Breaking News

22 February, 2012

Cerpen deka(dewi k)

By Deka Amalia  
Ibu2..,berhubung ga bisa ikutan antologi FINDING SOULMATE krn sdh menikah dan ber anak 3...he...he...dan berhubung ini pengalaman seorang teman, jd aq posting disini aja ya....selamat menikmati,semoga bs terinspirasi.....semangat!!!

MASIH ADA WAKTU YANG LAIN

Enam bulan yang lalu aku bertemu dengannya. Sangat tidak sengaja. Saat itu,aku mendorong kereta belanja di sebuah supermarket dengan tergesa. Aku menabrak seorang laki-laki yang berjalan perlahan, Ia tersenyum geli saat aku minta maaf atas kecerobohanku. Aku membalas senyumannya yang ternyata begitu memikat. Jujur saja senyum itu begitu mempesona. Nyaris aku melupakan senyuman laki-laki itu ketika beberapa hari kemudian kami bertemu kembali di sebuah restoran. Aku sedang makan siang bersama beberapa temanku saat ia menghampiri dan mengajak berkenalan. Kami tertawa geli ketika ingat saat pertama bertemu di supermarket itu. Aku tahu teman-temanku yang semua masih lajang terpikat pada senyum dan sepasang mata teduhnya, tapi tentunya mereka tahu aku yang lebih berhak dan memang jelas terlihat jika ia pun tertarik padaku.

Johan, nama laki-laki itu. Mudah ditebak kami menjadi akrab dengan begitu cepat. Kantor tempatnya bekerja tak jauh dengan kantorku, maka setiap pulang kerja,ia selalu menjemputku, Kami menikmati makan malam bersama, nonton film, belanja, ke toko buku atau hanya sekedar ngobrol di tempat kostku. Ia kerap memujiku, penampilanku, Ya.,aku tahu… aku,gadis yang menarik dan di usia 30 tahun ini,aku sudah memiliki karir yang lumayan. Katanya,ia menyukai kepribadianku yang polos dan ceria. Aku juga sungguh tertarik padanya, Ia,laki-laki matang yang tergolong tampan, karirnya sudah tinggi, itu tentu dapat dilihat dari gayanya, mobilnya dan tempat tinggalnya, Walau aku belum pernah mengunjungi rumahnya, Ia hanya menyebut sebuah daerah elit tanpa merinci nama jalan apalagi nomor  rumahnya.  Pribadinya juga menarik, menyenangkan dan penuh perhatian.

 Aku menaruh harapan besar padanya. Dalam pikiranku, mungkin ini saatnya,aku meninggalkan status lajangku. Menikah, menjadi seorang istri, punya anak. Sebelum bertemu Johan belum pernah terlintas di kepalaku untuk menikah, belum ada laki-laki yang mampu menggetarkan hatiku seperti yang kini kurasakan. Sebelumnya,aku sungguh menikmati kesendirianku, bekerja, punya banyak teman, pergi kemana kusuka, belanja semauku, jalan-jalan kemana kumau. Walau aku menikmati kesendirianku, menikmati kecerian bersama teman temanku tapi memang kadang terlintas pikiran untuk menikah setiap kuterima undangan pernikahan, terlintas ingin punya anak saat menjenguk teman yang melahirkan. Tetapi laki-laki yang kudamba belum ada dan kini Johan tiba-tiba hadir. Mungkin memang jodohku.

Aku sungguh menikmati kebersamaan kami. Teman-temanku mendukungku. Mereka berbisik-bisik, pasangan yang cocok, tentu saja siapa yang tak bangga berjalan disebelah laki-laki sesempurna Johan. Aku mengenalkannya pada mama dan Johan mampu menarik perhatian mama. Setelah itu,setiap hari mama menelpon menanyakan Johan. Tampak sekali,mama sudah tak sabar untuk secepatnya  melihat aku menikah. Aku anak perempuan satu-satunya, itulah sebabnya mama begitu mendorong hubunganku dengan Johan. Apalagi sebenarnya mama ingin aku segera menikah begitu diwisuda sarjana dan sangat kuatir ketika aku diterima bekerja, kost dekat kantor tanpa pernah punya pasangan tetap. Mama kuatir aku akan  berakhir seperti Tante Nien, adik bungsunya yang tetap melajang hingga usia 45 tahun. Walau kini Tante Nien menikah dengan duda tapi aa tak bisa punya anak dari rahimnya sendiri. Ya,,kadang aku juga kuatir akan berakhir seperti itu. 

