalu memberiku pertolongan melalui jalan yang tidak pernah kusangka. Allah memberiku potensi menulis berbagai jenis tulisan. Potensi ini mengantarku jadi reporter majalah kampus dan penulis freelance di berbagai media. Tiap bulan ada saja tulisanku yang mendatangkan uang. Aku juga pernah jadi guru les privat dengan penghasilan cukup lumayan untuk ukuran mahasiswa.

Meski begitu, aku pernah nekat menjual baju-bajuku ke pasar loak ketika sangat kepepet. Aku juga pernah terpaksa menjual buku-buku koleksiku—pemberian gratis dari penerbit yang bukunya kuresensi—untuk membayar sewa kos.

Semua pengalaman itu kubingkai jadi kenangan manis yang tak akan pernah kulupakan. Menjadikanku selalu ingat, darimana aku berasal.

* * *

Tahun 2006 sebelum diwisuda, aku dilamar oleh seorang laki-laki yang kini menjadi suamiku. Waktu itu aku sempat bimbang, antara ingin menikah atau kerja dulu. Adikku tiga orang, dua diantaranya masih kecil. Wajar jika orangtua menginginkanku jadi teladan bagi adik-adik. Aku paham maksud mereka. Sebagai satu-satunya anak yang berhasil mengenyam pendidikan hingga ke perguruan tinggi, setidaknya mereka berharap ijazah yang kuperoleh nanti berguna untuk mendapat pekerjaan yang layak.

Aku berusaha keras meyakinkan kedua orangtuaku, bahwa menikah tidak akan membuatku melupakan cita-cita. Setelah sempat berdebat panjang, akhirnya kedua orangtua mengijinkan aku menikah. Aku berdoa pada Allah, semoga ini yang terbaik bagi kami semua.

Tiga bulan menikah, aku hamil. Setahun kemudian putri kecilku lahir. Ketika si kecil genap setahun, aku diterima di sebuah sekolah Islam swasta sebagai guru honorer. Tak lama berselang, ada pengumuman penerimaan dosen di sebuah universitas negeri sekitar tempat tinggalku.

Iseng aku melamar. Lalu ikut tes sesuai prosedur. Meski iseng, tak urung aku berdoa, Ya Allah jika niatku ini baik menurutMu, mudahkanlah.

Alhamdulillah, aku diterima! Tanpa suap, tanpa koneksi, tanpa kecurangan, tanpa KKN, aku berhasil membuktikan bahwa aku bisa. Mudah-mudahan berkah dan selamanya langkah ini tetap berada di jalan lurusNya.

Kini setiap bulan, meski tak seberapa aku bisa membantu biaya pendidikan adik-adikku. Juga membantu kedua orangtuaku yang fisiknya semakin melemah. Aku tak keberatan mereka menyandarkan hidupnya padaku. Aku bisa seperti sekarang juga karena dukungan mereka. Bagiku, kebahagiaan terbesar adalah  menjadi berguna bagi banyak orang yang selama ini mencintai dan menyayangiku.




0 komentar:

Post a Comment