Breaking News

22 February, 2012

Dari Jendela Dapurku: Bunga Kecil

By Agnes Bemoe  
Seperti biasa, sambil menunggu gorenganku matang, aku suka bertengger di jendela kecil di dapurku. Di luar jendela ada taman kecil yang isinya tanaman-tanaman kesukaanku. Tak sepenuhnya tepat bila disebut “taman”, karena itu hanyalah kelebihan tanah sekitar satu meter dari rumah BTN-ku. Namun, aku memenuhinya dengan tanaman-tanaman hijau; sri rejeki, lidah mertua, sirih belanda, dan juga bunga-bungaan seperti mawar dan melati. Seperti kubilang tadi, aku suka memandangi taman mungilku itu, terutama bila sedang menunggui masakanku matang.

Dan, di sanalah kulihat dia. Berdiri dengan manis dan anggun. Kelopak ungunya belum sepenuhnya mekar, bergantung di tangkai kehijauan. Terus terang, aku terkejut! Surprised!
Bunga itu, sudah kutanam lama sekali. Aku suka pada keindahan warna ungunya. Aku berharap, suatu saat nanti aku akan melihatnya mekar dengan indahnya, di taman kecil di balik jendela dapurku.

Namun, harapanku sia-sia. Tanganku rupanya tidak cukup dingin untuk bisa menumbuhkan bunga itu. Ia hanya berbunga sebentar, lalu kering, layu, dan kemudian mati. Lalu, aku tak pernah lagi melihatnya berbunga…

Aku sedih setengah mati. Harapanku untuk menikmati kecantikan si ungu itu pupus sudah. Aku harus menerima kenyataan bahwa dia tidak bisa tumbuh di taman kecilku. Mungkin tanah di situ kurang tepat untuk bunga seperti dia. Mungkin aku kurang pandai merawatnya.

Aku sangat sedih. Namun, aku tetap tidak mau menggali dan menggantinya dengan tanaman lain. Tanah tempatnya tumbuh tetap kudangir, walaupun sudah tidak nampak lagi ada tanaman di situ. Rumput-rumput liar yang sempat tumbuh juga tetap rutin kucabuti. Sesekali, aku tetap menyiram tanah itu dengan air cucian ikan –resep dari ibuku- yang kata beliau sangat ampuh untuk membuat tanaman subur.

Lama sekali bagian tanah itu hanya menjadi sejumput lahan kecil yang kosong. Jangankan bunga, batangan-batangannya juga sudah tidak ada. Mungkin mengering sendiri, aku juga tidak tahu.
Sampai pagi ini, ketika aku sedang menunggui gorenganku matang, kulihat dia… Berdiri dengan manis dan anggun. Kelopak ungunya belum sepenuhnya mekar, bergantung di tangkai kehijauan. Dia masih ada! Dia belum mati! Bahkan, sekarang dia sedang berbunga!

Lama aku tercenung di tepi jendela. Entah kenapa aku jadi terpikir tentang diriku sendiri. Tentang usaha yang sedang kurintis. Tentang galaunya hatiku, melihat usaha itu belum juga membuahkan hasil. Kurasa, sekarang aku tahu: aku juga hanya harus tekun menyirami dan mendangiri apa yang sekarang sedang kuupayakan. Tekun. Tekun. Tekun. Jangan pernah terpikir untuk berhenti dan berputus asa. Seperti si ungu yang cantik itu, suatu saat usahaku pasti akan berbunga!

Kembali kupandangi si ungu nan cantik di sana. Aku segera keluar, kuelus kelopak kecilnya. Kubisikkan kata “terima kasih”.
Kutahu, ia mengerti.


Pekanbaru, 3 Mei 2011
8:15
Agnes Bemoe

0 komentar:

Post a Comment