Breaking News

10 February, 2012

DAUD


 
Perutku sudah berasa melilit lilit setiap 10 menit sekali. Aku melirik jam dinding kamarku. Jam 2.30. Aku segera membangunkan suamiku.

“Pak, bangun….Kayaknya udah saatnya deh…”
Suamiku terbangun dengan segera.
“Udah berapa menit sekali, Bu?”
“Yang barusan sih sepuluh menit sekali. Udah setengah jam kayak gini.”
“Ya udah…yuk, siap-siap…”
“Adam gimana?”

“Gapapa. Tinggal aja. Nanti dari bidan bapak telpon Teh Teti untuk nemenin dan jemput Adam.”
“Gapapa ditinggal?”
“Insya Allah gapapa.”
Suamiku segera mengeluarkan sepeda motor dari ruang tamu. Aku mengunci pintu dari luar.

Adam sudah cukup besar untuk ditinggal sendirian. Dia kalau bangun dan mendapati ibu dan bapaknya tidak ada di rumah, dia pasti tahu, kalau kami pergi ke bidan dan dia akan segera mendapatkan adik.

“Bismillahirrahmanirrahim…”
Kami pergi menuju rumah Bidan Oom yang terletak tidak jauh dari perumahan tempat tinggal kami.

Setibanya kami disana, Bidan Oom rupanya sudah siap menanti kami yang dari seminggu yang lalu selalu memberi kabar keadaan kehamilanku. Dan rupanya, aku bukan pasien pertama. Di dalam ruang persalinan, sudah ada ibu lain yang sedang menanti kelahiran bayinya.

Sementara menunggu waktu kontraksi yang terus menerus, aku diminta menunggu di ruang rawat inap.

Kehamilanku kali ini, aku mencoba tabah dan pasrah. Dibandingkan dengan kehamilanku yang pertama, kehamilanku ini sedikit mengkhawatirkan. Karena badanku dan bayiku cukup besar, sebenarnya dokter kandungan menyarankanku untuk operasi cesar. Bayinya terlalu besar, katanya.

Oh no…aku tidak mau dioperasi. Pengalaman operasi cesar kakak dan adikku membuat nyaliku ciut kalau harus dioperasi. Maka dari itu aku meminta pertolongan Bidan Oom, yang kata orang orang di sekitar rumahku, sebesar apapun bayinya, dia bisa membantu proses kelahiran secara normal.

Aku sudah gelisah dari saat masuk ke kamar ini. Mencoba tidur dan memejamkan mata, rasanya sulit sekali. Miring ke kanan salah. Miring ke kiri salah. Akhirnya yang ada aku terduduk saja sambil menanti datangnya pagi.

Suamiku yang menemani di sampingku mencoba menabahkan hatiku.

“Pak, jangan pulang dulu ya…Nunggu bayinya lahir.”
“Iya…pasti ditungguin…”
“Adam gimana?”
“Sebentar lagi aku telepon Teh Teti deh, sesudah Shubuh nanti...”

Dalam penantianku itu, aku bolak balik ke kamar kecil.

Jam di dinding kamar rawat ini sudah menunjukkan jam 5.00. Aku masih belum merasakan mulas yang luar biasa. Aku mencoba berjalan keluar kamar menuju kamar mandi. Terdengar suara ibu yang sebelumnya datang sedang mengerang di kamar persalinan.
Ya Allah…kuatkan aku…

Jam 5.30, terdengar tangisan bayi. Subhanallah, ibu yang itu sudah melahirkan.

Sementara itu, kontraksiku sudah lumayan sering terjadi. Di tengah erangan kesakitanku, aku mencoba istighfar untuk mengurangi sakitnya.  

Aku semakin ga kuat menahan rasa sakit kontraksiku. Aku meminta suamiku untuk memberitahu suster. Saat suamiku berjalan keluar untuk memberitahu suster, salah seorang suster keburu masuk untuk menjemputku masuk ke dalam kamar persalinan.

Jam 06.00 aku masuk dan berbaring di ranjang itu. Punggungku terasa dingin, karena hanya memakai selembar kain bersalin. Suster yang ada di dalam ruangan itu berjumlah 2 orang.

