Breaking News

15 February, 2012

Ibu Rumah Tangga Yang Tidak Biasa


 


               Apa yang ada di benak anda jika mendengar kata bursa efek?. Mungkin anda akan langsung membayangkan sederetan nama  perusahaan besar, sibuknya kegiatan  transaksi saham , nama-nama perusahaan sekuritas dan bank yang bonafid, tumpukan uang dalam jumlah besar, dan beragam aktifitas perekonomian dan bisnis  yang terkesan sangat serius dan rumit.  Gambaran itu juga yang dahulu selalu ada di benak saya jika kebetulan menemukan liputan berita dari lantai bursadi koran harian yang rutin saya baca. Belum lagi jika menemukan acara te ve yang  menampilkan analisis keadaan bursa efek . Wah…kening saya hanya bisa berkerut dalam ketidakpahaman bercampur  kekaguman akan intelektualitas dari pembicara yang dengan fasihnya memberikan pandangannya akan situasi bursa efek di Indonesia dan dunia .

            Pendek kata, bursa efek bagi saya adalah sebuah dunia bisnis yang asing dan terkesan sangat rumit, serius, berhubungan dengan uang dalam jumlah besar, dan dilakoni oleh sekelompok orang-orang pintar yang selalu terlihat sibuk, perlente , dan bergelimang uang….

             Gambaran di atas lah yang kemudian dijungkir balikkan oleh adik bungsu saya.

             Adik bungsu saya, seorang ibu dari dua anak perempuan yang berumur lima dan tiga tahun, adalah ibu rumah tangga biasa yang kebetulan menyandang gelar sarjana ekonomi. Sewaktu masih gadis ia bekerja di salah satu perusahaan asuransi yang kemudian terpaksa ditinggalkannya ketika akan menikah dengan calon suaminya, yang kebetulan juga pegawai di perusahaan asuransi yang sama.  Peraturan kepegawaian di perusahaan asuransi yang berstatus BUMN itu tidak memungkinkan bagi adik saya  dan calon suaminya untuk bersama-sama bekerja di sana.

              Sesudah menikah, otomatis adik saya menjadi seorang ibu rumah tangga biasa  yang disibukkan dengan rutinitas sehari-hari. Apalagi tak lama kemudian ia langsung hamil dan  melahirkan seorang bayi perempuan, disusul dengan kehamilan kedua yang hanya berjarak tujuh bulan dari kelahiran anak pertamanya. Adik saya benar-benar dibuat  pontang-panting mengurus keluarga kecilnya yang hiruk pikuk dengan kehadiran dua anak balita yang sedang lincah-lincahnya. Rumahnya tidak pernah bisa rapi, selalu berantakan dengan aneka mainan anak yang berserakan, serta tumpukan pakaian kotor dan setrikaan yang menggunung.

             Melangkahkan kaki di rumahnya ibarat berjalan di lapangan yang penuh dengan ranjau dalam bentuk aneka barang yang berserakan di lantai dan dapat membuat kita terpeleset dan terjatuh jika tidak bersikap ekstra hati-hati. Kehadiran seorang asisten rumah tangga rupanya masih belum cukup untuk mengurangi keruwetan dan ketidakrapihan di rumah adik saya. Keadaan itu berlangsung terus selama lima tahun pertama dalam pernikahannya. Kegiatan sehari-hari yang dijalani adik bungsu saya hanya berkutat di seputar urusan rumah tangga, mengasuh anak, memasak, melayani suami dan hal-hal rutin lainnya yang selalu dikerjakan oleh seorang ibu rumah tangga.

            Pada saat puteri sulungnya menginjak usia lima tahun, dan mulai bersekolah di salah satu TK di dekat rumahnya, sedangkan puteri keduanya mulai menginjak usia tiga tahun, adik saya memutuskan sudah saatnya ia kembali bekerja. Ia merasa telah mempunyai cukup waktu luang yang bisa diisinya dengan kegiatan bisnis sampingan, pilihannya ini yang saya rasa kurang lazim, yaitu  aktif bertransaksi saham di Bursa Efek Jakarta !.

            Wah, memang ia seorang sarjana ekonomi, tapi dengan gambaran situasi bisnis di bursa efek yang ada di kepala saya, sulit rasanya membayangkan seorang ibu rumah tangga dengan dua anak melakukan semua aksi jual-beli saham yang rasanya hanya pantas dilakukan oleh broker-broker dan pegawai sekuritas yang selalu terlihat lihai, gesit dan smart.

            Bukan berarti saya menganggap adik bungsu saya adalah seseorang yang kurang keintelektualitasnya, bukan itu. Hanya saja sulit rasanya membayangkan ia mampu melakukan semua aktifitas bisnis di dunia saham dengan keadaannya sekarang ini. Apa bisa ia melakukan semua analisa , mengikuti berita kegiatan bisnis dan tetek bengek di bidang jual beli saham dengan kesibukannya mengurus anak dan rumahnya?.

