Breaking News

15 February, 2012

Daster Impian Yu Djirah




Ketika itu aku masih duduk di semester pertama  kuliahku di Fakultas Kedokteran Hewan UGM Yogyakarta.  Ada satu peristiwa yang sampai sekarang masih bisa membuatku “miris” bila mengingatnya. Kisahnya mengenai Yu Djirah, yang bekerja sebagai tukang masak dan bersih-bersih di kost-kost an ku kala itu,  di daerah Blimbingsari, Yogyakarta.
Yu Djirah adalah seorang perempuan Jawa asli, Ibu dari dua orang anak laki-laki, bersuamikan seorang pedagang bakso keliling. Mbakyu Djirah digaji oleh kami para anak kost secara urunan, dengan tugas memasak  dan bersih-bersih di kost-kost an yang dihuni oleh empat belas orang remaja  puteri itu.
Setiap pagi Yu Djirah akan datang ke kost-kost an  untuk  mengambil uang belanja dan langsung bersepeda menuju pasar. Sepulang dari pasar ia akan mulai memasak lauk makan siang dan malam kami, disambung dengan melaksanakan tugas membersihkan kost-kost an. Biasanya semua tugas itu diselesaikannya sekitar jam tiga sore. Setelah ngobrol sejenak untuk melepas lelah dengan anak-anak kost yang kebetulan sedang berada di rumah, Yu Djirah akhirnya meninggalkan kost-kost an kami dan pulang ke rumahnya , sambil membawa jatah hariannya, satu porsi lauk yang dimasaknya pada hari itu, sama persis dengan lauk kami.
Kamar tidurku yang kebetulan terletak paling dekat dengan dapur, tempat yang menjadi pusat aktifitas Yu Djirah sehari-hari, membuat aku menjadi salah satu penghuni kost-kostan yang cukup  akrab dengan dia, karena paling sering diajak ngobrol. Macam-macam hal yang menjadi topik obrolan kami. Biasanya Yu Dirah akan mendatangiku yang sedang duduk santai di depan kamar kost sambil memegang diktat kuliah yang kubaca sambil terkantuk-kantuk. Dengan senyum dan gaya khasnya dia akan duduk bersimpuh di dekat kakiku, dan…ini yang paling kusukai…. mulai memijati kakiku sambil membuka topik obrolan kami.
Sekali waktu ia bercerita tentang betapa susahnya mengajari anaknya yang nomor satu, Djiyono untuk belajar membaca. Ya bagaimana tidak susah, Yu Djirah kan buta huruf….
Akhirnya dengan nada memelas ia meminta tolong padaku agar mau meluangkan  sedikit waktuku di sore hari untuk mengajari anaknya membaca. Ketika masalah Djiyono sudah terpecahkan (Djiyono cukup cerdas sehingga aku tidak perlu waktu lama untuk membantu ia agar “melek huruf”), Yu Djirah menjadikanku tempat curhat nya akan susahnya  kehidupan berumah tangga dengan Pak Koyo, suaminya.
 Sebagai seorang pedagang bakso keliling, tentu saja suaminya tidak bisa menjanjikan penghasilan tetap. Penghasilan yang tidak menentu itu selalu membuat Yu Djirah kewalahan mengelola keuangan rumah tangga mereka. Urusan uang kontrakan  rumah dengan satu kamar yang mereka tempati, biaya sekolah Djiyono, belum lagi belanja sehari-hari, semua itu membuat pusing Yu Djirah.
            Aku pernah sekali waktu datang mengunjungi Yu Djirah di rumahnya. Bangunan yang disebut rumah itu terbuat dari tepas yang terdiri dari dua ruangan saja, satu ruangan  untuk kamar tidur, dan satu lagi ruangan sempit  yang dijadikan dapur oleh Yu Djirah. Benda yang mengisi rumah mereka hanya sebuah tempat tidur tanpa kasur, lemari pakaian yang reot dan kompor minyak beserta beberapa perlengkapan masak yang dipakai untuk mengolah bakso dagangan suaminya.
            Pendapatan seorang pedagang bakso keliling ditambah seorang isteri yang bekerja menjadi tukang masak dan bersih-bersih di sebuah rumah kost ternyata belum mencukupi untuk memberikan satu kehidupan yang layak bagi keluarga dengan dua anak itu.
“Berdagang bakso keliling itu ngenas tenan kog Mbak…..”, ucap Yu Djirah satu ketika.
