Breaking News

10 February, 2012

GAK SALAH DONG MENGHEBATKAN DIRI


 
Kata sanak saudaraku aku hebat, karena sudah berani mengikuti suami yang orang Jawa untuk pindah ke Pulau Jawa tepatnya kota Malang, jauh dari kota kelahiran dan kampung halaman, " Hati-hati di kampung urang", pesan handau taulan di Banjarmasin.Maemang akulah yang menantang suamni untuk pindah ke Malang mendekati mertuaku yang di Pasuruan. Kupikir apa salahnya kita berusaha berbakti kepada mertua yang juga orangtua kita , setelah kita sah menjadi isteri anaknya.

Minggu-minggu pertama pindah ke Malang yang dirasakan hanyalah suka cita karena bisa melihat keindahan alam pulau Jawa khususnya kota Malang.Maklum dulunya aku adalah gadis Banjar yang tak mengerti tempat lain selain kota kelahiranku ini, bagiku tak pernah merasakan suka duka menjadi anak kost karena disini rumahku dekat sekolah dan kampus kuliahku.

Seperti Allah menciptakan siang tentu juga DIA ciptakan malam, sukacita yang kurasakan akhirnya juga bertemu pasangannya yaitu duka.Kukira mertuaku bisa dengan mudah kurayu untuk tinggal dengan kami, karena jarak Pasuruan tempat tinggal mertuaku toh bisa ditempuh satu jam. Tapi dugaanku meleset, mertuaku sama sekali tak mau ikut kami, karena maklum ayah mertua masih sehat dan beliau juga punya sawah yang harus dikelola agar menghasilkan.

Di Banjarmasin dulu aku sangat ketergantungan kepada ibu, sejak menikah sampai 6 (enam) tahun perkawinan aku betah tetap dirumah ibu, setelah ibu meninggal baru aku pindah ke rumah sendiri.Jadi ketika aku harus mandiri, tetek bengek urusan rumah aku banyak didampingi ibu, kehilangan yang sangat besar terhadap sosok ibu menyebabkan aku ingin berlari kepada kasih sayang mertua, tapi apa mau dikata meski mertuaku kelihatan sayang terhadapku beliau tak bisa meluluskan hajatku untuk serumah dengan beliau di Malang.

Dengan statusku sebagai PNS tentu saja aku harus menjalani multiperan  sebagai pekerja negara dan ibu rumah tangga yang tugas utamanya sebagai isteri dan ibu bagi ketiga anakku. Aku memang santai menjalani peran sebagai PNS, tidak berambisi jabatan struktural, agar waktuku tidak tersedot untuk pelayanan publik yang tidak ringan, Allah menetapku dalan jabatan fungsional Penyuluh Kelurga Berencana yang tugasnya menangani masalah motivasi keluarga Berencana untuk tingkat kelurahan, karena tidak stand by di kantor jadi jam kerjanya elastis, menyesuaikan dengan pola waktu masyarakat setempat.

Bisa dibayangkan serunya aku membagi waktu antara menunaikan hak suami dan anak-anak serta tugas negara, memang ketika anakku yang kedua masih balita dan yang ketiga baru lahir aku mempekerjakan asisten rumah tangga, tapi kini setelah anakku masuk fullday school dan TK plus penitipan, aku sudah tidak mempunyai pembantu setelah si mabak dilamar orang. Sudah 4 (empat) kali ganti pembantu selama di Malang dan semuanya berhenti karena nikah, tapi ada satu pembantuku minggat digondol tetangga yang mungkin bisa berperan sebagai juragan yang lebih kocak dariku.

Ipar dan mertuaku juga menganggap aku hebat karena bisa tetap bertahan  mendampingi suamiku jauh dari lingkungan keluargaku maupun keluarga mertuaku, mereka berdecak kagum melihatku yang tak pernah merajuk untuk pulang ke kampung halaman karena bertengkar sama suami ataupun tetangga atau masalah kantor dan hal lain yang tak kusukai di Malang. Jujur kuakui lidahku ini adalah lidah orang banjarmasin asli, jadi senang makan ikan segar ikan haruwan , ikan papuyu, iwak pakasam, wadai untuk-untuk apalagi kalau bulan puasa ada pasar wadai menjelang buka puasa, hmmm semua kue nya nikmat- nikmat menggoda iman. Makan soto banjar, nasi kuning, pundut nasi, kakicak kelepon ah nikmatnya membayangkan, sayangnya keahlian memasak makanan Banjarmasin tidak ku kuasai, he he he maklum anak mama yang siap sedia makanan enak di meja makan tinggal santap. Karena hobby membaca serta serius menekuni pelajaran sejak SD sampai kuliah aku selalu rangking, tetapi untuk urusan masak dan ketelatenan mengurus rumah aku angkat tangan deh, walaupun orang lain boleh angkat topi untuk prestasi akademikku.


