Breaking News

22 February, 2012

Ijinkan Cintaku yang Menghuni Hatimu

Gak lolos di Antologi Kacamata Pengantin, jadinya aku posting di sini aja yah:)

Whenever you close your eyes  
I want it to be my face that you see
When you go to sleep at night
Whenever you dream I want to know
That you're dreaming of me

 Mungkin setiap  mendengar kata bulan madu romantis, yang terlintas di pikiranmu adalah candle light dinner, pantai yang indah, tempat wisata romantis, hotel dengan tempat tidur dipenuhi bunga mawar merah atau putih. Tapi kukatakan padamu, semua hal indah di atas takkan kau temui dalam tulisanku ini. Tapi percayalah, ini jauh lebih indah dari segala yang indah di atas.

  Kami menikah karna kekuatan cinta. Kukatakan begitu, karena sebenarnya masing-masing orang tua tidak begitu mendukung  pernikahan kami dengan alasan kami berasal dari suku yang berbeda. Tapi begitulah cinta, semakin ditolak, maka semakin besar energi yang dihasilkannya untuk tetap bersatu. Maka kamipun  menikah dengan keyakinan Tuhan mendukung pilihan kami.

  Hari pertama setelah menikah, kami langsung menempati rumah kontrakan yang kosong melompong kecuali satu lemari, dua atau tiga piring, dua gelas, wajan, kompor minyak, tempat tidur dan beberapa eletronik milik suami semasa kuliah. Saat itu suami mengambil cuti hanya tiga hari karena sebelumnya sudah sempat cuti dan masih termasuk karyawan baru. Malam pertama di rumah itu aku tidak bisa tidur. Aku membayangkan bagaimana kehidupan besok,  bagaimana menjalani hidup tanpa dukungan siapa-siapa.

Hati kecilku menangis dan berkata tak seharusnya begini. Ini bukan awal pernikahan yang kuinginkan. Ini bukan mimpiku. Aku ingin menikah dalam gemerlap pesta yang meriah. Aku ingin melewatkan bulan madu di Pantai Kuta  sembari medengarkan Andre Hehanusa  bernyanyi  Suatu Saat di Kuta Bali. Dalam diam, air mataku mengalir deras, tanpa mampu kucegah. Segera kuambil bantal dan menutupi wajahku yang basah air mata. Kutekan-tekan bantal itu sekuat tenaga agar isakku tak menimbulkan suara. Tapi semakin kutahan, isakku semakin keras sampai akhirnya suamiku terbangun. Dia terkejut dan memelukku.
  “Jangan bersedih begitu. Kamu harus yakin bahwa pilihan kita ini benar. Kita hanya perlu waktu untuk membuat mereka jatuh cinta pada pernikahan kita.”
 Ucapannya amat menenangkanku. Kupeluk dia sepenuh hati dan segala kekuatan cinta kudapatkan di sana. Cinta yang mampu mengalahkan segalanya.

Hari kedua tinggal di rumah itu, kami awali dengan  sarapan bubur kacang hijau yang kami beli dari abang-abang yang lewat dari depan rumah.  Dia memutar lagunya Bed & Breakfast “If You Are Mine” yang bernada riang dan aku menyeduh dua gelas kopi. Lalu kami duduk di teras begitu saja. Tanpa bangku tanpa tikar. Sembari duduk memegang mangkok masing-masing, dia bercerita tentang hal-hal yang lucu, termasuk rasa groginya saat pertama apel dulu ke tempat kostku. Aku tertawa terbahak-bahak saat dia ceritakan wajahnya sampai berdarah saat bercukur hanya karna ingin terlihat rapi di apel pertama itu. Tiba-tiba dia menarikku ke pelukannya.
 “Aku senang melihatmu tertawa pagi ini. Tertawalah terus, karna itu amat berarti bagiku,” bisiknya  di telingaku.
 Mendadak aku sadari bahwa  ternyata dia sedang berusaha membuatku bahagia dan itu sungguh membuatku terharu. Kucium pipinya dengan segera.
 “Aku akan tertawa terus,” ucapku.
“Benarkah?”
 “Benar. Mulai dari pagi, siang, sampai malam.”
“Oalahh. Itu mah sinting, Neng.”   
“Hahahah.
  Aku berlari masuk ke rumah dan dia mengejarku. Di dalam rumah,  ada cinta yang membuat iri matahari pagi.

Malam kedua, kami ingin menonton bioskop tapi kami takut tergoda untuk  singgah di pusat perbelanjaan sementara kami tidak memiliki banyak simpanan. Lalu kami cari tempat rental VCD dan meminjam VCD berisi film lama When Harry Met Sally serta film Titanic yang begitu booming waktu itu. Sepanjang menonton  When Harry Met Sally ditemani dua gelas kopi (kami berdua sama-sama pecandu kopi), kami tiduran dengan kepala berada di satu bantal. Saat ada adegan romantis, aku meraih tangannya dan mendekapnya di dadaku. Di kala lain, dia melingkarkan tangannya di belakang kepalaku dan mengelus-elus pipiku. Rasanya suasana romantis di film itu sudah berpindah tempat ke rumah kami. Dan saat film berakhir, dia memelukku dan berkata,
 “Harusnya film itu berjudul When I Met Vincensia.”

