Breaking News

22 February, 2012

Ibuku Pembantu

Kupandangi foto berbingkai di atas meja. Dua gadis kecil di dalam foto tersebut tersenyum manis. Lengan keduanya berangkulan. Kedekatan mereka tampak nyata dengan menempelnya pipi keduanya satu sama lain.
Foto itu memperlihatkan kebahagiaan tapi aku membencinya. Salah satu gadis di dalam foto itu membuatku malu hari ini. Dengan kasar aku lempar foto itu ke atas meja. ”Brak!” Kutelungkupkan kepala di atas lengan kananku yang terlipat. Bahuku berguncang dan lengan kananku basah oleh air mata.
Ketika jam istirahat, aku dan Vanya seperti biasa mengunjungi kantin. Aku memesan semangkuk bakso dan Vanya memilih siomay. Kami menikmati hidangan sambil mengobrol. Andi dan Sahnaz mendatangi kami dan ikut mengobrol. Mereka adalah kawan sekelas kami.
”Kalian nanti mau ajak siapa, ayah atau ibu?” tanya Sahnaz kepada kami bertiga tentang Hari Orang Tua. Ini adalah program sekolah untuk menghadirkan orang tua kami masing-masing dan memperkenalkan profesi yang digelutinya kepada kami.
“Aku sih bawa mama saja. Dia kan buka usaha katering di rumah, jadi kemungkinan bisa hadir lebih banyak ketimbang papa yang kerja kantoran,” kata Andi.
”Aku juga. Mamaku kan punya butik jadi gampang saja kalau hanya tidak masuk satu hari,” ujar Vanya.
“Kalau aku akan ajak ayah. Ibuku PNS jadinya ribet kalau harus izin sebentar. Sementara ayahku kan pegawai pemasaran, jadi dia bisa atur waktunya dengan mudah,” sahut Sahnaz.
Aku diam. Tiga pasang mata kawanku lalu beralih padaku. ”Kamu mau ajak siapa, Mi?” tanya Andi.
Aku masih diam. Lalu menggeleng. “Aku masih bingung nih,” kataku.
”Kenapa? Memangnya ayah ibumu nggak bisa ya?” tanya Sahnaz.
”Entahlah,” jawabku.
”Kamu bingung ya, apa mereka diizinkan sama mama dan papaku?” tanya Vanya.
”Lo, memangnya mereka kerja di rumah kamu?” sahut Andi.
”Iya. Ayahnya Rahmi ini sopirnya papa. Kalau ibunya Rahmi pembantu rumah tangga di rumahku,” jawab Vanya.
”Oh...” kata Andi dan Sahnaz serempak. Lalu mereka terdiam. Aku menunduk. Malu.
Aku memang anak pembantu. Ibuku sudah mengabdi di rumah Pak Aryo Widodo, papanya Vanya sejak masih gadis. Sedangkan ayahku menjadi sopir Pak Aryo sejak lima bulan lalu. Tepatnya semenjak ayah terkena PHK. Pak Aryo menawarkan pekerjaan itu melalui ibu. Pak Supri, sopir Pak Aryo sebelumnya berhenti karena sudah tua sehingga sering merasa lelah.
Selama ini aku menyembunyikan kedua orang tuaku. Aku malu jika mereka mengejekku begitu tahu aku anak pembantu. Tapi program sekolah itu mengacaukannya. Kenapa program itu tidak diadakan ketika ayah masih menjadi pegawai kantoran? Kalau begitu kan aku bisa membawa ayah, bukan ibu. Tapi sekarang, siapa yang bisa aku bawa? Kalau membawa ayah, mereka pasti mengejekku karena hampir seluruh temanku memiliki sopir pribadi. Apalagi kalau bawa ibu. Bisa-bisa aku direndahkan.
Vanya lagi. Kenapa dia harus mengatakan ayah ibuku pembantu di rumahnya di depan teman-teman? Sekarang pasti semua temanku sudah tahu. Besok, sudah pasti aku akan diejek. Aku tak akan pernah punya teman lagi.