“Temenin aku ya, pak?” pintaku pada suamiku yang berdiri di samping kananku.

“Iya…”
“Jangan pergi…” tanganku menggenggam tangannya
“Iya..aku ada disini…”jawabnya menenangkan hatiku yang mulai merasa ga tenang.

Salah seorang suster memeriksa pembukaan rahimku. Tampaknya dia ga begitu yakin. Kemudian memanggil Bidan Oom. Kemudian Bidan Oom memeriksaku kembali.

“Ibu sudah pembukaan lengkap. Dari jam berapa kerasanya?”tanyanya padaku yang sibuk beristighfar menahan sakit.
“Kerasanya sih dari jam 2. Jam 5 tadi udah mulai sering.”
“Hm….udah kerasa mules?”tanyanya dengan tenang.
“Mules gimana?”
“Mules mau melahirkan…” tanyanya sambil tersenyum.
“Ha? Gimana ya? Aku lupa…” kataku dengan tidak yakin.
“Mules yang….” kata Bidan Oom mencoba meyakinkanku….masa sih aku ga tau…mungkin nadanya seperti itu..
“…em…seperti mau pup?” tanyaku ga yakin. Melahirkan Adam sudah lima tahun yang lalu. Aku tidak ingat bagaimana rasanya.
“Ya…” jawabnya mantap.
“Belum…” kataku dengan suara tertahan.

Salah seorang suster menghampiriku. Mengecek tekanan darah. Mengukur diameter perutku. Aku dengar dia menggumamkan sesuatu. Kemudian berbincara dengan Bidan Oom.
“Diperkirakan berat bayi 3,8 kg ya Bu…”
“Ya…Dokter Karlina kemarin juga bilang seperti itu…Dan karena bayinya besar, harus cesar, katanya…Aku takut…Ga berani…”
“Insya Allah bisa normal. Kalau ada apa apa, mobil Ibu sudah siap di depan untuk ngantar ke Rumah Sakit Al-Islam.”
“Semoga jangan cesar ya, Bu…Saya pengen normal…”
“Insya Allah…”

Bidan Oom kemudian memeriksa kembali keadaan rahimku.
“Bu…ketuban ibu belum pecah. Saya pecahkan ya…”
“Ha…?” dan sebelum aku sadar dengan arti ucapannya, aku merasakan ada aliran hangat di sela sela kakiku.
“Owh…airnya sudah hijau…” kata Bidan Oom bersuara pelan.
“Ha..?” tanyaku heran.
“Ini tanda kalau bayinya kelamaan di dalam Bu…”
Aku melihat suamiku dengan khawatir. Dia juga sama khawatirnya dengan aku kelihatannya.

Ga lama, Bidan meminta suster untuk menyiapkan infus.

Terdengar dering telpon dari lobi depan rumah si Bidan. Terdengar teriakan suaminya memanggil.
“Bu…dari Dokter Karlina.” serunya.
 Bidan Oom segera keluar ruangan. Hampir berlari kukira.

Dokter Karlina adalah dokter kandunganku. Dia yang menyarankan aku untuk operasi cesar. Tapi, karena aku tidak mau, aku memintanya untuk bisa melahirkan secara normal di Bidan binaannya, ya Bidan Oom ini. Dan tampaknya pagi ini dia punya firasat kalau aku mau melahirkan, jadi dia menelpon ke rumah Bidan Oom untuk menanyakan kondisiku.

Begitu kembali ke ruangan bersalin, Bidan Oom segera menyiapkan infuse yang sudah tersedia di samping kiriku untuk dipasang.
“Aku mau diapakan?” tanyaku heran. Waktu melahirkan Adam dulu, aku ga pake diinfus seperti ini.

“Kontraksi Ibu jelek. Padahal sudah pembukaan lengkap. Harus dirangsang.”’
“Diinduksi?” tanyaku ngeri. Selama ini, bayangan dirangsang atau diinduksi, istilah yang aku tahu, selalu mengerikan. Memberikan efek yang luar biasa sakitnya, kata adikku, yang pernah mengalaminya.
“Sakit ya?”tanyaku lebih lanjut. Tatapanku beralih kepada suamiku yang menunggu dengan khawatir di samping kananku.
“Sabar ya, Bu…” kata suamiku berusaha menenangkanku.

