Breaking News

21 February, 2012

Dan, dan, dan

By Indah Utami  
Sambil berlari-lari kecil, sulungku menyodorkan sebuah buku padaku. Matanya tampak berbinar gembira saat ia berkata, ”Lihat ummi aku dapat nilai 9 untuk pelajaran matematika!”
Kualihkan pandanganku dari novel yang sedang kubaca.
“Hmm...bagus, kamu pintar nak, tapi harusnya kamu bisa dapat nilai sepuluh kalau saja tidak ada yang salah.”
Senyum yang sempat terlihat di wajahnya samar-samar menghilang.
”Yaah,aku kan sudah mengerjakan seperti yang diajarkan ummi, tapi kenapa bisa salah ya?”

Lain hari, Zaidan, anak ketigaku ‘membantuku’ memasak di dapur. Ia mencoba mengupas bawang putih. Dalam waktu lima menit, tiga siung bawang putih sudah berhasil dikupasnya.
”Aku pintar ya,bisa membantu ummi memasak,” teriaknya ceria.
“Iya sih...tapi lihat, kulit bawang putihnya kamu sebar kemana-mana. Dapurnya jadi kotor kan?”

Suatu ketika si kecil Muthia merebut sapu dari tanganku.
“Tia bica capu-capu kayak ummi!” teriaknya sambil menggoyang-goyangkan sapu ke kanan dan ke kiri. Alih-alih tambah bersih, sampah justru bertebaran kemana-mana.
“Terima kasih ya, Muthia sudah bantu ummi...tapi lain kali nyapunya pelan-pelan saja ya.”

Betapa seringnya aku mengucapkan kata ‘tapi,tapi,dan tapi’. Awalnya aku memang memuji kelebihan anakku, tapi seringkali tanpa sadar aku menyertakan kata ‘tapi’ di belakangnya.
“Hebat,kamu sudah bisa gosok gigi sendiri, tapi lain kali busanya jangan sampai mengotori kamar mandi ya.”
“Wah,kereeen, gambarmu bagus sekali, tapi menurut ummi hidungnya terlalu besar tuh.”
“Terima kasih ya sudah membelikan ummi garam, tapi besok lagi kembaliannya jangan buat jajan ya!”
Dan tapi-tapi yang lain.


Hingga suatu hari aku membaca sebuah artikel dalam Chicken Soup yang menceritakan bagaimana kata’ tapi’ bisa membuat seorang anak kehilangan semangat.
Jika sungguh ingin cinta kita mengalir pada anak-anak , mulailah berpikir dengan ‘dan,dan,dan.’

“Kamu pintar nak, dan ummi yakin kamu bisa lebih hebat lagi dengan semakin rajin belajar!”
“Terima kasih sudah membantu ummi, dan ummi akan sangat senang bila kau mau membersihkan sampah yang bertebaran itu.”
“Hebat, kamu sudah bisa gosok gigi sendiri, dan pasti lebih hebat bila busanya juga kau bersihkan!”

Kita perlu sadar bahwa kata ‘tetapi’ membuat orang merasa buruk-sedangkan ‘dan’ membuat orang merasa baik. Dalam kaitannya dengan anak-anak,membuat mereka merasa baik jelas merupakan tujuan kita. Apabila mereka merasa baik tentang dirinya dan tentang pekerjaannya, mereka bersedia mengerjakan lagi hal yang sama, percaya diri mereka terbangun, dalam membuat keputusan dan dalam membina hubungan yang harmonis dengan orang lain.

Sebaliknya, apabila segala yang mereka pikirkan, ucapkan,atau perbuat dicela atau direndahkan dengan cara apapun, kegembiraan mereka berkurang sementara kemarahan mereka bertumpuk.

Yakinlah, bila harapan anak-anak terus diasah secara positif dan kemudian mereka diajari, diberi teladan, dan diberi kesempatan berekspresi, hal-hal yang menakjubkan akan terjadi!

0 komentar:

Post a Comment