Akhirnya tau rasa sendiri deh ketika menghadapi urusan rumah tangga begini, pernah aku kebingungan, ini pekerjaan mana ya yang harus kudahulukan, eh daripada pusing mending kutinggal tidur dulu setibanya dari kantor, walaupun dapur dan rumahku kayak pasar yang habis diseruduk banteng ngamuk:D. Pernah terpikir aku membeli masakan matang untung mengurangi kere[potan didapur, tapi dasar sejak kecil aku tak terbiasa makan masakan yang dibeli jadi maka kadang masakan tersebut jadi mubazir karena gak menggoyang nafsu makan kami sekeluarga.Ada sih masakan yang lumayan enak tapi ternyata cukup membobol amplop gaji kami.

Jadilah karena didesak situasi pasca punya pembantu dan kini tak ada mitra kerja dirumah, akupun harus menyusun strategi jitu. Ilmu manajemen POAC (Planning, organizatio, Actuality dan controlling = Perencanaan, Pengaturan, penerapan, dan pengawasan) Wajib hukumnya kuterapkan. Waktu ketat ku atur peng alokasiannya agar sarapan pagi bisa tepat sebelum kami sekeluarga meninggalkan rumah untuk bekerja maupun sekolah. Suamiku walaupun sebagai raja di rumah kami juga turun tangan urusan mencuci, sedangkan aku sang ratu sambil melirik buku catatan resep dengan jidat berkerut mencoba meracik makan yang agak banci, habis dibilang masakan banjar kok cenderung ke masakan jawa ya.

Para tetangga dan teman kerjaku juga menganggapku hebat karena supel dalam pergaulan walaupun modal bahasa jawaku minim ( padahal dalam hatiku berkata daripada kutak punya teman gak apa deh pasang tampang ramah:D). Padahal dulu di Banjarmasin aku adalah orang yang cuek, apalagi dengan budaya banjar yang apa adanya tanpa basa basi, bertolak belakang dengan budaya jawa yang halus dan tepo sliro, penuh unggah ungguh, tentunya tak ada pilihan lain dong, menyesuaikan diri dengan budaya setempat adalah pilihan cantik. Maka jadilah aku relatif disukai dan konsekuensinya ditempat baru aku harus memasuki organisasi sosial dan keagamaan yang berlaku disini. Kelompok PKK kutembus begitu juga pengajian dan tahlil. Bahkan dengan yakin kuajari anak-anak lingkunganku untuk mengaji iqra dan al qur an secara gratis setelah solat magrib.Bahkan sebagai ketua Jama'ah tahlil aku kerap memimpin pembacaan surah yasin dan tahlil serta memberikan kuliah agama tujuh menit (kultum).Di kantor juga teman teman menjulukiku ustadzah karena diantara mereka ada yang memintaku mengajari mereka membaca al qur an dan curhat seputar agama Islam. Ow Ow padahal aku malu sendiri kalau mengingat peranku kini, karena aku pun ternyata tak berbeda dengan gadis belasan tahun yang menangis tersedu bila bersedih dan bisa merengut menekuk muka pada suami bila emosiku lago labil.Bisa ikut bergosip ria bila dipancing omongan ghibah oleh tetangga maupun teman-teman kantor.

Tapi apapun aku, inilah aku yang harus kuterima sebagai diriku seadanya, hanya usahaku menghebatkan diri adalah solusi untuk bertahan agar tidak lemah dan layu, agar ketiga buah hati dan rajaku tetap bisa berkata baiti jannati, rumahku adalah surgaku. Pengeluaran berusaha kuatur pantas agar ditempat yang jauh dari sanak saudara ini aku tidak perlu merengek utang pada tetangga maupun teman-teman. Kalau ku lagi suntuk dan sedih sekali kuberlari kepada pelarian yang tepat, yaitu solat,curhat kepada Allah, Engkaulah yang kusembah dan Engkaulah tempatku meminta pertolongan. Kata kunci lainnya modalku menghebatkan diri adalah bersyukur karena Allah telah memberiku nikmat iman dan segala kenikmatan lain yang menjadikanku berlapang dada, dan bisa tersenyum serta bersabar bila ada jalan buntu yang kutemui dalam perjalanan hidup ini, ku yakin ada kemudahan bersama kesulitan.

0 komentar:

Post a Comment