“Kalau sedang apes bisa-bisa satu hari itu cuma laku tiga mangkok….,bayangkan mbak, satu harian jualan muter-muter dari pagi sampe sore yang laku cuma tiga mangkok…,apa nggak ngenas Mbak….”, tambahnya lagi padaku, geregetan dengan ceritanya sendiri.
Aku yang mendengar cerita Yu Djirah hanya bisa termangu, mencoba membayangkan pemandangan ini dalam benakku. Pak Koyo mendorong gerobak baksonya yang sudah lusuh penampilannya karena memang sudah tua, berkeliling sekitar kampus UGM di Blimbingsari, dari jam sepuluh pagi sampai sore, dan hanya berhasil menjual tiga mangkok bakso….
Ah…mungkin karena sudah banyaknya jumlah pedagang bakso, mie ayam, siomay dan aneka macam jajanan lain yang masing-masing saling bersaing untuk mendapatkan pembeli, membuat bakso dagangan Pak Koyo terkadang hanya kebagian tiga orang pembeli…itu kesimpulan sementaraku.
Tetapi eits…. ada satu alasan lagi yang menurutku malah kemungkinan menjadi penyebab utama bakso dagangan Pak Koyo kurang begitu sukses meraup pembeli di kawasan Blimbingsari ini.
Penanpilan gerobak bakso Pak Koyo sungguh amat tidak menarik. Gerobak itu terbuat dari kayu  yang sudah tampak lapuk dan reot,  warna catnya juga sudah luntur ,belum lagi “stelling” kaca yang menjadi tempat mie dan baksonya, duh…sudah buram betul penampilannya.
 Itu semua belum cukup, Pak Koyo yang sudah berumur empat puluh tahun lebih itu, penampilannya juga tidak kalah lusuh dibandingkan dengan gerobak baksonya. Kulitnya yang hitam dengan rambut yang agak acak-acakan, berkumis dan berjenggot pula,dengan baju dan celana lusuh, sedikit banyak pasti mengurangi minat orang untuk membeli baksonya.
Bagaimana tidak, setelah kuingat-ingat rata-rata penjual bakso dan makanan lain yang sering lewat di depan kost-kost an kami rata-rata berusia jauh lebih muda  jika dibandingkan dengan Pak Koyo, dengan penampilan yang jauh lebih menarik pula.
Pendek kata, lebih segar, bersih dan ceria  jika dibadingkan dengan penampilan Pak Koyo.
Walaupun mungkin dari segi rasa dan harga bakso Pak Koyo tidak kalah bersaing dengan yag lain tetapi aku yakin besar kemungkinan penampilan fisik gerobak bakso dan pedagangnya itulah penyebab utama kurang lakunya bakso dagangan Pak Koyo…
Sebenarnya aku memiliki keinginan untuk menyampaikan hasil analisaku itu pada Yu Djirah, tetapi memikirkan aku sendiri tidak akan bisa memberikan jalan keluarnya (aku merasa yakin bahwa sebenarnya gerobak Pak Koyo yang sudah lusuh dan reot itu sudah harus diganti dengan yang baru, dan itu membutuhkan uang yang tidak sedikit, dimana aku jelas-jelas tidak bisa membantu), akhirnya niat itu aku urungkan.
Jadilah Yu Djirah tetap dengan keluh kesahnya, mengeluhkan bakso dagangan suaminya yang jarang sekali bisa habis terjual.
Selain topik obrolan favoritnya di atas, ada satu hal lain yang sesekali diungkapkannya padaku. Yu Djirah sangat menyukai salah satu daster yang sering kupakai. Daster berwarna “jambon” dengan aksen renda di bagian lehernya. Daster dari bahan katun itu dibelikan ibuku ketika aku akan berangkat dari Medan untuk kuliah di Yogya. Karena bahannya yang nyaman aku memang cukup senang dan sering memakainya.
Tiap kali aku kebetulan memakai daster “jambon” itu, biasanya Yu Jirah tidak pernah lupa melontarkan pujian.
“Wah….Mbak Nanda nek ngangge daster jambon sik niki , wis….dadi ayu tenan Mbak…,”ucapnya bersemangat.
“Daster Mbak Nanda yang ini kog ya bagus tenan tho yo Mbak…,”ucapnya di lain waktu.
Ya, Yu Djirah memang sangat menyukai daster “jambon” ku itu. Hal yang agak mengherankan juga sebenarnya, karena kalau menurut pendapatku sebagai si pemilik daster, tidak ada sesuatu yang istimewa dari daster “jambon” itu kecuali bahannya yang dari katun dan nyaman dipakai. Model dan warnanya biasa-biasa saja. Masih banyak daster anak kost lain yang  aku yakin lebih menarik warna maupun modelnya, tetapi tetap saja bagi Yu Djirah, daster “jambon” ku itu adalah daster paling top di kost-kost an kami.