Setahuku Vanya selama ini baik padaku. Kami tumbuh besar bersama. Ibuku bahkan tak pulang kampung ketika akan melahirkanku. Ibu Sinta, mamanya Vanya, menginginkan ibu melahirkan di Jakarta bersamaan dengannya. Ibu Sinta ingin belajar mengasuh bayi pada ibuku meski ia pernah memiliki anak sebelumnya, Mas Rio, kakak Vanya yang kini sudah duduk di bangku SMA. Kami memang lahir dalam jarak yang tak berjauhan, hanya terpaut satu bulan. Vanya lalu aku.
Ibu Sinta, Pak Aryo, Mas Rio, Vanya, semuanya baik kepadaku. Meski aku anak pembantu, mereka memperlakukan aku seperti keluarga sendiri. Aku tak pernah dibedakan dengan Vanya. Jika ia dibelikan baju baru, akupun begitu. Ketika Pak Aryo pulang berdinas dari luar kota atau luar negeri, aku tak pernah dilupakannya. Aku selalu mendapatkan oleh-oleh.
”Rahmi, kamu kenapa?” tanya ibu yang baru saja masuk ke kamar.
Aku segera menghapus air mata dengan kedua telapak tanganku. Aku menunduk memandangi meja.
Nggak apa-apa, Bu,” jawabku.
Ibu menoleh ke arah meja. Keningnya berkerut ketika melihat foto aku dan Vanya tertelungkup di atas meja.
“Kamu marahan ya, sama Vanya?” tanya ibu. Aku diam lagi.
“Ko dari tadi kamu nggak ke luar kamar? Vanya tadi menanyakan kamu. Ibu pikir kalian sedang bermain. Makanya begitu Vanya tanya soal kamu, ibu jadi merasa ada yang aneh,” sahut ibu.
Aku bingung bagaimana memulainya. Aku takut ibu sakit hati kalau aku berterus terang. Jadi aku diam saja. Karena melihatku diam, ibu duduk di atas tempat tidur lalu mengelus kepalaku yang sedang tertunduk.
“Kamu marah karena masalah Hari Orang Tua ya?” tanya ibu.
Aku terkejut. Kudongakan kepala dan memandangi ibu. Waduh, gawat kalau ibu sudah tahu. Pasti gara-gara Vanya!
”Tadi ibu dengar Vanya menyebut Hari Orang Tua pada Bu Sinta. Dia juga meminta izin untuk ibu atau  ayah mendatangi sekolahmu besok,” kata ibu.
Aku tak percaya. Vanya sudah lancang seperti itu. Seharusnya kan dia membicarakannya padaku dulu sebelum minta izin kepada Bu Sinta.
”Kamu malu ya, kalau ibu dan ayah hadir?” tanya ibu. Aku masih diam.
”Kamu ingin Ibu Sinta atau Pak Aryo yang menghadirinya untuk kamu?”
Aku menunduk lagi. Air mataku berjatuhan ke atas pangkuan.
”Kalau kamu malu, ibu dan ayah tak akan hadir. Bilang saja kami sibuk sehingga tidak bisa hadir. Tidak akan mempengaruhi nilai kamu kan, Nak?”
Tiba-tiba pintu kamar kembali terbuka. Kulihat Vanya berdiri di sana. Aku marah dan kupalingkan mukaku darinya.
”Jangan, Bu Laksmi. Ibu harus datang. Rahmi tidak boleh malu,” kata Vanya.
”Apa mentang-mentang kamu anak majikan jadinya kamu menyuruh-nyuruh ibuku seperti itu?”
”Bukan begitu, Mi. Aku malah akan bangga kalau membawa Ibu Laksmi ke sekolah. Dia rela mengorbankan dirinya untuk keluarga. Dia rela tidak melanjutkan sekolah demi membiayai adiknya di kampung dengan menjadi pembantu rumah tangga. Pamanmu bisa lulus SMA karena jasa ibumu, Mi. Ibumu juga berjasa penuh pada kami sekeluarga. Sejak masih gadis sampai punya anak sebesar kamu, ibumu masih setia pada kami. Kalian sudah seperti keluarga. Bahkan mama sangat bergantung sama ibumu,” papar Vanya.
”Alah kamu pasti akan mempermalukan aku dan ibuku kan, seperti halnya kamu mempermalukan aku di depan Sahnaz dan Andi” kataku.
”Soal itu aku minta maaf. Aku sudah lancang mengatakannya sebelum meminta izin padamu. Aku benar-benar tidak bermaksud mengolok-olok kamu. Tapi memang aku salah membuka profesi orang tuamu di depan mereka. Padahal seharusnya kamulah yang berhak mengatakannya.”
