Breaking News

22 February, 2012

Celoteh Anak: Maunya Haya!!

By Susan Sriyani  
diambil dari Blog di friendster Ambu....kebetulan saya sering terkenang celotehan2 kecil anak bungsuku..yang sebentar lagi akan meninggalkan masa balitanya

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Anak
adalah titipan terindah dari Allah SWT yang harus senantiasa kita jaga dan
bimbing sebaik mungkin. Banyak tingkah polah anak yang membuat kita merenung,
berfikir bahkan tergelak menyaksikannya. Tapi, bagaimanapun juga, mereka adalah
makhluk mungil yang tercipta dengan segala kepolosan dan keluguannya. Seiring
berjalannya waktu, jadikan tingkah polah mereka sebagai moment indah yang akan selamanya kita kenang, karena….masa kecil itu
takkan pernah terulang lagi. Jadi, sebijak mungkin kita menikmati hari-hari bahagia
kebersamaan itu, sebelum mereka tumbuh besar dan…meninggalkan kita menuju
kedewasaannya.


SEPATU LAMPU


Seperti
anak kecil pada umumnya,yang selalu ingin memiliki barang seperti punya
temannya, begitu juga dengan Haya, anak bungsuku yang saat itu baru berumur 4 tahun ini.
Setiap kali temannya punya barang baru, pasti deh dia suka mengomentari betapa
bagusnya barang milik temannya itu. Gak
minta sih, tapi ceritanya itu membuat saya sebagai ibu merasa
“bersalah” kalau tidak membelikan.

Pernah,
suatu ketika dia melihat Kezia,
temannya memakai sepatu yang ada lampunya. Sepatu itu berwarna biru, dan jika
dipakai berjalan maka berkelap-keliplah sang sepatu. Nah, bagi Haya, hal itu
sungguh menarik. Makanya, untuk yang satu ini dia tidak hanya menceritakan
“keajaiban” sang sepatu temannya itu, tapi juga mulai merengek memintanya.

Sebenarnya,
baru sebulan yang lalu saya membelikan dia sepatu, makanya keinginannya itu
tidak langsung kukabulkan. Tapi, karena hampir setiap hari dia bertanya, “kapan
aku dibelikan sepatu kayak Kezia?” . walaupun sebenarnya tidak mau mengajari anak untuk berlaku boros dan kabitaan (ngiler,liat barang punya orang), tapi kalau hampir setiap anak itu ingat dan selalu
bertanya, rasanya kuping juga lama-kelamaan menjadi panas juga. Akhirnya, sang ayahpun mulai tidak sabar,
“Udahlah mBu, belikan saja!” katanya.

Maka, jadilah hari Minggu itu kami mencari
sepatu berlampu seperti yang diminta si Adek Haya.

Seharian
berputar-putar, akhirnya sepatu seperti yang diminta Haya
ketemu juga., hanya saja kami membedakan warnanya. Kalau punya Kezia warna biru,
sedang yang kubeli buat Haya berwarna Pink. Haya girang
sekali, bahkan dia langsung memakainya dan memamerkannya pada sang kakak, Yarra. Si Kakak yang melihat Cuma melengos,
“Iih…adek sepatunya kayak lampu tujuhbelasan aja…”, ledeknya geli melihat sepatu yang berkelap-kelip
lampunya bila dibawa lari, merah –kuning- hijau-pink- bergantian menerangi,
persis seperti lampu yang sering bergelantungan di sepanjang jalan menuju komplek kami bila menjelang tujuhbelas agustusan. Tapi, Haya cuek saja. Bahkan dengan bangganya ia langsung berlari keluar
memamerkan sepatu lampunya itu…

Besoknya,
dia semangat sekali ingin memperlihatkan sepatu itu sama Kezia “Asyik, sepatuku
bakal samaan sama Kezia ya, Bu..!”
katanya riang. Ketika Kezia turun dari mobil jemputan, anakku langsung
menyambutnya. “Kezia…lihat sepatu kita saa…,” anakku langsung menghentikan
teriakannya begitu tahu Kezia sudah ganti sepatu.sepatu barunya bergambar kelinci, persis seperti punya temannya yg lain. kulihat Haya mulai kecewa, ia memandangku dengan pandangan
yang gampang kuartikan. Dimatanya, seakan terlihat sepatu" gambar kelinci" menari-nari. Duh,
anak-anak….ada-ada saja.


NAMAKU “HAYA
SABIYA KASYFA”


Lain hari,
Haya terlihat murung. Bahkan setiap kali di
panggil namanya oleh bu guru disekolah, dia suka pura-pura tidak mendengar.
Lho, ada apa dengan anakku ini?!. Akupun mulai “menyelidiki” (he he kayak
detektif aja ya?!). diam-diam , ketika sedang di kelas, aku mengintip kegiatan
dia bersama teman-temannya. Ketika Ust
Fitroh (wali kelasnya, disekolah Haya guru biasa dipanggil ustadzah) mulai
mengabsen satu persatu anak-anak yang masuk, kulihat Haya
langsung cemberut. Dia langsung berlari ke pojok kelas dan duduk sambil
mendekap kedua lututnya. Mukanya ditundukkan dengan kedua tanggan menututp telinganya. Uts Nur, guru lainnya, mencoba membujuk Haya agar kembali bergabung di
lingkaran teman-temannya. Tapi, anakku itu malah semakin ngambek. Untunglah,
keadaan seperti itu tidak berlangsung lama. Setelah proses absensi selesai, diapun kembali riang.

