Breaking News

10 February, 2012

CINTA WANITA BK By : lia damay hati (tulisan ini dikutip dari berbagai sumber)


 
Tiba-tiba saja saya tertarik dengan sejarah romansa istri-istri Bung Karno. Kesembilan wanita dimana yang termuda diantaranya sebaya dengan ibuku. Saya browsing sejarah mereka satu persatu, lebih tepatnya episode cinta mereka dengan Presiden RI yang pertama. Ada sekelumit tanda tanya iseng yang mungkin bagi sebagian orang sangat-sangat tidak penting. Adakah Tuhan menciptakan sebentuk cinta yang berbeda di hati perempuan di jaman yang berbeda? Apakah cinta Ibu Inggit yang lahir di penghujung 1800-an sama dengan cinta wanita-wanita di jaman sekarang?
Ibu Oetari, Ibu Inggit, Ibu Fatmawati, Ibu Hartini, Ibu Ratna Sari Dewi, Ibu Haryatie, Ibu Kartini, Ibu Yurike, Ibu Heldy adalah wanita-wanita yang pernah menjadi sangat istimewa di hati Bung Karno. Dan terlebih, wanita-wanita itu yang mengiringi perjalanan revolusi Republik ini, dengan segenap cinta dan pengorbanan mereka. Tentu saja bak dua sisi mata uang, tetap saja ada pro dan kontra mengiringi kisah-kisah percintaan mereka .
Wanita dengan latar belakang yang berbeda-beda, dengan haluan pemikiran yang beragam tetapi mempunyai satu cinta yang kuat, yang mungkin sama kuatnya, hanya saja dengan interpretasi makna yang berpengaruh pada output pengambilan keputusan yang beragam. Tapi membaca kisah-kisah mereka, entah saya menjadi sangat yakin, Tuhan menciptakan perempuan dengan segenap cinta yang tulus. Cinta adalah satu paket dengan tubuh wanita.
Sedikit rasa geli menyeruak ketika membaca surat-surat cinta Bung Karno kepada mereka. Siapa yang sebenarnya paling dicintai? Karena dari sekian surat-surat cinta dan rayuan Bung Karno, kepada masing-masing istrinya Bung Karno selalu menyatakan sebagai “yang paling koetjintai dengan segenap djiwakoe”. Hanya Bung Karno dan Sang Pemilik Hatinya yang Sesungguhnya yang tahu. Ehm… benar-benar Don Juan sejati.
Ketika Bung Karno dalam kondisi yang melemah baik fisik maupun kekuasaannya, beberapa dari wanita-wanita itupun berlalu. Banyak yang menilai bahwa mundurnya perempuan-perempuan itu karena hal-hal yang berkenaan dengan kilaunya dunia. Mungkin ya mungkin juga tidak, tidak ada yang benar-benar bisa menilai apa yang ada di pendaman hati perempuan. Tapi sah-sah saja kiranya jika saya berpendapat (sekali lagi ini pendapat pribadi), bahwa faktor utama wanita-wanita itu meninggalkan Bung Karno adalah karena hadirnya wanita-wanita berikutnya.
Simak saja Ibu Inggit yang harus merelakan Fatmawati menggantikannya, dan hal yang sama terjadi pada Fatmawati ketika Hartini hadir. Disini rantai romansa ini terhenti, karena ekspresi cinta Hartini memang lain daripada yang lain. Beliau rela dengan kehadiran wanita-wanita sesudahnya. Dan setelah Haryatie, rantai kembali terulang. Cinta dan kondisi politik yang tidak menentu memang dua hal yang tidak bisa dipisahkan dalam sejarah cinta berantai ini. Satu yang khas dari sejarah cinta yang mengharubiru, dan persis sama terulang di sebagian besar wanita-wanita jaman sekarang, adalah ledakan emosi, ekspresi sakit hati, keputusan-keputusan yang kemudian membuahkan prinsip-prinsip yang nyata, dan perasaan terdzalimi yang sepertinya akan kekal di dasar hati.
