Breaking News

15 February, 2012

Ibuku, Guruku





 
Selepas tarawih, kami melepaskan mukena masing-masing lalu merebahkan badan di kasur kamarku. Terasa sangat lega setelah menunaikan kewajiban dilanjutkan dengan istirahat sambil ngobrol ngalor ngidul.

Anak-anak kecilku sudah sibuk sendiri dengan mainan dan baju baru hadiah dari eyangnya. Sedianya baju baru itu untuk dipakai merayakan Hari Raya Idul Fitri. Akan tetapi namanya juga anak-anak, sekali dicoba pantang dilepas sebelum puas.

Entah bagaimana, pembicaraan kami menyasar pada sepenggal kisah hidupnya.Tentang perjuangannya meraih cita-citanya. Dia tutup matanya sejenak dan mulailah dia mengurai episode itu.

♥♥♥

Sebagian besar urusan rumah, aku yang mengerjakan. Aku biasa membantu Emak di dapur, menimba air dari sumur, memandikan adik-adikku, mencuci pakaian orang serumah, menyapu lantai semen rumah sampai memberi makan Peri, monyet piaraan kami.

Aku anak pertama, aku harus menjadi teladan untuk adik-adikku. Emak dan Bapak menempaku sedemikian rupa agar aku dapat menjadi panutan dan dihormati oleh adik-adikku. Aku merasakan betul itu.

Tidak ada adikku yang berani melawan atau membantahku karena sejak mereka kecil akulah yang menyuapi, memandikan dan membuatkan baju mereka. Bekal kursus menjahit langsung kupraktekkan dengan membuatkan baju untuk adik-adikku. Meskipun bukan baju yang teramat indah tapi cukup pantas untuk dipakai sehari-hari. Corak dan motif bukanlah yang utama karena yang penting kegunaan dasar akan pakaian untuk melindungi tubuh pemakainya terpenuhi. Aku beli kain murah di pasar, kubuat pola dan kujahit rapi lalu kupakaikan padaku dan adik-adikku. Pakaian kami tidak mahal tapi selalu kubuat bersih dan terseterika rapi.

Seringkali aku berbagi tugas dengan Anik, adikku nomor dua yang usianya terpaut satu tahun denganku. Jika aku menyapu bagian dalam  rumah, dialah yang menyapu halaman rumah agar bersih dari rerontokan daun rambutan.

Halaman rumah kami luas sekali mengelilingi rumah. Berbagai pohon buah tumbuh di halaman kami diantaranya pohon rambutan, durian, alpukat, duku, dan kelapa. Aku dan adik-adikku senang bermain dan berlari-larian di halaman.

Emak sesekali menjual sebagian ayam atau kambing piaraannya untuk membayar biaya sekolahku dan adik-adikku. Bapakku bekerja mengolah sawah dan pekarangannya untuk membiayai hidup kami dan kuliah pamanku – adik bungsu Bapak – di Jogja.

Aku belum pernah ke Jogja. Pastilah tempat itu sangat jauh dari desaku di Blitar. Tapi melihat Paklik – demikian aku menyebut pamanku – yang terpelajar, pintar dan tahu banyak hal membuatku ingin hidup lebih dari ini. Bekerja di kantor, berseragam, dan dihormati banyak orang diam-diam tumbuh menjadi semacam obsesi di hatiku.

Kelas 3 SMP menjadi tonggakku untuk mewujudkan obsesiku. Aku harus bisa lulus agar bisa melanjutkan sekolah lebih tinggi lagi. Paklikku bilang bahwa tidak ada kuliah tanpa sekolah lanjutan atas.

Guruku di sekolah menganjurkan kami membentuk kelompok belajar untuk menghadapi ujian akhir sekolah. Kami pun dibagi menjadi dua kelompok berdasarkan tempat tinggal yang saling berdekatan. Kelompok Lor bagi siswa yang rumahnya terletak di sebelah utara sekolah, dan Kelompok Kidul bagi siswa yang rumahnya terletak di sebelah selatan sekolah.

