Breaking News

22 February, 2012

Bintang yang Tak Lagi Menangis

Pagi itu,seperti pagi-pagi sebelumnya Bintang selalu menangis jika hendak masuk kelas.  Kadang dia meronta dengan sebab yang tak jelas. Bu Rina dan Bu Suci sampai bingung dibuatnya,  Tapi anehnya jika siang tiba Bintang seolah lupa dengan kejadian pagi yang membuat guru,orang tua dan teman-temannya khawatir.
 Bintang adalah seorang siswa kelas satu sekolah dasar. Diawal semester Bu Rina dan Bu Suci maklum dengan keberadaannya yang selalu menangis jika hendak masuk kelas  karena mungkin ini adalah sebuah proses adaptasi  dari taman kanak-kanak ke sekolah dasar dan mereka berharap hal itu segera berakhir.  Tapi nampaknya harapan itu sia-sia saja, karena sampai dua bulan di semester dua Bintang masih saja menangis.
“Bintang !”, panggil Bu Rina. “Iya, ada apa,Bu?” jawab Bintang. “Sini sayang ! “ kata Bu Rina lagi. Bintang pun bergegas menghampiri Bu Rina.  “Ibu mau tanya, Bintang kenapa setiap mau masuk kelas selalu menagis?” Tanya Bu Rina. “E….e……e    a…..a…a” Bintang salah tingkah, “Enggak apa-apa,Bu” jawabnya.  “Jika tidak ada apa-apa lalu apa yang membuatmu menangis?”  Bu Rina keheranan.  Bintang tak menjawab, seolah dia malu dan berlalu begitu saja.
“Aneh ya, Bu Suci!” Bu Rina memulai pembicaraan………….. “Aneh kenapa?”Bu Suci balik bertanya.  “Saya heran dengan Bintang, kenapa ya setiap masuk kelas di pagi hari pasti menangis.”  “Iya saya juga heran!”  Bu Suci menimpali. “Apa kita begitu menakutkan atau horror kali ya,buat dia” ungkap Bu Suci sambil bercanda. “Ah Ibu sempet-sempetnya bercanda!”  kata Bu Rina.  “Apa penyebabnya, ya?” Bu Suci mengkernyitkan keningnya. “Kalau kita menakutkan pasti buat anak-anak lain pun demikian”.   “Tapikan kejadiannya tidak seperti itu, anak-anak lain malah nempel kayak perangko sama kita, betul nggak?” kata Bu Rina.  Lalu mereka berdua tertegun bingung dengan kenyataan yang ada.  “Bu, sudah komunikasi dengan orang tuanya belum?” Tanya Bu Rina. “Ibu  kan lumayan dekat dengan mamanya”. “Sudah tapi saya juga masih bingung”. “Menurut mamanya di rumah Bintang baik-baik saja, malah semangat kalau mau berangkat sekolah” kata Bu Suci.  “Lalu kenapa menangis ya???  Seolah-olah dia punya dua kepribadian, ah…..aku bingung sama anak yang satu itu”.
Sepuluh menit berlalu selepas bel berbunyi, terlihat dari kejauhan, Bu Pinkan, mamanya Bintang datang tergesa-gesa, “ Assalamu’alaikum Bu, maaf Bintang terlambat. Sekarang  ada di luar tolong dibujuk,ya!  “O, ya Bu!” Bu Rina segera bergegas  ke luar. 
“Bintang, sayang! Yuk masuk, teman-teman udah nunggu!”  Ajak Bu Rina ……. “Bintang ga mau sekolah! Uuuuuu……uuuuuuu “ Jawab Bintang sambil menangis dan meronta, ingin kembali menaiki motor ayahnya. Ayahnya sengaja tidak mendekatinya hanya mengantar sampai gerbang sekolah saja..  “Sayang, Bintang kan mau belajar biar jadi anak pintar” Rayu Bu Rina.  Bintang tetap saja meronta tak mendengar apa-apa yang Bu Rina katakan. 
“Bintang!!”  Bentak mamanya bernada kesal.  “Gimana sih, dari rumah semangat, siap belajar, tapi sampai di sekolah selalu seperti ini!”.  “Mama nggak suka kalau kamu seperti ini terus!”  Tangan Bu Pinkan, tak diam. Dia menarik-narik tangan anaknya untuk masuk kelas.  “Bintang  ga mauuuuuuu!” jerit Bintang sambil menahan tarikan tangan ibunya.  “Bu, sudah biar tinggalkan saja” Kata Bu Rina  setengah binggung karena suguhan tiap pagi telah tersaji, ya ronta dan tangis Bintang yang selalu jadi sarapan wajib buat Bu Rina dan Bu Suci.  “Biar tinggalkan saja nanti siang juga baikan kok!” Bu Rina meyakinkan.  Bu Pinkan akhirnya mengikuti kata-kata Bu Rina, dia pergi meninggalkan Bintang, yang masih menangis.  “titip Bintang” Katanya.  Sementara itu Bu Suci sibuk dengan tiga puluh satu anak lainnya yang baru melaksanakan shalat dhuha.  “Bu, Bintang nangis lagi ya?” Tanya Nadia, salah satu teman Bintang. “Iya” Jawab Bu Suci datar.   