            Tetapi seperti yang saya sebutkan di awal cerita tadi, adik bungsu saya menjungkir balikkan semua gambaran yang ada di kepala saya akan sebuah kegiatan bisnis di dunia saham.

            Semenjak mendaftarkan diri menjadi nasabah di salah satu perusahaan sekuritas di kota kami, dengan bermodalkan uang tabungan sebesar dua puluh juta rupiah, adik saya memulai aktifitas tradingnya di Bursa Efek Jakarta.

            Kegiatan trading saham dilakukannya menggunakan sebuah laptop dari ruang tengah rumahnya. Ya, di sebuah meja lipat kecil yang biasa dipergunakan anak-anaknya untuk menggambar dan belajar menulis. Di samping meja lipat kecil itu  terlihat sebuah keranjang yang dulunya digunakan sebagai tempat pakaian yang akan disetrika, sekarang disulap menjadi sebuah tempat meletakkan segepok buku, majalah-majalah dan aneka macam koran dan tabloid bisnis dan ekonomi.

            Jam kerjanya dimulai dari pukul 09:30 pagi, dan berakhir pada saat penutupan perdagangan di bursa , jam 16:00 sore.
Sesudah mengantarkan puteri sulungnya ke sekolah, dan puteri ke duanya juga sudah menyelesaikan ritualnya di pagi hari, yaitu mandi dan sarapan , adik saya pun memulai kegiatan “bisnis sampingannya”.

            “Eng…ing…eng…..”, ucapnya degan ceria setiap kali mulai mengaktifkan koneksi internet dan terhubung dengan pusat informasi di Bursa Saham Jakarta.

            “Peperangan dimulai…,” tambahnya sembari terkikik geli.                       

            Adik bungsu saya memang mendeklarasikan dirinya sebagai seorang trader harian di bursa saham Indonesia. Trader harian adalah seseorang yang melakukan aktifitas jual dan beli saham dalam satu hari, dengan mengambil keuntungan dari selisih nilai beli dan jual saham yang dimilikinya.

           Ia biasanya mengikuti berita perekonomian dan aktifitas bursa saham dunia pada malam hari, ditambah dengan melakukan aneka analisis rumit (semua ini dilakukannya di atas jam delapan malam, di saat kedua gadis kecilnya telah lelap tertidur) sebagai bekalnya untuk melakukan aksi beli saham di pagi hari, untuk kemudian dijual di siang atau sore hari. Terkadang ia melakukan hal yang sebaliknya, membeli saham di saat sore dan menjualnya kembali keesokan harinya di awal sesi perdagangan. Karena itulah ia menyebut dirinya a day trader.

          Yang membuat aku benar-benar geleng-geleng kepala, semua kegiatan bisnis jual-beli saham itu dilakukannya tanpa meninggalkan rumah, dan sambil melaksanakan  semua aktifitas rumah tangganya sehari-hari. Sambil menyulangi anaknya makan ia membaca tabel dan grafik nilai harga saham satu perusahaan, di waktu lain sambil menidurkan anak ia sibuk meng klak-klik kan mouse untuk membaca artikel seputar aksi korporasi perusahaan yang lain.
Ketika mempersiapkan makan siang buat keluarga kecilnya matanya sesekali tetap fokus mengikuti running text dari monitor laptop yang sekarang sudah  terletak di atas meja makan, mengikuti si empunya yang asyik berkutat di dapur, sibuk memasak. 

         Terkadang di sela kegiatan memasaknya ia akan berteriak kecil, bergegas mencuci tangan dan duduk di depan laptopnya sambil memencet-mencet tombol keyboard, “waktunya menjual….”,  jeritnya riang.

       Dalam balutan daster adik saya melakukan transaksi jual beli saham, dari dapur rumahnya sambil menunggu ikan yang sedang digorengnya matang, atau dari tengah-tengah kesibukannya mengulek sambal terasi kesukaan suaminya.

      Wah..wah… saya benar-benar tidak menyangka, jika kegiatan di lantai Bursa Efek Jakarta  ternyata bisa juga melibatkan seorang ibu rumah tangga biasa seperti adik saya ini.
Siapa yang menyangka jika ibu rumah tangga dengan dua orang anak yang dari luarnya tampak hanya disibukkan dengan urusan domestik rumah tangga ternyata juga bisa aktif berbisnis saham di lantai bursa.

      Hal yang paling menggelikan bagi saya, dua orang keponakan saya yang masih kecil mungil itu sudah bisa nyeletuk ketika melihat Ibunya asyik memelototi running text harga saham di monitor laptopnya.

      “ Ma…mama mau beli saham atau mau ngejual ma?”, tanya mereka dengan polosnya, he..he… he…


Cibubur, Nopember 2011.

0 komentar:

Post a Comment