Breaking News

02 February, 2012

Catatan Harian Seorang Kontraktor (izti bunda bumi)


 
Saat ini, aku hanya bisa pasrah ngelus2 mouse dan mencet2 tuts keyboard daritadi, ketika ide yang biasanya ngalir bak keran bocor, belakangan ini tiba-tiba macet. Aku belum menemukan penyumbatnya, yang jelas semakin hari deadlinenya akan semakin merapat, dan aku harus buru-buru membocorkan keran macetku atau menggantinya dengan keran baru sebelum para klienku mulai berteriak.

Entah ada hubungannya atau tidak, aku sedang super jengkol, eh dongkol bin mangkel sama si empunya rumah yg rumahnya saat ini statusnya masih menjadi hak aku dan keluargaku untuk menggunakan bangunannya sampai masa kontraknya habis.

Apa pasal?? pertamax, sudah 6 bulan ini WC di rumah ini mampet, ditambah 3 kali puasa 3 kali lebaran ga pulang2 (itu mah bang Toyib) :p. Tak terhitung berapa bungkus sudah, berapa kilogram sudah, soda api yang kucemplungkan ke dalam WCnya, mulai dari nyemplung langsung, sampai campur dulu ke air mendidih baru disiram, sudah dilakukan, namun WC ini tetap tersendat. Sudah dites septic tanknya mana tau sudah penuh, ternyata masih dalam. Joni sudah mengujinya dengan mencemplungkan batu yang diikat ke tali rapia, dan batunya mengulurkan tali rapia cukup panjang sampai menyentuh ke bagian permukaan isinya. hadeuuhh.. jangan dibayangin deh... :p

Dan apa kata si tuan rumah waktu kami mengadukan hal ini?? bukannya ndapet solusi, malah makin pening karena si tuan rumah cuman bilang, "terserah aja mau diapain." hah?? yang bener aja?? masa kita harus ngebongkar WC orang??

Alhasil, hampir 6 bulan ini kami 'nitip' ke mesjid kompleks. Apabila sudah mulai ingin 'meledak' dan Joni sedang keluar, aku harus ajrut2an (sambil ngantongin batu) biar bisa nahan mules sampai Joni pulang. Lah ya jelas aku nda mungkin ngibrit ke mesjid ninggalin anak-anak. Apalagi sambil bawa anak-anak ngibrit bareng kesono. jelas tidak mungkin sodara-sodara. Sekali waktu pernah aku ingin menggali lubang di kebun belakang, ketika perut melilit dan mulas tak tertahankan, sedangkan Joni tak tau kapan pulang. E begitu Joni pulang, mulesnya malah dieman-eman alias kadang kerasa kadang engga.

Apabila ingin 'meledak' pas azan berkumandang, aku juga harus nunggu sampai jamaah pulang, biar engga perlu bawa dandang buat nutupin muka, karena ke masjid cuma mau numpang ninggalin jejak keberadaanku di komplek perumahan ini :p

Suatu malam, pernah aku terkunci di dalam kamar imut (WC) di mesjid itu. Saat masuk, begitu bunyi gerendel pintu terdengar tak biasa, aku sudah curiga ada yg tidak beres. Waktu kupegang gerendelnya, keras sekali. Saat itu pun aku sudah tau, gerendelnya tak bisa diputar, dan artinya aku TERKUNCI di dalam kamar mandi! apa boleh buat, daripada teriak2 sambil nahan mulas, lebih baik kupenuhi dulu keinginannya untuk meledak. Dan sudah bisa ditebak, aku meringis pasrah ketika gerendelnya benar2 tak bisa dibuka.

Kucoba gunakan segala cara, mulai dari ngegetok gerendelnya pake sendal, ngorek2 pake kunci motorku, sampai kuteruskan bekas keletekan di bagian kulit pintu yang terbuat dari bahan yang mudah dikletek (maaf aku tak tau namanya apa). Namun pintunya tetap tak mau terbuka. Pasrah! Dan sialnya aku lupa bawa handphone! Hampir menangis aku... hingga sayup-sayup kudengar suara obrolan bapak-bapak. MAka berteriaklah aku sekuat tenaga: "tolooooooooongg........... toloooooong... keluarkan saya dari siniiiiiiiiiiiiiii!!!" *teriak serak2 sember dengan suara tangisan tertahan dengan emosi campur aduk awut2an*

"Ada orang ya?" terdengar suara seorang laki-laki.
" Ada, ada! saya terkunci! tolong keluarkan sayaaaa!!" *teriak2 kayak orang gila*

JDERRR!!!!! pintu pun didobrak, dan aku berhasil keluar dengan wajah pucat pasi. ga inget lagi mau ngambil ember buat nutupin muka karena malu :psambil meringis, kuucapkan terima kasih, dan kulihat bapak-bapak itu menatapku penuh rasa kasihan. bodo amat dah yang penting bisa keluar.

Haruskan trauma setelah itu?? tidak!! bagaimana mungkin aku trauma, sedangkan tak ada tempat lagi untukku 'mengadu' selain kesana :p

Dan hari ini, ketika keluargaku sedang kumpul, ada mertua dan para ipar, tiba-tiba datang orang asing dan mengaku sudah membeli rumah ini, mau masuk ke dalam untuk memeriksa bagian mana saja yang harus direnovasi. DAMNED!! *&^&^$&%&$%*&*^&%&^%^$ hahhhh!!! Tuan rumah tak pernah ngasi tau bahwa rumah ini sudah laku! ta ta ta ta ta ta ta ta!! kucincang daun pepaya sampe lumat! huh! ya sudah, pasrah! tak mau beribut-ribut, hanya menegaskan kembali bahwa kami masih berhak menggunakan rumah ini sampai masa kontrak kami habis. kami punya surat kontraknya. Alhamdulillah, pemilik rumah yang baru pun tidak memaksa, karena memang sudah diberi tau bahwa dia bisa menempati rumah ini setelah kontrak disini habis, dan kami pun tidak mau diganggu sampai kami pindah. Hanya merasa sebal karena rumah sudah beralih kepemilikan tapi kami tidak diberitahu. Benar-benar-benar harus banyak berdoa semoga tak lama lagi bisa menempati rumah kami sendiri. amiinn....Begitulah ceritaku, bagaimana ceritamu? :p