Breaking News

21 February, 2012

The Great Single Mom !

By Eni Setiati  
Duka itu menyelimuti perjalanan hidupku. Namun, justru duka itulah yang menyemangati kehidupanku saat ini. Dan, duka itu yang membuat aku menjadi wanita kuat dan mandiri.

Bayangkan saja, perceraian yang tak pernah dibayangkan harus terjadi dikala anak berusia 2 tahun, dan dikala karier jurnalistik lagi melejit, saya harus berhadapan dengan perceraian. Tak pernah aku berpikir kelak akan menjadi single mom untuk seorang putra (yang kini sudah berusia 15 tahun).

Perjalanan kerasnya hidup menjadi single mom lah yang telah mengajariku kehidupan dalam arti sebenarnya. Meski dahulu aku jalani dengan linangan airmata. Kini jika aku menengok kebelakang apa yang telah aku lewati, aku hanya tersenyum bangga. Sebab, aku sudah melewati 12 tahun hidup dalam kemandirian mengasuh putraku semata wayang.

Berbahagialah Ibu,
Apabila kita mampu melewati masa-masa sulit yang dahulu kita anggap bahwa kita tak akan mampu untuk melewatinya. 

Dahulu sering hati ini tersayat pilu kala anak bertanya.
"Ma... kok teman-temanku Papanya tidak pernah pergi lama? kenapa aku hanya punya Mama saja?".

atau di kala sedang bermain di tempat umum:
"Ma, sepanjang tahun kita makan selalu pilih meja yang dua tempat duduk ya?"


Mendengar celoteh anak saja, hati teriris rasanya. Namun, dengan bahasa kanak-kanak diusianya dengan perlahan aku jelaskan apa adanya. Hingga akhirnya ia tumbuh menjadi anak yang tak pernah ada kebencian dan dendam pada almarumah Papanya (yang kini sudah meninggal, meski semasa hidupnya tak pernah sekali pun menjengguk putranya).

Wanita mana pun tentu tak menginginkan dirinya kelak menjadi single mom, namun apabila suratan garis tangan telah menentukan maka kita harus menjalaninya dengan sepenuh hati.  Dikala kita memutuskan menikah, kita tak pernah tahu seperti apa jalan yang ada di depan sana. 

Seperti teman saya pernah berkata bawah, menikah itu seperti kita bermain lotre. Di mana kita tak pernah tahu, apa yang akan jadi. Jika kita lengah, maka kita akan dihadapkan pada sebuah kenyataan kalah memperjuangkan tali perkawinan.

Itu falsafah sahabat saya, namun saya yang mengalaminya tak sependapat demikian.
Bagi saya sebuah perkawinan dan kesempatan menjadi seorang Ibu adalah anugerah luar biasa yang kita terima.

Perkawinan buat saya adalah sebuah noktah pengingat janji. Di zaman seperti sekarang ini sebuah peraturan dibuat untuk dilanggar.  Nah, itulah fenomena yang kini terjadi, perkawinan tak ubahnya peraturan norma-norma suci yang banyak dilanggar oleh kaum lelaki yang begitu mudahnya lari ke pelukan wanita lain.

Untuk itu Ibu, berbahagilah mereka yang menikah bukan didasari atas noktah pernikahan akan tetapi lebih didasari pada kesadaran dari dua pihak untuk memupuk rasa cinta dan kasih sayang itu pada kesadaran diri untuk saling setia dan memahami satu dengan lainnya.

Menjadi single mom tidaklah semudah yang dibayangkan. Di awal satu hingga dua tahun meniti perjalanannya banyak kerikil yang harus dihadapi. Namun kencangnya angin di hadapan kita, harus dapat kita lawan dengan perjuangan.

Menjadi Ibu sekaligus Ayah bagi anak, maka single mom harus bisa melakukan dua tugas yang berbeda namun memberi manfaat. Menjalankan peran sebagai single mom, kita ibaratkan menjadi bumi yang harus siap berperan sewaktu-waktu menjadi Matahari, dan disatu sisi kita harus bisa menjadi Rembulan yang menyejukan hati anak kita.

Perjalanan 12 tahun telah berhasil aku lalui, tak ada lagi airmata kesedihan, tak ada lagi dendam dan amarah. Aku justru bangga karena telah berhasil melewatinya dengan baik dan menjadi the great single mom untuk putra semata wayangku.

Karena anakku bangga Mamanya tidak pernah berpangku tangan, karena Mamanya dapat menyekolahkannya hingga saat ini, karena Mamanya tak pernah berkeluh-kesah.  

"Mama hebat, tidak seperti Mama teman ku .. mereka kerjanya ngerumpi aja loh Ma di depan rumahnya. Kalau Mama mah, ngerumpinya jadi buku ya Ma?".

Inilah sepenggal kisah yang aku tularkan bagi ibu-ibu single mom, jadikanlah diri mu menjadi Matahari yang dapat menghangatkan anakmu dan semua orang, dan sewaktu-waktu berperanlah menjadi Rembulan, yang dapat menyejukkan hati anak mu dikala ia bersedih dan penyejuk hati semua orang yang membutuhkan kehebatan mu.


[My True Story]

Kisah ini dibuat sebagai contoh kecil buat ibu-ibu berlatih menulis 

0 komentar:

Post a Comment