Breaking News

06 February, 2012

Dongen Suami : Pria Penjaga Wudhu


  Mengurangi rasa gugup ^_^ Sebagai pengantin baru diawal pernikahan kami, sesaat menjelang tidur suami selalu menceritakan kisah-kisah yang kadang terkesan "ngarang" yang katanya "mungkin ini juga terjadi dalam kehidupan kita dek, tapi sudah sangat jarang kita temui. 1001 (seribu berbanding satu) orang yang mengalami ini" sambil aku tidak percaya dengan kisahnya atau bahkan sangat sederhana namun sarat makna didalamnya yang bisa aku ambil. sayang banget kalau hanya habis di telingaku. hehehehe..

Pria Penjaga Wudhu
By. Nunu El-fasa

Prolog

Adalah Sabil, seorang pria yang mempunyai kebiasaan menjaga wudhu. Dia benar-benar menghindari semua hal yang bisa membatalkan wudhunya, seperti kentut, menyentuh lewan jenis yang bukan muhrim dan sebagainya. Bukan berarti dia selalu menahan kentutnya setiap hajat tersebut datang, Namun, jika itu terjadi dia selalu berusaha memperbaiki wudhunya kembali, termasuk hal yang membatalkan wudhu lainnya jika tidak bisa terhindarkan. Dan itu dilakukannya secara istiqomah, setiap hari.

*******

Suatu ketika, Sabil  naik bis dalam suatu perjalanan ke Jombang. Sejak awal dia naik, bis memang terlihat berdesakan. Namun mau bagaimana lagi, dia sudah terlalu lama menunggu di tepian perempatan jalan Sepanjang. Beberapa kali bis yang lewatpun sama kondisinya, Penuh-Sesak! Mengingat memang hari itu adalah  hari minggu banyak orang yang memanfaatkan bis untuk bepergian. Namun akhirnya, Sabil terpaksa naik bis yang dia tumpangi karena tidak bisa memilih bis manapun yang bisa membuatnya duduk nyaman. Bukan karena dia putus asa memilih bis tersebut, tapi mengenai waktu bisa jadi dia akan terlambat sampai di pondok dan ketinggalan pengajian Hikam dari kiayi yang selalu dia rindukan tausiyahnya.

Dan benar saja, diatas bis dia tidak kebagian tempat duduk, jangankan tempat duduk berdiri dengan leluasa saja sungguh sulit rasanya. Apalagi berkali-kali lalu lalang penjual asongan menjajakan dagangannya, berjalan menyelip-nyelip diantara penumpang dari muka ke belakang. Tidak cukup sekali jalan, kadang ada pedagang yang membagi rata dulu dagangannya ke semua penumpang dari muka ke belakang. Dan dia kembali lagi kemuka, dari muka dia berjalan lagi ke belakang, kali ini untuk mengambil barang dagangan dan uang dari barang dagangan yang terjual. Jadi, untuk satu pedagang saja, bisa-bisa tiga kali lalu lalang di tengah kerumunan para penumpang. Tidak lama lagi datang pengamen yang naik dari pintu belakang. Dengan mengangkat gitarnya, pengamen tersebut menelusup di tengah kerumunan penumpang, hingga membuat orang di sekelilingnya –termasuk Sabil, terpaksa menghuyungkan badannya diatas kursi penumpang hingga tergencet diantaranya, agar terhindar dari sabetan gitar, senjata sang pengamen.

Heran, mereka -para penggali nafkah diatas bis tidak pernah bosan menjalani ritual mereka. Berdesak-desakan seperti itu. Nampak tidak pernah ada putus asa, atau bakhan mengeluh. Yang terdengar malah, raungan para penumpang yang tergencet itu. “Aduh mas, sudah sempit begini mana bisa lewat!?”. Terdengar suara ibu-ibu setengah baya dari tengah-tengah bis sambil terus mengcondong-condongkan tubuhnya diatas kursi penumpang. Beruntung  Sabil berada di kerumuman para laki-laki, jauh dari wanita tersebut, pikirnya. Meski begitu, dia selalu berhati-hati untuk tidak lupa mengenakan kaos kaki dan sarung tangan. Karena dua anggota tubuh tersebutlah yang sering lepas control tersentuh lawan jenis yang bukan muhrim.