Salah seorang suster kemudian menancapkan jarum infuse di tangan kiriku.

“Biasanya sebentar kok Bu. Ga sampai satu jam, kalau kondisi ibu bagus.”
“Apanya yang sebentar?” tanyaku masih dengan khawatir.
“Ya, diinfusnya. Karena setelah diinfus pasti udah kerasa.”
“Kerasa apa suster?”
“Ya, kerasa mau pup, Bu…”
“Ibu hitung deh, berapa tetes yang masuk. Kalau ibu sudah mulai berasa, kasih tau ya Bu…”

Satu…Dua…Tiga…Empat…Lima……………….Dua Puluh…
“Astaghfirullah…Pak….udah kerasa…”
“Sudah kerasa, Bu?” Bidan Oom sudah siap menerima kedatangan bayiku.
“Sudah…”
“Ya udah, keluarkan aja.”
“Ha….? Gimana…..”
“Ibu ngeden seperti mau pup ya…”

Aku melirik suamiku. Tangannya kugenggam erat sekali. Tangan suster di sebelah kiriku juga kugenggam erat sekali.
“Eeeerrrggghhh….” aku mencoba mengeluarkan apa yang ada di dalam perutku.
Ada rasa panas di bawah badanku.  Sakit sekali.

“Sudah keliatan, Bu…” suara Bidan terdengar di sela eranganku.
“Apa yang kelihatan, Pak?” tanyaku pada suami di sebelahku.
“Rambutnya, Bu….”suara suamiku terdengar berharap dengan cemas.
“Ha?”

“Ibu jangan berhenti…Ayo coba lagi…”

“Eeeerrrgghhh…..” kali ini eranganku kucoba lebih panjang.
“Sedikit lagi Bu….yaaaahhh….masuk lagi…”

Ga kuat.
“Apa yang masuk lagi, Pak?”
“Tadi kepalanya sudah hampir keluar. Tapi pas ibu berhenti, dia masuk lagi…”
“Ya Allah…Kok susah sekali….” tangisku keluar…

“Bu…mending kontraksi yang selanjutnya ditahan dulu ya…Sampai Ibu siap ngeden yang lama…”

“Astaghfirullah….” aku memandang suamiku sambil menangis…Susah sekali ya….
“Sabar ya Bu….”katanya mencoba menenangkanku.

Aku melewati rasa sakitku selama tiga kali dan mencoba bersiap siap.

“Bu…aku mau coba lagi…”
“Hayo Bu..kali ini sekaliguskan ya…Jangan sampai cesar, Bu…”suara Bidan Oom terdengar menyemangatiku.

“Eeerrrrrgggggghhhh…” aku mengerang sambil menutup mata. Ada rasa panas yang hebat di antara kedua kakiku..
“Stop..stop…Bu…”
“Ada apa? Kenapa? Kenapa Pak…?”tanyaku penuh khawatir. Kenapa?
“Kepalanya macet…”
“Astaghfirullah….Trus… harus gimana?” tangisku tak tertahankan..

Aku mencoba melihat apa yang terjadi. Kulihat tangan Bidan Oom mencoba menarik sesuatu di antara kakiku. Suster di sampingku naik ke ranjang, berlutut di samping kepalaku.
Aku ga ingat berapa lama saat saat seperti itu.
Sampai Bidan berbicara.
“Coba lagi ya, Bu…Kali ini lebih lama…Vi….siap dorong ya” katanya kepada suster yang ada di samping kepalaku.
“Astaghfirullah..Bismillah…..EEeeeerrrrrgghhh…..” entah berapa lama kemudian ada rasa yang plong dari perutku….

“Alhamdulillah Bu…Laki laki…tapi……”suara Bidan Oom terdengar khawatir.
“Pak….Kenapa?”aku bertanya kepada suami yang masih kugenggam tangannya dengan erat.
“Bayinya udah keluar Bu…Daud udah keluar….tapi ga ada suaranya….Ga nangis…Badannya biru.”
“Ha…? Astaghfirullah….” air mataku keluar deras saat melihat Bidam Oom sibuk menepuk nepuk Daud, bayi yang baru aku lahirkan. Badannya dibolak balik. Pantat dan dadanya ditepuk tepuk. Selang yang masuk ke dalam mulutnya digerak gerakkan. 

