Breaking News

15 February, 2012

Boni Yang Boney


 
Boni Yang Boney


Besar kemungkinan tidak ada orang yang tidak pernah mendengar tentang penyakit yang satu ini, penyakit Rabies, atau lebih populer dengan sebutan penyakit anjing gila. Sifat penyakit ini yang dapat menular dari hewan ke manusia, dengan akibat yang fatal pula (jika terlambat mendapat pertolongan medis), membuat Rabies menjadi salah satu penyakit yang sangat ditakuti keberadaannya.

Nah, sehubungan dengan profesiku sebagai dokter hewan, aku memiliki satu pengalaman yang unik terkait dengan penyakit Rabies.

Ketika itu aku masih berstatus sebagai Pegawai Negeri Sipil (atau istilah kerennya dokter hewan pemerintah) di satu kota kecil di daerah Tapanuli Selatan. Salah satu tugas rutin yang wajib aku jalankan setiap tahunnya adalah melaksanakan vaksinasi Rabies massal terhadap hewan peliharaan penduduk yang berstatus sebagai HPR (Hewan Penular Rabies). Yang dimaksud dengan hewan penular Rabies disini adalah jenis hewan anjing, kucing dan kera. Tetapi ketika itu anjing menjadi hewan yang mendapat prioritas kami untuk divaksinasi Rabies.

Sebenarnya tenaga seorang mantri hewan atau petugas vaksinasi yang terlatih sudah mencukupi untuk menjalankan tugas vaksinasi tersebut, tetapi berhubung terbatasnya tenaga paramedis yang tersedia akhirnya aku sebagai dokter hewan pun harus turun tangan juga memberikan pelayanan vaksinasi Rabies.

Biasanya kami para pegawai di bidang peternakan dibagi menjadi dua atau tiga tim yang masing-masing terdiri dari tiga orang petugas. Tiap tim akan mendapat pembagian wilayah yang nantinya harus disisir setiap jengkal daerahnya untuk memastikan setiap hewan penular Rabies mendapat vaksinasi.

Kegiatan menyisir tempat-tempat dimana terdapat hewan penular Rabies inilah yang sebenarnya merupakan pekerjaan terberat, dibandingkan dengan tugas vaksinasi itu sendiri.
Bagaimana tidak, walaupun kami selalu mengadakan koordinasi dengan aparat Kecamatan dan Kelurahan/Desa, tetapi tidak setiap Lurah, atau Kepala Desa mengetahui dengan pasti dimana saja terdapat penduduk yang memiliki hewan penular Rabies.

Kegiatan pendataan populasi hewan penular Rabies pun bukannya tidak dilaksanakan setiap tahunnya, tetapi entah mengapa, kemungkinan karena tingginya mobilitas anjing di daerah itu (karena sebagian penduduk menggunakan anjing sebagai tenaga penjaga kebun mereka, bukan sebagai hewan peliharaan atau kesayangan), membuat kami para petugas vaksinasi sering dibuat bingung mencocok-cocokkan data populasi yang ada di tangan dengan keadaan yang sesungguhnya di lapangan.

Ketidakcocokan data yang ada di kertas dengan kenyataan di lapangan tersebut ternyata bukan hanya merepotkan kami para petugas peternakan, tetapi juga para pemilik hewan.
Bagi kami para petugas berkeliling dari rumah ke rumah di satu Kelurahan atau Desa sudah menjadi acara rutin, ketika ternyata kemudian para pemilik hewan yang sudah diminta untuk datang berkumpul di satu tempat yang ditentukan tidak datang.

Jika jumlah hewan yang dapat dikumpulkan untuk divaksin tidak mencapai 70 % dari populasi hewan yang ada pada catatan kami, maka sudah menjadi satu kewajiban untuk mendatangi setiap rumah yang tercatat memiliki hewan penular Rabies, demi mencapai target vaksinasi.
Alangkah repotnya...

Apalagi  jika  kemudian ternyata masih banyak pemilik hewan yang belum tercatat pada  data yang kami pegang. Acara keliling mencari hewan penular Rabies tersebut menjadi sangat lama, karena harus diselingi dengan acara numpang tanya pada penduduk setempat.
Nah bagi pemilik hewan yang namanya tidak ada pada daftar kami, jenis kerepotan yang dirasakannya berbeda pula.