Tangis Bintang belum juga reda, waktu menunjukkan pukul 08.00 WIB.  Saatnya anak-anak di kelas belajar tahfiz, pengajarnya bukan wali kelas tapi guru bidang studi.  Suasana tidak nyaman untuk belajar,karena masih terdengar tangisan Bintang yang masih kencang.  Bu Suci dan Bu Rina meminta izin pada guru yang mengajar tahfiz untuk menenangkan Bintang. Diajaklah Bintang ke saung, yang masih berada di komplek sekolah.  Tempatnya cukup adem, cocok untuk refreshing dan buat yang lagi BT  seperti Bintang. 
“ Bintang!”  Bu Rina memulai pembicaraan.  Bintang tak menyahut, hanya kini tangisnya sudah mulai mereda.  “Sudah sayang, cape………. jangan nangis lagi ya!” kata Bu Suci sambil mengelus kepala Bintang. Beberapa saat kemudian….. tangis itu kini tak terdengar lagi.  Bintang mau cerita, kenapa Bintang suka nangis kalau mau masuk kelas?” Kata Bu Rina.  Bintang mengangguk.  Terlihat berbinar wajah kedua guru Bintang melihat anggukan Bintang yang hendak menceritakan sebab-sebabnya kenapa dia menangis setiap akan masuk kelas. “Bu, Bintang takut!” “Takut apa?” Bu Rina tak sabar.  “Bintang takut kalau Bintang enggak bisa mengerjakan apa-apa yang bu guru ajarkan!”  “Kenapa harus takut,? kan namanya juga belajar, dari tidak bisa jadi bisa, iya kan ?” Kata Bu Suci tidak puas dengan jawaban Bintang.  Tapi…….. “Bintang takut, kalau Bintang nggak bisa pasti mama marah.  Kalau ga dipukul Bintang dijewer atau dicubit sama mama.” Ujar Bintang jujur.  “Astagfirullah” ……… Bu Suci dan Bu Rina terperanjat kaget.  Satu sisi sedih dengan keadaan yang ada, di sisi yang lain bahagia karena sudah tahu penyebab Bintang menangis.  “Oh jadi itu penyebabnya?” Tanya Bu Rina lagi seolah tak yakin.  Bintang mengangguk.  “Ya sudah  nanti ibu bicarakan sama mama kamu. Tapi Bintang harus janji tidak akan nangis lagi”.  Lagi-lagi Bintang hanya mengangguk.  “Bintang ke kelas lagi ya, nanti ketinggalan pelajaran tahfiz, kan sayang!”  “Iya, Bu” Bintang bergegas  meninggalkan saung.menuju ke kelas.
Bu Rina dan Bu Suci terdiam  saling menatap hanya selaan nafas panjang yang terdengar.  “Bu, kita harus segera selesaikan masalah ini.  Kasihan Bintang setiap pagi harus dihantui rasa takut.  Takut tidak bisa, takut dimarahi dan takut-takut lainnya yang selalu membayanginya.” Kata Bu Rina.  “Iya, kita harus segera hubungi mamanya, supaya tak berlarut-larut.  Mungkin mamanya tak tahu kalau kenyataan yang terjadi seperti ini” ujar Bu Suci. 
Assalamualaikum….. Mama Bintang pulang sekolah ada waktu?  Ada yang ingin dibicarakan. Makasih. Rina  Guru Bintang.  Begitu isi sms yang dilayangkan Bu Rina untuk  Bu Pinkan mama Bintang.  “Wa’alaikumsalam, Ya Insya Allah saya akan datang”  Bu Pinkan membalas smsnya.
Waktu menunjukkan pukul 14.00 WIB waktunya anak-anak pulang.  Bu Pinkan sudah nampak di luar kelas, terlihat agak gelisah sepertinya penasaran dengan hal yang akan dibicarakan.  “Assalamu’alaikum,Bu”, Bu Rina menyapa.  “Wa’alaikumsalam” Jawab Bu Pinkan.  “Ada apa Bu?” katanya lagi.  “ Mari Bu”, Bu Rina mengajak Bu Pinkan ke dalam  kelas yang telah kosong dan mempersilahkannya duduk.  “Bintang, boleh di luar dulu,ya !”  Kata Bu Suci, khawatir Bintang mendengar pembicaraan mereka.  “Begini Bu, tapi kami mohon maaf sebelumnya bukan maksud kami menggurui atau menghakimi Ibu.”  Bu Suci mengawali pembicaraan.  “Enggak apa-apa, Bu. Saya senang kalau ada masukan untuk kebaikan.” Kata Bu Pinkan. Dari suaranya terdengar ada ketegangan.  “Bu, kami sekarang tahu penyebab kenapa Bintang menangis saat hendak masuk kelas.”   “Oh, Alhamdulillah kalau begitu.” Kata Bu Pinkan seolah sirna wajah tegangnya.  “Apa penyebabnya Bu?” terlihat ketidaksabaran, di garis wajah Bu Pinkan.  “Bintang takut …………, takut kalau dia tidak sempurna di mata Ibu, dan Ibu memarahinya bahkan sampai ada tindakan fisik yang ibu lakukan padanya.  Hal ini membuatnya enggan belajar dan ga PD.  Karena buatnya belajar hanya jadi beban bukan suatu hal yang menyenangkan . Buat kita belajar jadi bisa tahu banyak hal tapi ini tidak berlaku bagi Bintang, dia malahan stress.  Yang ada di benak Bintang buat apa aku belajar?  kalau tidak ngerti yang diajarkan bu guru ………….ibunya nggak mau tahu malahan memarahinya, tanpa menanyakan apa penyebabnya.” Ungkap Bu Suci panjang lebar.  “Kami kasihan sama Bintang, jika hal ini terus berlanjut khawatir terganggu secara psikologis.”  Bu Rina menimpali.  Kami mohon maaf  Bu…….  “Ya Allah, saya sudah salah mendidik anak, ampuni saya ya Allah,” Ucap Bu Pinkan lirih.  “Terima kasih Bu, ibu-ibu telah membukakan mata hati saya, untuk membiarkan Bintang berkembang bebas tanpa ada rasa takut dan beban.  Insya Allah saya akan berubah demi kemajuan Bintang.  Sekali lagi  saya ucapkan terima kasih.” Kata Bu Pinkan sambil tak tahan menahan haru.  “Alhamdulillah, mudah-mudahan setelah sumber masalahnya ketemu, tidak ada lagi sarapan wajib yang harus dilahap” Ujar Bu Suci memecahkan keheningan.  Bu Pinkan pamit, mereka berangkulan.
Keesokan harinya, di pagi yang cerah Bintang datang bersama ibunya.  Apa yang terjadi?..........”Subhanallah benar-benar  “badai sudah berlalu”” ucap Bu Rina. Bintang berubah 180°, kini dia berseri tak ubahnya seperti anak-anak sebayanya yang hidup bebas tanpa beban.  “Bintang!!, Subhanallah…… Ibu senang Bintang bisa tersenyum!” Ujar Bu Suci sambil mengelus kepala Bintang.
“Bu, Alhamdulillah ya! Bintang kini berubah………..” Ujar Bu Rina membuka pembicaraan dengan Bu Pinkan. “Iya Bu, terima kasih atas sarannya, sejak pulang kemarin saya berfikir, iya  ya kasihan Bintang.  Saya terlalu memaksakan keinginan saya untuk menjadikan Bintang sempurna.  Perubahan Bintang terjadi karena kami selaku orang tuanya berubah.  Sekali lagi kami mengucapkan terima kasih.” Papar Bu Pinkan.  “ Sama-sama Bu, semoga selamanya.” Kata Bu Rina.
Semenjak hari itu tidak ada lagi tangis bintang yang terdengar, bahkan akademiknya  jauh melambung semenjak hatinya terbebas dari belenggu ketakutan. 
“Bu Rina!” panggil Bu Emi guru tahfiz .  Bu Rina pun menoleh.  “Ada apa Bu?“ “Diapakan Bintang?, dia berubah banget!! Subhanallah hafalan surat yang tadinya sulit  buatnya, kini dengan lantang dia baca, wajahnya pun berseri tampil percaya diri.” Bu Emi menjelaskan.  Bu Rina tersenyum sambil berkata “Alhamdulillah…………. diapakan? Enggak kok, cuma udah ketahuan apa penyebabnya dia nangis” .  “memangnya apa sih yang buat Bintang nangis, katanya tiap hari,ya?” Tanya Bu Emi.  “Iya, hampir setiap hari” jawab Bu Rina. “Dia penuh ketakutan, karena ibunya menuntutnya sempurna, jika dia tak bisa pasti kena marah,pukul atau jewer. Tapi sekarang tidak lagi karena ibunya telah tersadarkan, dan Bu Emi bisa lihat sendiri kan dampaknya?” ujar Bu Rina.  
Bu Suci dan Bu Rina bersyukur sekali, sampai detik ini tak ada tetes air mata Bintang.yang terbuang sia-sia. “Alhamdulillah, terima kasih Ya Allah….. satu demi satu masalah dapat kami atasi.” Ungkap Bu Rina lirih.

0 komentar:

Post a Comment