Breaking News

23 February, 2012

Hadapi Dengan Iman

By Susan Sriyani  
Ini tulisan yang pernah dimuat salah satu majalah wanita muslim tahun 2007
-------
Dua hari yang lalu, seorang teman bercerita dengan riang, ia baru saja dapat SMS dari mantan pacarnya ketika kuliah dulu,

”Aku gak nyangka ia masih ingat padaku, malah ia pun tak lupa juga dengan kebiasaanku-kebiasanku dulu, dia juga masih ingat makanan kesukaanku, bacaan pavoritku….bla..bla..” ceritanya dengan mata berbinar. Aku hanya bisa tersenyum. Cerita lainnya pun terus bergulir dari bibirnya, “….pokoknya,  romantis..memujiku dan sangat perhatian! Coba bayangkan, saking perhatiannya..dia masih mengkuatirkan sakit maagku, Aduh ..aku terharu banget!” temanku melanjutkan ceritanya dengan menggebu-gebu. Tak lupa, iapun memperlihatkan isi sms-sms dari mantan-nya itu.

 Baris demi baris aku baca tulisan dalam HP itu. Semuanya berisi tentang pujian, perhatian dan juga Rindu!!. Aku pun tertunduk lesu….tak tahu harus berkomentar apa pada temanku itu. Luapan kebahagiaannya itu tak tega bila harus kuhentikan, binar itu terlalu dini bila harus kuhapuskan.

 Yaa….setelah hampir sepuluh tahun berumahtangga, binar-binar riang cinta itu memang seakan hilang dalam kehidupan seorang wanita. Kesibukan mengurus suami dan anak, pengelolaan rumahtangga, dan seabrek rutinitas lainnya menyebabkan seorang wanita harus kehilangan segala gelora itu. tak heran, sejumput perhatian kecil dari orang selain lingkungan dekatnya menjadikannya melayang bak peri di surga. Riak-riak kebebasan jiwanya seolah terpancar kembali. Jadi, tak ada alasan buatku untuk membunuh luapan riang di mata temanku itu.bagaimanapun, ada ruang yang harus ia isi untuk kebahagiaan pribadinya. 

Satu jam kemudian, terdengar suara SMS masuk di HP temanku itu. ia segera membukanya, dan akupun diperbolehkannya untuk turut membacanya. Sebaris nama seorang pria tertulis disitu. “mantanku..!” jelasnya tanpa kutanya. Di SMS itu, si mantan mengajak temanku itu untuk bertemu, bernostalgia, begitu alasannya!. Entah kenapa, kata-kata itu membuatku harus segera bertindak!. Karena ini bukan hanya perhatian ringan, atau sms-sms iseng pelepas penat. Ini sudah masuk wilayah UJIAN. Ujian kesetiaan seorang istri untuk senantiasa menjaga diri dan kehormatan suaminya.dan, akan sangat sayang bila hanya karena sekedar melepas penat, seorang istri harus tergoyah image dan pengorbanannya selama bertahun-tahun. Aku pun menganjurkan temanku itu untuk menghentikan sesegera mungkin komunikasi dengan sang mantan.

“kenapa? Toh aku tidak berbuat dosa? Hanya sekedar bertemu….layaknya teman biasa yang menjaga silaturahmi saja..” katanya beralasan.

“Ya…memang tidak salah bertemu seorang teman, apalagi bersilaturahmi…tapi, apa kamu yakin kamu bisa menjaga hatimu? “ tanyaku.
Temanku terdiam. Sesaat kemudian dia mengangkat bahunya

“Salahkah aku bila sesekali aku ingin merasa bahagia dengan kebebasan  menerima sanjungan dari orang lain?” tanyanya menerawang.

“ini bukan masalah salah atau benar! Tapi sanggupkah pertemuan itu kau tebus dengan hilangnya kebanggaan suami dan anak-anakmu seandainya mereka tahu kamu bertemu diam-diam dengan seseorang dan bernostalgia dengannya!” tantangku.

“Ya, mereka gak usah tahu kalau gak ada yang memberitahu…!” jawabnya, tetap keukeuh.

“Allah akan senantiasa membukanya dengan membuat hatimu gundah dan gelisah!” kataku lagi. Temanku mengerutkan dahinya, tak mengerti.

“Tanyakan pada nuranimu, seandainya suamimu melakukan itu padamu, Ridhokah? Dan seandainya kelak kamu tahu anakmu bertemu diam-diam dengan pacarnya yang misalnya tidak kamu restui, bisa terimakah kamu?”

“Mengapa sepertinya semenjak menikah, aku seperti terpasung untuk memperoleh kesenangan?” tanyanya seolah bertanya pada diri sendiri.

“Masya Allah!, yang tengah kamu hadapi ini bukan kesenangan, apalagi kebahagiaan! Yang kau hadapi ini adalah Ujian. Sejauh mana kamu bisa menghadapinya..”

“lantas apa yang harus kulakukan sekarang?”

“perkuat iman. Ingatlah hanya pada Allah!, karena Allah hanya menyukai orang yang mencari kebahagiaannya dengan cara yang halal!...carilah kebahagiaan itu dari suamimu, karena memang dialah yang halal bagimu!”

“Bagaimana bisa? Suamiku tidak lagi suka memujiku, dia terlalu sibuk dengan aktivitasnya sendiri…” ratapnya.

Aku hanya tersenyum mendengar keluhannya itu. klise. “kelola sendiri hatimu dan carilah kebagiaan itu didalamnya! Yakinlah, bahwa di lapisan-lapisan jiwamu akan kau temukan kebahagiaan itu, walau hanya selembar tipis sekalipun!”

Temanku terlihat sedikit tenang, ia pun berlalu dengan tak lupa mengucap “terima kasih, telah mengingatkan aku! “

Aku hanya bisa mengangguk kecil. Hatiku pun bicara, “..kamu tak perlu berterimakasih padaku, karena sebenarnya aku tengah menasehati diriku sendiri!....”.

Kupandangi folder inbox di HPku,  tertera nama seseorang dimasa laluku, sms berisi ucapan selamat ulang tahun. Kulihat arloji yang  melingkar ditanganku, matahari sudah condong ke barat, dan…suamiku belum sepatahpun mengucapkan sesuatu yang istimewa dihari ulangtahunku ini…

Tapi, seperti nasehatku pada temanku tadi ,….aku pun kini tengah bergulat mencari lapisan terdalam itu, kebahagiaan yang halal dan diridhoi Allah.akan kuhadapi ujian ini dengan iman.
Semoga Allah senantiasa menjaga hatiku untuk tetap istiqomah, amin….



-----------------------

0 komentar:

Post a Comment