Hari itu, Johan menelpon, ia ingin mengajakku makan malam. Ia mengisyaratkan jika ia ingin membicarakan hal yang penting. Kami janjian bertemu di Cafe. Aku menduga,ia tentu ingin menyatakan cinta atau mungkin melamarku. Aku sudah merasakan getaran itu, saat ia menggemgam tanganku, memeluk dan menciumku. Walaupun ia belum pernah mengatakan jika ia mencintaiku tetapi aku bisa merasakannya lewat sentuhan mesranya dan tatapan hangatnya. aku tahu,ia mencintaiku tetapi tentu aku ingin mendengar ia mengucapkan kata itu dan aku juga ingin mengatakan padanya jika aku sungguh-sungguh mencintainya.

Malam itu,ketika aku tiba di Cafe tersebut, Ia telah menunggu. Aku menghampirinya dan ia menyambutku dengan kecupan manis. “Sudah lama ? “  tanyaku kuatir Ia telah lama menungguku “Belum, Aku baru saja datang. Aku sudah pesan minum, Mala ingin pesan apa ? Ia bertanya sambil lekat menatapku. Aku tahu ,ia terpesona oleh penampilanku. Aku berusaha tampil seistimewa mungkin, Aku pulang cepat dari kantor agar bisa ke salon dan gaun ini baru kubeli khusus untuk pertemuan ini  “Aku pesan ice Lemon tea saja. “ kataku membalas tatapannya.

Ia menggemgam tanganku, menatapku lama dan aku tertegun. Baru kusadari ada yang disembunyikannya dariku, matanya menyiratkan beban yang berat dan garis wajahnya tertahan. Batinku menangkap ada sesuatu. Wajah itu bukan wajah laki-laki yang ingin menyatakan cinta dan melamar kekasihnya. Tidak, batinku…jangan berikan kejutan yang aku tak siap menerimanya. Malam ini,aku berharap ia menyatakan cinta dan melamarku, tidak yang lain. ia menghela nafas panjang, berat, maka yakinlah aku malam ini bukan malam indah yang selama ini ada dalam impianku. Mataku mulai berkaca, Aku tahu ia sadar aku telah menangkap kegelisahannya.

“Mala, Aku minta maaf. Aku tak pernah bermaksud membohongimu, menyakitimu, Aku tak pernah menduga semua ini terjadi padaku. Aku tak pernah mengira jika Aku bisa jatuh cinta lagi. Aku mencintaimu, Mala. Sungguh, Aku tertarik padamu sejak kita pertama bertemu dan semua berlanjut makin menyeretku demikian dalam. Tetapi,aku tahu jika aku harus jujur padamu. “  Aku tertegun..jatuh cinta lagi, ada cinta yang lain..Ia sudah punya pacar…atau…”Apa maksudmu, Johan ? katakanlah. Aku ingin kejujuran.”  Aku menatapnya lekat, hatiku terluka sebelum tahu kenyataan apa yang kuhadapi   “Apa yang kau harapkan dariku, Mala ? katakanlah dengan jujur.”  Ia balik bertanya  “Aku mencintaimu dan ingin menikah denganmu.”  Aku menjawab perlahan, betapa tidak itulah isi hatiku, keinginanku, impianku. Ia kembali menghela nafas, tidak, jangan katakankan kau tak bisa memenuhi keinginanku.

Tetapi,itulah yang terjadi, Johan bercerita jika ia telah menikah,tiga tahun dengan dua balita dan istri yang luar biasa baik. Artinya tak ada masalah klise dalam perkawinannya. Dengan jujur Johan mengatakan perkawinannya baik-baik saja, tak ada masalah yang bisa membuatnya mnceraikan istrinya. Dan,memang ia pun dengan jujur mengatakan jika ia tak mungkin bercerai. Ia masih mencintai istrinya, hubungan mereka baik bahkan hubungan seks mereka berjalan lancar dalam artian mereka melakukannya rutin tiga kali seminggu. Yang salah hanya satu,,ia jatuh cinta padaku, Ia mencintaiku dan menikmati hubungan ini. Katanya kehadiranku membuat hidupnya menjadi makin lengkap. Artinya posisiku hanya sebagai pelengkap..

