Breaking News

15 February, 2012

EPISIOTOMI


 
tulisan ini ditujukan kepada mbak NAVITA KRISTI ASTUTI
untuk kisah inspiratif kehamilan, persalinan
 kalau sekiranya tidak masuk nominasi, tidak ada salahnya tetep numpang eksis dan narsis di doc IIDN, heheeee...


EPISIOTOMI

“Sudah boleh mengejan?”, tanyaku menahan mulas. Pagi itu aku sudah berada di ruang persalinan. Pembukaan sudah lengkap, hasrat mengejan sudah teramat sangat.

“Sebentar lagi ya Bu”, ujar bidan Tita yang menangani persalinanku.  Sesekali dia memegang jalur lahir, menekan-nekannya. Memintaku untuk tetap rileks dan santai.

“Ibu, saya robek saja ya”, lanjutnya kemudian.

Karena tak paham, dan aku yakin setiap tindakan yang dilakukan oleh bidan Tita saat ini  adalah yang terbaik untukku dan bayiku, aku hanya mengiyakan saja. Belakangan aku tahu, dalam dunia kedokteran, namanya episiotomi. Pengguntingan daerah perineum, yaitu kulit dan otot di antara vagina dan anus, yang bertujuan untuk memperlebar jalan lahir. Biasanya dokter atau bidan  melakukan tindakan ini karena dirasa perlu untuk melakukannya. Dalam kasusku, episiotomi dilakukan karena otot perineum terlalu kaku, dan dimungkinkan akan menghambat proses keluarnya janin, apalagi ternyata menurut bidan kepala si kecil sempat tertahan tak bisa keluar. Menurut bidan yang menangani persalinanku, apabila tidak dirobek, malah kemungkinan robeknya lebih besar dan tidak beraturan, yang akan mempersulit proses penjahitan.

“Dibius nggak mbak?”, tanyaku.

“Ya enggak dong, kok enak banget dibius”, ujar bidan Tita sambil terkekeh.

Episiotomi yang dilakukan bidan Tita tidak menggunakan bius, baik total maupun lokal. Karena penggunaan bius memang dirasa tidak perlu. Ketika hasrat mengejan muncul, dengan sigap bidan memberi aba-aba, lalu “kreeek” terasa ada sesuatu yang robek di sana, dan tak berapa lama, kepala muncul, lalu disusul bahu, dan akhirnya tubuh bayi meluncur mulus dan ditangkap bidan.

Sebetulnya episiotomi dapat dicegah, apabila rajin melakukan treatment. Dua bulan sebelum kelahiran, sebaiknya ibu hamil melakukan senam hamil, terutama senam Kegel, yang salah satu fungsinya untuk melatih agar otot perineum rileks dan tidak kaku. Atau bisa juga dengan melakukan massage di daerah perineum. Menurut bidan Tita, salah satu cara alami untuk merilekskan otot perineum adalah dengan rajin berhubungan suami istri, di trimester ketiga. Tentunya hubungan suami istri yang aman dan tidak memicu kontraksi.

“Jarang dipakai ya Bu?”, tanya bidan Tita iseng ketika menjahit luka episiotomi setelah persalinan.


Aku hanya tersenyum kecut. :)