Breaking News

02 February, 2012

De.. Aku rindu.. rindu sekali..


Tahun ini, kamu nggak datang juga De? Mama sering memandang jauh ke arah pagar, menunggu kepulanganmu. Tak ada lagi tetes air mata, sudah kering De. Sudah terlalu banyak air mata keluar dalam setiap sujudnya. Sedangkan Papa, dalam diamnya ia menangis, De. Terlalu banyak sabar, hingga akhirnya mereka lelah.. pasrah..

Lebaran tahun lalu, aku menangis berderai-derai. Saat aku menelepon istrimu, memintamu agar datang ke rumah. Aku menelepon istrimu karena kamu tak punya ponsel, De. Diujung telepon kamu hanya diam, dan berkata “nggak tahu”. Sakit rasanya hatiku. Apalagi membayangkan wajah Mama dan Papa, mereka pasti sedih. Pasti sedih De. Saat tahu anaknya yang tinggal satu kota dengannya tak mau pulang saat lebaran.

Ingatkah kamu De, saat Papa terserang stroke ringan setahun yang lalu? Beliau memintamu datang untuk mengantarnya ke dokter. Sejenak kamu mengiyakan, tapi tak lama kemudian kamu bilang tak bisa datang karena ban motor kempes. Padahal kamu bisa naik angkot, kan? Teganya kamu De, hingga membuatku mengantar Papa terpaksa dengan motor malam-malam karena tak bisa menyetir mobil. Ada apa denganmu De? Kamu berubah. Total berubah setelah menikah.

Apa yang terjadi, De? Sedemikian marahkah istrimu, De? Sehingga tak membolehkanmu memiliki ponsel untuk menghubungi kami.

Mungkin Mama pernah salah De, saat beliau bertanya “kenapa kamu kurus sekali” didepan istrimu. Mungkin aku juga salah? Karena menegur istrimu yang telah berkata-kata kasar didepan Mama dan mengeluarkan kalimat tak pantas tentangmu di status Facebook? Kata-kata yang tak pantas didengar, apalagi diucapkan seorang perempuan. Karena itukah dia marah, dan membuatmu tak mau kembali ke rumah, bahkan menelepon sekalipun?

Kamu pernah datang ke rumah seperti orang linglung kemudian meminta Mama Papa untuk datang ke rumahmu dan meminta maaf pada istrimu. Teganya kamu De, merendahkan orang tuamu untuk mengemis maaf pada Istrimu. Demi kamu dan kerukunan rumah tanggamu, Mama dan Papa mengikuti maumu. Datang ke rumahmu malam-malam. Namun apa yang mereka dapat De? Istrimu tak membukakan pintu untuk orang yang telah melahirkan dan membesarkanmu.
Mendengarnya aku marah dan menangis. Sayang, aku tak disana saat itu. Andai aku satu kota dengan kalian, sudah kucaci maki orang yang telah menyakiti orang tuaku.

De, tak tahukah kamu? Mama dan Papa selalu berusaha memberikan yang terbaik buatmu. Meski mungkin tak sempurna, tapi mereka sudah memberikan segala yang mereka punya. Ingatkah kamu De, saat kamu mau masuk perguruan tinggi. Mereka berani carikan yang terbaik meski mereka tak mampu. Aku ingat, Papa pernah bilang, “buat Ade, Papa akan usahakan Ade masuk perguruan tinggi terbaik. Meski mahal tak apa. Kalau teteh ga perlu cari universitas swasta mahal. Teteh kan perempuan.” Dan Akhirnya kamu bisa masuk ke Perguruan Tinggi Negeri terbaik. Tapi inikah balasannya De?

Pernah kubaca SMS dari istrimu di ponsel Papa, yang isinya sangat menyakitkan hati. SMS yang meminta Papa mangajari Istri dan anaknya. Mama dan aku, De. Aku menangis sejadi-jadinya, terbayang rasanya papa begitu tersinggung dan sakit hati dengan kata-katanya. Tak dapat kubayangkan jika Mama yang membaca SMS itu. Andai kamu tahu De..

Saat Papa datang ke kantormu untuk sekadar mengirim makanan dan melepas rindu, papa bilang kamu begitu kurus, De. Tak ada lagi cahaya semangat dimatamu. Kamu menjadi begitu pendiam, betul-betul tak banyak bicara. Padahal dulu kamu anak yang ceria, punya segudang aktivitas dan ambisi. Kita begitu kompak, saling melengkapi. Saling cerita banyak hal dan saling dukung. Bahkan sering kali kita saling antar jemput bukan?

Sekarang tak ada lagi keceriaan itu. Kamu malah semakin terkesan bahwa kamu di bawah tekanan. Bahkan terakhir kutelepon kamu di kantor untuk memberitahukan bahwa sepupu dekat kita akan menikah, kamupun diam saja. Dan hanya menangis saat giliran mama bicara dan bilang, “Mama kangen Ade, mama sayang Ade…”

Sampai hari ini, Mama masih selalu melindungimu jika tetangga dan saudara bertanya. Padahal hatinya sakit sekali. Mama selalu sayang kamu. Saking sayangnya, mama malah sering memintaku untuk melupakan masalah ini, hanya berdoa dan berharap agar kamu segera datang. Itu saja.

Tak sanggup lahi kulanjutkan, De. Air mataku telah jaug mengalir. Aku hanya bisa bilang, Kembalilah Ade sayang… semua kangen kamu.. Doaku selalu untukmu, dalam setiap shalatku