Breaking News

22 February, 2012

Dangdut Is Music of My Country – Part 1 (The “Image” and The Wedding Singer)

Bagi saya, Dangdut merupakan musik yang paling mudah dipahami namun teramat susah untuk dinyanyikan. Mengapa demikian? Karena semua orang akan gampang memahami Dangdut dibandingkan dengan (misalnya) Jazz. Untuk saya (dengan segala keterbatasan ini), hanya ada beberapa lagu Jazz yang saya suka, sisanya ga ngerti. Artinya, mungkin saya bukan jenis orang yang akan manggut-manggut di festival Java Jazz. Belum pernah sih saya ke festival itu, tapi ya kalau ada yang ngajak, tampaknya saya akan siap memasang tampang ‘sok-ngerti’ weleh .. weleh ..
Pernah seorang murid saya yang sangat suka bermusik (ia menguasai beberapa alat musik), meminta saya menghadiri resital pianonya. Saya belum pernah menghadiri acara semacam itu jadi saya senang sekali ketika pergi. Sesampainya di sana, saya dibikin terkagum-kagum dengan pertunjukkan yang ada, meski saya ga ngerti (menyedihkan memang). Tapi beneran deh, musik itu indah. Tunggu saja sampai saya nonton Jazz, nanti saya juga akan bilang begitu.

Nah, kembali ke soal Dangdut tadi. Menurut saya, lirik dan irama Dangdut tidak susah dicerna, gampang-gampang aja. Seperti makan mie instant, sudah pas takaran bumbu dan lain-lainnya. Soal mie instant beda rasa, kalo di Dangdut mungkin seperti perbedaan cengkok suara (ngaraang ... hehe).

Rasanya dari jaman saya kecil, Dangdut sudah ‘bergaung’ dimana-mana. Jenis musik seperti ska, kontemporer, metal, hardcore de el el, semua bergantung musim. Jika musim dingin biasanya pas ama musik metal karena menghentak-hentak bikin gerah. Jika musim panas asyiknya dengerin musik regge serasa di pantai (abaikan sajalah .. mulai ngaco nih).

Tapi, coba lihat Dangdut. Kagak ada matinya boo. Mau tua, mau muda, mau sedih mau bahagia, mau tentang perceraian, pernikahan sampai status sosial, semua ada lagunya (contohnya lagu “Termiskin di dunia”). Selain gampang dicerna, liriknya juga ‘polos’. Saya rasanya belum pernah menemukan lirik lagu Dangdut yang berhiaskan ‘metafora’. Semua disampaikan apa adanya. Benar-benar sama dengan ekspresi para penyanyi-nya di era 90-an, yang rata-rata bersahaja dan ‘pasrah’.

Dulu waktu masih remaja, saya ogah banget suka sama Dangdut. Gengsi dong. Rasanya ‘terhina’ banget jika kepergok menggumamkan lagu Dangdut. Padahal itu sering terjadi, karena entah kenapa meski saya ga suka, tapi lirik lagunya saya suka hapal tanpa sengaja. Wuaaaah ... susahnya jaga imej.

Bukan itu saja sih, memang beneran ga suka aja sama Dangdut. Saya pikir waktu dulu, ‘nih musik ga asyik banget’. Biasa-lah jaman remaja, namanya musik pasti lihat vokalisnya; cakep apa engga, lagunya ‘keren’ apa engga. Mana mau saya melirik lagu macam “sepiring berdua”.

Waktu berlalu dan sampai hari ini perasaan saya masih ‘garing’ aja sama Dangdut. Tapi ada lho yang berubah. Saya jadi mulai menikmati irama musik yang satu ini. Tak dapat dipungkiri pemirsa, jika Dangdut memang enak didengarkan rame-rame sambil cekakak-cekikik bersama teman-teman. Atau menyaksikan seorang teman yang kebetulan suaranya bagus bernyanyi Dangdut lengkap dengan cengkok dan gayanya. Tarik maaaaang ....!

Dan saya setuju dengan Project Pop yang bilang “Dangdut is the music of my country”. Meski tidak original dari negeri kita (kabarnya bersumber pada musik tabla di India), namun tak dapat dipungkiri bahwa Dangdut memang diapresiasi berbagai segmen, sodara-sodara.

Satu hal lagi yang tak lepas dari pengamatan saya. Sadarkah Anda bahwa sekitar 70 % (angka ngasal; ngira-ngira aja) undangan pernikahan yang kita hadiri, pasti mempertontonkan Dangdut dengan julukan ‘organ tunggal’. Sisanya ya kalau tidak nasyid, lagu-lagu pop. Bahkan di beberapa kampung, seisi desa menunggu-nunggu, ‘kapan lagi nih ada yang kondangan’, karena itu berarti mereka dapat tontonan gratis.

Terbayang kan? Kita duduk menyantap hidangan prasmanan sambil melihat si wedding singer geol-geol di depan. Percaya atau tidak, pemandangan seperti ini selalu saya nikmati. Untuk apa? Pertama, saya jadi tahu lirik lagu Dangdut terbaru. Kedua, saya suka memerhatikan orang-orang yang malu-malu (tapi mau) menggoyang-goyangkan kaki atau tangan atau kepalanya mengikuti irama.

“Kalau saja aku tahu .....
Salamah itu namamu ...
Takkan mungkin kuhadiri ...
Pesta perkawinan ini ...” Yuhuuuu!!
(Undangan Palsu – Caca Handika)     

To be continued ...