Pulang sekolah, aku mengajaknya ke AlfaMart sambil mengajaknya ngobrol. Sengaja aku membolehkan dia membeli Es Krim (padahal biasanya, hanya hari Minggu saja dia boleh makan Es krim), biasanya kalau
hatinya sedang girang, dia tidak akan segan-segan bercerita apa saja (he he politik suap nihh!).
“Dek,tadi di sekolah belajar apa ?” tanyaku sambil menemani dia memilih-milih Es Krim.
“banyak Ambu, aku disuruh gunting kertas terus ditempel-tempel gitu…asyik lho!” jawabnya
dengan wajah penuh ekspresif, lucu.

“Jadi..Adek seneng dong, tapi koq kata Ust Fitroh tadi Adek sempet ngambek, kenapa sayang?!”
tanyaku hati-hati, mulai memasuki area sensitive. Biasanya dia tidak akan mau
menjawab, bahkan teriak marah-marah jika ada yang tidak berkenan.

“iyya aku suka sebel kalau dipanggil namaku” katanya tanpa melepaskan pandangan dari Es
Krim yang sedang dipilihnya. “boleh gak Es Krimnya minta dua, buat kakak
satu…aku yang Strawberry, kakak yang coklat ya, Bu!” pintanya dengan mata yang
berbinar-binar. Hati ibu mana yang tega menolak melihat mata indah anakku ini.
Aku pun menganggukan kepala sambil mengambil kedua Es tadi, “Tapi Adek janji nanti
cerita sama Ambu, kenapa Adek gak mau dipanggil namanya ya?”, kataku sedikit
mengancam. “iya deh..iya..” si Adek mengangguk-angguk sambil kembali merebut Es
itu.

Sepanjang perjalanan, dia pun bercerita kalau dia gak
suka dengan namanya. Kata si Adek, dia malu kalau namannya disebut. Lho?! Aku
terperanjat.

Ada apalagi nih?

“Namaku jelek, aku gak mau dipanggil HAYA ”
teriaknya sambil memonyongkan mulutnya, lucu.

“Aduuh Dek, memangnya kenapa?

"Kan bagus HAYA SABIYA KASYFA…gak ada tuh yang punya nama kayak Adek!” pujiku membujuknya.

“Gak mau!! Jeleek…pokoknya jelek…!!”. Teriaknya mulai menangis. Aku mencoba
menenangkan.

“memangnya ada yang suka ngeledek ya?!” tanyaku pelan.

“iya,kalau lagi di mesjid..kakak-kakak suka ledekin Hayya Alaa sholat…trus
ada juga yang suka bilang Haiyya…, gitu Bu!” cerocosnya.
Akupun berusaha menahan senyum, saat dia mengucapkan “Haiyya” dengan logat
layaknya Ko’ Ahong, babah China yang sering mengucapkan kata-kata itu di akhir kalimatnya.

“Trus, Adek pengen nama apa?” tanyaku.

“Aku pengen nama kayak temanku….Dewi Mulia Bhakti!!!” jawabnya tegas, sambil membusungkan dadanya. “Koq kayak nama bis?” spontan keluar dari mulutku. Upss,Jadilah si Adek tambah keras
menangis mendengarnya. Mungkin suasana hatinya sedang tidak bagus.

Menjelang tidur, baru kuterangkan padanya, bahwa nama Haya Sabiya Kasyfa itu adalah nama
yang punya arti yang bagus. Haya artinya Putri cantik, Sabiya artinya menjelang pagi, Kasyfa artinya
terbebas dari kesulitan. Jadi Haya Sabiya Kasyfa artinya seorang putri cantik yang lahir mejelang pagi dan selalu terbebas dari segala kesulitan, amin.
Mendengar kata “putri cantik”, anakku langsung bersorak. “Jadi, aku putri yang cantik
dong…?!” tanyanya dengan ekspresi lucu, alis terangkat dan hidung mengembang.

“Ya iya
dong, makanya Ama dan Ambu ngasih nama itu buat Adek..jadi Adek gak perlu malu
dengan nama itu, apalagi sampai nangis pengen ganti dengan nama seperti nama
teman-teman!” kataku sambil mengusap-usap punggungnya, rutinitas agar dia
tertidur.

“Oke deh, aku gak malu lagi….Haya Sabiya Kasyfa aja, gak usah diganti Dewi Mulia Bhakti…” celotehnya. Geli sekali aku mendengarnya. Kesempatan itu, kugunakan juga untuk menerangkan bahwa kita harusselalu bangga dan bersyukur dengan apa yang kita miliki, jangan ikut-ikutan
ingin seperti punya teman, ataupun iri ingin memilikinya. Semua harus
disesuaikan seperti kebutuhan kita. “Pokoknya, intinya jangan suka ngiler deh!!”,Lagi-lagi si Kakak menimpali. Entah mengerti atau tidak, aDek puntertidur dengan senyum di bibirnya.