Aku dan teman-temanku berjuang keras agar bisa lulus SMP dengan baik. Setiap sore kami belajar bersama berpindah pindah dari satu rumah ke rumah. Belajar kelompok semakin menambah kebersamaan dan kekompakan kami.

Sampai kemudian kurasakan ada yang berbeda. Satu temanku bertingkah lain dari biasanya. Sangat tidak umum menurutku.

Teman itu bernama Margo. Seringkali kupergoki dia memandangku dalam-dalam, bahkan dengan tatapan nakal. Tatapannya kerap membuatku salah tingkah dan menarik-narik rokku ke bawah. Kau tahu, di akhir tahun 70-an, rok perempuan biasanya memang berlipit di atas lutut. Tidak ada yang mempermasalahkan rok semacam itu kecuali jika karena rok itu ada orang yang menatap pahamu berlama-lama. Sebenarnya ingin kucakar muka Margo karena hal itu tapi aku tak sanggup karena itu bukan karakterku.

Teman-teman pun mulai meledekku dan Margo. Mereka bilang Margo naksir aku. Aku tidak peduli. Fokusku bukan asmara di saat-saat seperti ini. Apalagi berhubungan dengan Margo. Sangat jauh panggangan dengan api.

Syukurlah hasil kerja keras kami tidak sia-sia. Kami semua berhasil lulus sekolah dengan baik. Satu per satu temanku menempuh jalan hidupnya masing-masing. Ada yang melanjutkan ke SMA, SMEA, PGA, STM maupun SPG. Margo kuketahui melanjutkan sekolah ke STM Negeri di kota. Sedangkan aku? Belum kutemukan titik terang.

Selain melanjutkan sekolah, adalah hal yang lazim bagi gadis desa seperti aku untuk menikah seusai SMP. Bahkan sejak SMP sudah banyak orang yang melamarku pada Emak dan Bapak tapi selalu kutolak. Aku mau sekolah dulu sampai lulus.

Seperti waktu itu, sepulangku dari belajar kelompok.

Aku sedang membersihkan semprong (kaca yang menyelubungi lampu minyak) dari bekas hangus pembakaran. Emak menghampiriku.

“Nur, tadi ada Pak Kepala Dusun sebelah kemari. Dia membawakan Emak gula dan beras banyak sekali,” kata Emak.

“Mmm iya Mak. Kenapa dia bawa oleh-oleh banyak sekali Mak?” ujarku sambil menautkan lampu-lampu minyak yang sudah kunyalakan di dinding-dinding ruangan.

“Dia ingin melamarmu Nur. Sebentar lagi kan kamu selesai sekolahnya. Mau ya Nur?” nada suara Emak seperti membujukku.

“Wegah Mak. Nur mau sekolah dulu. Kenapa to Mak kok pingin aku cepat kawin? Apa ndak kasihan sama aku?”

“Bukan begitu Nur, tapi kan …” Emak tidak menyelesaikan kalimatnya karena aku keburu melenggang pergi meninggalkannya.

Bahkan yang lebih parah lagi, teman Bapakku ingin menikahiku. Aku biasa memanggilnya Lik Tarni. Duda beranak tiga itu sudah seperti anggota keluarga kami. Dia sering bertandang ke rumah untuk sekadar jagongan dengan Bapak.

Sampai suatu ketika, Lik Tarni datang bertamu dengan penampilan sangat resmi dan necis sekali. Rambutnya klimis tampak basah disisir ke belakang. Dia meminta Bapak untuk memanggilku duduk di ruang tamu.

“Kang, Nur oleh tak pek yo?” kalimat itu ditujukannya pada Bapak sambil melirikku. Apa?  Lik Tarni meminta ijin bapakku untuk memilikiku? Panas sekali mukaku saat itu. Muak sekali aku jadinya pada laki-laki tua sahabat bapakku ini.

“Piye jaremu Nur?” Bapak menanyakan pendapatku.

Aku menggeleng kuat-kuat. “Mboten Pak, Nur pingin sekolah rumiyin,” jawabku. Aku tidak ingin obsesiku terganggu.

“Kalau sudah selesai sekolah, mau ya Nur? Tak enteni kowe Nur” desak Lik Tarni ngeyel.