Karena seringnya Yu Djirah mengekspresikan kesukaannya akan si daster “jambon”, akhirnya hatiku luruh juga. Aku berniat untuk memberikan dasterku itu pada Yu Djirah. Sebenarnya berat juga rasa hatiku untuk memberikan daster pemberian ibuku itu pada Yu Djirah. Tetapi membayangkan reaksi terkejut dan senang yang  akan dirasakan Yu Djirah  begitu tahu ia akan memiliki daster yang dikaguminya itu akhirnya membulatkan tekadku untuk menghadiahkan daster “jambon” itu padanya.
“Masya Allah……!!”.
“Tenan iki Mbak…..?”, adalah reaksi pertamanya ketika kukatakan bahwa ia boleh memiliki daster “jambon”ku,
Selanjutnya… “Aduh Mbak…….., matursuwun sanget Mbak…..,”dengan terbata-bata sambil menahan tangis ia menerima daster impiannya itu dari tanganku.
Aku hanya bisa tersenyum menyaksikan reaksi Yu Djirah, wajahnya berseri-seri karena senangnya. Sepanjang hari itu tidak henti-hentinya ia bolak-balik mengucapkan matursuwun kepadaku.
“Nanti sore bakal langsung saya pakai Mbak…”, ucapnya hari itu sebelum permisi pulang padaku.
Selama dua hari berikutnya suasana hati Yu Djirah masih tetap diliputi kegembiraan dan kebahagiaan . Tentu  saja karena daster impian yang sekarang sudah jadi miliknya itu.
Tetapi di hari ke tiga setelah hari yang sangat membahagiakannya itu, pagi-pagi sebelum berangkat ke pasar, sesudah mengambil uang belanja Yu Djirah mengetuk pintu kamarku.
“Mbak Nanda…..,”panggilnya lirih.
Aku yang mendengar suaranya tentu saja merasa heran. Tidak biasanya Yu Djirah di pagi hari begini datang menemuiku. Biasanya ia selalu bergegas berangkat ke pasar karena takut terlambat memasak makan siang kami.
Segera kubuka pintu kamar kost ku.
“Mbak…….hu..hu…hu……aduh Mbak……nasibku kog selalu ngenas ngene tho Mbak…..Seumur-umur baru ini aku ngerasakke punya baju bagus Mbak…..,”sedu-sedan tangis Yu Djirah membuat aku kesulitan menangkap apa yang diucapkannya selanjutnya. Kedua belah tanganku dipegang dan diguncang-guncangkannya. Air mata mengalir deras dari kedua matanya yang tampak sembab dan bengkak, mungkin karena tangis.
“Yu…..diem dulu tho Yu…..,”ucapku berusaha menenangkanya.
“Yu Djirah……, ayo duduk dulu, berhenti dulu menangisnya…..saya nggak ngerti Yu ngomong apa….”, tambahku lagi sambil menuntunnya agar duduk di kursi plastik hijau yang terletak di depan kamarku.
Sambil menghapus air mata yang masih terus berjatuhan membasahi wajahnya, Yu Djirah tampak berusaha menenangkan dirinya.
“Mbak….sebelumnya saya minta maaf sama Mbak Nanda…., daster jambon yang Mbak berikan ke saya kan sudah dua hari terus-terusan saya pake Mbak….”.
“Lha kemaren sebelum berangkat kerja saya mencuci pakaian dulu di rumah , termasuk daster jambon saya itu, ikut saya cuci dan dijemur di belakang dapur…, selama ini semua pakaian  selalu saya jemur di situ tho Mbak”, perlahan Yu Djirah bercerita padaku.
“Kemarin sore pulang kerja dari kost-kost an saya langsung ke belakang dapur rumah saya, niatnya mau mengangkat jemuran Mbak……,”sampai di bagian ini Yu Djirah kembali menangis terisak-isak.
“Mbak…..daster jambon yang baru Mbak kasih hilang Mbak, dicuri orang dari jemuran…..”, ucapnya sambil kembali menangis terisak-isak.


Cibubur, Oktober 2011.

Catatan :
Jambon = warna merah muda, pink
“Wah….Mbak Nanda nek ngangge daster jambon sik niki , wis….dadi ayu tenan Mbak…= Wah..Mbak Nanda kalau memakai daster merah muda ini terlihat cantik sekali
Matursuwun = Terima kasih

0 komentar:

Post a Comment