Seharusnya ,aku sudah bisa menduga jika Johan sudah menikah, usianya 38 tahun. Tetapi bukankah saat ini biasa laki-laki terlambat menikah, Jadi usia bukanlah patokan. Atau ,seharusnya aku curiga jika ia tak pernah memberiku telpon rumahnya, kami hanya berhubungan lewat Hp. Atau, seharusnya aku bertanya dengan lengkap alamat rumahnya, mengeceknya. Oh, bodohnya, mana mungkin hal-hal itu terpikir. Ia begitu pandai menutupi kebohongannya dan aku terbuai oleh kata-kata manisnya. Yang jelas,aku terluka, Ia tak jujur dari awal. Ia menyeretku demikian dalam dan mencampakanku dalam lubang yang sangat dalam. Malam itu,aku hanya bisa menangis dan segera minta diantar pulang. Ia memintaku menikah dengannya seperti yang kuharapkan tetapi hanya sebagai istri kedua. Oh..tuhan,,bisakah kau bayangkan..Aku menjadi istri kedua, Ia bahkan merayuku dengan kata-kata manis…Aku tak akan mengecewakanmu..Aku akan membahagiakanmu…bagaimana mungkin ia bisa berharap,aku bersedia menjadi istri kedua. Tetapi apa aku tidak mau..? Aku mencintainya, sangat mencintainya, hatiku sakiit..kecewa..terluka…apa aku siap kehilangan dirinya. Lalu apa kata teman-temanku…? Bagaimana dengan mama ..? apa mungkin aku bisa jujur mengatakan pada mereka…Aku mau menikah tapi hanya jadi istri kedua .

Hingga kini sikap Johan tak berubah, Ia tetap baik,hangat,mesra dan bahkan makin memanjakanku. Ia bahkan telah bicara soal rencana pernikahan kami, cincin yang akan dibelinya, gaun pengantin yang akan dipesannya, rumah yang akan dibelinya, mobil yang akan dihadiahkannya. Tetapi apakah kehidupan itu yang akan kujalani, menjadi istri kedua, menjadi pelengkap, menjadi bayangan. Lalu jika istrinya tahu bagaimana, jika anak-anaknya besar nanti bagaimana, jika Ia jatuh cinta lagi bagaimana, apa akan ada istri ketiga….Aku sungguh bingung..lebih bingungnya …Aku tak berani bercerita pada siapapun. Aku berpura-pura tak ada masalah…ya,nyatanya akupun harus siap dengan kepura-puraan, harus siap dengan pembagian waktu…beberapa hari di istri pertamanya lalu beberapa hari denganku…lalu jika aku punya anak…akupun harus berbohong pada anakku dan jika anakku tahu, apa yang akan terjadi…Oh, begitu banyak masalah yang terbentang dihadapanku…rasanya,aku tak siap…Aku tidak hanya membutuhkan cinta, Aku juga butuh rasa aman, nyaman, dan perasaan tentram. Aku tahu kehilangan Johan akan membuatku terluka tetapi sekarangpun,aku sudah terluka. Aku harus memilih kehidupan apa yang akan kujalani.

