Breaking News

22 February, 2012

Demi Bapak...Untuk Bapak


      By Rachmi Rosanti Arifianto  
Misi kita cuman satu, Ma…DEMI BAPAK, UNTUK BAPAK…”.
Itu kalimat pertama yang meluncur dari mulut suamiku di awal perbincangan kami berdua tadi malam. Tenggorokanku tercekat, air mataku hampir jatuh, terenyuh, tersentuh dengan ucapan suamiku.

Belum sempat aku bicara apapun, suamiku menyambung dengan kalimat berikutnya. Ini kesempatanku terakhir menunjukkan baktiku buat Bapak. Secara materi, jelas aku nggak bisa kasih apapun buat Bapak. Cuman dengan cara ini.  Aku masih merasakan gelo banget, sewaktu Ibu sakit, sampai meninggal, aku nggak bisa ikut merawat Ibu, ndampingin Ibu”. Kalimat itu masih meluncur dengan mulus, tenang tanpa emosi sedikitpun dari mulut suamiku.

Wong tuwo kari siji, aku pengen iso ngrumat tenanan. Nggak ada yang lain di pikiranku saat ini, selain, KITA MEMANG HARUS PINDAH KE SEMARANG”. “Aku pengen nyenengin Bapak, Ma…”.
Selesai dengan kalimat itu, suamiku terdiam, demikian juga aku.

“Laku atau belom laku rumah kita ini dijual, kita tetep musti pindah ke Semarang”, lanjut suamiku.
“Sementara aku belom dapat kerjaan baru di Semarang, ya musti tak lakoni tiap hari pulang balik Semarang Jepara. Rak popo…”, demikian tekad suamiku.

Betapa saat itu aku merasakan campur aduknya perasaan.
Sedih, bingung, tapi juga bersyukur sekaligus…
Betapa sangat diluar rencana, diluar dugaan sama sekali, bahwa kami sekeluarga  akan kembali ke Semarang, kota asal kami, kota yang memenuhi sebagian sejarah hidup kami.

Sedih, karena harus meninggalkan semua kenangan di Jepara, sekolah anak2, teman sekolah anak2, guru2,  para tetangga yang bukan main baiknya, si emak2 temen ngrumpi di play groupnya Ifa,  semua aktifitasku di Jepara, PKK, dawis, pengajian ibu, kerja bhakti mushola, yasinan anak-2 se perumahan, tengok tetangga yg sakit, liat bayi baru lahir, posyandu, sharing moments,  wuihhh…banyak sekali. semua itu akan jadi kenangan.

Bingung, serasa berdiri di persimpangan jalan, mau belok kemana, mau mulai dari mana, trus ntar bagaimana, wadhuw…perjuangan baru lagi, tinggal di lingkungan baru, sekolah baru, tetangga baru, suasana baru…hhmmm…

Tapi bersyukur bukan main, karna suamiku berani ambil langkah, berani ambil resiko, mengendapkan  segala ego pribadi sampai ke dasar hati, dan meyakinkan aku, bahwa KITA PASTI BISA !!!.

Mama dulu bisa kan ?, pindah dari Semarang, hidup ngontrak di Pamatan selama 2 tahun, abis itu pindah ke sini di rumah ini, berapa kali adaptasi, coba ?”, begitu suamiku bilang.
“Mustinya sekarang juga BISA”.
“Iya, Insya Allah BISA !…”, batinku menjawab.

Bersyukur, suamiku masih memikirkan Bapak, punya tekad nyenengin hati Bapak, ngrumati Bapak.
Aku ikut sedih ketika suamiku bilang, gelo bukan main, saat Ibu sakit selama 1 tahun dari lebaran tahun lalu 2009, sampai akhirnya dipanggil olehNYA di hari ke-9 Romadlon th ini 2010, kami keluarga  Jepara tidak bisa intens merawat selama sakit dan ada di samping Mama di saat terakhir.
Terharu bukan main, ketika suamiku bilang, wong tuwo kari siji,orang tua tinggal satu.  pengen ngrumat tenanan, pengen merawat dg kesungguhan, ojo nganti gelo meneh, jangan sampai nyesel lagi.

Tak bisa kupungkiri,
Betapa aku sungguh dan semakin mencintaimu, menyayangimu, menghormatimu, mengagumimu, dengan segala yang ada pada dirimu, suamiku….
Dan aku sebagai istrimu, akan kutunjukkan baktiku, dengan manut apa yang sudah engkau pertimbangkan dan putuskan. Aku manut, Pa…kami semua manut …
Bagaimanapun, Bapak(mu) adalah Bapak(ku) juga, karena sesungguhnya, di Qur’an pun tidak disebutkan istilah bapak kandung atau bapak mertua. Dan Islam pun mengajarkan bahwa HAK seorang suami ada pada keluarganya terutama Ibunya, dan HAK seorang istri adalah pada suaminya. Karena Ibu sudah nggak ada, maka Bapak adalah pemilik HAKmu.
Aku dan anak-anak pun pasti ingin nyenengin hati Bapak,  nyenengin hati Yangkung. Itu pasti.

Semakin kusadari, seberapa pun matang manusia membuat rencana, tapi kalau Sang Maha Pembuat Hidup sudah membuat skenario, kita hanyalah para pemain yang harus selalu siap menjalani peran berikutnya.

Akhirnya :
Untuk semua sahabat, kerabat, yang ada di Jepara, maafkan segala kesalahan kami sekeluarga selama ini. Semoga jarak tak akan membuat persahabatan dan persaudaraan diantara kita lenyap tak berbekas. Semoga tali silaturahmi tidak akan pernah rantas, putus sampai kapanpun....
Terima kasih, matur nuwun untuk kehebohan kita selama ini. Panjenengan semua dipastikan menempati posisi khusus di hati kami. Tak akan terganti …
Insya Allah kita semua diberi umur panjang, agar kita terus bisa menyambung tali silaturrahmi.

Jangan pernah beranggapan bahwa kami tidak kerasan tinggal di Jepara. Jangan ! Kami sangat sangat sangat kerasan. Kami menikmati hidup di Jepara. Sangat !
Alhamdulillah, syukur kami panjatkan padaMU ya Allah…
Salah satu dari begitu buanyak nikmat  yang diberikan buat kami adalah, memiliki tetangga yang baik-baik. Tetangga kami, adalah saudara terdekat kami. Kenangan yang tercipta selama ini sudah sangat membekas, menempati posisi terindah di hati kami. Kenangan yang sangat sangat sangat indah…..


Setiap perjumpaan pasti akan ada perpisahan, dan perpisahan biasanya identik dengan air mata…
Saat membuat catatan inipun,dan berkali membacanya,  air mataku tak pernah berhenti menetes …
Semua karena, “DEMI BAPAK…UNTUK BAPAK”, yang sangat kami hormati, sayangi, dan cintai.

0 komentar:

Post a Comment