Breaking News

06 February, 2012

curhatnya mommy


  Seandainya aku bisa memutar waktu, aku akan memutar waktu pada saat aku masih kecil, dimana belum ada konflik hidup, rasa sakit hati dan rasa HAMPA.. Saat ini kutenggelam dalam kubang kenistaan, yaaa kusebut nista karena aku sudah disebut bangsat, sialan, wanita macan, dan kata lain yang menurutku nista oleh orang yang bisa kusebut KAKAK. Seandainya saat itu menerima pinangan lelaki Polisi itu, aku pasti tidak menerima hinaan ini.
Setelah usia anak pertamaku hampir 2 tahun, aku diajak untuk tinggal serumah dengan kedua orang tua suamiku. Dengan tujuan berbakti pada orang tua, aku menyanggupi, walau sering kudengar omongan miring bahwa tinggal serumah dengan mertua itu tidak enak, makan hati, tapi aku tetap dengan keyakinanku bahwa kemanapun suami pergi, istri tinggal mengikuti, tinggal di kolong jembatan pun akan aku ikuti, asal aku bahagia.. Jadilah aku tinggal serumah dengan mertuaku, yang kebetulan bersebelahan dengan rumah (ada pintu sambung) kakak ipar nomor 2.
Tapi nyatanya omongan miring itu terbukti, seiring waktu borok itu mulai terlihat.. dari mulai aku pindah ke Pondok Mertua Indah sampai saat ini usia anak keduaku 1,5 tahun, sering kali kuterima perlakuan yang menurutku tidak baik, perlakuan tidak adil terhadap anak dan cucu, omongan miring dibelakangku, sampai tuduhan-tuduhan yang membuat hati sakit. Aku dan suami dituduh mencuri uang 150 ribu, anakku dituduh membuang sepatu sepupunya (terlahir dari anak pertama yang mendapat perlakuan spesial), sampai aku sendiri yang dituduh melukai keponakanku. Semua tuduhan berasal dari kakak ipar pertama dan istrinya. Padahal aku tinggal disitu pun tidak berpangku tangan, pekerjaan rumah aku bantu walau tidak sepenuhnya, karena aku masih kerepotan dalam urusan anak-anakku (4th dan 1.5thn). Materi pun menjadi masalah, seakan-akan mereka tidak mengerti bahwa sekarang pemasukan hanya dari suamiku, karena sejak usia anak pertamaku 2 tahun, aku stop kerja diluar rumah, aku hanya mengandalkan bisnis kecil-kecilan dari rumah yang pendapatannya tidak tentu. Tapi, banyak atau sedikit materi yang diberikan tetap saja perlakuan tidak enak terus kuterima..
Memang suamiku mengakui, perlakuan tidak adil ini sudah dirasakan sejak suamiku masih kecil, anak pertama selalu mendapat perlakuan istimewa dan spesial, dari masalah perhatian, kasih sayang dan materi. Bayangkan saja, si anak sudah bekerja pun tetap masih disupli dana yang besarnya lumayan. Such a kind parents.. Anak pertama dibuatkan rumah lengkap dengan perabotannya, dan masih tetap disupli dana. Anak mereka pun mendapat perlakuan istimewa, selalu dinomor satukan, tidak pernah dimarahi atau ditegur jika berbuat kesalahan. Untuk sunatan anaknya pun mertuaku yang turun tangan, dari masalah dana dan tenaga. Berbeda dengan anakku, yang kebetulan hiperaktif, selalu diKAMBING HITAMKAN atas semua kesalahan, walau tidak semua kesalahan anakku.
 Sedangkan anakku..? Hanya ada kata NAKAL untuk anakku yang keluar dari mulut mereka. Tidak ada kata manis untuknya, tidak ada bujukan jika anakku menangis atau ngambek minta sesuatu, tidak ada makanan spesial.. Bukan iri atau cemburu tapi hanya sakit yang aku rasa. ..” Ya Allah, kadang aku tidak kuat jika aku melihat anakku menangis minta ikut ketika para sepupunya pergi jalan-jalan tanpa mengajak anakku, ketika anakku didorong masuk kedalam kekamar agar tidak mengganggu mereka, ketika pipi anakku ditampar oleh sepupunya yang sudah menginjak usia 13 th.Terkadang rasa sakit itu suka berubah jadi rasa hampa, mulut habis berbicara, mata habis air mata, otak beku habis dengan pertanyaan KENAPA BEGINI.. Anak-anakku lah sumber kebahagiaanku yang nyata, yang insya Allah bisa terus membawa kebahagiaan dan ketenangan bagi diriku dan suamiku. Ya Allah, bukannya aku tidak bersyukur atas apa yang sudah aku dapat sekarang, tapi aku hanya minta perlakuan adil dan kasih sayang untukku dan anak-anakku..
Sempat aku meminta keluar dari rumah ini kepada suamiku, bukan apa-apa, hanya ingin mandiri dan membuktikan bahwa aku bisa mengurus keluarga sendiri dan agar anak-anakku tumbuh sehat dan baik tanpa tau adanya perlakuan tidak baik ini. Aku tidak mau anakku nanti bertanya kepadaku “kenapa aku kok disalahin terus, kenapa aku kok aku dipilih kasih..”  Namun suamiku masih enggan untuk keluar dari rumah ini, entah apa alasannya. Padahal hati ini terasa sudah tidak sanggup lagi menerima semuanya..
Ya Allah, maafkan aku yang selalu mengadu dan mengeluh kepadaMU.. Berikanlah kemudahan bagi suami dan diriku dalam mencari rezeki yang halal, untuk masa depan anak-anakku, untuk kami hidup layak. Berikanlah aku kesabaran dan kekuatan yang lebih untuk menghadapi ini semua..