Beberapa kali aku mencoba bicara dengannnya, mengutarakan isi hatiku, kegelisahanku, tetapi setiap kutatap matanya, setiap kurasakan sentuhannya, Aku tak kuasa mengatakannya, tak kuasa berkata…selamat tinggal, Tak kuasa mengatakan…Aku tak ingin menikah denganmu, tak ingin jadi istri kedua. Justru keinginan untuk memiliki makin menggebu, tetapi tak mungkin kumiliki seutuhnya, tak mungkin aku memintanya bercerai sementara dengan tegas dikatakannya, jika ia tak mungkin meninggalkan istri dan anaknya. Bahkan jika dulu dengan rapi ia membungkus perkawinannya, kini dengan terang-terangan ia meminta pengertianku. Berbicara mesra ditelpon dengan istrinya saat aku disampingnya, bercerita mengenai kelucuan anak-anaknya, bercerita mengenai masakan istrinya, membatalkan kencan karena keperluan istri atau anaknya. Aku sungguh hanya pelengkap yang bisa dikesampingkan begitu saja. Jadi sesuai dengan statusku nanti sebagai istri kedua maka Aku menjadi nomor dua dalam segala hal. Dan,jika Aku punya anak, apa anakku pun akan menjadi  anak nomor dua.

Semakin kupikirkan rasanya begitu banyak ketidaknyamanan dibanding kebahagiaan. Sungguh butuh keberanian untuk memutuskan hubungan dengan laki-laki yang begitu kau cintai. Maka sore itu, ketika Johan menjemputku di kantor, kuputuskan untuk mengatakannya saat ini juga, sekarang atau tidak, Aku tak boleh menunda lagi, karena itu akan membuatku makin sulit untuk mengambil keputusan.

Seperti biasa ia mengecup pipiku saat kami bertemu, menggemgam tanganku, membawanya kedadanya, ya…mana mungkin kau kuasa berpaling dari laki-laki ini tetapi keputusan telah diambil, Aku tak bisa jadi istri kedua, Aku ingin bisa memiliki cinta yang utuh, yang tak terbagi, lebih-lebih lagi aku ingin jadi menu utama bukan pelengkap. Menjadi nomor satu bukan nomor dua, Ya,.itu keinginanku.

Ia tersenyum memandangku, “Aku tahu ada yang ingin kau katakan, kenapa ragu-ragu, Mala…,katakanlah.”  “Aku…Aku…”  Aku terkejut, sepertinya Ia bisa membaca pikiranku…. “Ya..aku ingin membicarakan sesuatu..tentang aku…kau..tentang kita..”
Aku menjawab terbata lalu terdiam, tiba-tiba saja air mata mengalir…Aku tak kuasa…
“Mala,,aku mencintaimu…sungguh-sungguh, Aku bukan laki-laki iseng, mata keranjang atau apalah sebutannya bagi laki-laki seperti aku, yang sanggup mengkhianati istrinya dan memintamu untuk menikah denganku. Ini bukan keputusan yang mudah, Aku tahu kau berat menjalaninya. Aku bisa membaca isi hatimu, Mala. Aku tak akan memaksamu, ya.., aku ingin memilikimu tapi aku tak mau kau menderita. Katakanlah apa yang kau inginkan, ini hidupmu, maka harus kau yang memutuskan, jika kau tak ingin menjadi istriku, kita akan berpisah baik-baik. Aku pun merasa kau berhak mendapat kehidupan yang lebih baik, jauh lebih baik dari apa yang bisa kuberikan.”  Aku makin menangis, menyadari bahwa ia rela melepasku…”Aku mencintaimu, Johan.., Aku ingin menikah denganmu, menjadi istrimu…tapi aku tak sanggup jika harus menjadi istri kedua…aku tak bisa.., aku tak ingin hanya sekedar pelengkap hidupmu…kadang,aku membencimu karena kau tak jujur dari sejak kita bertemu, Aku benci setiap kau bicara soal istrimu, anakmu…aku ingin mereka tak ada dalam hidupmu, tapi mereka telah ada dan aku yang tak berhak ada dalam hidupmu.”  Akhirnya,aku bisa mengatakanya…akhirnya terucap juga dan akhirnya kami berpisah. Sungguh berat rasanya,hari-hari tanpa kehadirannya. Bayangannya masih lekat, wujudnya masih terbawa mimpi dan seolah ada ruang yang kosong dalam hati ini,kehampaan. Mama dan teman-teman membesarkan hatiku, bahwa keputusanku tepat, bahwa akan ada cinta yang lain untukku, bahwa jodohku akan tiba juga, nanti..ya,nanti. Entah kapan, tapi aku yakin masih ada waktu yang lain untukku yang akan mengisi kekosongan hati ini.





0 komentar:

Post a Comment