Dan aku pun tertawa, tentu saja dengan segudang kebahagiaan. Saat film Titanic diputar, yang sebenarnya sudah kutonton berulang kali, aku tak sabar menunggu adegan berdiri di ujung kapal itu. Dan saat adegan itu muncul, tiba-tiba saja aku punya pikiran iseng. Itu adalah adegan yang paling romantis yang pernah kutonton dan aku ingin seperti itu.  Lantas kuajak dia mempraktekkan adegan itu di atas sebuah meja reot yang sudah goyang, yang  memang sudah ada di rumah itu sebelum kami mengontraknya. Suamiku menolak dan aku terus membujuknya. Ternyata satu ciuman mesra  cukup untuk meluluhkannya.

Lalu kami naik satu persatu ke meja dan mengambil tempat di tengah meja. Aku di depan dan dia di belakangku. Persis saat kami berdua merentangkan tangan, tiba-tiba kreeekkk, kreeeekk, kraakkk,  brukkkkkk, meja ambruk ke lantai dan kami berdua juga ambruk dengan suksesnya. Hahahahah. Meski kesakitan, satu malam itu kami habiskan dengan tertawa dan berjanji tidak bakal membongkar kisah memalukan ini pada siapapun.

  Hari ketiga kami berniat  berkebun di halaman rumah yang sebenarnya sempit. Kami berencana akan menanami halaman itu dengan cabai, tomat, dan bayam. Semuanya kami persiapkan matang-matang. Cangkul kami pinjam dari tetangga, topi kami beli untuk menutupi wajah, sarung tangan, snack, dan tentu saja kopi. Saat hendak memulai acara berkebun, kami putuskan untuk  minum kopi dulu di teras sembari  makan snack. Kali ini kami gelar tikar lengkap dengan dua buah bantal. Kami tidur-tiduran sambil cerita dan sesekali duduk untuk meneguk kopi. Entah siapa yang duluan, ternyata kami berdua tertidur dan bangun setelah tetangga berteriak.
 “Woii, udah sore. Pengantin baru kog tidur di teras.”
 Alamakkk. Saking enaknya dibelai angin sepoi-sepoi, kami ketiduran sampai sore dan  cangkul kami tetap bersih tak menyentuh tanah. Hahahah. Dan sampai rumah itu kami tinggalkan, tak pernah terwujud kebun sayur-sayuran itu.

Malamnya, aku sedikit merasa sedih karna besoknya suamiku sudah harus kembali bekerja seperti biasa. Tentu rasanya akan sepi ditinggal sendiri. Dia memahami apa yang kurasakan dan tiba-tiba dia mengajakku keluar. Dengan tubuh dibungkus jaket hangat, kami menelusuri trotoar sepanjang jalan. Di jaketnya ada walkman dan sebuah earphone menempel di kuping kami. Satu di kuping kirinya dan satu di kuping kananku. Tangannya memeluk pinggangku dan tanganku memeluk pinggangnya. Suara Tommy Page menghanyutkan kami berdua
 Whenever you close your eyes
 I want it to be my face that you see
When you go to sleep at night
Whenever you dream I want to know
That you're dreaming of me

Sepanjang trotoar kami tidak bicara apa-apa tapi tidak dengan hati kami. Mereka tengah berteriak tentang kekuatan cinta. Ada cinta yang begitu hebat di hati kami berdua. Cinta yang kami yakin takkan terkalahkan oleh apapun. Aku menginginkan dia bukan hanya di alam nyataku, bahkan di setiap mimpi, aku ingin hanya dialah yang kumimpikan. Merasakan tangannya mendekap tubuhku sepanjang jalan, aku  ingin  malam itu tak pernah berakhir. Di perjalanan pulang dia menyuruhku menatap bintang dan berkata,
 “Ijinkan cintaku menjadi penghuni hatimu. Selamanya. Bintang di langit yang jadi saksinya.”

Aku menangis mendengarnya. Perasaan bahagia ternyata bisa membuat orang jadi cengeng. Bahkan sampai tiba di rumah, aku tak ingin melepas pelukannya.  Bulan madu yang mungkin saja menurutmu  amat sederhana. Tapi kesederhanaan itu sungguh telah memberiku arti cinta yang megah, cinta yang tak terkalahkan.

  Meski saat  itu sudah belasan tahun berlalu, tapi aku masih bisa merasakan semuanya sampai sekarang. Dan setiap kali  dilanda rasa sedih, aku sering menunggu bintang di langit dan  menatapnya berlama-lama. Dari jauh di atas sana, seolah bintang itu meyakinkanku bahwa cintanya masih menghuni hatiku. Selamanya. Yah, selamanya.

  

0 komentar:

Post a Comment