Seandainya aku lupa akan sopan santun, sudah lepas mataku memelototi Lik Tarni. Akan tetapi aku tidak bisa karena itu bertentangan dengan nilai-nilai yang ditanamkan Bapak dan Emak selama ini.

“Mboten Lik. Nur ingin jadi guru. Tidak ingin menikah dulu Lik. Permisi, Nur mau ke belakang dulu.”

Sesungguhnya itu jawaban spontan saja. Jadi guru? Oh iya, seorang guru pasti pintar karena tugasnya adalah mendidik anak-anak orang lain agar berhasil. Seorang guru juga pasti dihormati karena menjadi guru haruslah pantas digugu dan ditiru – menjadi teladan bagi masyarakat. Bukankah guru juga tampak berwibawa dengan seragamnya, menilai hasil ulangan anak didiknya di kantor. Aih aih, aku mulai menemukan titik terang.

Mulailah aku merengek-rengek minta duit pada Emak untuk mendaftar SPG di kota. Pada waktu itu lulusan Sekolah Pedidikan Guru yang tingkatnya setara SMA sudah dapat menggunakan ilmunya untuk mengajar. Setidaknya ijazah SPG nya bisa dipakai untuk mengajar di SD.

Emak menurutiku dengan menjual beberapa ekor ayam peliharaannya untuk membiayaiku mendaftar di SPG Negeri Blitar. Sekolah itu sangat bergengsi dan maju di kotaku. Tidak mudah untuk mendapat kesempatan belajar disana. Dari ribuan orang pendaftar, seingatku hanya 60 atau 80 orang saja yamg diterima. Itupun harus ikut tes dulu.

Aku gagal masuk SPG Negeri Blitar. Sasaranku berikutnya adalah SPG PGRI yaitu SPG yang dikelola oleh swasta tetapi juga cukup baik kualitasnya. Tak kusangka bukan hanya aku yang berpikir demikian. Ribuan pendaftar yang tidak diterima di SPG Negeri Blitar pun mencoba peruntungan dengan mengikuti tes masuk SPG PGRI. Aku pun tersisih dari sekolah idamanku itu.

Aku pulang dengan perasaan sedih. Padahal kutahu Emak sampai meminjam uang pada tetangga untuk biaya pendaftaranku ke SPG PGRI. Aku dilanda kebingungan yang luar biasa. Kemana lagi aku mencari sekolah? Apakah aku harus menyerah dan menerima saja dinikahkan dengan orang yang asing bagiku? Aku tidak siap menikah. Jalanku masih panjang.

Emak menanggapi keluhanku dengan murka. Tidak biasanya beliau marah besar seperti ini. Selama hidupku kukenal Emak sebagai sosok yang sabar.

“Habis 2500 hanya untuk kowe daftar sekolah  Nur! Buang-buang uang saja. Mendingan kowe kawin, kan beres!” demikian akhir kalimat Emak sebelum meninggalkanku sendirian di ruang tengah.

Seperti dilolosi semua tulangku. Lututku terasa lemas. Kawin? Aku masih kecil. Pernikahan membutuhkan tanggung jawab yang besar. Tidak semudah itu bagiku untuk kawin, apalagi dengan orang yang tidak aku kenal.

Tapi uang 2500 memang cukup besar nilainya saat itu bagi keluarga kami. Emak sampai menjual sebagian besar ayamnya untuk menuruti keinginanku mendaftar sekolah. Berikutnya Emak sampai harus pinjam uang ke tetangga untukku setelah aku gagal tes di sekolah sebelumnya.

Aku sudah menyusahkan Emak. Adikku masih banyak. Tentu mereka perlu biaya yang juga tidak sedikit.

♥♥♥

Beliau mengusap air mata yang meleleh di sudut pipinya. Kusodorkan sapu tangan sambil membelai punggung tangannya.

“Ehm, Ibu enggak apa apa kok Nduk. Kulanjutkan ya?”

