Breaking News

21 February, 2012

Energi

By Maeta Siska  
"Nda nanti malam aku ada konsul lagi ke dokter penyakit dalam,yaa chek up lagi mumpung masih disini, karena keluhan sakitnya masih datang dan pergi".Ujar suamiku dari ujung telpon,rasanya hati ini ciut sekali mendengarnya.Memang seminggu yang lalu dia mengeluhkan sakit pada pinggang dan bagian kanan perutnya,tapi setelah berobat kedokter umum dekat messnya,dan melalui pemeriksaan hasil USG dokter menyatakan tidak ada yang perlu dikhawatirkan hanya infeksi saluran kemih.Ya tuhan hati istri mana yang tak gelisah terlebih lagi aku tak bisa melihat kondisi suamiku secara langsung.Sudah hampir sebulan ini dia tugas kerja di Duri."Halo Nda,nda..." suara suami ku kembali terdengar di ujung telpon."iya,ya yahh aku dengar yah sudah kalau itu memang yang terbaik,jam berapa kedokternya?"tanya ku."jam 9 an tapi tadi aku dah ambil darah dan urin untuk di periksa jadi nanti tinggal masuk aja"jelas suami.
Tak terasa air mata ku meleleh membahasi pipi entalah tiba-tiba pikiranku di selimuti oleh energi negatif yang mengarahakan imajinasiku akan sesuatu yang buruk.
Bagaiman jika ayah ternyata serius sakitnya?
Apakah ini gejala sakit ginjal?
Atau jangan-jangan kangker prostat?
Bagaimana kalau ayah ngga ada?
Ahhh teryata energi negatif itu benar-benar menyeramkan membuatku tidak lagi hanya meneteskan air mata tapi jadi menangis sesegukan...........
"Bunda-bunda kenapa nda?"serempak kedua anakku belari menghampiri,padahal seingatku tadi mereka sedang asik nonton dvd film Gmeo and julliet,si kecil fajrin menarik-narik dasterku sementara kakanya sibuk mengayunkan tanganku.
Astagfirullah ternyata aku lengah sehingga lupa diri bukankah seharusnya aku membangun energi positif ku karena aku yakin kekuatan positif bersumber dari sang Khalik dan kekuatan negatif itu bersumber dari setan yang berusaha untuk melemahkan dan menakut-nakuti manusia.
segera kurangkul dua malaikat kecilku dan berbisik "bunda gapapa sayang,cuma sedikit sedih karena ayah sakit dan kita ga ada didekatnya,yuk kita sholat isya truss doain ayah supaya cepet sembuh sehat selalu dan kumpul bareng lagi sama kita".merekapun mengangguk mengikuti langkah ku.

4 u ayah we love u












Kapan grup ibu-ibu doyan nulis dilahirkan?
Juni 2010

Siapa Pendirinya?
Indari Mastuti

Apa Tujuan Didirikan?
Untuk melejitkan produktifitas para ibu di bidang Penulisan.

Berapa jumlah anggotanya per tanggal 14 April 2010?
1.773 orang ibu

Mengingat manfaat grup ini harus terus ditingkatkan, maka, saya selaku pendiri grup merasa perlu untuk memiliki Kordinator di masing-masing wilayah. Setelah, berdiskusi banyak dengan para ibu yang mengajukan diri menjadi kordinator wilayah maka kami sepakati hal-hal berikut ini:

KEWAJIBAN Kordinator wilayah meliputi:
1. Korwil berkewajiban untuk membantu ibu-ibu yang belum menjadi anggota untuk mengedukasi tentang grup ini dan mengundangnya masuk.
2. Memotivasi Ibu-ibu yang tergabung di group (khusus di wilayah yangg dipegang) untuk produktif menulis.
3. Menjembatani komunikasi antara pengurus pusat dan wilayah.
4. Menjadi penanggungjawab ketika diadakan kegiatan secara online ataupun offline seperti misalnya kopdar atau pelatihan-pelatihan, hingga  mengadakan bedah buku.
5. Mengulas tentang grup ibu doyan nulis dan mengirimnya ke media masa.
6. Menggagas dan menjadi koordinator jika pusat mengadakan proyek antologi khusus wilayahnya masing-masing.
7. Menggagas bakti sosial demi peningkatan skill ibu, misalnya mengadakan bagi-bagi buku pada ibu-ibu kurang mampu.
8. Mendata semua anggota grup di wilayah masing-masing meliputi data: nama, alamat, no kontak/hp, email, website, background pendidikan.
9. Menjaga nama baik grup Ibu-Ibu doyan Menulis dan bersedia bekerjasama serta berkoordinasi dengan korwil lainnya ketika menyelenggarakan setiap kegiatan di Grup.
10.            Menjadi Penanggungjawab pada setiap even yang diselenggarakan oleh pusat. Misalnya, pembuatan ANTOLOGI perwilayah.

HAK Kordinator Wilayah:
1. Mendapatkan informasi yang jelas dari pusat mengenai berbagai penyelenggaraan kegiatan.
2. Memiliki hak untuk berkoordinasi dan berkomunikasi dengan anggotanya terkait dengan kegiatan yang diagendakan dalam Grup Ibu-ibu doyan menulis dengan cara yang efektif menurut korwil dan anggotanya. Adapun media yang digunakan bisa membuat grup ibu doyan nulis per wilayah,  melalui kegiatan offline , milis, atau media apapun.
3. Memimpin anggota wilayahnya, mengkoordinasi dan berkomunikasi dengan pusat, antar wilayah dan anggota.
4. Berhak mendapatkan informasi tentang materi kepenulisan, informasi lomba dari pusat ataupun wilayah lain.
5. Berhak terlibat dalam pembuatan proyek kepenulisan baik dari pusat ataupun wilayah itu sendiri.
6. Mendapatkan award (saya akan mencari korwil terbaik setiap tahunnya) dengan hadiah istimewa. Penilaiannya meliputi hal-hal berikut ini:
- berapa jumlah ibu yang bergabung di wilayahnya, makin banyak ibu makin bagus
- berapa press release yang dikeluarkan mengenai grup (promosi grup)
- inisiatif dan kreatifitas mengurus wilayah/membuat program melejitkan produktifitas ibu
- komunikasi yang dilakukan dengan korwil yang lain dan pusat


Bandung, 14 April 2011
Indari Mastuti















Jakarta, Rabu 20 April 2011

#Perpustakaan 17.01 WIB
 Panggil dia Sari, seorang muslimah bercadar yang tengah hamil muda, menyapaku di ruang perpus. Cadar dan jilbabnya yang lebar ternyata tidak membatasi gerak pikir dan jasadnya. Kau pasti tidak menyangka, wawasannya tentang kaum marginal cukup luas. Bahkan dia tahu beberapa jenis musik underground, dunia punk dan anak jalanan. Dia tertawa saja melihatku melongo takjub, katanya,
"Teman-temanku yang juga pakai cadar, dan suaminya bercelana nyingkrang punya binaan anak-anak punk, juga anak jalanan."
Wiih, aku makin salut saja. Kirain mereka kelompok eksklusif, keras, super disiplin, dkk.
"Memang sedikit yang seperti itu, tapi nyatanya ada."
Betul, pasti ada yang berbeda di satu kelompok, namun manusia seringnya menilai pada asas 'kebanyakan'. Mungkin inilah yang menyebabkan ada semacam pemblokiran di pikiran kita. Bahwa kelompok A itu salah, keliru, apapun yang dibawanya pasti membahayakan, dsb. Padahal, kenapa tidak mencoba sedikit saja untuk membuka diri atas perbedaan yang ada. Memperkaya diri dengan warna-warni khazanah ilmu. Mendewasakan diri dengan belajar bijak berbeda pendapat. Untuk membuka pemblokiran otak ini kita memerlukan keberanian dan positive thinking. Bahwa kebenaran dapat diperoleh dari mana saja, bahkan dari mulut orang yang sangat kontra dengan kita. Lagi pula, rasanya sombong sekali jika menganggap kebaikan / kebenaran hanya milik kita. Hanya bersumber dari kelompok kita. 
Sari bersiap-siap pamit, sebelum keluar dari ruangan dia membalikan badan,
"Nati, tidak semua casing menunjukkan isi, dan tidak semua isi dapat ditunjukkan oleh casing, kan?"
 Sari tersenyum manis menggenggam jabat tanganku.