Karena namanya tidak tercatat dalam daftar, maka si pemilik hewan biasanya tidak mendapat surat pemberitahuan dari pihak Kelurahan bahwa pemerintah mengadakan kegiatan vaksinasi Rabies pada hari yang telah ditentukan.
Begitu tahu pada hari tersebut ada kegiatan vaksinasi Rabies, biasanya mereka menjadi sibuk mencari-cari kami, yang sering sudah berangkat ke tempat pelaksanaan vaksinasi selanjutnya (para pemilik hewan yang tidak tercatat ini hampir selalu terlambat mengetahui jadwal vaksinasi).

Begitu pulalah kejadiannya pada saat itu, di sebuah Desa di perbatasan Kota Padang Sidempuan dan Kabupaten Tapanuli Selatan. Kami para petugas vaksinasi sedang berkeliling dari rumah ke rumah dengan didampingi Bapak Sekretaris Desa, mengunjungi setiap rumah untuk memastikan setiap hewan penular Rabies mendapatkan suntikan vaksinasi Rabies.
Hingga sampailah kami di sebuah rumah tua yang terbuat dari kayu. Tergopoh-gopoh keluar penghuninya, seorang perempuan tua yang langsung memberikan salam hormatnya pada Bapak Sekretaris Desa.

"Ada apa Pak....siang-siang begini datang ke sini?", tanyanya sopan.

Segera Bapak Sekretaris Desa memberitahukan pada Ibu itu bahwa kami sedang melaksanakan kegiatan vaksinasi Rabies, dan menurut kabar dari para tetangganya Ibu tersebut memiliki seekor anjing yang menjaga kebunnya, yang kabarnya belum pernah mendapatkan vaksinasi Rabies.

"Oh...ya, betul Pak....memang kami mempunyai seekor anjing, tetapi karena tugasnya menjaga kebun maka sekarang anjingnya tidak ada di rumah, adanya di kebun," jawab si Ibu.

"Tetapi saya minta tolong agar Bapak dan Ibu-ibu mau menunggu sebentar, supaya anak saya bisa saya suruh menjeput anjing kami , jadi dia bisa divaksin Pak, ...tolong ya Pak....anjing kami memang belum pernah divaksin...,"ucap Ibu itu lagi.

"Kebunnya jauh tidak Bu?", tanyaku.

Aku tidak mau menghabiskan waktu demi menunggu kedatangan seekor anjing sementara kami masih harus berkeliling lagi menyisir Desa ini demi memenuhi target vaksinasi.

"Tidak terlalu jauh kog Bu,"jawabnya penuh harap.

Akhirnya dengan sedikit berat hati, kuputuskan untuk menunggu anak si Ibu menjemput anjingnya dari kebun, karena tidak tega juga melihat ekspresi penuh harap di wajah Ibu itu.
Vaksinasi Rabies yang disediakan oleh pemerintah sifatnya memang gratis, sehingga sering menjadi rebutan para pemilik hewan. Jika dibandingkan dengan memvaksinkan anjing ke dokter hewan praktek tentu ada sejumlah biaya yang harus dikeluarkan.
Begitulah, akhirnya kami pun terpaksa menunggu dengan sabar kedatangan si anjing penjaga kebun.

Menit demi menit berlalu, tetapi anak dan anjing yang dijemput tidak kunjung datang. Aku mulai gelisah, sudah lima belas menit lebih kami menunggu.

"Wah...kog lama ya Bu?,"tanya Pak Sekretaris Desa,yang rupanya dapat merasakan ketidaksabaranku.

Ibu pemilik anjing tampak ikut gelisah.

"Iya...kog lama sekali si Ucok yang menjemput anjing itu ya....", gumamnya takut-takut sambil melirik ke arahku.

Di tengah kegelisahan kami tiba-tiba tampak si Ucok, anak Ibu yang ditugaskan menjemput anjing tadi berlari-lari dari arah jalan setapak kecil di tengah-tengah sawah yang terbentang di belakang rumah mereka.

Tetapi lho....aku mengernyitkan dahi, kenapa dia tidak membawa seekor anjing pun?.

"Aduh....Mak....si Boni melawan, tidak mau kuajak pulang.....,"lapor si Ucok pada Emaknya sedikit takut.

Aku yang mendengar ucapan anak itu langsung merengut jengkel. Kami sudah membuang waktu sia-sia di rumah ini menunggu seekor anjing yang ternyata tidak bisa dibawa pulang....

Bergegas si Ibu berpaling pada Bapak Kepala Desa dan mengucapkan serentetan kalimat dalam bahasa daerah yang kurang bisa kutangkap. Intinya ia meminta tolong dengan sangat, agar kami, para petugas bersedia pergi dengannya ke kebun mereka mendatangi anjing bandel yang bernama Boni itu agar bisa divaksin Rabies...