Kuanggukkan kepalaku kuat-kuat. Sudah lama sekali Ibu tidak mendongeng untukku. Dan inipun bukan dongeng fiksi belaka, ini tentang orang yang paling berjasa dalam hidupku.

♥♥♥

Kalut sekali pikiranku waktu itu. Jika memang aku hanya membebani keluarga lebih baik aku tidak di sini. Akan kutempuh jalanku sendiri.

Kusambar taplak meja di depanku. Kukemasi baju-bajuku, mukena, Al Quran, lembaran ijasah, buku rapot dan daftar nilai ujian akhirku. Keluarga kami tidak memiliki tas besar karena tentulah karena kami tidak sanggup membelinya. Jadilah semua benda yang kuambil itu kubungkus dengan taplak meja di ruang tengah. “Selamat tinggal Emak,” salamku dalam hati.

Tidak pasti ke arah mana langkah kaki membawaku. Aku berjalan jauh sekali sampai letih. Aku pun ngaso sejenak di bawah pohon kelapa di pinggir jalan.

Kulihat sekelilingku. Ini kan daerah rumah Sunarmi, temanku. Bergegas aku menuju rumahnya, sekedar ingin curhat dengan Sunarmi. Siapa tahu nanti aku akan menemukan jalan keluar.

Sunarmi sendiri yang membukakan pintu untukku. Matanya sembab tampak habis menangis. Ternyata nasibnya mirip denganku. Dia gagal lulus tes masuk SMEA Negeri dan orangtuanya memutuskan untuk menjodohkan Sunarmi dengan seseorang. Sunarmi tidak ingin menikah, sama sepertiku.

“Nur, aku punya ide. Bagaimana kalau kita kabur saja. Kita ke Kediri, aku mau mengadu pada mbakku di sana.”

“Mi, aku tidak ingin merepotkanmu. Nanti kamu dicari bapak ibumu, aku yang disalahkan.”

“Ndak, kamu ndak salah Nur. Ayo cepat, keburu bapak ibuku pulang!”

Tidak sempat berpikir panjang, kuikuti ajakan Sunarmi. Bertemu teman senasib semakin  meringankan beban pikiranku.

Turun dari kendaraan umum, aku dan Sunarmi berjalan kaki sedikit menuju stasiun kereta api. Tiket kereta sudah di tangan. Harap harap cemas kami menunggu keretanya datang. Takut jika tiba-tiba bertemu dengan orang yang kami kenal lalu dia melapor pada orangtua kami. Bisa hancur semua rencana kami.

Wow, naik kereta sendiri tanpa didampingi orang tua bagi gadis rumahan seperti aku adalah sebuah petualangan yang luar biasa. Ditemani Sunarmi, aku sejenak lupa akan kesedihanku.

Rumah mbak Sunarmi ternyata dekat dengan stasiun kereta api. Kami naik becak sebentar dan sampailah kami di depan rumahnya. Amat besar harapan kami waktu itu pada mbak Sunarmi.

Mbak Sunarmi menerima kami dengan penuh pengertian. Kami diijinkan menginap di rumahnya barang beberapa hari senyampang dia membicarakan masalah kami dengan suaminya.

Keesokan harinya, Sunarmi ijin keluar sebentar dengan mbaknya entah kemana. Aku ditinggal di rumahnya. Sesungguhnya aku sedikit tidak nyaman disini. Suara salak anjing peliharaan mbak Sunarmi menakutkanku. Aku tidak berani keluar kamar, takut kalau-kalau anjingnya khilaf dan menggigitku.

Agak sore Sunarmi pulang dengan mbaknya. Mukanya tampak berseri-seri. Dia menemuiku di kamar.

“Nur, aku tadi daftar SMEA Kediri. Tidak pakai tes langsung diterima.”

“Oh ya? Selamat ya Mi,” aku melonjak-lonjak turut senang. Sunarmi sudah dapat sekolahan.

Kemudian raut muka Sunarmi agak suram ketika dia melanjutkan kalimatnya, ”Maaf Nur, mbakku hanya mendaftarkan aku. Dia tidak ada biaya lebih lagi untuk mendaftarkanmu. Maafkan mbakku Nur.”