Aku diam.
”Percayalah Mi, aku mengatakan yang sebenarnya. Permisi,” katanya sambil menutup pintu.
Ibu masih saja mengelus kepalaku. Kemudian ia mendekapku ke dalam dadanya. Kutumpahkan semua rasa yang kutanggung dalam hati. Baju ibu basah dengan air mataku.
Usai makan malam aku kembali ke kamar. Aku merenungi kata-kata Vanya. Benar juga. Selama ini aku memandang rendah ibukdan ayahu sendiri. Aku terbawa cara pandang orang lain terhadap profesi pembantu rumah tangga dan sopir. Cara pandang seperti inilah yang aku gunakan setiap kali aku bergaul dengan teman-teman sehingga aku merasa kecil.
Ibu memang perempuan tangguh. Ia berangkat ke Jakarta seusai lulus SMP. Ibu menjadi pembantu rumah tangga untuk membiayai nenek dan dua pamanku di kampung. Kakek meninggal ketika ibu mengikuti Ebtanas (kalau sekarang UN) SMP. Nenek hanyalah buruh tani tapi menginginkan anaknya sekolah.
Ibu bekerja keras mengumpulkan uang untuk bisa membiayai sekolah paman. Ia berhasil. Kedua pamanku ia biayai sampai lulus SMA. Paman Sakti mengikuti ibu hijrah ke Jakarta selepas SMK dan sekarang kerja di pabrik sepatu di Cikarang. Sedangkan Paman Yoga mendapat beasiswa S1 di Yogyakarta.
Ayah juga tak kalah hebatnya. Meski di-PHK karena perusahaan bangkrut, ia tidak patah semangat. Menjadi sopir pribadi adalah pilihannya. Ia masih bersyukur bisa mendapatkan pekerjaan yang halal daripada harus menganggur dan menjadi beban ibu atau malah jadi pencuri. Malahan sejak menjadi sopir, kami bisa berkumpul bersama di rumah Vanya. Tidak seperti waktu ayah menjadi pegawai di Bogor, kami hanya bisa bertemu satu kali dalam sepekan.
Hari ini Hari Orang Tua. Aku bangga ketika ibuku berdiri di depan kelas dan berbicara tentang profesinya. Kulihat teman-temanku ada yang mengerenyitkan dahinya, bersikap tak peduli, tapi tak sedikit yang malah mendengarkan dengan seksama.
”Menjadi pembantu rumah tangga bukan pilihan utama. Tapi inilah yang harus saya lakukan untuk bisa menghidupi keluarga. Tidak mudah menjadi pembantu rumah tangga. Makanya saya berupaya agar anak saya, Rahmi, bisa sekolah setinggi-tingginya. Agar ia bisa menjadi apa pun yang ia inginkan. Saya tidak punya harta untuk diwariskan. Tapi saya akan terus berusaha mencari uang supaya dia bisa jalan untuk meraih cita-citanya dengan menuntut ilmu. Ilmu itulah yang akan menjadi harta yang besar baginya. Belajar yang semangat ya, Nak,” kata ibu di depan kawan-kawan dan orang tua murid.
Aku tak bisa melihat ibu dengan jelas. Pandanganku kabur dengan luapan air di mataku. Aku bertepuk tangan sekencang-kencangnya. Kudengar yang lain pun ikut melakukannya. Aku bangga pada ibuku. Aku juga bangga pada ayahku. Kupeluk ibu yang baru saja mendatangi tempat dudukku. ”Aku sayang ibu. Terima kasih,” kataku.
Di kamar aku merapikan diri. Kusisir rambut dan kukuncir kuda. Lalu aku mengambil gelang di atas meja. Tanganku mengambil foto yang tertelungkup. Kuambil dan kuelus dua gambar di dalamnya. Aku tersenyum. Kurapikan meja dan kupajang kembali foto itu di atasnya.
”Mi, lama amat sih! Ayo dong!” teriak Vanya dari halaman. Vanya sahabatku sudah menungguku untuk bermain sepeda di luar. Aku berlari ke luar kamar mengejarnya.

Jakarta, Mei 2009


0 komentar:

Post a Comment