PULANG SEKOLAH
YANG MENGHEBOHKAN

Sepertinya
masalah “ingin seperti punya teman” sudah
mulai mereda. Haya tak pernah lagi punya
keinginan “aneh.”. Melihat temannya memakai barang-barang baru pun tak
mengusiknya lagi. Seperti kata temanku yang seorang psikolog waktu kutanyakan tentang kasus si Adek ini, bahwa
memang di usia 4 tahun ini adalah masanya anak ber “imitasi” alias anak selalu
punya keinginan untuk seperti orang lain. Tapi ini akan menghilang sesuai
perkembangan usianya. Akupun mulai bisa bernafas lega.

Tiba-tiba,
di siang yang panas, tepat matahari ada di atas kepala. Turun dari Mio kuning,
kendaraanku menjemput dia, Haya berteriak lagi.

“Bu….aku
pengen kayak Merry…!” katanya sambil meraih tanganku. Wah kumat lagi nih, kataku dalam hati.

“Emang
ada apa dengan Merry?!, tasnya bagus?!” tanyaku was-was. Merry adalah temen
Haya yang super cantik dan Indo (bapak Jerman, Ibu Jawa). Haya menggelengkan kepalanya. Kuncir
rambutnya ikut bergerak-gerak. “trus apa donk, emm….Adek suka bandonya Merry
ya?!” tebakku lagi, tadi kulihat Merry memakai bando merah yang manis. Anakku
itu tetap menggeleng. Akupun jadi bingung. Sudahlah, akupun masuk sambil
memunguti tas, kaos kaki dan sepatu yang dia lepas begitu saja di depan pintu,
paling juga nanti dia lupa keinganannya itu. “Ambu, denger aku dong…!” dia
mulai merajuk lagi.

“habis, adek pengen apa? Ambu kan bingung kalau adek gak mau bilang….”, ucapku sedikit keras. Haya meraih mukaku., dan berusaha memelukku. Dengan tersenyum manis dia mulai angkat bicara,

“Merry punya ayah bule, aku juga pengen ayahnya bule dooonk…!” teriaknya
lantang, sambil melepaskan pelukannya dan berlari masuk ke kamarnya.

Gdubrakkk!!!.Ambu melongo...tak mampu bicara!!

(...dan permintaan itupun kembali terulang saat sedang makan Donat di J.Co bareng AMa dan kakak, secara kebetulan melihat seorang anak bule dengan ayahnya, Haya berbisik...."tuhh Bu, aku tuh pengen kayak gitu....bapaknya Bule..."......dan, kali ini Gdubraaaak....giliran Ama yg terkulai lemas!!!

1 komentar:

Adi Puteri said...

Foto Memek Tante Berjilbab Sakit Dimasukin Kontol Gede @ Cerita Dewasa Gara Mata Kuliah Terpaksa Ngentot Sama Dosen Inggrisku




Gambar Awek Dengan Payudara Besar @ Gambar Baju Terlondeh Tayang Payudara




Gambar Skandal Isteri Dengan Boss Bogel Hot Tetek Besar @ Gambar Tudung Tetek Kecil Cipap Ketat




Gambar Awek Bikini Bogel Tetek Besar @ Erna Pamer Toket Pake Seragam Sma Lalu Ngentot




Koleksi Cewek Asia Yang Menawan Tampil Hot @ Menantang..Susunya Diatas Rata-rata @ Gambar Memek Mungil Anak SD




tubuh molek model jepang pamer toket indah @ Cerita Seks Anak SMP Perawan @ Koleksi Photo memek ABG Bule Yang Penuh Nafsu




Kesan Onani Pada Kesihatan Lelaki Dan Perempuan @ Erna Pamer Toket Pake Seragam Sma Lalu Ngentot




WOW !!! ABG Jawa Super Cantik dan Montok Mantap @ SELAPUT DARA KEMBALI PERAWAN TANPA OPERASI





Foto Cewek Dancer Telanjang Bugil Depan Kamera @ Foto ABG Narsis Deket Kolam Renang Pake Bikini




Galeri pantat wanita arab nungging basah @ Hiburan malam minggu @ kumpulan video ngintip ibu mandi




Kisah Sek bersama Janda Muda Di kota Bandung @ Nikmatin Susu Montok Mbak Lina Dan Mbak Wati



ngentot memek cewek bugil cantik di kamar mandi @ Foto Penari Cafe di Batam Bugil Tanpa Busana




gadis kolej gambar bogel @ Pelan Sakit Banget Barang Supermu @ Pertemuan yang Lucu Berakhirnya ngentot





Koleksi Cewek nekad kencing di Sembarang Tempat Brutal





Model HOT Telanjang Tanpa Busana @ Gairah Cewek Lugu Saat Kepengen ML @ Cerita Dewasa Sex Dengan Ibu Mertua

Post a Comment