Breaking News

15 February, 2012

Getuk Goreng dan Penderes Nira Kelapa


 
Pernah makan getuk goreng? 

Sebagian yang pernah berkunjung atau tinggal di Purwokerto, pasti pernah kan? Atau teman-teman yang punya teman dari Purwokerto pasti pernah dong di oleh-olehin getuk goreng.

Getuk goreng.  Ya getuk.  Berbahan baku singkong dan gula kelapa (disebut gendis kelapa/ gula jawa/gula merah).

Rasanya manis.  Manis banget bahkan.  Aslinya getuk goreng hanya satu rasa, kemudian berkembang jadi beberapa varian.  Rasa duren, rasa coklat, rasa nangka.  Sebagian pedagang atau pembuat getuk goreng benar-benar mencampurkan durian, atau nangka, atau coklat untuk memperkaya cita rasa.  Namun, sebagian yang lain hanya menggunakan essence.  Soal yang ini, bisa ditelusuri di dapur-dapur getuk yang anda kunjungi.

Sebagian besar penjual getuk goreng tak keberatan dapur getuknya dikunjungi.  Pasti ada pemandangan eksotis.  Dapur-dapur besar dengan kayu bakar bertumpuk hingga ke kaki langit.  Pawon-pawon yang berasap dengan kukusan bambu yang super gede.  Wangi singkong Wonosobo (harus dari tanah Wonosobo) bercampur aroma gula.  Beberapa laki-laki bertubuh liat dan telanjang dada bertekun menumbuk (membebek kelapa, e dibaca seperti mengeja betul, benar).  Keringat berkilat-kilat.  Mungkin ada setetes dua terpercik ke adonan getuk.  Wow…mantap…he..he..

Gula kelapa dicampur dengan takaran dan waktu yang harus tepat.  Agar getuk awet satu minggu tanpa bahan pengawet.  Terkadang getuk teramat manis hingga karies gigi anda akan menjerit-jerit kesakitan.  Ya, gula kelapa diperbanyak agar daya simpan semakin lama.  Atau ada juga getuk kurang manis jika harga gula lagi selangit.  Jika kurang manis, maka pandanglah saya.  Jadi pas manisnya…he..he…Peace!

Namun, siapa yang tahu bahwa nasib bakul getuk berbanding terbalik dengan nasib penderes gula kelapa?  Coba deh, jalan-jalan ke Cilongok, salah satu sentra gula kelapa di Banyumas.  Pagi-pagi, coba langkahkan kaki menyusuri jalanan berembun.  Siap-siap mendongakkan  kepala pada pohon-pohon kelapa yang menjulang tinggi.  Kau akan menemukan sesuatu.  Eits …..bukan monyet atau simpanse lho…tapi penderes gula kelapa yang cekatan dan mahir.  Kadang memanjat bertelanjang dada.  Putra saya, sering melambai-lambaikan tangan pada sang pemanjat.  Untung mereka ingat, bahwa membalas lambaian tangan putraku beresiko kehilangan nyawa…..iih..seremmm!!!

Bukan berita kosong bahwa urusan menderes gendis kelapa ini sudah memakan banyak korban.  Jatuh, terluka, kecetit (keseleo), patah kaki, patah tulang belakang, lumpuh, dan langsung kehilangan nyawa.  Tahukah anda, bahwa mayoritas penderes bukan pemilik pohon-pohon kelapa yang diambil niranya itu.  Ya, kawan.  Mereka menyewa pohon-pohon kelapa milik orang lain (biasanya milik orang yang cukup berada dan punya lahan banyak sampai long-longan (long 100 = 1 bahu = 7000 m persegi).  Judulnya bisa menyewa, beli gadai atau bagi hasil.

Keluarga penderes kelapa biasanya keluarga sederhana.  Namun yang menyayat hati, kebanyakan putra-putri mereka hanya bersekolah hingga SLTP saja.  SMA terlalu mahal dan di luar jangkauan.  Dan yang lebih sedih lagi, jika anak laki-laki yang putus sekolah setamat SMP tak terlalu dituntut untuk bekerja mencari nafkah.  Berbeda sekali dengan para gadis kecil yang baru tamat SMP.  Sebagian besar dari mereka. Lebih pada kemauan dan kesadaran sendiri, langsung bekerja.  Mereka terserap di toko-toko getuk goreng,  bekerja di industri rumahan membuat oleh-oleh khas Sokaraja, di warung sroto sokaraja (sroto, pake “r”), di industri pembuat alis dan rambut palsu, dan di industri kayu yang secara pasti menggunduli hutan-hutan di Banyumas dan sekitarnya.

Manisnya gula kelapa tak semanis nasib keluarga penderes gula kelapa.  Walau meriang (sakit maksudnya) dan masuk angin, mereka memaksakan diri tetap memanjat pohon kelapa.  Khawatir gula menjadi gula gemblung dan harga jual jatuh di bawah pasaran.  Mereka adalah petani-petani tanpa lahan.  Dan sering sekali sudah berhutang banyak pada tengkulak gula, jauh sebelum nira dideres dan dicetak.  Gadis-gadis putri mereka, kemudian berkembang menjadi penyokong tulang punggung keluarga.  Bekerja dari pagi hingga senja.  Berharap dan berdoa, agar putra juragan kayu atau juragan rongsok, atau putra juragan ayam kelak akan menikahi mereka. 

Hidup, katanya pilihan.  Tapi bagi mereka.  Sepertinya hidup, tak menawarkan banyak pilihan.  Jadi jika kita banyak mengeluh (“saya” maksudnya), serasa tak pantas….

Hatchery of words, September 22, 2011
Untuk keluarga para penderes kelapa di Cilongok, Banyumas yang tangguh dan luar biasa dan hadiah ulang tahunku (tambah tua, semoga lebih banyak bersyukur).


0 komentar:

Post a Comment