Entah hingga tiba dimana dia harus bisa tahan untuk berdiri dalam kerumunan seperti itu. Sudah sampai di terminal Mojokerto, tidak juga surut penumpangnya. Yang ada malah bertambah dengan pedangan asongan dan pengamen. Tidak menyalahkan mereka, Sabilpun menyadari, mungkin disitulah tulang punggung kehidupannya. Bumi Allah sangat luas untuk tempat mencari rejeki, dan di bis inilah tempat mereka. Kenapa banyak yang mempermasalahkannya? Atau mungkin ini adalah salah pak supir dan keneknya yang masih saja memasukkan penumpang meski sudah penuh sesak begitu. Bukankah pak supir dan keneknya juga sedang mengais rejeki Allah untuk bisa menutupi setoran. Ditengah ekonomi seperti sekarang memang dibutuhkan pendapatan tinggi agar bisa –dipandang hidup dengan layak. Toh mereka, hanya mencoba Man Jadda Wa Jadda agar bisa memberi nilai lebih pada kehidupan Istrinya, membelikan boneka anaknya tanpa menunggu sisa belanja demi sebuah keriangan yang jarang mereka berikan . Entahlah, dia hanyalah sosok pria sederhana dan neriman karena dia sendiri sadar, yang sedang dia alami juga atas kehendak Allah SWT sang pemberi kehidupan. Kalaupun menyalahkan ujung-ujungnya juga akan kesana, siapa yang menakdirkan seperti ini? Dia hanya bisa pasrah dan terus beristighfar, yang barangkali tanpa dia sengaja hatinya mengeluh dengan semua ini.

“Alhamdulillah, sudah tiba di Mojoagung” dalam hati pria itu bersyukur pelan ketika melihat kemegahan Masjid di seberang. Yang artinya tidak lama lagi dia akan tiba di terminal Jombang untuk berganti naik angkot menuju Pondokan yang juga tempat dia menimba ilmu dulu. Dia terhenyak ketika supir menginjak rem, sebagian penumpang terhuyung ke depan, namun ada juga yang mampu bertahan dengan berpegangan kuat diatas kursi penumpang atau gelantungan tangan diatas. Tapi yang membuat dia lebih terhenyak ketika ada yang menyentuh leher belakangnya. Sentuhan itu membuatnya kaget dan membangunkan bulu roma di lehernya, seperti rasa takut ditembak jika ada seseorang menodongkan pistol di lehernya. Dia tidak yakin yang menyentuhnya adalah perampok yang sedang menodongkan pistol atau belati, atau mungkin copet yang sedang beraksi. Bukan! Benda itu memang sedingin belati hingga membuat bulu kuduknya berdiri, tapi dia lebih yakin itu tangan seorang penumpang yang mungkin sedang cari pegangan. Dia berharap tangan itu bukan tangan wanita, namun kalau boleh memilih dia lebih berharap yang menyentuhnya pistol atau belati penjahat daripada tangan wanita.

Dia menoleh kebelakang, “Afwan, saya tadi hampir jatuh” suara lembut seorang akhwat muda yang tidak pernah disadari berada di belakangnya. Dari suaranya terdengar sekali penyesalan atas kejadian tersebut, seolah akhwat itu sangat paham dengan keterkejutan Sabil.

“Tidak apa-apa” balasnya kepada akhwat yang sudah membatalkan wudhunya.

Nampak beberapa penumpangpun turun dan terasa sedikit longgar meski masih banyak yang berdiri, memang di Mojoagung situlah tempat biasa nge-tem bis. Meski terminalnya kecil yang hanya untuk mikrolet dan tukang ojek -bukan terminal bis tapi banyak sekali bis-bis di sekitarnya untuk sekedar menunggu penumpang penuh atau mendinginkan mesin sebentar bagi bis-bis antar propinsi yang jarak tempuhnya cukup jauh.

Dia tidak yakin apakah dia harus turun disini untuk memperbaiki wudhunya, sementara terminal Jombang jaraknya sudah dekat dan bisa segera wudhu lagi disana.

“Permisi”, seorang penumpang yang duduk disebelahnya membuyarkan pikirannya.

“oh, ya.. yaa.. silahkan” orang tersebut menyangklet tas punggungnya lalu beranjak untuk turun bis. Sabil tidak biasa langsung duduk di tempat duduk kosong bekas penumpang yang baru saja turun sementara masih banyak yang berdiri, meski dia sendiri berdiri sejak awal naik dari Sepanjang hingga sampai di Mojoagung. Pandangannya mengintari penumpang yang masih berdiri, dia tak segan memberi tempat duduknya kepada wanita tua, atau mungkin ibu-ibu sebagai tanda ketawadhu’an seorang muslim. Namun, dilihatnya seorang ibu yang jauh dari jangkauannya. Sejurus dia ingat terhadap akhwat berjilbab di belakangnya yang hampir jatuh dan membuatnya batal.

