Breaking News

21 February, 2012

Catatan Sepanjang Jalur Angkot


 By Asri Andarini  
Saya suka naik angkot. Suka, karena tiap hari ada saja yang mesti diurus, hingga hampir tiap hari juga saya harus naik angkot. Suka yang kedua artinya senang.  Saya menikmati perjalanan  naik angkot karena tiga alasan, pertama kemacetan Bandung yang makin parah kadang membuat stress dan senewen.  Nah, daripada saya tua sebelum waktunya saya memutuskan untuk mempercayakan hal yang satu itu pada sopir angkot yang sudah sangat terbiasa menghadapi situasi. Dan saya tinggal duduk manis di pojokan – tempat favorit saya- sambil mengamati keadaan.  Alasan kedua ,sejak SMA saya terserang anemia. Hubungannya? Karena menyandang status tersebut saya jadi mudah ngantuk.  Waktu saya masih aktif menyetir mobil, saya sering terpaksa menepikan kendaraan dan istirahat sesaat sebelum melanjutkan perjalanan.  Sangat berbahaya.  Dengan naik angkot saya bisa menyalurkan kebiasaan tersebut dan itulah alasan saya memilih pojokan sebagai tempat favorit.  Alasan terakhir – dan ini paling penting- buat saya angkot telah menjelma menjadi tempat belajar.  Orang-orang yang naik dan turun dengan berbagai karakter telah memberi saya banyak pelajaran kehidupan, Melalui para penumpang ituah saya bercermin.  Kadang saya juga iseng menebak-nebak karakter orang dari cara duduknya, sikapnya, termasuk dandanan dan tas yang dipakai.  Keisengan yang tidak penting memang.  Tapi saya jadi belajar bahwa memang ada sikap-sikap yang menyebalkan untuk orang lain. Enggan bergeser duduk, berkostum seronok, makan-makan, merokok, menelepon atau ngobrol  dengan suara keras bagi saya adalah jenis-jenis sikap yang layak dihindari.

 Suatu kali saya bertemu dengan penumpang, sepasang suami istri yang sudah sangat sepuh .  mulai dari naik hingga turun pasangan itu menunjukkan sikap saling menyayangi. Layeut, kata orang sunda.  Si kakek membimbing istrinya naik dan turun, dan mereka bicara dengan bahasa sunda halus yang santun.  Sampai mereka berlalu – berjalan sambil berpegangan tangan-  saya masih terkesan.     Demikianlah seharusnya  saya, begitu pelajaran yang saya petik hari itu.

Di saat lain saya juga pernah hampir menangis.  Saat itu saya duduk di belakang sopir angkot.  Di sampingnya duduk istri dan kedua anaknya.  Dalam bahasa sunda kasar si istri bercerita tentang tetangganya yang baru membeli HP dan ingin menjual HP lamanya.  Tak berapa lama si istri menyatakan keinginannya membeli HP lama itu.  “Hanya 75 ribu” katanya “Beli dong pak, orang lain juga punya HP, jadi kalau ada apa-apa gampang” begitu kira-kira intinya.  Tak dinyana pak sopir berteriak marah “Darimana kita punya uang? Cari penumpang sudah susah! Buat makan juga susah”  Sampai saya turun, pertengkaran itu masih berlanjut, meninggalkan pikiran di benak saya, bahwa masih banyak orang yang harus berjibaku dengan segala keterbatasan dan meradang karena serbuan tekanan social di sekitarnya. Maka selayaknya saya  harus berbuat sesuatu.  Sesuatu yang –fatalnya-  hingga kini baru sebatas rencana. Hiks!

Buat saya, angkot memang menawarkan beragam mozaik kehidupan

0 komentar:

Post a Comment