#Perumahan Elit, Kemang, 18.35 WIB
 Quin, ABG cantik itu dengan seksama menyimak diskusi kami tentang kondisi Bangsa Indonesia yang akhir-akhir ini semakin instan saja perkembangannya. Mulai dari fenomena Udin Se-dunia, Briptu Norman, berita Umar & Icha, dll. Instan, sangat cepat timbul tenggelam. Gadis 16 tahunan itu menjadikan fenomena bobroknya keadaan bangsa ini sebagai alasannya apatis dan tak mau tahu lagi. Dia lebih memilih bergaul dengan teman-teman lintas dunianya. Jarang bahkan hampir tidak pernah menonton tv indonesia. Mencap segala produk Indonesia itu tak layak. Dia sadar itu salah.
Sambil menguraikan rambut panjangnya dia berkata, "Lalu apa lagi yang bisa aku lakukan, Kak? Mana ada yang mau dengar pendapat anak kecil?"
Wajar. Aku yang berumur nyaris 23 saja masih sering dianakecilkan, tapi jika tidak 'berteriak' sampai kapan kita mau di barisan belakang?

"Yang penting kita tidak hanya berhenti pada prihatin atau benci saja, tapi juga kita harus bertekad bisa merubah keadaan ini. Apa dengan apatis dapat menyelesaikan masalah?"
"Aku udah sebel duluan kak. Kayak misalnya sinetron-sinetron, film-film horor dan esek-esekan gak jelas!"
"Memang banyak yang bobrok, tapi kan masih ada yang bagus. Kalau kita apatis, lalu bagaimana yang-bagus bisa bertahan? Dapat dukungan saja enggak.."
Quin mengangguk membenarkan."Iya juga siiih.. Yang jahat saja semangat ya, Kak.. Kenapa kita kalah, padahal kan kebaikan yang kita inginkan.."


#Metromini, 19.12 WIB
 Tiga pemuda dengan alat musiknya masing-masing naik ke bis. Penampilan mereka kucel dan berpeluh. Para penumpang sibuk dengan urusannya sendiri. Memainkan gadget, memandang padatnya jalan raya, tidur-tiduran sampai tidur beneran.
Dari jok tengah diam-diam aku mengintip penampilan mereka. Gerak tubuhnya yang penuh semangat membuatku tertarik menyimak aksinya. Kira-kira lagu apa yang akan mereka nyanyikan?

gema adzan subuh kami masih tertidur..
gema adzan dzuhur kami sibuk bekerja..

Beberapa penumpang terlihat mulai memerhatikan para pengamen ini. Suaranya lantang dengan permainan musik yang tegas. Perpaduan antara suara gitar, drum dan biola yang apik membelah hiruk-pikuk kemacetan malam. Isi syairnya menggelitik. Betapa kita merasa berat untuk taat, di sisi lain kita pun banyak kebutuhan kepada-Nya. Kita sangat menginginkan surga, tapi tingkah kita jarang sekali mencerminkan para calon ahli surga.

Oh Tuhaaan, masihkah surga pantas untukkuuu...

Suaranya meninggi diiringi gesekan biola bertubi. Menyayat.
Ada hentakan cukup keras pada bait terakhir. Ah, pantas kah?
Mereka mengakhiri pentasnya. Sang vokalis mulai menyodorkan bekas bungkusan permen dari satu jok ke jok yang lain. Berharap rupiah demi rupiah terkumpul. Para penumpang sibuk mengeluarkan recehan.Apakah mereka sama tersentaknya denganku? 

Tiga pemuda itu kumuh memang, tapi rasanya tidak pantas menutup kebaikan mereka yang telah mengingatkan hanya karena penampilan saja. Bukannya itu cuma casing? 

###

Nati
Tol Cipularang, 21 April 2011 : 20.00 WIB

0 komentar:

Post a Comment