Oh begitu ternyata. Aku sangat maklum dengan penjelasan Sunarmi. Kakak ipar Sunarmi hanyalah pegawai biasa, sedangkan mbak Sunarmi ibu rumah tangga. Tentulah penghasilan mereka pas-pasan untuk mencukupi hidup mereka di kota.

“Ndak apa-apa Mi, aku mengerti itu. Aku lebih baik pamit saja Mi.”

“Kamu mau kemana Nur? Jangan gelap mata Nur. Tinggallah disini dulu, nanti kita cari jalan keluar sama-sama.”

Aku berusaha keras menahan air mataku agar tidak tumpah di depan Sunarmi. Rasa kecewa menggumpal dalam dadaku namun aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku merasa sangat tidak berdaya.

Setelah berpamitan pada mbak Sunarmi dan keluarganya, aku minta Sunarmi mengantarku ke stasiun. Kuucapkan terima kasih pada mbak Sunarmi sekeluarga. Mereka membekaliku sejumlah uang untuk ongkos perjalanan.

“Kamu jadi mau pulang Nur?” Tanya Sunarmi di halaman stasiun kereta api. Dia terlihat sangat mengkhawatirkan aku.

“Mau kemana lagi aku Mi? Sudahlah, kamu pulang saja.Aku ndak apa-apa kok. Ini sudah hampir malam Mi.” aku berusaha tegar di hadapan Sunarmi.

“Yo wis. Kamu hati-hati di jalan ya Nur.” Sunarmi memelukku erat sekali sebelum dia meninggalkanku dengan becak yang kami tumpangi tadi.

Aku melepas kepergian Sunarmi dengan perasaan galau tidak menentu. Ya Allah, tolonglah hamba. Jika hamba pulang, hamba harus melepas cita-cita hamba.

Aku duduk di bangku panjang stasiun dengan tatapan kosong. Aku belum juga membeli tiket ke Blitar. Kalau tidak pulang, aku harus kemana?

Tidak, aku tidak akan pulang. Aku berdiri memantapkan diri. Kugenggam erat-erat uang pemberian mbak Sunarmi. Akulah yang berhak menentukan masa depanku.

♥♥♥

Kutatap wajah ibuku. Sorot matanya saat itu membuatku tercekat. Ibuku yang lembut dan pendiam bisa mempunyai tekad sekuat itu.

“Ibu kok berani?” tanyaku pelan.

“Entahlah Nduk, Ibu juga heran. Darimana Ibu bisa punya keberanian seperti itu.”

“Lalu Ibu kemana?”

Seulas senyum tersungging dari bibir ibuku. “Ke Ngantru,” jawabnya.

♥♥♥

Aku tidak jadi membeli tiket kereta ke Blitar. Kuangkat gembolanku pergi menuju jalan raya. Aku mencegat bis dengan tujuan Ngantru, Tulungagung.

Beberapa waktu yang lalu, aku diajak Bapak silaturahmi ke rumah Pak Jito di Ngantru. Pak Jito dulu pernah numpang di rumah kami, membantu Bapak menggarap sawah dan pekarangannya. Setelah beberapa lama, Pak Jito memutuskan kembali pada keluarganya di Ngantru. Lalu Pak Jito mencari nafkah dengan membuka bengkel kecil-kecilan di depan rumahnya.

Aku sangat terkesan dengan kunjungan terakhir kemarin di Ngantru. Keluarga Pak Jito sangat ramah dan menerima kami seperti keluarga sendiri. Aku bahkan sangat akrab dengan Mbak Imah, anak sulung Pak Jito. Mbak Imah sedang menempuh Pendidikan Guru Agama yang masa pendidikannya 6 tahun. Saat itu mbak Imah masih sampai di tahun keempat.

Rumah Pak Jito sangat mudah dicapai dengan kendaraan umum karena berada di pinggir jalan raya. Aku masih ingat betul jalannya.

Bis yang aku tumpangi agak kelewatan menurunkanku. Aku harus berjalan kembali ke arah sebelumnya sekitar 5 menit. Bukan masalah besar bagiku, yang penting aku sampai dengan selamat di rumah Pak Jito.