“Silahkan ukhti, disini mungkin lebih aman”, sambil mempersilakan akhwat tersebut dan memberi ruang jalan ke tempat duduk kosong itu.

Akhwat tersebut terkesiap dengan sikap Sabil yang begitu bersahaja. Tidak enak sebenarnya jika dia menerima tawaran itu, karena dia pun faham, Sabil sudah berdiri lama. Namun dia sendiri juga sudah kecapekan, apalagi dengan membawa ransel berat di punggungnya.

 “Jazakallah akhi” Sambil melempar senyum kepada Sabil.

Rupanya diam-diam Akhwat tersebut mengagumi sosoknya. Memang dari parasnya, Sabil cukup menarik bagi yang memandangnya. Hidungnya yang mancung, berpawakan cool kayak bintang film Dude Harlino dengan kulitnya yang putih terjaga. Bukan dia senang bersolek, tapi pemuda asal pinggiran kota Surabaya itu sehari-harinya tidak pernah keluar dari Masjid tempat dia tinggal di Kota Sepanjang. Ya, Sabil adalah pemuda penjaga Masjid yang sering di kenal orang dengan sebutan Marbut di sebuah Masjid kompleks perumahan elite.

Sabil membalas senyumannya sambil balik badan dan menuruni anak tangga bis yang sedang berhenti itu. Tanpa banyak pikir lagi bagaimana dia akan meneruskan perjalanannya nanti. Sementara uangnya hanya cukup untuk satu kali Pulang-Pergi, kalaupun dia harus berganti bis lagi menuju terminal Jombang berarti sisa uang transport untuk pulang akan berkurang. Bisa-bisa dia hanya bisa sampai di terminal Jombang saja, dan mungkin akan terlantar disana karena sisa uangnya tidak akan cukup untuk meneruskan perjalanan sampai ke Sepanjang.

Tapi Sabil sama sekali tidak memikirkan hal tersebut, yang ada dipikirannya, bagaimana dia bisa memperbaiki Wudhunya kembali. Dia tidak pernah risau dengan yang akan terjadi pada dirinya, biarlah Allah yang mengatur dan dia hanya bisa memasrahkan dirinya. Prinsip hidupnya hanya menjalankan apa yang harus dia kerjakan sekarang. Tidak bisa ditunda nanti. Salah satunya wudhu yang tidak bisa dia tinggalkan, sekali ada kesempatan untuk berwudhu kembali maka ia gunakan kesempata itu, kalaulah tidak ada diapun akan tetap menyempatkan dalam kesempitannya untuk berwudhu sesegera mungkin. Karena menjaga wudhu merupakan amalan yang tidak bisa ia tinggalkan, yang merupakan satu-satunya wasiat dari mendiang ibu Sabil, “nak, ibu tidak bisa meninggalkan warisan apapun untuk kamu. Hanya ilmu dan amalan yang telah ibu ajarkan yang dapat ibu berikan, jangan pernah meninggalkan Wudhu dan Sholatmu”, kata ibunda Sabil sesaat sebelum meninggal. Maka sejak saat itu, Sabil selalu menjaganya atas wasiat ibunya.

Dia berjalan gontai ke arah utara, menyeberangi jalan melewati angkot-angkot yang berjalan melambat, karena daerah tersebut memang dekat pasar tradisional banyak orang lalu lalang keluar masuk pasar. Sehingga bis-bis dan kendaraan lain juga mengurangi kecepatannya.

Dipelataran Masjid, sejenak dia pandangi kubahnya, tiang, dan ornament-ornament menarik dari Masjid itu. Ini pertama kalinya dia masuk di Masjid Mojoagung ini, sebenarnya ia ingin sekali tinggal lebih lama dan berkeliling di dalamnya. Kecintaannya terhadap masjid memang tak bisa disangkalkan, sampai dia mempunyai cita-cita untuk mengunjungi semua Kemegahan Masjid yang ada di Indonesia dan mengabadikannya dengan sebuah foto di depan Masjid tersebut. Namun kali ini dia tidak punya banyak waktu lagi, dia hanya mampir untuk memperbaiki wudhunya dan harus meneruskan perjalannanya kembali mengingat perjalanannya masih lama dan harus berganti bis lagi.