“Ayo…bangun!…bangun….! Ayo…nangis!…nangis….!! Bangun, sayang….” terdengar suara Bidan Oom berbicara sambil tetap menepuk nepuk dada dan pantat Daud.

Kulihat suamiku menitikkan air matanya. Sama sepertiku.
Duuh…kalau Daud ga hidup, gimana…? pikirku khawatir….Ya Allah….Jangan dulu ambil Daudku…

Serasa menunggu lama sekali, sampai akhirnya kudengar suara batuk disertai tangis dari Daud, bayi yang keluar dari rahimku. Warnanya yang semula biru keunguan berangsur angsur putih dan merah muda.  Alhamdulillah…

“Alhamdulillah….Vi…bersihkan bayinya ya…”suara Bidan Oom terdengar lega.
“Alhamdulillah….” seruku bercampur tangis.

“Lho….balinya mana?”
“Apa, Bu?” tanyaku tidak mengerti.
“Ari ari bayinya…Kok ga ikut keluar…?” tanyanya heran.
“Ha? Astaghfirullah…” aku menatap suamiku dengan heran, khawatir, sedih dan meminta dukungan. Belum berakhir rupanya.

Aku lihat, lengan baju Bidan Oom ditarik sampai ke atas.
“Saya cari ya Bu…”
“Ha?”
Belum sadar sepenuhnya apa yang akan dilakukannya, aku merasakan ada yang aneh di perut kananku. Aku lihat tangan Bidan masuk ke dalam perutku.
“Disini ga ada…”
“Ha?”
Ada yang berasa aneh lagi di perut kiriku.
“Disini juga ga ada…”
“Ha?”
Kemudian, saat rasa aneh ada di bagian bawah perutku. Bidan mengangkat kepalanya dan berkata kepadaku..
“Ngeden sekali lagi ya Bu…”
“Ha?”

“Kali ini Ibu harus ngeden lagi, untuk ngeluarkan ari arinya…”
“Owwh….” aku baru sadar apa yang dimintanya.
“….eeerrgghhh….”erangku sambil mengejan. Tidak lama seperti tadi.

Saat itu aku melihat dia menggenggam sesuatu.
“Ini yang harus keluar Bu. Ari ari bayi.  Kalau ini ga keluar, bisa bahaya….Tolong urusin, Vi…” serunya kepada suster yang membantunya kemudian menyerahkan ari arinya.

“Bu…sekarang saya jahit ya…sakit sedikit…tahan ya Bu…”
Mungkin untuk mengalihkan rasa sakit jarum yang menusuk pada jalan lahir Daud, Bidan Oom mengajak ngobrol aku dan suamiku.
“Ya Allah…ibu khawatir sekali tadi…”katanya membuka pembicaraan.
Aku memandang suamiku yang masih tetep setia ada disampingku.
 “Berapa lama Bu, tadi Daud ga bersuara…”tanyaku. Aku sudah memberinya nama Daud sejak masih berdiam di dalam rahimku. Berharap dia kuat seperti Nabi Daud.
“Ga tau…Ibu ga lihat jam…” katanya mencoba berkonsentrasi.
“Auw…sakiiiit…” erangku menahan sakit karena tusukan jarum.
“Bu…untung namanya Daud. Dia sudah kuat saat keluar dari rahimmu.” kata suamiku menenangkanku.

“Bu…Daud nangis…lapar kali, Bu…” tanyaku sambil menatap Daud dengan sedih yang berada di kasur bayi jauh di ujung kamar.
“Gapapa Bu. Biar paru parunya kuat dulu. Dia tadi terlalu lama diamnya. Biar paru parunya menghirup oksigen dulu. Baru nanti dinenenin…”
“Kasihan…” tangisku sambil memandang iba padanya…
“Nanti bu, gapapa…”Bidan Oom mencoba menenangkan perasaanku.