Dan…inilah perempuan…
Apa yang terjadi ketika BK meninggal? Apakah masih ada perasaan-perasaan negative yang meledak-ledak tersebut? Jika hanya dan hanya jika logika dan dendam yang berbicara, pastilah wanita-wanita itu telah berujar “ EGP…! Sebodho teuing!”
Simak Ibu Inggit yang memaksakan diri datang dengan kondisi tubuhnya yang sangat lemah di usianya yang ke 82 tahun. Bertahun-tahun dia abdikan dirinya pada BK dan kemudian diceraikan, bahkan ia ikuti BK ke pengasingan dari Ende hingga Bengkulu, Inggit yang memompa semangat BK jika nyaris padam, dan kemudian ditalak karena anak asuhnya. Inggit datang dengan tertatih-tatih dan berucap dalam bahasa Sunda,”Sekiranya nKus mendahului, Inggit doakan….,” dan kemudian tercekat tak dapat meneruskan lagi, namun air mata mengalir deras. Dan setiap orang yang menyaksikan pasti memahami, bahwa tubuh renta itu datang bersama cintanya yang tak merenta.
Kemudian Ibu Fatmawati yang berpendirian teguh. Hatinya teriris ketika Presiden Soeharto menolak permintaannya untuk menyemayamkan jenazah BK di kediamannya. Dan kiriman karangan bunga pengganti dirinya sebagai ungkapan meluruhnya segenap emosinya selama ini berikut cintanya yang tak pernah padam. Karangan bunga yang bertuliskan “Tjintamoe yang mendjiwai rakjat, Tjinta Fat”.
Berikutnya cinta Ibu Hartini, kiranya tidak perlu saya uraikan disini. Karena telah sungguh banyak tulisan-tulisan yang telah mengabadikan cinta beliau yang tak lekang oleh apapun jua, tak hanya oleh waktu, tapi juga oleh berbagai peristiwa, berbagai duka. Cinta Hartini yang memberi dan memberi, cinta seribu satu, dijaman itu apalagi di era sekarang ini.
Yang menarik adalah ekspresi cinta Dewi, istri impor BK. Dengan latar belakang begitu berbeda, dia terlihat lebih agresif. Dikecamnya pemerintah yang memperlakukan BK dengan tak manusiawi, melarangnya berkunjung ke rumahnya sendiri dan menjenguk suaminya. Dan dengan penuh emosional dia melabrak Haryatie di hari sakral itu. Cukup mengherankan hati saya ketika saya membaca tentang isi “labrakan” Dewi kepada Haryatie. Dewi mengungkapkan kekecewaan pada Haryatie, karena dianggapnya Haryatie meninggalkan BK di saat-saat sulit. Saat yang seharusnya Haryatie dapat memberikan dukungan penuh pada BK. Saya pastikan api cemburu tentu masih memayungi adegan itu, tapi apapun yang terjadi, adalah suatu kenyataan bahwa wanita impor-pun ternyata mempunya cinta sepenuh kita.
Dan kemudian Ibu Heldy, istri terakhir yang mungkin tidak terlalu banyak diekspos. Apa yang bisa diperbuat oleh ABG belasan tahun menghadapi rumitnya percintaan yang berpadu intrik politis?  Saat BK meninggal Heldy memang telah berstatus mantan istri dan sedang mengandung tua hasil pernikahan yang kedua. Tapi tak ayal berita meninggalnya BK, membuatnya tersedu sedan cukup lama di ruang tamu rumahnya, ”Andai aku tahu….”
Yah….perempuan memang tidak pernah berubah… dari jaman ke jaman. Cinta perempuan sebenarnya tidak pernah mati, seberapapun besar ia berusaha menghancurkan cintanya sendiri. Tetap saja, tak akan pernah benar-benar hilang…..








0 komentar:

Post a Comment