Sabil keluar masjid dengan bersemangat. Dia merasakan tubuhnya segar dan wajahnya berseri-seri karena Debu dan kotoran yang menempel di wajahnya, bersih dan kembali fresh. Kekejangan otot syaraf pada kaki dan tangannya saat di dalam bis, lentur kembali karena siraman air wudhu yang menerobos pori-porinya. Inilah salah satu yang membuat kulitnya selalu terjaga, seolah air sudah menjadi temannya karena tidak pernah lepas dari wudhu.

Sabil mempercepat langkahnya, nampak diseberang dia berdiri, masih ada bis yang berhenti menunggu penumpang. Dia bersyukur tidak perlu menunggu lama dan tidak perlu berdiri lagi. Kini dia kebagian tempat duduk meski di kursi paling belakang.

Namun ada yang aneh, sepertinya Sabil kenal dengan wajah-wajah penumpang di sebelahnya. Seperti sudah familiar di matanya. Sejurus dia ingat, orang yang duduk di sebelahnya adalah orang yang satu bis dengannya. Ya.. dia adalah wanita tua tadi yang sudah meraung saat ada pengamen. “Dan orang itu, orang yang duduk di depan bangku sebelahnya. Diakan orang yang berdiri di sampingku tadi”, Sabil berkata sendiri dalam batinnya.

Kemudian konduktur yang biasa menarik semua karcis penumpang telah sampai di hadapannya. “Karcis mas”

“Berapa pak, sampai di terminal jombang”, Sambil mengeluarkan uang dan diberikannya kepada kondektur berkumis lebat itu.

“Karcisnya aja mas”, dia masih ragu apakah kondektur minta karcis yang dia naik bis pertama. “Pindahan dari bis hijau kan?”

Dia baru yakin ketika kondektur menyebut bis hijau yang dia tumpangi tadi, dia mengangguk dan langsung mengoprek-oprek isi tasnya.

“Ini pak” sembari menyerahkan kertas lungset warna merah bertuliskan “SUMBER KENCONG” dan kondekturpun berlalu.

Rupanya saat dia wudhu tadi, bis yang ditumpanginya mogok dan tidak mau jalan dikarenakan kelebihan muatan. Mesin bis benar-benar mati, terlihat asap mengepul dari bawah bis. Sehingga semua penumpangnya berhamburan keluar takut bis meledak, dan dialihkan ke dua bis pengganti yang kebetulan berhenti di situ.

Entahlah semua karena kuasa Allah. Padahal awalnya Sabil sempat ragu untuk turun memperbaiki wudhunya. Namun pilihannya tidak salah, dan diapun tetap dapat pulang dengan selamat tanpa takut terlantar di terminal Jombang.

Sambil menikmati alunan Seismic dalam earphonenya, bis yang dia tumpangi membawanya berlalu dan menyalip bis yang masih mengasap di tepi jalan, Nampak pak supir dan keneknya berusaha mendinginkan mesin.  Sabil tidak berhenti-hentinya bersyukur atas nikmat ini, serta panjatan doa untuk ibunya. Dia menyadari kebenaran wasiat ibunya. Selama ini dia hanya membaca dari buku, dan mendengar dari kiayi-kiayinya tentang keutamaan wudhu. Tapi, kini dia merasakan sendiri sering mendapat keberkahan dalam hidupnya yang selalu dipermudah Allah SWT[.]

Bertemu Denganmu Dalam Sebuah Perjalanan Hidup

( Untuk Sahabat-sahabat Mayaku )

By : Lygia Nostalina ( Neng Hujan )

Hidup tak pernah bisa tertebak bagaimana awal dan akhirnya, selain sebagai suatu fase panjang yang harus kita lalui sebagaimana mestinya, untuk mencapai suatu kesempurnaan. Hidup tak selalu bisa terencana akan dimulai dan berakhir dimana. Terkadang kita hanya sekedar menjalani tanpa tahu arah dan tujuan, namun tak sedikit yang sadar, untuk apa ia hidup, dan bagaimana ia harus menjalani hidupnya.


Bagiku hidup dimulai ketika aku paham, untuk apa aku dilahirkan. Seperti sebuah perjalanan panjang menuju satu keabadian. Perjalanan yang tak akan pernah sanggup aku lalui sendirian. Melangkah sunyi, ditengah keramaian, perasaan terasing dalam sebuah pesta pora yang berujung huru hara. Sungguh, betapa sepi hidupku tanpa kehadiran peran-peran lain yang mewarnai setiap langkah hari demi hari.