Lama aku memandang Daud….Kasihan….Dia pasti lapar…
“Air ketuban ibu tadi sudah hijau. Itu tanda ga bagus buat bayi.  Apalagi ga pecah. Dan harus dipecahkan.”
Aku memandang suamiku.
“Iya, Pak?”
“Ya…tadi bapak lihat Bu Oom menyentil…trus ada air yang keluar..”
“Ya Allah….”

“Suami ibu yang tadi pulang lo…Ga berani nungguin istrinya melahirkan.” Bidan Oom terus mengajakku berbicara. Mungkin benar benar untuk mengalihkan rasa sakit karena ditusuk tusuk jarum untuk menjahit bagian yang robek.
“Ohya?” tanyaku heran.
“Iya..padahal yang dilahirkannya anak ketiga. Si bapaknya tetep aja ga berani ngelihat.”
Aku melirik suamiku. Subhanallah…suami yang tabah juga ya, dia…
“Kalau dia harus nemenin saya Bu…Kalau ga nemenin,…wah…ga tahu deh…bakal gimana…” aku tersenyum sambil memandang suamiku dengan perasaan yang …..ga tau deh…:P

Daud masih menangis di dalam boks bayinya.
“Bu…boleh dinenenin ga?” tanyaku kasihan melihatnya.
“Iya nanti, Bu. Sebenernya belum boleh karena Ibu tadi diinfus. Takutnya di air susunya ada obat infusnya.”
“Tapi nanti boleh bu, setelah selesai dijahit…”
“Kok ga selesai selesai sih Bu..?” tanyaku heran. Dulu, saat melahirkan Adam, kayaknya ga selama ini deh jahit menjahitnya…
“Robek Ibu besar dan panjang. Luar dan dalam. Makanya lama…”
“Ha…?”pantes…..sakitnya bukan main….

Dan seperti menunggu berabad abad, akhirnya selesai juga Bidan Oom menjahit bagian yang terbuka saat melahirkan Daud.
“Berapa jahitan, Bu? Kok lama banget ya…” tanyaku ingin tahu.
“Ga usah tahu laah… Bisa syok nanti…”
“Ha…?”
  ***
Namanya Daud Malik Abdurrahman. Kami sudah memberi nama itu sejak dia masih berada dalam kandunganku. Kuberi dia nama Daud, supaya kuat dan gagah berani seperti Nabi Daud. Malik artinya raja. Berharap dia bisa menjadi pemimpin yang baik. Abdurrahman kami tambahkan supaya dia menjadi hamba Allah yang mempunyai kasih sayang kepada sesama.

Hari Jumat Pahing tanggal 13 Juni 2008, jam 07.00 dia lahir menghirup udara pertamanya.  

Setiap mengingat proses kelahirannya, aku masih belum bisa untuk tidak menitikkan air mata. Perjuangannya untuk hidup. Perjuangannya untuk menemui bapak, ibu, kakak dan saudara saudaranya begitu besar. Dan aku salut padanya.

Badannya memang sempat membiru. Tapi, kemudian dia menjadi merah muda. Dan sampai saat ini dia sudah memberi warna lebih banyak untuk hidupku. Hijau, kuning, biru, abu-abu, hitam, putih….seperti warna pelangi deh…mejikuhibiniu…hehehe….

Sifatnya sampai saat ini benar benar gabungan dari nama yang disandangnya. Dia pemberani. Ga mau kalah kalau ada yang ngajak berkelahi. Kadang-kadang malah berasa jadi Raja kalau sedang ga ada kakaknya. Sifat penyayangnya terlihat kalau menonton film binatang yang disakiti. Dia bisa merasa kasihan. Itu membuatnya disayang oleh tante, uwa dan saudara saudaranya yang lain….

Happy Birthday, Son…
Semoga panjang umur….Sehat selalu….
Perjalanan hidupmu masih panjang….masih akan banyak hal yang akan dilewati…
dan semoga aku masih tetap ada untuk melihatmu besar…sekolah…bekerja…kawin dan punya anak…
hehehe…
^_^ 
Luv u…..

0 komentar:

Post a Comment