Pak Jito dan keluarganya amat terkejut melihatku sendirian, jam 10 malam di depan pintu rumahnya. Bajuku kumal, mukaku kotor berdebu dan membawa gembolan besar.

Mereka mempersilahkanku duduk di ruang tamunya dan menyuguhkan secangkir teh hangat untukku.

Air mataku sudah tidak dapat kubendung lagi setelah menerima kebaikan keluarga Pak Jito. Mbak Imah dan adiknya memeluk pundakku untuk menenangkanku. Sampai sekitar 10 menit aku belum bisa ditanyai karena masih sesenggukan menangis.

Akhirnya aku bisa menguasai diri. Kuceritakan semua pada Pak Jito dan keluarganya. Termasuk perjalananku ke Kediri sampai akhirnya aku memutuskan pergi mencari harapan ke rumahnya. Ku bilang aku ingin seperti Mbak Imah.

“Oh begitu to masalahnya. Baik … baik, akan aku usahakan Nur. Coba sini Bapak mau lihat ijasahmu,” dengan bijak  Pak Jito menanggapi keluh kesahku.

Kubuka gembolanku dan kuangsurkan berkas-berkas itu ke tangan Pak Jito. Alhamdulillah ya Allah.

Bu Jito menyiapkan nasi dan sayur untukku makan malam itu. Aku makan sangat lahap. Aku sempat lupa makan selama pelarianku  karena tidak berselera dan takut uang bekalku habis. Ternyata makan hanya nasi, sayur lodeh dan lauk kerupuk terasa sangat nikmat dikala perut lapar.

Mbak Imah memasakkan air panas untukku mandi setelah makan. Setelah berganti pakaian bersih aku merasa sangat lelah dan mengantuk. Malam itu aku tidur dengan nyenyak bersama Mbak Imah di ranjangnya.

Keesokan harinya Pak Jito pergi dengan membawa berkas-berkasku. Mbak Imah dan adikknya pun harus berangkat sekolah. Kuisi waktuku dengan membantu Bu Jito di dapur dan mengerjakan beberapa pekerjaan rumah tangga. Aku merasa kerasan disana.

Sore harinya teman-teman Mbak Imah, baik laki-laki maupun perempuan datang bertamu. Mereka mengajakku dan Mbak Imah pergi keluar menonton ketoprak. Ketoprak Siswobudoyo kala itu adalah kelompok pertunjukan ketoprak yang sangat terkenal. Semua orang berbondong-bondong datang untuk menikmati pertujukannya. Kebetulan saat itu mereka manggung di kota Tulungagung.

Aku sangat gembira. Seumur umur aku belum pernah menonton ketoprak. Kuingat waktu itu lakonnya adalah Si Pitung Di Hukum Gantung. Aku merasa sangat terhibur.

Menjelang akhir pertunjukan, terdengar suara penyiar mengumumkan sesuatu. Bunyinya sungguh mengagetkan aku, seperti merenggut kembali kebahagiaanku hari itu.

“Perhatian  … perhatian! Kepada nanda Nurhayati dari Blitar, dimohon keluar ke pintu utama karena sedang ditunggu oleh bapaknya. Kepada nanda Nurhayati …” demikian suara pengumuman itu.

Aku lemas sekali. Mendadak aku ingin pipis di celana. Aduh, akan diapakan aku nanti oleh Bapak? Anaknya sudah 4 hari minggat. Pastilah Bapak sangat marah.

Mbak Imah dan teman temannya menguatkanku. Mereka mengantarku keluar menemui Bapak. Ternyata di luar sudah ada Pak Jito, Bu Jito, Bapak dan gembolanku. Aku menunduk dalam-dalam ketika berpamitan pada keluarga Pak Jito. Aku pasrah saja disuruh naik ke boncengan sepeda motor sambil memangku gembolanku untuk dibawa pulang oleh Bapak.

Perkiraanku meleset. Ternyata Bapak tidak marah walau sepanjang perjalanan Bapak diam seja. Aku tidak berani bicara apapun kendati sepanjang perjalanan dari Tulungagung ke Blitar malam itu aku menggigil kedinginan karena aku tidak membawa jaket.