Bagiku hidup bagaikan sebuah persinggahan dalam menjalani suatu perjalanan. Terkadang kita berhenti sejenak melepas lelah, menatap sekitar, menyaksikan polah tingkah orang-orang yang sama sekali tak kita kenal. Mempelajari aneka rasa, sedih,marah, kecewa, tangis, bahagia, senyum, hampa dan kosong.


Aku melangkahkan kaki setapak demi setapak, perlahan menjejak. Dalam perjalanan yang terkadang berbatu, terkadang mendaki dan terjal, menurun, tandus, penuh bunga. Bagaikan sebuah pentas drama raksasa yang penuh aktor menyelami perannya masing-masing. Dengan skenario diselembar kertas lusuh terlekat erat ditangan.


Aku bertemu pelangi, aku bertemu hujan yang merindukan bumi, aku bertemu timur dan barat, aku menjumpai banyak sosok yang berperan penting dalam perjalanan hidupku.

Dan aku menjumpaimu.....


Sosok yang kutemui dalam sebuah halte persinggahan ketika aku melepas lelah. Seorang yang malu-malu menyapa dengan hati-hati dan santun, hingga membuatku merasa perlu menjawab uluran perkenalan yang kau tawarkan. Menjawab sapaanmu menjadi suatu keharusan buatku dan bukan kewajiban.


Kamu akhirnya menjadi teman perjalanan yang cukup menyenangkan , aku mengatakan cukup karena kita belum pernah saling bertatap muka, hanya sebuah perjalanan menyusuri ruang-ruang maya yang dingin dan beku. Sebuah percakapan ringan melompat dari satu masalah ke masalah lain, dari satu topik ke topik lain. Mengalir begitu saja.


Tiba-tiba sosokmu begitu saja mengisi hari-hariku tanpa terencana, tanpa rekayasa, sedemikian mengalirnya hingga aku tak menyadari sejak kapan semua ini diawali. Setiap kata yang kita lontarkan, setiap kalimat yang kita bagi, dan setiap rangkaian cerita yang kita ungkap, semua seolah berujung pada satu makna : KAU DAN AKU TIDAK BERANJAK KEMANA-MANA. Seolah, saat kamu menjalani seluruh kisah hidupmu dan aku menjalani kisahku sendiri, kita menjalaninya bersama-sama.


Kau yang begitu tegar dan kuat, mampu mengisiku yang rapuh dan lemah. Mencintaiku selayak seorang sahabat dan saudara terbaik yang pernah ada, tak peduli berapa puluh orang yang telah hadir sebelum kamu. Menepis keraguanku tentang persahabatan semu di dunia maya yang beku.


Aku yakin, jika memang kita tulus dalam perjalanan ini, kita akan bisa menjadi sahabat terbaik untuk satu sama lain. Kita bisa menangis bersama, terdiam memandang lepas menatap entah kemana sementara aku ada disisimu dan kamu ada disisiku. Sekedar menikmati secangkir kopi dengan gula ditakar sendiri, bercakap tentang kegilaan yang terjadi di hari-hari kita, berbagi kisah yang teramat biasa namun bisa menjadi luar biasa ketika kisah-kisah itu keluar dari dirimu. Kisah kita sangat sederhana kadang hanya diskusi tak penting.


Ya, kita memang memiliki hidup yang berbeda. Suatu saat nantipun kamu mungkin akan pergi setelah kamu memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Mungkin akupun akan beranjak ke tempat yang berbeda. Mungkin kita akan dipertemukan lagi di penghentian selanjutnya, atau bahkan ku tak akan pernah melihatmu lagi dalam hidupku ?


Aku tahu, suatu saat nanti kita pasti melanjutkan hidup kita masing-masing. Setelah hari mulai merayap senja. Setelah kita cukup tenaga untuk berjalan menempuh perjalanan panjang kembali. Menemui peran-peran lain dalam kehidupan kita. Kamu dengan hidup barumu, dan aku dengan hidupku yang mungkin akan terbaharui ataupun tidak namun selalu kaya akan warna.


