Breaking News

02 February, 2012

Dua Sahabat

 
Dua orang ini semula bersahabat.  Sebut kedua  sahabat ini adalah Kakang dan Mas. Kebetulan keduanya juga bekerja dalam instansi yang sama. Kebetulan dalam meniti karier mereka berdua mendapat kesempatan sekolah bareng. Kebetulan keduanya naksir seorang gadis. Tetapi akhirnya, si gadis menjatuhkan pilihannya kepada Kakang. Mas pun legawa menerimanya, tak berapa lama ia pun berjodoh. Kemudian mereka berbahagia dengan keluarganya. Karier masing-masing pun berjalan lancar bahkan cemerlang.

Waktu panjang pun mereka lalui, ndelalah barangkali sudah garisnya, Si Mas menggantikan sebagai pejabat baru setelah dijabat Kakang. Serah terima jabatan pun terlaksana. Termasuk rumah dinas. Pada saat serah terima, Kakang minta ijin kepada Mas nitip barang-barang anaknya yang saat itu sedang ujian akhir di SMA-nya. Kakang pun tahu diri, barang-barang anaknya itu diletakkan di garasi mobil. Pikir Kakang, toh anaknya dua hari lagi selesai ujian. Lagi pula barang-barang itu cuma beberapa tas pakaian, buku, dan lemari kecil.  Pastilah Mas tidak merasa terganggu dengan barang titipan itu.

Entah setan apa yang mempengaruhi jalan pikiran Mas, sehingga menorehkan luka di hati Kakang. Persis dua hari setelah serah terima jabatan itu, tiba-tiba anak Kakang, melalui telepon menceritakan kejadian yang dialaminya. Ya … sebenarnya tidaklah pantas jika dilakukan oleh seorang Mas, apalagi mereka bersahabat. Atau barangkali oknum-oknum bawahan Mas, yang bertindak asal bapak senang, terima beres, rumah siap dihuni, entahlah …. Anak Kakang bercerita, sedang mengerjakan ujian di sekolah,  ia dipanggil oleh utusan Mas, pesannya dalam waktu 1 x 24 jam barang-barang di garasi harus sudah diberesi, pejabat baru segera akan menempati rumah. Akhirnya anak Kakang pun setelah ujian menuju rumah dinas itu. Anak ini terpukul, melihat barang-barangnya sudah berserakan di luar garasi. Tak berapa lama, Kakang pun menjenguk anaknya dan mampir ke rumah dinas itu yang barusan dicat. Kakang kecewa dengan perlakuan Mas. Ia menuliskan semua kemarahannya di tembok itu. Dan terakhir ia menuliskan … “Allah tidak tidur melihat perlakuanmu ini.”

Setelah keduanya pensiun ….
Tiba-tiba Mas datang ke rumah Kakang. Mas minta maaf kepada Kakang atas perlakuannya ketika itu. Kedatangannya pun meminta tolong agar Kakang mencarikan pekerjaan untuk kedua anak laki-lakinya yang sudah lama menganggur. Dan Mas pun menanyakan kabar anak Kakang yang pernah ia zhalimi. Mata Mas pun berkaca-kaca, mendengar cerita Kakang bahwa anak itu sekarang sedang ikatan dinas, mudah-mudahan bisa mengikuti jejak si Kakang. Setelah cukup mereka berbincang-bincang, Mas pun pamit pulang, ia merangkul Kakang. Sekali lagi ia meminta maaf.

Beberapa bulan setelah pertemuan itu ….
Kakang mendapatkan kabar Mas meninggal dunia. Si pembawa berita menceritakan keprihatinannya dengan kedua anak Mas, yang sedang berurusan dengan pihak yang berwajib karena masalah pil setan. Astaghfirullah ....

0 komentar:

Post a Comment