Breaking News

16 February, 2012

Dipanggil "Mas-Mas" (serial si tomboy)


  By Dewi Liez  

Salam kenal to Ibu-ibu doyan nulis, numpang posting tulisan ya...
mohon kritik dan saran. makasih...
-------------------

Dipanggil "mas-mas"

Berdiri berjejalan dalam bis kota sudah jadi pemandangan umum di kota besar. Saat ini di depan mata saya beberapa penumpang pria sampai hati membiarkan seorang ibu kerepotan membawa dua anak kecil dengan posisi berdiri. Satu tangannya tetap berpegangan pada senderan kursi, sementara tangan yang lain memegang tangan anaknya, sambil menggendong seorang bayi. Tak tega melihatnya, dengan cepat saya berdiri untuk mempersilahkan ibu itu duduk dengan tidak berkata sepatahpun, hanya mencolek tangan ibu tersebut.

“Makasih ya mas.” Ucapnya.

Waduh, kok dipanggil mas, mau menjelaskan sepertinya tidak penting. Lagi pula sebentar lagi saya harus turun. Hanya sempat senyum saja, menanggapi ucapan termakasihnya.  Kemudian bergegas turun di halte Cililitan.

Sementara tujuan masih jauh, harus beberapa kali lagi menyambung angkot, dan terakhir naik ojek.  Saya mulai mengamati penampilan diri sendiri kali ini, celana jeans biru yang sudah pudar warnanya, ada sobekan kecil di bagian tumitnya, sweater abu-abu, dengan kemeja putih garis-garis di dalam, plus topi pet jeans bergambar logo MTv. Sepatu All star yang warnanya sudah tak jelas lagi. Mungkin penampilan ini yang jadi penyebab saya dipanggil mas oleh ibu tadi. Masa sih, tampang saya separah itu.

Ah, biar sajalah, selama saya tidak merugikan orang lain, kenapa pusing. Mulai terasa agak haus, saya mencoba memanggil pedagang asongan di sekitar halte. Seorang  bapak menghampiri.

“Mau beli apa toh mas? Rokok atau minum?” Tanya si Bapak penjual asongan.
Duh, dua kali dipanggil ‘mas’ hari ini. Sambil nyengir saya jawab pertanyaan bapak itu

“Mau beli minum, Pak.” Jawab saya
“Adek ini perempuan apa laki?” Tanyanya lagi, sambil menyerahkan sebotol minumam dingin kepada saya.

“Perempuan pak, memangnya kelihatan seperti apa pak?” Tanya saya penuh selidik, sambil meneguk isi botol

“ Oh, walah, saya kira laki-laki, lah wong rambutnya pendek, pake topi, badannya juga kaya laki, tapi saya penasaran denger suaranya kok kaya perempuan, makanya saya tanya.  ‘Adek ini perempuan apa laki’. Maaf ya dek, kalo saya tadi salah panggil” Jelas bapak itu dengan malu-malu.

“Ngga apa pak, hari ini bapak orang kedua yang manggil saya ‘mas’, tadi di bis juga saya dipanggil mas.” Saya menjelaskan sambil nyengir garing.

Angkot yang ditunggu akhirnya kelihatan juga, dengan berbegas sayapun berdiri, siap-siap menyetop angkot. Siang panas begini mana betah lama-lama nongkrong di halte Cililitan. Goshong.

“ Ayo..mas, masih kosong, centex – centex, klapadua – klapadua.” Teriak supir angkot, sambil melambaikan tangannya ke arah saya. Sempat celingukan, tapi tidak ada calon penumpang lain. Hanya saya sendiri yang berdiri menunggu angkot itu.

What? Tiga kali dalam sehari saya dipanggil mas, seperti minum obat saja. Jika sekali lagi dipanggil mas, besok saya harus menggunakan T shirt dengan tulisan huruf kapital warna merah ‘100% wanita tulen’.