Breaking News

23 February, 2012

Hanya Milikku


            Begini rasanya mencintai seseorang. Aku sempat berfikir bahwa memiliki seorang suami ternyata tak membuatku merasa nyaman. Ketidaknyamanan yang kurasakan bukan karena suamiku tak pandai menyenangkan hatiku istrinya, bukan pula karena ia tak pernah memperhatikanku, tapi karena rasa itu muncul dari hatiku manakala sosoknya terlepas dari pandanganku.
            Setidaknya itulah yang kurasakan di tahun-tahun pertama pernikahanku. Ketika ia tak berada di dekatku, hati bertanya-tanya sedang apa dia saat ini? Ingat tidak dengan aku istrinya? Atau ketika ia bekerja meninggalkan rumah maka segala macam pertanyaan begitu saja melintas dibenakku, mulai dari ‘duduk sama siapakah dia saat ini’, ‘jalan sama siapakah suamiku sekarang?’
            Semua pertanyaan-pertanyaan itu seharian bergelayut di benakku, kadang apa yang kulakukan menjadi tidak fokus karenanya. Akibatnya aku merasakan ketidaknyaman dalam hari-hariku.
            Lambat laun ternyata suamiku tahu apa yang terjadi pada diriku, berulang kali ia menasehatiku dengan sabar dan lembut, bahwa satu hal yang bisa menjaga keutuhan dalam berumah tangga adalah kepercayaan. Sebaliknya satu hal yang bisa menghancurkan kehidupan dalam berumah tangga adalah rasa tidak percaya terhadap pasangan. Inilah yang belum aku perlihatkan padanya. Mendengar nasehatnya aku tertegun. Suamiku benar. Aku memang krisis kepercayaan padanya. Rasa cemburuku begitu besar dengan lingkungan disekelilingnya.
            Aku berdalih, hal itu kulakukan karena aku begitu mencintainya. Tak ada seorangpun yang aku fikirkan selain dirinya. Jadi ketika ia bilang bahwa aku harus percaya seutuhnya kepada dirinya maka aku sedikit tersinggung, rasanya ia tak mengerti bahwa aku begitu mencintainya dan tak ingin ada orang lain yang ada di hatinya selain aku.
            Suatu ketika ia mendapatkan perhatian spesial dari teman kantornya. Berhari-hari aku menangis, mau bertanya takut menyinggungnya, hanya berdiam dirilah yang aku lakukan, namun sungguh semua yang kulakukan tak ada yang berjalan normal, tugas-tugas di tempatku kerja keteteran, melayaninya jadi tak sepenuh hati. Bongkahan didadaku rasanya kian membuncah, namun aku tak berani mengungkapkan padanya tentang apa yang ada di hatiku.
            Begitu tersiksa hati ini menerima semua itu rasanya dihujam oleh pedang tajam. Sakit! Karena berhari-hari tak ada tanda-tanda ia respek dengan permasalahanku, maka puncaknya aku merampas hp nya lalu kutelphon temannya itu. Kuledakkan amarahku ditelepon, aku menangis keras lalu sempat terucap ‘kalau kalian memang serius menjalaninya maka temui aku malam itu juga’.
            Duh, sakit sekali rasanya, betapa hancurnya hatiku. Suamiku pun berkali-kali menjelaskan bahwa ia tak punya perasaan apapun juga terhadap temannya tersebut yang ada hanyalah si wanita itu yang terus-terusan menghubunginya.
            Sebagai seorang istri yang menanti cinta tulus dari pasangan tentu sangatlah terpukul atas peristiwa itu. Aku hanya bisa menangis berhari-hari. Tak mau diajak bicara dan selalu uring-uringan. Suamiku berusaha meyakinkan bahwa ia tak pernah mau bermasalah dengan sepele itu.
            Bertambah juga perih hatiku saat ia mengatakan hal tersebut adalah masalah sepele. Bagaiman bisa ia mengatakan hal itu adalah masalah sepele, sedangkan bagiku itu adalah musibah besar. sampai disini aku hanya bisa menangis dan menangis.
            Hingga suatu ketika, aku mulai berfikir. Apa yang bisa aku dapatkan dengan menjadikan persoalan ini adalah musibah terbesar dalam hidupku, toh apa yang aku tuduhkan pada mereka tak ada bukti, kalau hanya seseorang teman mengirimkan sms bernada tidak sopan itukan hanya menurutku, mungkin saja maksudnya bukan itu.
            Perlahan aku mulai berfikir runut, masalah ini kan muncul karena kecurigaanku yang begitu berlebihan terhadap suamiku, ditambah rasa cemburuku yang sangat besar kepadanya, satu lagi adalah tabiatku yang tak ingin ada seseorangpun yang boleh mengagumi suamiku. Tentu itulah sumber masalahnya.
            Setelah aku mulai membuka diri, ia bertutur. “Dinda, sungguh! Satu hal yang menjadi janji Kakak saat meminangmu adalah menjadikan cinta ini pertama dan terakhir, kamu adalah penerang hatiku, penyejuk jiwaku. Kalau dinda tidak memposisiskan diri sebagai penerang hati maka tak akan bersinar cinta kita, kalau dinda sendiri yang memanas-manasi cinta itu maka yakinlah tak akan sejuk kehidupan rumah tangga yang kita bina. “
            Duh aku menangis. Saat itu aku mulai berfikir, bahwa apa yang ia katakan benar adanya. Aku lah sumber masalahnya, kecemburuan dan pengekanganku terhadapnya menjadikannya sebagai pribadi kaku dan tidak fleksibel, sehingga siapapun tentu akan tertantang untuk menyelami pribadinya. Coba kalau aku tak menanam benih kecemburuan yang berlebihan mungkin ia bisa bergaul dengan siapa saja tanpa sengaja menantang orang lain untuk menyelami pribadinya.
            Sejak saat itu aku mulai merubah gaya berfikirku. Tak lagi mengintrogasi segala gerak-geriknya, hanya kepercayaan saja yang aku tumbuhkan padanya. Dan hasilnya aku bisa merasakannya, tak ada lagi yang aku cemburui, tak ada yang mesti aku curigai, semua berjalan apa adanya.
Suamiku juga menjadi lebih tenang dalam bergaul dengan siapa saja tanpa khawatir tentang perasaaku. Ia juga semakin perhatian sama ku. Sesekali ada kejutan kecil yang membuatku semakin yakin bahwa cinta ini begitu suci untuk hati yang ikhlas mencintai.

1 komentar:

ngocanhng said...

I like your all post. You have done really good work. Thank you for the information you provide, it helped me a lot. I hope to have many more entries or so from you.
Very interesting blog.
http://ataribreakout.org

Post a Comment