Rupanya tadi pagi Pak Jito pergi sambil membawa ijasahku bukan untuk mencarikan sekolah untukku. Beliau bablas ke Blitar untuk menemui orangtuaku dan memberitahukan bahwa aku berada di rumahnya dengan kondisi memprihatinkan.

Sampai di rumah, Emak, Paklik dan adik-adikku sudah menunggu di teras rumah. Turun dari sepeda motor aku terpaku tidak berani melangkah maju. Emak berlari menyongsongku lalu memelukku erat sambil menangis.

“Ojo dibaleni maneh yo Nur. Jangan seperti ini lagi, kami semua khawatir. Huhuhuhu,” kata Emak sambil memelukku.

“Ngapunten Mak. Aku enggak mau kawin, aku mau jadi guru. Maaf Mak, huhuhuhu” sambil menangis aku masih berusaha memperjuangkan niatku.

Selesai bertangis-tangisan aku duduk pasrah diantara Emak, Bapak, Paklik dan adik-adikku. Tidak berkutik aku menghadapi nasibku berikutnya.

Paklik mulai angkat bicara. “Nur, kowe ikut Paklik Bulik saja di Probolinggo. Disana kamu bisa sekolah di SPG Muhammadiyah.”

Haaaaa? Seakan tidak percaya aku mendengarnya. Air mataku meleleh sekali lagi, tapi sebaliknya aku merasa sangat lega dan bahagia. Akhirnya ada jalan untukku. Aku bisa jadi guru.

♥♥♥

Aku menghapus sedikit air mata di sudut-sudut mataku. Perjalanan Ibu untuk mewujudkan cita-citanya sungguh berliku. Aku sangat terharu.

“Kamu tahu Nduk, amal yang tidak terputus setelah kematian kelak salah satunya adalah dari ilmu yang bermanfaat. Semoga Ibu bisa meraih pahala dari ilmu yang Ibu ajarkan pada murid-murid Ibu. Itulah kenapa Ibu semakin mantap ingin jadi guru.”

“Amiiiin. Kok bisa ada Eyang di Blitar, Bu? Kebetulan pulang ya?” tanyaku. Kepada paman Ibu aku memanggilnya Eyang karena beliau adik dari kakekku. Pada kakekku sendiri aku memanggilnya Mbah Kakung.

“Mbah Kakung mencari Ibu sampai ke Probolinggo. Karena tidak menemukan Ibu, Mbah Kakung lalu membicarakan perihal Ibu dengan Eyang Kakungmu. Akhirnya Eyang Kakung menyanggupi untuk menyekolahkan Ibu di SPG Muhammadiyah Probolinggo.Hihihi,” jawab Ibu lalu terkekeh.

“Kok tertawa Bu?”

“Ibu diceritani Emak. Saking bingungnya mencari Ibu, Mbah Kakung sampai melabrak Mas Margo. Dia curiga bahwa Mas Margo membawa lari Ibu. Ya nggak mungkinlah Ibu lari karena laki-laki. Waktu itu bahkan Ibu sebal dengan yang namanya Margo.”

“Hehehehe. Kenapa Ibu tidak mau dikawinkan dengan Pak Kepala Dusun itu. Kan enak Bu, enggak usah capek-capek sekolah,” godaku.

“Sembarangan kamu Nduk. Kalau Ibu jadi sama si Kepala Dusun tidak nikah dengan Margo ya tidak ada kamu. Gimana to,” sahut ibuku gemas.

“Cieee, dari benci jadi cinta nih yeeee,” godaanku berlanjut.

“Uwis wis, Ibu mau pulang. Ndak usah diantar, Ibu pinjam motormu saja.”

Aku mengantar Ibu sampai pintu pagar dengan senyum terkembang. Semakin kagum aku pada ibuku. Menjadi guru sungguh cita-cita mulia.Beliau berani menentukan jalan hidupnya dan tidak mudah menyerah demi mewujudkannya












0 komentar:

Post a Comment