Breaking News

22 February, 2012

Dangdut Is Music of My Country – Part 2 The 1st Wedding Singer

Suatu hari pernah kakek saya pulang dari kondangan sambil marah-marah. Selidik punya selidik (tapi tidak pake bibir menyon kayak di insert investigasi), ternyata kakek merasa jengah dengan para wanita penyanyi dangdut di acara kondangan tersebut. Maklumlah, kakek saya biasa menjadi Imam Masjid, hingga pemandangan wanita berpakaian ketat sekali (hingga kadang membuat saya bertanya-tanya apakah ia takkan merasa sesak napas) dan bergoyang-goyang di hadapannya tentu sangat tak bisa diterima secara akal sehat. Kasihan kakek.

Fenomena para wanita wedding singer menjadi sebuah cerita yang menoreh saya. Bukan karena mereka gagal menyanyikan lagu dangdut favorit saya (yaitu “Terajana”). Bukan pula karena mereka tiba-tiba ‘keselek’ ketika nyanyi hingga cengkoknya berubah beberapa oktaf jadi metal. Bukan itu. Karena tiga wanita yang saya kenal berprofesi sebagai salah tiga dari mereka.

Dua orang dari mereka adalah sahabat masa kecil saya. Wanita pertama, kita sebut saja Bunga (tanpa bermaksud menyontek gaya berita pelecehan di koran). Bunga, sahabat saya yang energik dan menyenangkan. Waktu saya kecil, iri sekali melihatnya yang begitu lincah dan supel. Bukan berarti saya ga supel, saya sih tetep asyik dari dulu (ehem) tapi jika jadwal bermain keluar diatur ketat (oleh nenek-kakek), jadinya yah kerja saya di rumah saja, baca buku, jarang main gundu atau berburu duku. Jadilah Bunga teman masa kecil yang teramat dekat dengan saya.

Bunga sebenarnya anak yang cukup pintar, tapi kurang beruntung secara finansial. Tamat SD aja sudah pas-pasan. Meski begitu, dia oke-oke aja, masih ketawa haha-hihi bareng saya. Di SMP, ia mulai menjalin cinta dengan salah seorang teman kami juga (beberapa tahun lebih tua darinya), masih sekampung. Seperti layaknya sinetron, orangtua si pemuda tidak setuju karena menganggap Bunga tidak ‘selevel’. Back-street lah mereka. Namanya remaja, semakin ditentang semakin menerjang. Akibatnya? Gampang ditebak. Bunga hamil selulus SMP dan kampung saya rasanya seperti petasan menjelang bulan Ramadhan. Rame banget. Meski jaman dulu belum ada twitter, bisa saya katakan masalah hamilnya Bunga terus-terusan jadi trending topic selama beberapa waktu.

Apakah setelah itu mereka menikah? Tentu saja. Pagi harinya mereka mengucapkan ijab kabul, sore harinya sudah bercerai. Luar biasa. Kakek saya yang adalah salah satu orang tua yang disegani sampai kesal karena kekerasan hati ‘mertua’ Bunga yang tetap teguh pada pendiriannya. Persis seperti orang kulit hitam yang terhina jika dipanggil “nigger”, terhina juga keluarga itu dengan keberadaan Bunga, teman saya.

Hamil dan melahirkan tanpa suami. Tersia-sia dan menanggung malu, membuat teman saya menjadi berubah. Meski tetap ceria, namun setiap bertemu dengannya (kami masih sering ngobrol, jika saya punya waktu luang), saya bisa merasakan betapa susahnya ia. Sayang sekali saya tak dapat banyak membantu, selain menjadi pendengar setianya. Campur aduk perasaannya sering saya simpan di hati, menjadi kegetiran saya sendiri.

Cerita seperti ini memang jarang bisa happy ending. Karena pada akhirnya, Bunga teman saya menjadi salah seorang wanita penyanyi organ tunggal. Anda bisa bertemu dengannya di pesta-pesta pernikahan. Ia paling suka memakai baju berwarna menyala, biasanya merah. Anaknya sekarang empat (dia sudah menikah lagi), namun rupanya ia masih harus manggung sana sini supaya dapurnya ngebul terus.

Kasihan dia. Saya sudah jarang bertemu dengannya. Namun, terakhir kami ketemu; ia pernah mengatakan betapa bangganya ia melihat saya, yang terus sekolah dan menurutnya “sudah jadi orang”. Saya tahu sekali, dia juga (jika mungkin) ingin sekolah terus.

Dan tetap saja. Ia masih asyik orangnya.

Still continued ...