Breaking News

15 February, 2012

Good Attitude, yang Bikin Good Mood


 
                 
Nikmat yang Allah berikan pada kita adalah rizki yang berharga, rizki bukan melulu masalah uang. Kesehatan yang prima, anak yang pintar, suami/istri yang sholeh, orangtua/mertua yang perhatian, tetangga yang baik, sahabat yang saling mendukung, rekan kerja yang kompak adalah rizki yang begitu indah. Namun pada kenyataannya dalam ruang lingkup interaksi kita sebagai mahluk sosial, hal ideal itu kadang terbentur oleh sikap-sikap tak menyenangkan, ataupun ketidakcocokan kita dengan sikap orang lain.

Dimanapun, kapanpun, kita pasti akan menemui banyak orang yang bagi kita tak menyenangkan, itu hukum alam, karena tiap pribadi memiliki keunikannya sendiri. Dan manusia butuh interaksi untuk meng eksis kan diri.   

Hmmm..jika kondisi kita tanpa sengaja mengharuskan  intensifitas untuk selalu berinteraksi dengan orang-orang yang tak menyenangkan, apakah rizki kita buruk??  Heheheheh

Belum tentu... apes mungkin hahahahaha...bukan juga..

Sejak dulu, aku  tak pernah akur dengan teman yang punya attitude bossy, perintah sana, perintah sini, ataupun pada teman yang punya lisan seperti pisau potong, suka meremehkan, hobi menyindir dengan nyinyir dan wajah nanar, yang jika bercanda, mengeluarkan kata-kata “bodoh, t*L*L, ataupun kata menyakitkan namun dibarengi dengan wajah serius (bercanda macam apa  itu??) ataupun pada teman yang saat kita curhat, matanya larak lirik tak konsen, ataupun pada teman yang mulutnya melebihi jumlah telinganya, alias tak pernah mau mendengar, dan selalu mau didengar.

Sejak dulu pula, aku selalu antipati terhadap mereka yang kunilai, masuk dalam deretan orang-orang dengan sikap tak menyenangkan. Jaga jarak, biar aman. Namun mau tak mau, seperti suratan takdir, kita pasti akan menemukan orang-orang dengan tipe seperti itu, meski dengan paket yang agak berbeda. Toh kujalani juga hubungan seperti itu, tapi biasanya ala kadarnya, hambar dan terkesan dibuat buat, rasa tak nyaman kerap hadir saat mulai mendengar kata-kata atau komentar yang tak enak, jangankan rasa kangen, yang ada malah ingin buru-buru menghindar, yang terpenting silaturahim tetap terjalin.

Tapi sadarkah kita, bahwa melalui orang-orang seperti itulah kita menjelma menjadi pribadi yang lebih bijak?? Menjelma menjadi pribadi rendah hati, dengan tutur maupun laku? Menjelma menjadi pribadi yang menghargai orang lain,  menjelma menjadi pribadi menyenangkan, yang memaksimalkan 2 telinga untuk mendengar? Menjelma menjadi pribadi ramah yang merangkul keputus asaan seorang teman dengan dukungan penuh semangat? Menjelma menjadi orang yang menebar kehangatan, yang tiap kehadirannya begitu dirindukan??

Tanpa kita sadari dan mau membuka hati, orang-orang itu telah mengajarkan kita banyak hal, bahwa segala sikap tak menyenangkan hanya akan menghadirkan kehampaan dan membuat hidup tak berwarna, tak gaul (karena biasanya orang yang punya sikap tak menyenangkan, berbanding lurus dengan sedikitnya kawan) , tak eksis dalam bersosialisasi, tak peka terhadap kondisi lingkungan, tak terasah rasa simpati maupun empatinya.

Jadi tak ada yang diuntungkan dengan memupuk sikap tak menyenangkan dalam diri, ia hanya akan menumbuhkan perasaan egois yang tak mampu dikendalikan, menumbuhkan rasa   jauh dalam keterikatan, dari hangat dan tulusnya persahabatan, dari sepinya kesendirian (kasian kan??). tak ada yang indah dari pribadi yang tumbuh dengan sikap tak menyenangkan, ia hanya akan menjelma menjadi pribadi PENGELUH yang tak mampu berpeluh dalam nikmatnya rasa syukur atas segala rizki dariNya. (ini bukan menurut pakar, tapi hanya menurut saya yang psikolog amatiran)

Lantaskah maukah kita seperti itu?  

Jika tidak, jadilah pribadi menyenangkan, yang meskipun kehadirannya tidak selalu dinantikan, namun minimal membuat sekeliling kita merasa aman, tak terancam dan nyaman  atas segala ucap dan sikap kita.  Yang meskipun tak banyak teman, namun kita tak pernah kehilangan makna ketulusan dari hubungan pertemanan.

Ayo, jangan rusak semangat kita hanya karena orang-orang yang tak menyenangkan menebar kata tajam, sikap tak bersahabat ataupun tingginya defensif.
dan saatnya kembali merenung, atas sikap kita yang mungkin pula tak layak masuk kategori good attitude.

Mohon Maaf bagi yang tak berkenan

BinJay City : 29 Nop 2011, jam 2 siang.
Inspired by : pelajaran dari pribadi-pribadi tak menyenangkan yang wara wiri dalam sejarah hidup. 

0 komentar:

Post a Comment