Hingga kelak, perjalanan kita di dunia akan tiba pada perhentian terakhir. Perhentian yang menjadi mula dari perjalanan abadi kita di pelukan Ilahi. Akankah kita kembali dipertemukan dalam rengkuhan-Nya ? Dalam kesejatian yang paling sejati ? semoga saja, segala amalan kita di dunia yang kita persiapkan akan membawa kita bertemu kembali, Sahabat… Di pertemuan paling hakiki. Semoga, kelak disana, skenario Sang Maha Sutradara akan membawa kita mengakhiri panggung-panggung sandiwara ini dengan applause tanpa henti dari mereka yang menyaksikan kita memainkan peran kita dengan sempurna.

Amin… Ya Rabb….


NB : Jika reinkarnasi itu ada, akankah aku bereinkarnasi menjadi Truk Pasir agar kelak mungkin akan kau tumpangi ?? atau menjadi pelangi yang senantiasa kau cari ? atau hanya menjadi hujan yang akan mengunjungimu sesekali ? entahlah....


Aku akan bernyanyi bersamamu…
Duduk disampingmu…
Menangis untukmu jika kau mau
Mengikuti setiap langkahmu …
Selama kamu membutuhkanku…
Terima kasih buat segalanya..
Untuk setiap waktu yang kau korbankan untukku
Untuk setiap pulsa yang kau habiskan untuk menghubungiku
Untuk setiap senyum yang kau berikan untukku
Untuk setiap empati yang kau sediakan selalu..
Untuk setiap kata-kata baik hati yang selalu siap kau ucapkan padaku..
Terima kasih, sungguh terlalu….


Sungguh Senang Bercakap Denganmu….

(PERSEMBAHAN UNTUK SAHABAT-SAHABATKU DI GRUP IIDN, I LOVE YOU....)











7 komentar:

Andi Budiman said...

Indari Mastuti - Mungkin seorang sastrawan yang belum kukenal. (moslegraph.blogspot.com)

Nike Free said...

nike outlet nike store nike factory store nikestore nike employee store nike factory nike factory outlet nike outlet coupon nike store locator nike outlet store wholesale nike shoes cheap jordans cheap jordan shoes cheap jordans for sale jordans for cheap retro jordans for sale jordan shoes for sale jordans for sale cheap jordans for sale retro jordans for sale air jordans for sale jordan 11 for sale authentic jordans for sale new jordans new jordans 2015 new jordan shoes new jordan releases jordan new releases new jordans release nike air max air max 90 nike air max 2014

Junda Xu said...

20160324 junda
louboutin outlet
canada goose jacket
timberland boots
cheap jordan shoes
prada outlet
lululemon outlet
salvatore ferragamo
gucci outlet
ray ban sunglasses
bottega veneta outlet
fitflops outlet
michael kors outlet online
valentino shoes
babyliss flat iron
michael kors outlet online
michael kors outlet online
basketball shoes
adidas gazelle
nike trainers
coach outlet online
rolex submariner
skechers shoes
polo outlet
michael kors
air jordans
coach outlet store online
michael kors handbags
ed hardy uk
cartier watches
christian louboutin uk
prada
cheap ugg boots
converse trainers
ray ban sunglasses
coach factory outlet
ed hardy outlet
louboutin pas cher
nike store
kate spade outlet
levis 501

xumeiqing said...

20160628meiqing
tiffany jewelry
converse trainers
adidas shoes uk
michael kors outlet online
nike free run
ecco shoes
supra for sale
nike air max shoes
mont blanc pens
pandora jewelry
timberland outlet
cartier love bracelet
coach outlet
kobe shoes
discount oakley sunglasses
basketball shoes
jimmy choo shoes
the north face
michael kors outlet
michael kors outlet clearance
abercrombie
coach factory outlet
coach outlet
valentino shoes
cheap nhl jerseys
lacoste shoes
jordan shoes
fitflops
coach outlet
ray ban sunglasses discount
ed hardy uk
north face jackets
nike free flyknit

raybanoutlet001 said...

chicago bulls
colts jerseys
replica watches
kate spade outlet
michael kors uk
cheap nba jerseys
oakley sunglasses
oakley vault
cheap oakley sunglasses
jordan shoes

GIL BERT said...

coach handbags
polo outlet
longchamp outlet
michael kors outlet
michael kors handbags
ralph lauren
montblanc pens
mbt shoes
kate spade
ugg boots

GIL BERT said...

ugg outlet
ugg outlet
oakley sunglasses
coach outlet
nike air huarache
ugg outlet
baltimore ravens jerseys
coach outlet online
new england patriots jerseys
rolex replica watches

Post a Comment