Alamak...aku jengkel bercampur kasihan mendengar ucapan Ibu itu.

Masih banyak rumah penduduk yang harus kami sisir, sementara waktu sudah menunjukkan pukul satu siang lebih.

Aku mengerti kepentingan besar yang dirasakan Ibu itu agar anjingnya mendapatkan vaksinasi Rabies. Tetapi aku juga punya jadwal kerja yang padat, kami harus menyelesaikan vaksinasi Rabies di Desa itu hari ini juga, karena besok kami sudah harus mulai melaksanakan vaksinasi di Desa selanjutnya.

Sekarang ia mendatangi aku pula, berdiri di depanku dan meraih kedua tanganku, sambil berbicara perlahan dengan nada memelas, "Aku minta tolong ya Bu?,anjing ku itu galak, kalau sampai ia menggigit orang sementara ia belum divaksin, bisa-bisa aku diminta membayar biaya perobatan sampai beratus-ratus ribu Bu...,"ucapnya padaku.

Aku hanya bisa mengehela nafas jengkel, tidak tahu harus menyalahkan siapa, si Ibu yang tidak mengetahui jadwal vaksinasi atau petugas pendata yang tidak akurat hasil kerjanya.
Akhirnya, terpaksa juga kami mengikuti Ibu itu berjalan kaki ke kebunnya yang menurutnya terletak tidak terlalu jauh dari rumah mereka.

Tetapi jarak ternyata merupakan sesuatu yang bersifat relatif. Bila bagiku berjalan di pematang sawah dalam kondisi cuaca panas terik, menempuh jarak dua-tiga kilometer rasanya seperti sudah berada di neraka dunia, bagi Ibu pemilik anjing ternyata itu bukan apa-apa.

Dengan gesit ia berjalan di depan kami. Tampak tidak terlalu terpengaruh dengan panas matahari jam satu siang yang masih panas menyengat bumi.

Aduhai....dalam hati aku menyumpah-nyumpah. Hanya aku, temanku yang bertugas sebagai pencatat, Ibu itu dan anaknya yang berangkat menemui si anjing bandel yang bernama Boni itu ke kebun salak mereka. Bapak Sekretaris Desa yang merasa tidak memiliki kepentingan dengan si anjing bandel memilih untuk menunggu kami di dalam keteduhan rumah Ibu pemilik anjing.

Akhirnya sampai juga kami di kebun salak milik Ibu itu.
Dengan sopan aku dan temanku, petugas pencatat dipersilahkannya duduk di saung yang terletak di tepi kebun salak.

"Mana anjingnya Bu?,"tanyaku tidak sabaran, ingin segera menyelesaikan tugas ini.

"Sebentar ya Bu...aku panggil dulu,"jawabnya, dengan secepat kilat masuk ke dalam kerimbunan pohon salak memanggil-manggil anjing miliknya.

Aku dan temanku yang bertugas mencatat kartu vaksinasi hanya bisa diam. Kami duduk di saung, kembali menunggu dengan rasa jengkel yang semakin bertambah-tambah.

Akhirnya setelah menunggu selama lebih kurang dua puluh menit lagi, muncullah Ibu itu, anaknya dan seekor anjing yang tampak sangat lemah, kurus dan kelaparan.

Aku dan temanku yang sudah mengharapkan kemunculan seekor anjing yang besar, lincah, galak dan susah dipegang (kalau mengingat betapa si Ucok tadi tidak berhasil membawa si anjing Boni ini pulang) benar-benar jadi kaget dan terheran-heran.

Aku tidak tahu harus bereaksi apa. Antara jengkel, heran, geli dan kasihan (melihat betapa boney nya si Boni) bercampur aduk menjadi satu. Dengan menahan rasa jengkel yang berkecamuk di dada, tanpa banyak komentar kusuntikkan vaksin Rabies ke bawah kulit punggung si Boni yang hanya bisa duduk diam pasrah, tidak melawan sedikit pun.

Dalam diam juga temanku mengisi kartu vaksinasi Rabies, melengkapi data di catatannya dan menyerahkan kartu keterangan vaksinasi pada Ibu pemilik anjing yang tampak sangat puas dan gembira .

Setelah kami hitung-hitung, hari itu kami menghabiskan waktu hampir dua jam (!!) untuk memberikan suntikan vaksinasi Rabies hanya pada satu ekor anjing.

Cibubur, Oktober 2011






0 komentar:

Post a Comment