Breaking News

16 February, 2012

Hati Wanita ...


  Rani namaku sebagai seorang ibu paruh baya wajahku sebenarnya cukup lumayan, nggak cantik juga nggak begitu jelek. Dengan pendidikan sarjana muda aku sudah bekerja di sebuah perusahaan swasta kurang lebih 15 tahun jauh sebelum aku berumah tangga. Kehidupan ekonomi rumah tanggaku biasa-biasa saja. Kami di karuniani 2 orang anak laki-laki dan perempuan. Yang pertama Randi sudah kelas 1 SMP dan yang kedua Dinda sudah kelas 3 Sekolah Dasar. Hidayat nama suamiku. Seorang lelaki yang sangat bertanggung jawab terhadap keluarga. Sebagai seorang kontraktor Mas Hidayat sangat loyal dengan keluarga. Semua kepenuhan rumah tangga dipenuhinya. Penghasilanku  sebagai karyawan swasta untuk diriku sendiri. Indah hari - hari kami lalui, tiada rasa resah dan gelisah. Sungguh besar karunia yang diberikan kepada keluarga kami.

Sebagai seorang kontraktor suamiku sering bepergian keluar kota. Nggak ada perasaan berat maupun ragu saat suamiku berpamitan mau pergi keluar kota. Karena selama ini suamiku juga selalu memberikan kepercayaan yang besar ketika aku pergi bekerja.

"De, Rani, mas  mau keluar kota tolong jaga Randi dan Dinda ya". suamiku berpesan sebelum meninggalkan rumah. " Ya, Mas hati-hati dijalan". sahutku sambil mencium tangan suami tercinta

Hari ini berjalan seperti biasanya. Tiada hal-hal yang spesial yang terjadi. Pekerjaanku pun cukup membuat aku sibuk karena menjelang tutup tahun. Randi dan Dinda juga nggak bertingkah aneh-aneh walau Mas Hidayat jauh dari rumah.

Dua hari setelah Mas Hidayat pergi Dinda rewel betul, aku jadi heran karena nggak biasanya dia bersikap seperti itu. " Mah, pokoknya Dinda hari ini nggak mau pergi sekolah, Dinda mau nunggu Abi pulang". rengek Dinda. " Sayang, sekolah aja nanti kalau Abi pulang Abi yang jemput Dinda di sekolah"bujukku lembut. "Mah, Dinda nggak mau, nanti Dinda nggak ketemu Abi". rengeknya kembali terdengar. Deg ..rasa pecah jantungku mendengar rengekan Dinda .Dalam hati aku bertanya ada apa sebenarnya dengan suamiku tersayang sampai Dinda begitu keras hati menunggu kepulangan abinya. Karena dinda terus merengek akhirnya aku iyakan juga keinginannya. Dan akupun akhirnya minta ijin kepada atasanku untuk tidak bekerja hari ini karena Dinda juga nggak mau aku tinggal kerja.

Dalam rasa cemas aku menunggu kabar kepulangan suamiku tercinta. Sejak tadi handphone  nya memang nggak aktif . Jadi rasa cemasku semakin bertambah. Pukul 01.00 Randi pulang sekolah dia sedikit heran melihat Dinda adiknya dengan mata sembab." Kenapa Dinda, mah ? " tanyanya dengan khawatir. " Sejak tadi adikmu memang sedikit rewel Ran, pengen ketemu Abi, mamah sudah membujuknya tapi dia berkeras mau ketemu abinya".sahutku pelan. Randi lalu menghampiri adiknya lalu memeluk adiknya dengan sayang. "Sudah ya Din, sebentar lagi abi juga datang ini mas Randi bawakan cokelat untukmu.

Sementara itu jauh diseberang lautan  Hidayat yang ditunggu keluarganya masih asik dengan kesibukannya negoisasi dengan beberapa koleganya untuk kelancaran proyek yang ditanganinya. Diantara koleganya terdapat Maria seorang pengusaha muda yang juga merupakan teman kuliahnya dulu. Sampai sekarang Maria masih singe . Postur tubuhnya yang menarik dan senyum ramahnya pasti  membuat siapa saja senang dekat dengannya. Tidak terkecuali Hidayat sebagai manusia normal wajar kalau dia punya rasa ser....ketika berdekatan dengan Maria. Sebenarnya Maria sejak kuliah dulu sudah jatuh hati sama Hidayat tapi karena Hidayat sudah mempunyai pacar Rani, Maria jadi mengurungkan niatnya dan memendam cintanya dalam-dalam. Saat ini ketika berdekatan kembali dengan Hidayat benang-benang cinta kembali tumbuh, akal sehat sudah nggak lagi jadi ukuran. Begitu juga Hidayat jauh dari keluarga ternyata menggoda hati untuk berpetualang seperti dulu.
"Mas Hidayat, sapa Maria ramah. " Ya, Maria ada apa ".Hidayat berkata pelan. " Mas boleh nggak Maria berkata jujur'. lanjut Maria. "Iya , boleh " sahut Hidayat dengan riang. " Mas sebenarnya Maria sudah lama memendam rasa ini sama Mas, tapi karena Mas sudah dekat sama Rani jadi saya hanya memendam rasa dari kejauhan.. " Rani berkata sambil menundukan mukanya.   " Maria,seandainya aku tahu lebih dulu mungkin tidak seperti kejadiannya".Hidayat berkata sambil memegang tangan Maria dengan lembut.   Cinta memang buta kalau hanya nafsu yang jadi sandaran, tidak pernah terbetik dihati Maria dan Hidayat kalau apa yang mereka lakukan adalah sebuah kesalahan besar. Karena adanya waktu dan kesempatan akhirnya Maria dan Hidayat melupakan status mereka, melupakan kalau ada hati yang terluka.
Mereka lalu pergi berkencan ke daerah lain agar jejak tidak diketahui.Hidayat dan Maria memesan penerbangan  dari Jakarta  ke Menado karena mereka berpikir tidak akan ada keluarga yang tahu. Siang itu Maria dan Hidayat terbang menggunakan Adam Air  ke  Menado.  Tepat siang hari saat Dinda menangis dalam pelukan Rani pesawat mereka jatuh kelaut tanpa meninggalkan jejak . Tidak ada satupun keluarga yang menyangka kalau Rani dan Hidayat tidak pernah ditemukan jenazahnya hingga kini. Dan tanda tanya yang besar bagi keluarga besar mereka kenapa ada daftar nama Rani dan Hidayat dipernerbangan itu..  
Tanda tanya ini tidak terjawab oleh Rani   yang dia tahu Hidayat adalah suami yang bertanggung jawab terhadap dirinya dan anak-anaknya, bahkan hingga sampai

0 komentar:

Post a Comment