Breaking News

22 February, 2012

Ibuku, Penggerak Kesuksesanku

By Evi Andriani  

            Ibuku seorang yang pekerja keras. Dari pagi hingga sore, dia terus bekerja di kantor. Sebelum berangkat ke kantor, dia sering menyiapkan masakan buat anak-anak dan suaminya. Dia tak pernah mengenal lelah, walaupun dia berbicara agak tegasterkesan agak keras dalam mendidiktapi ibuku itu sangatlah penyayang bila kita mau mengerti apa keinginanya.

            Berkat do’a Ibu aku bisa menjadi pemenanglebih dari dua kali bahkan berturut-turut hingga sekarang. Ibu adalah sosok teladan yang baik bagiku, tak pernah berhenti memberikan nasehat, kritikan dan masukan agar aku menjadi anak yang sukses di masa depan.

            Aku teringat saat ibu menceritakan perjuangannya melahirkanku dalam kondisi premature dan step (kejang-kejang), ibu dan keluarga berusaha sekuat tenaga, pikiran dan lain-lain untuk dapat menyembuhkanku agar aku bisa menghirup udara dan sembuh menjadi anak yang normal. Ibu berusaha terus bekerja tanpa menyerah untuk membayar biaya rumah sakitku yang sangat mahal. Sungguh besar pengorbanan ibuku. Sampai ibu pun rela menjual emasnya. Bagi ibuku, anaknya sangatlah penting karena itu anugerah terindah yang dititipkan Allah kepada tiap-tiap orang tua untuk dididik dengan baik.

            Ketika aku memasuki tingkat SD, aku sering mengikuti lomba cerdas cermat. Sebelum pergi, aku selalu menyalami tangan Ibu dan memohon do’a agar aku bisa mendapatkan juara satu.

            “Pergilah, Nak. Do’a Ibu selalu menyertaimu. Yakinkan pada dirimu bahwa kamu adalah yang terbaik. Optimislah bahwa kamu bisa mendapat juara satu. Ibu percaya, Evi bisa melakukannya,” ungkap Ibuku dengan senyum manisnya.

            Meniti waktu yang panjang, mengarungi pertanyaan-pertanyaan dari juri, akhirnya lomba cerdas cermat sampai pada puncaknya. Ada dua kelompok yang seimbang nilainyakelompok aku dan kelompok yang lain. Tiba-tiba pada satu pertanyaan terakhir, tanganku langsung menyambar tombol dan menjawab pertanyaan tersebut. Subhanallah, jawaban pertanyaan tersebut menjadikan kami juara satu. Begitu juga pada lomba cerdas cermat lainnya saat aku di bangku SMP dan SMA, aku selalu mendapat juara satu.

         Ibu berpesan padaku, “Evi, belajar ya dengan tekun, rajin beribadah, dekati orang-orang yang berilmu dan tidak boleh malas.”

            Ibuku adalah penggerak kesuksesanku dan dia merupakan wanita yang sangat hebatselalu bekerja demi membahagiakan anaknya agar tidak hidup dalam kekurangan. Tugas aku hanya belajar saja dan tidak boleh memikirkan masalah biaya sekolah dan biaya lainnya.

            Bahkan ibu selalu memperhatikanku untuk tidak terlalu banyak mengikuti berbagai aktivitas dan kegiatan organisasi baik di kampus atau pun di lingkungan tempat aku tinggal. Karena ibuku takut hal itu akan mengganggu kegiatan belajarku di sekolah. Beliau tahu, aku memiliki fisik yang lemah. Akan tetapi karena rasa antusias dan optimisku yang besar, aku selalu ingin meningkatkan kreativitasku dan prestasi di segala bidang. Aku tetap memenuhi keinginan ibukuberhasil di dunia pendidikantapi aku juga ingin mensukseskan kebutuhanku di bidang lainnya. Aku ingin melaksanakannya secara seimbang.

            Kadang aku sedih jika ibu melarangku untuk beraktivitas banyak di dalam kegiatan sehari-hari. Namun, aku tahu itu adalah wujud kasih sayang ibu padaku. Ibu tidak ingin aku menjadi sakit lagi seperti aku di waktu bayi. Ibu dan ayah hampir kehilangan diriku. Ibu juga kurang mendukung aku dalam dunia literasi kepenulisan. Ibuku takut, kesehatanku semakin menurun, padahal dengan menulis justru aku tidak menjadi sakit bahkan kesehatanku semakin baik.

            Betapa aku semakin sayang pada Ibu. Dia tidak pernah mengeluh apatah lagi meminta sesuatu. Keinginannya hanya agar aku fokus sekolah. Alhamdulillah, dari sejak SD sampai aku kuliah Magister, aku selalu mendapat peringkat satu dan nilai yang memuaskan di kelas.

            Ibu menuntunku menjadi anak yang cerdas dan bertakwa. Do’a, tetesan keringatnya, buliran airmatanya tidak akan pernah aku sia-siakan. Ibu juga menginginkan aku menjadi dosen untuk mendidik generasi-generasi bangsa dan meneruskan perjuangan ayahkudulunya juga seorang dosen. Semua keinginan Ibu akan aku jalani dengan ikhlas.

            Aku juga kelak ingin menjadi seperti ibuku agar aku dapat mendidik anak-anakku menjadi cerdas dan bertakwa. Aku juga ingin mendapatkan suami yang cerdas dan shalih seperti ayahku. Ibu sangat pintar memilih suami. Sehingga kehidupan keluarganya hingga sekarang terus berkembang dan menjadi keluarga yang berkecukupan.

            Saat ini aku pun berusaha mencari dan memilih pasangan hidupku agar kelak aku memiliki keluarga smart dan bertakwa kepada Allah. Aku pun berusaha meningkatkan kemampuan diri di segala bidang baik dari pelajaran akademis pendidikan maupun dari bidang kepenulisan. Aku ingin kelak anak dan suamiku bangga memiliki ibu dan istri seperti diriku. Walaupun fisikku lemah tapi aku mampu berjalan dan terus bergerak mengarungi setiap lika-liku kehidupanku. Aku akan terus ukir prestasi.

            Sehingga suatu saat aku bisa berkata pada anakku, “Inilah ummi, Nak. Dan engkau bisa menjadi seperti ummi bahkan lebih dari ini. InsyaAllah semua akan mudah engkau raih jika terus belajar, bekerja dan berpegang teguh pada agama Allah”

            Semua ini adalah hasil dari bimbingan ibuku. Ibuku adalah sumber inspirasiku. Aku bangga telah menjadi anak dari ibuku yang luar biasa. Dia salah satu wanita terhebat yang aku kenal. Tanpa ibuku dan keluargaku, aku tidak mungkin menjadi pribadi yang sukses dan bercahaya seperti sekarang ini. Aku akan terus giat berlatih, belajar dengan tekun, tidak mudah menyerah dan ilmu yang aku punya akan terus aku berikan sampai akhirnya aku menjadi ibu yang juga dapat memberikan inspirasi dan manfaat bagi orang lain bukan hanya untuk diriku sendiri dan keluargaku.

Medan, 25 April 2011
(Tulisan ini kemarin ingin di ikutsertakan di CDE, tapi dah telat T_T)
Semoga bermanfaat semua ibu-ibu di sini dan memberi hikmah ^_^

0 komentar:

Post a Comment