Breaking News

06 February, 2012

Curhatnya seorang anak




Saat itu, aku selesai sholat dhuhur di masjid sekolah. ketika seorang muridku menghampiri. Sekilas, kulihat wajahnya. Ada yang tidak biasa. Ada gejolak yang bergemuruh didadanya. Aku tanya, "ada apa, nak? "
Dia bilang lirih, "gak apa-apa bu".
Kutanya yang kedua kali dengan pertanyaan yang sama. kali ini dia memelukku. Dia menangis. Aku biarkan dia untuk sekedar membuatnya tenang.
"kerudung ibu jadi basah," isaknya.
"gak apa-apa," jawabku sambil kupeluk dia erat.
"Mau cerita? tanya ku lagi setelah dia tenang.
"orang tuaku, bu." jawabnya singkat.
Aku mengajaknya duduk.
"Bu, kalau kata ibu, buat apa kita belajar? tanya nya.
"buat bisa kan, bu? jawabnya pula. ah, sebetulnya dia ingin mencari penguatan tentang pendapatnya. dan akupun mengangguk mengiyakan.
"kalau orang tuaku bukan begitu pendapatnya." lanjutnya masih dalam isak.
"mereka menyuruhku belajar supaya aku mengejar nilai.nilai bagus yang mereka inginkan. Aku tertekan sekali bu.Bagaimana kalau ternyata nilai UAN ku kecil? pastinya mereka akan sangat marah dan kecewa." kali ini, tangisnya pecah lagi....
Ya Alloh, aku sungguh sangat bisa merasakan tekanan yang ada dalam jiwanya.
Aku memang sering menekankan pada murid-muridku, nilai bukanlah tujuan akhir dari belajar. ilmu yang harus mereka dapat ketika mereka belajar, bukan nilai. apalagi kalau nilai yang mereka dapat adalah hasil mencontek. Aku selalu pasang wajah sangar saat ulangan. memastikan mereka mengerjakan dengan jujur. walau kadang juga kecolongan. tapi, setidaknya aku sudah berusaha. "Kenapa mereka materialistis ya bu?", pertanyaan itu telontar dari mulut seorang murid kelas 9. Aku agak terkejut juga dengan pertanyaan itu.
Akhirnya, secara pelan-pelan dan hati-hati, aku bilang padanya," kamu udah coba bicara dengan mamah dan papahmu, nak?".
Dia menggeleng. "Aku gak berani bilang sama mereka. setiap kali mau ngomong, yang ada hanya rasa takut." Dia bicara begitu dengan terisak. "Cuma sama ibu saya bisa bicara begini," lirihnya.
Ya Alloh, anak sekecil ini.... dalam semangat belajarnya untuk meraih yang terbaik (aku tahu, karena dia salah satu muridku) dia harus berada dalam tekanan dan rasa takut yang dia alami dalam rumahnya.... Aku hanya bisa memeluknya. "Tenanglah nak, ibu akan mencoba jadi yang terbaik untukmu. kita doakan agar Sang Pemilik hati dan Pembolak-balik hati, memberikan pemahaman yang benar dan membukakan hati orang tuamu".

#True story# awal Ramadhan 1432H# Mudah2n anak2 kita tidak mengalami hal serupa ya bu... amin.













0 komentar:

Post a Comment